
Kenzo kini benar-benar berdiri di antara guru BK dan Mario, berdiri di depan Mario menghalangi tubuh lelaki itu. "Pak. Bapak seharusnya bisa lebih bijak karena bapak seorang pendidik." decak nya tanpa keraguan. Dia langsung melihat loker Mario lekas mengambil tas milik istrinya. Langsung melirik ke arah Tiara agar istrinya itu menghampirinya. "Sini!" Tiara mendekat, dia langsung memberikan tas itu, dan di terima Tiara dengan sigap.
"Bukannya bapak harus memastikan dulu pada korbannya sebelum memonis seseorang." tutur nya lagi dengan begitu tegas, Kenzo kembali menatap Tiara agar wanita itu ikut bicara untuk membersihkan nama Mario.
"Loh," Guru BK langsung terperangah, dia jadi malu sendiri, dia baru sadar kalau dia memang tidak tahu siapa korban nya, dia tadi langsung tersulut emosi tanpa mencari tahu kebenarannya.
"Iya Pak, Mario bukan pelakunya, seperti yang di katakan Mario, Shasa dan kedua teman nya itu pelakunya." timpal Tiara sambil menatap tajam Shasa, Alicia dan Jessica yang tidak jauh dari dari posisi nya.
Pak guru hampir tak percaya, Shasa seorang waktos, tidak mungkin wanita itu melakukan hal yang akan mencoreng citra nya sendiri di sekolah. "Shasa?" Panggil guru itu penuh tanya.
"Kita tidak tahu apa-apa, Pak. Sungguh." Shasa mulai menjawab dengan begitu santai, "Tadi malam saya mendapatkan laporan dari anak-anak kalau Mario tidak ada di aula saat pesta berlangsung. Harusnya dia tidak bisa mengelak lagi dengan bukti yang sudah ada, kita tidak tahu menahu dengan insiden semalam. Apa Tiara punya bukti kalau kita pelakunya?" jawabnya dengan menyeringai. Coba saja kalau mau melawannya, dia punya alasan untuk membela diri. "Mampus, Kau."
Kenzo sampai mengepalkan tangannya geram, "Setan sialan!" bahkan wanita itu memanfaatkan kejadian itu untuk memojokkan Mario, padahal dia yang memberi nya perintah sampai lelaki itu tidak bisa hadir di pesta.
"Kalian benar-benar tidak tahu tentang insiden semalam?" tanya Kenzo seolah menantang mereka, mereka yang memulai maka rasakan akibatnya. "Devan!" Dia langsung memanggil Devan. Sontak lelaki itu langsung menjalankan tugasnya.
Devan mengambil sebuah meja kecil dan langsung menyimpannya di tengah-tengah kerumunan. "Ini, Ken." ucapnya sambil menyimpan botol sirup minuman dan sebotol air mineral yang semalam di atas meja itu.
"Kalian tahu apa ini?" tanya Kenzo seolah memancing mereka.
Sontak Shasa, Jessica dan Alicia langsung terperangah, apa yang akan Kenzo lakukan dengan kedua botol minum itu. "Itu kan bekas yang semalam." gumam Jessica sudah mulai ketakutan. Tapi tidak dengan Alicia, wanita itu masih mempunyai keberanian tinggi. "Kita tidak tahu apa maksud mu?"
__ADS_1
"Begitu kan! Kalau kalian tidak tahu apa-apa, kenapa tegang begitu hanya karena sebuah minuman," Kenzo langsung menyeringai, alasan ketidaktahuan mereka akan mempermudah rencananya. "Maju kalian!" titah nya dengan begitu dingin menatap Shasa dan kedua kawannya. Ketiga wanita itu masih diam tanpa pergerakan membuatnya semakin geram. "Apa kalian budek hah? Maju bodoh!" teriaknya makin kesal.
Sontak tiga wanita itu langsung melangkah, nyali mereka menciut melihat kemarahan seorang Kenzo. "Sha, apa yang akan dia lakukan?" Jessica sudah merengek ketakutan. Ya, di antara tiga wanita itu hanya Jessica yang nyalinya sangat lemah.
"Diam lah, ikuti saja kemauannya, gue yakin kita bisa membela diri." bisik Alicia menimpali. Mereka bertiga kini sudah berdiri persis di depan meja itu.
Kenzo langsung memberi kode pada Devan, sampai kini lelaki itu membawa tiga gelas kosong dan dia simpan di atas meja itu. "Ini." ucap Devan dengan tersenyum kecil menatap tiga wanita itu.
"Kalian sedang berpura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu apa-apa?" Kenzo bicara dengan santai, langsung mengambil botol air mineral dan mengisi gelas kosong di depan Alicia dan Jessica dengan air mineral itu. "Pak, lihat saja. Buktinya ada di depan mata, Tiara memang tidak punya bukti nyata kalau mereka pelakunya, tapi mereka sendiri sudah ketakutan hanya dengan melihat ini," ucapnya dengan begitu dingin memancing perspektif guru BK, seolah bicara pada guru itu tapi matanya menatap sinis mereka bertiga. Tangannya kini mengambil botol sirup minuman dan ia tuangkan pada gelas kosong di depan Shasa. "Kalau kalian ketakutan seperti ini bukan kan itu sudah menjadi bukti, kalau kalian memang punya salah." ucapnya kembali menggoyahkan pikiran guru BK itu.
