
Ze terus mengikuti langkah kaki Kenan yang sedang berjalan cepat menuju sebuah ruangan, dia sampai kebingungan, bukannya katanya mau pulang tapi suaminya itu malah mendatangi Polres dan menuju ruang tahanan, dengan terus menggenggam tangan nya.
"Mas mau menemui siapa?" tanyanya penasaran. Dari tadi suaminya itu terus mengajaknya masuk ke dalam tanpa memberi tahu mau ke mana, mereka hanya terus berjalan masuk di temani dua petugas kepolisian yang dari tadi mengikuti mereka sambil menunjukkan jalan untuk suaminya.
"Aku harus memberi pelajaran pada seseorang." jawab Kenan dengan tangan perlahan melepaskan genggaman tangannya. Istrinya itu tidak pernah tahu prihal masalah Arzan, sudah pasti wanita itu kebingungan. "Tunggu di sini, aku harus masuk ke dalam." titahnya lagi saat dia sudah sampai di mana Arzan berada. Dia harus memberi pelajaran pada bajingan itu, atas apa yang telah lelaki itu lakukan pada menantu nya.
"Silahkan, Pak." Satu dari petugas itu langsung membuka pintu sel, dan satunya lagi menemani Ze di luar.
Pintu sel terbuka, hingga kini terlihat jelas sosok Arzan yang tengah duduk lemas dengan sebuah perban yang membalut kedua kakinya.
Arzan yang melihat kedatangan Kenan sampai terkejut tanpa bisa bergerak, "Sial...." umpat sambil mengepalkan tangan, dia sudah bisa menebak lelaki ini pasti akan menemuinya, tapi sayangnya dia begitu lemah sampai tidak bisa bergerak. "Coba kalau menantu kesayangan nya itu mati, masuk ke penjara pun aku tidak akan sia-sia." umpatnya dengan menatap lekat lelaki paruh baya itu dengan seringai kecil di bibirnya, tidak apa-apa berakhir seperti ini, setidaknya dia sudah memporak porandakan hati mereka dengan luka yang Tiara terima.
"Kenapa dia sampai begitu?" Kenan sampai terheran-heran, yang awalnya amarahnya meluap-luap ingin langsung menghajar Arzan, seketika terhenti karena melihat lelaki itu seperti lemas tak berdaya.
"Dia terus melarikan diri saat sudah kami kepung, jadi kami terpaksa melumpuhkan kakinya."
Kenan sampai tersenyum pasi, memang bajingan sialan, rupanya lelaki itu masih mempunyai nyali besar, mengira bisa kabur darinya. "Kau telah bermain nyawa kau pikir bisa lepas begitu saja." decak nya geram, terus berjalan menghampiri Arzan dan langsung menginjak kaki bajingan itu persis di bekas tembakan nya. "Terimalah akibatnya." decak nya lagi, sungguh kalau dia tidak patuh dengan aturan hukum dia pasti akan langsung membunuh lelaki ini.
__ADS_1
"Argh....." Arzan hanya bisa meringis dalam hati, hatinya menjerit kesakitan tapi tapi raut wajahnya malah tersenyum lebar, berusaha untuk tegar, agar tidak terlihat lemah, "Pengecut, kau masih berani menyerang ku dengan keadaan ku yang seperti ini."
Kenan malah tergelak, tidak mau merespon ocehan lelaki itu, kakinya malah beralih menginjak kaki Arzan yang satunya lagi, "Kau pikir aku peduli dengan itu," umpatnya sambil menjambak rambut Arzan dan menariknya ke belakang. "Kau pantas menerima nya, Bedebah sialan."
"Argh...." Akhirnya bibir itu meringis kesakitan, bukan hanya kakinya, kepalanya juga begitu sakit karena Kenan menjambak nya dengan begitu keras. "Lihat saja, akan ku pastikan anak dan menantu mu tidak bisa hidup dengan tenang, Kenan." ancamnya karena teramat kesal, selama ini dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berkahir menyedihkan seperti ini. Dengan rasa sakit yang begitu menyiksa.
"Hahaha, Kau percaya diri sekali. Apa yang akan kau lakukan, hah? kau pikir kau bisa lepas dari sini? Kau pikir Mario; Kakak mu itu bisa berbuat lebih menyelamatkan mu dan melukai keluarga ku. Asal kau tahu, Kakak yang selalu menolong mu itu akan sama-sama masuk ke dalam jeruji ini untuk yang kedua kalinya." cecar Kenan dengan begitu dingin. Pihak kepolisian sudah menemukan posisi di mana Mario sekarang, laki-laki yang baru keluar dari sel tahanan itu kembali menjadi buronan karena setelah di telusuri dia bergabung dengan mafia narkoba yang selama ini kepolisian cari.
"Berkat ponsel mu itu kita bisa menemukan posisi Kakak mu Arzan. Tinggal menunggu waktu, bersiaplah untuk menyambut kedatangan kakak mu di balik jeruji ini." decak nya lagi, bahkan untuk yang kedua kalinya kakinya itu bergerak menginjak kaki Arzan dengan begitu keras. "Rasakan, ini masih tidak seberapa dengan rasa sakit yang menantu dan putra ku rasakan."
"Argh....." Arzan benar-benar pasrah, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa sakit di kakinya.
Hari demi hari telah di lalui, tidak terasa sudah lima hari Tiara berada di rumah sakit, dan kini keadaannya sudah semakin membaik, berkat support dan perhatian dari suami, mertua bahkan teman-teman nya, keadaan Tiara bisa lebih baik sampai kini sudah di izinkan untuk pulang.
Sore ini, seperti biasa teman-teman Kenzo dan Tiara terlihat mengisi ruangan rumah sakit sebelum wanita itu pulang ke rumah, rutinitas sepulang sekolah yang tidak pernah mereka lewatkan akhir-akhir ini yaitu mampir ke rumah sakit untuk menghibur Tiara dan menemani Kenzo saat menjaga istrinya.
Selama ini, Kenzo benar-benar terbantu dengan adanya mereka, terlebih Azzura dan Priscilla, dua wanita itu selalu menjadi teman untuk Tiara selama dalam masa pemulihan nya. Keduanya selalu menanami istrinya bercerita, hingga lambat laun kini Tiara semakin mengenal mereka dan tidak canggung lagi dengan semua teman-temannya.
__ADS_1
Di sebuah sofa di sudut ruangan, Kenzo terlihat tengah asyik Mabar dengan Reno dan Devan, di temani oleh Jonathan, semenjak keadaan Tiara yang semakin berangsur pulih lelaki itu kembali mengingat hobi nya terlebih selalu di panas-panasi oleh kedua teman Mabar nya itu. Bagai tidak mendapat asupan vitamin, bagi tiga laki-laki itu jika tidak bermain game rasanya hidupnya terasa hampa.
"Bantai, Bos. Musuhnya di atas." Seperti biasa suasana mereka selalu terdengar heboh. Sudah lama tidak Mabar bersama Kenzo membuat Reno menjadi semakin bersemangat.
"Banyak bacot kau Ren, turret mu jebol, bodoh." Devan menimpali dengan begitu tegas, matanya begitu fokus memainkan permainannya dengan khusus, tidak seperti Reno yang banyak bicara.
"Mainnya serius, Anjir! Musuhnya GG semua." Kenzo ikut menimpali dengan begitu kesal, masa iya baru juga pertandingan pertamanya tapi sudah mau kalah.
"Santai napa, Ken!" Jonathan yang tengah duduk di samping Kenzo sampai tersenyum kecil, kalau sudah bermain game seperti ini, Kenzo kembali terlihat seperti pemuda pada umumnya. Sisi kentalnya sebagai berandal sekolah terlihat jelas dari raut wajahnya.
Bahkan Mario yang juga ada di sana sampai geleng kepala, "Woi, ini rumah sakit, bukan basecamp kalian. Bisa-bisanya kalian masih fokus Mabar." decak nya heran, tiga laki-laki itu memang cukup meresahkan, jika sudah bersama mereka kayak punya dunia sendiri, sampai mengabaikan yang lainnya.
Kenzo yang mendengar itu hanya tersenyum kecil sambil mengangkat sudut matanya melihat ke arah Mario, "Kau sendiri sedang apa, hah? Ini rumah sakit bukan ruangan penyiar." timpal nya dengan keheranan, semua orang sedang duduk tapi lelaki itu malah terlihat sedang mengotak-atik televisi entah apa yang tengah di lakukan nya.
"Ada yang ingin ku perlihatkan pada istri mu, Ken." timpal Mario dengan menyeringai, dia begitu kasihan melihat Kenzo dengan keadaan Tiara yang tengah lupa ingatan.
"Apa?" tanyanya penasaran. Jangan sampai apa yang akan di perlihatkan Mario menjadi tekanan untuk istrinya. "Bukan hal yang aneh-aneh kan?"
__ADS_1
"Bukan, ini dokumentasi acara suprise waktu itu." jawab Mario dengan tangan mulai bergerak menyalakan televisi itu, harapan nya hanya satu, semoga Tiara bisa tahu kenangan apa yang tengah wanita itu lalui, dan seberapa keras Kenzo selalu menjaganya. Lihat saja saat ada tiupan terompet saja yang Kenzo ingat hanya melindungi Tiara, lelaki itu langsung refleks menarik wanita itu ke pelukannya.
Kenzo sampai tersenyum kecil, dia tidak pernah mengira teman-temannya itu sampai sejauh itu membantunya, "Semoga saja ingatannya perlahan kembali," gumamnya sambil menatap sang istri, dia memang sedang fokus pada gameplay nya, tapi dari tadi dia sesekali melihat ke arah Tiara takut istrinya itu kenapa-napa. Tapi sepertinya Tiara tengah asyik bercengkrama dengan Azzura dan Priscilla. Bahkan sekarang ekspresi Tiara terlihat tertegun saat melihat video yang tengah Mario putar di sebuah layar televisi berukuran besar di depannya. "Syukurlah, perlahan kau mulai memperlihatkan senyuman mu, Tiara." gumamnya sambil kembali fokus pada ponselnya. Biarlah Tiara melihat semua adegan peradangan dalam video itu, dia tidak akan mengganggunya.