"Bukti apa, kita memang tidak tahu apa-apa, Pak." timpal Alicia membela diri. Wanita itu masih terlihat santai, menatap air yang bercampur dengan obat perangsang itu.
"Bagus!" Kenzo kembali menyeringai, akan lebih baik jika mereka pura-pura tidak mengetahui apa-apa. Kalau tidak bisa membuat mereka mengaku, dia akan membuat mereka merasakan apa yang Tiara rasakan. "Kalau memang tidak tahu apa-apa, minum bodoh!" titahnya dengan berdecak geram dengan suara keras, sungguh kalau yang di hadapannya bukan wanita dia akan langsung menghajar nya.
"Pak! Kata bapak hukuman bagi murid yang melakukan kejahatan harus di drop out dari sekolah kan?" tanya Kenzo dengan menyeringai, bicara pada Pak guru tapi matanya menatap tajam wanita setan di depannya. Dia masih berbaik hati, memberi mereka dua pilihan, meminum minuman hasil racikan mereka sendiri dan rasakan sendiri efek obat nya atau akui kejahatan mereka dan di keluarkan dari sekolah.
Glekk... Tiga wanita itu sampai menelan keras saliva nya. Apa yang harus mereka lakukan, bukannya ini bagai simalakama. Mereka tidak bisa mengakui kejahatan mereka dan tidak bisa juga meminum minuman itu.
"Kenapa masih diam hah?" Kenzo makin mendesak mereka. Dia tahu mereka tidak akan mengakui kejahatan mereka, tapi setidaknya mereka harus membayar nya dengan minuman itu. "Lihat, Pak. Mereka sampai tidak berani meminum minuman ini, karena minuman ini memang hasil racikan mereka sendiri." tuturnya sambil menyeringai, coba saja, mereka tidak bisa mengelak lagi.
Shasa semakin tersudut dia tidak bisa terus diam, "Tidak pak, saya tid-"
__ADS_1
"Kalau begitu minum, An-jing!"
Kenzo melebarkan mata, menatap Shasa dengan begitu tajam, dia sampai menggebrak meja karena wanita itu masih berani melawannya.
Deg.... Bukan hanya Shasa dan kedua kawannya, seluruh murid yang berkerumun di sana langsung tersentak mendengar kemarahan Kenzo. Suara lelaki itu sampai menggema. Mereka tidak pernah melihat Kenzo semarah ini sebelumnya. Aura di sekitar tubuh lelaki itu sampai terlihat begitu mencekam. Bahkan seorang guru BK pun di buat berdiri tegak dengan bibir terbungkam.
Glekk, ketiga wanita itu langsung meneguk minuman itu dengan serentak, persetan dengan efek yang akan mereka rasakan, Kenzo terus memojokkan mereka, mereka tidak bisa mengakui kejahatannya karena tidak mau di keluarkan dari sekolah.
"Kau, puas!" Shasa sampai mengepalkan tangannya geram, minuman itu benar-benar sudah masuk ke dalam tubuhnya.
Kenzo langsung menyeringai, "Selamat bersenang-senang." ucapnya dengan tersenyum penuh kemenangan, dia tahu kalau dosis di dalam sirup minuman yang di minum Shasa itu lebih tinggi, efek obat itu pasti akan lebih parah dari pada apa yang Tiara rasakan.
Tiga wanita itu sontak langsung pergi meninggalkan kerumunan, mereka sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan tubuh mereka setelahnya.
"Maaf, Pak. Masalah sudah beres kan, tidak ada bukti yang pasti. Jadi bapak tidak bisa menyalahkan Mario seenaknya. Saya bisa menjamin Mario tidak bersalah. Saya permisi!" Kenzo sudah enggan menjadi perhatian banyak orang, langsung meraih tangan Tiara dan beranjak pergi dari sana.
Azzura, Devan dan Mario, hanya bisa menatap kepergian mereka dengan diam, mana Kenzo yang tadi terlihat garang, raut wajah lelaki itu kembali terlihat tenang saat berada di samping pasangan nya.
...*...
Sementara itu, Shasa, Alicia dan Jessica. Tiga wanita itu sudah kuat ketir merasakan efek obat yang mulai beraksi, bahkan Shasa sudah terlihat lebih parah, karena meminum sirup minuman yang dosisnya yang lebih tinggi dari pada kedua temannya.
__ADS_1
"Akh, dasar menyebalkan." Tubuh Shasa sudah sangat lemas, kepalanya sudah terasa pusing, dia langsung memasuki mobilnya dan menancap gas dengan begitu cepat, "Akh, Arzan. Angkat dong." Saat tubuhnya mulai memanas, nama lelaki itu yang terngiang di kepalanya. Terus melakukan panggilan berharap Arzan mengangkat panggilan nya.