
Segala persiapan untuk berangkat ke kampung halaman sudah siap, bahkan Pak Tono yang akan mengantar kedua majikan mudanya nya itu sudah terlihat stand by setelah memasukkan semua barang-barang yang akan dibawa ke dalam mobil.
Ze sendiri dari tadi terus saja menggandeng lengan Tiara sampai depan rumah, rasanya belum rela jika putra dan menantunya harus pergi sekarang, "Kalian tidak akan lama kan?" tanya nya. Suasana rumah pasti akan sepi jika mereka pergi.
"Tergantung kondisi saja, Mom. Jika Kenzo nyaman di sana mungkin akan sedikit lebih lama." jawab Tiara dengan penuh perhatian, dia memang begitu merindukan kampung halamannya tapi tidak bisa menentukan seberapa lama di sana, karena mengikuti saja keputusan suaminya. "Tiara juga pasti akan merindukan Mommy." tuturnya lagi dengan senyuman.
"Tapi apa kamu yakin tidak akan membawa pelayan dan pengawal?" tanya Ze kembali memastikan. Pasalnya saat keduanya memutuskan untuk pergi, Tiara menolak membawa orang rumah untuk membantu segala keperluan mereka di sana. "Yang masak untuk kalian nanti siapa?" tanyanya khawatir, bahkan bukan hanya itu, segala urusan rumah siapa yang akan mengerjakannya jika tidak membawa pembantu satupun.
"Tidak apa-apa, Mom. Aku bisa melakukan nya sendiri." timpal Tiara berusaha menenangkan sang Mommy. Rumah nya yang di kampung sangat kecil, sekalipun jika harus beres-beres itu tidak akan mengurus banyak tenaga, karena lahannya tidak seluas kediaman keluarga Wijaya, terlebih saat dulu di kampung pun memang dia yang selalu mengurus rumah dan segala keperluan neneknya. "Mommy tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan putra Mommy kelaparan, kok." timpal nya lagi dengan tertawa kecil.
Kenzo dan Kenan yang mendengar itu pun malah ikut tertawa, Ze memang selalu posesif, mau pergi ke kampung untuk berziarah ke makam keluarga Tiara, seperti mau di tinggal keluar negeri saja.
"Iya, kalian harus berhati-hati di sana ya." timpal Ze langsung memeluk Tiara. Setelah semuanya siap kini dia langsung bicara pada Pak Tono untuk menitipkan kedua putranya, karena hanya dia yang akan ikut bersama mereka.
"Baik Bu, saya akan menjaga Aden dan Nona." timpal Pak Tono dengan berbungkuk.
Kenzo dan Tiara pun langsung berpamitan pada keduanya dan lekas memasuki mobil.
Perjalanan panjang usai, karena waktu yang cukup lama di perjalanan Tiara sampai tertidur pulas di pangkuan Kenzo. Kenzo sendiri sampai terkapar lemas, dia tidak mengira perjalanan menuju kampung halaman Tiara benar-benar menguras tenaga, bukan hanya sekedar melawati tanjakan yang begitu tinggi, jembatan besi melawati sungai, tapi jalanan nya pun cukup terjal membuat badannya goyang-goyang.
"Tahu gini aku suruh asisten Daddy untuk membuat landasan helikopter agar kita bisa sampai lebih cepat dan nyaman." gumamnya dengan mata terus mengitari jalanan yang dia lewati, entah seberapa lama lagi akan sampai, suasana sekarang semakin sepi karena mereka mulai memasuki pelosok yang sepi. "Apa masih lama, Pak?" tanyanya memastikan. Pak Tono adalah supir handal, tanpa ada petunjuk jalan pun asal sudah tahu alamat lengkap lokasi yang di tuju dia tidak pernah nyasar.
"Sebentar lagi, Den. Seharusnya setelah jalanan sepi ini kita sudah sampai di sebuah kampung, dan di sanalah Nona dulu tinggal." jawab Pak Tono cepat, Dia masih fokus mengendarai mobil terlebih melihat jalanan yang cukup buruk untuk di lalui, bukan hanya berlubang, banyak juga genangan air karena sepertinya baru habis turun hujan.
"Kalau saja bukan kampung halaman mu, aku malas sekali pergi ke sini, Tiara." gumam Kenzo dengan tangan terus membelai rambut sang istri yang sedang tertidur pulas. Jodoh memang tidak pernah tahu akan dari mana datangnya. Tiara yang berasal dari pelosok pedalaman kampung, telah Tuhan kirimkan untuk menjadi istri nya.
Ckitttt..... Setttt.... Duk....
Pak Tono menginjak rem dengan keras, kalau saja Kenzo tidak bergerak cepat, Tiara mungkin akan terguling karena mobil berhenti dengan tiba-tiba.
"Ada apa Pak?" tanyanya kaget, untung saja Tiara masih tertidur pulas jadi wanita itu tidak ikut kaget dengan keadaan sekarang.
__ADS_1
"Maaf, Den. Ada beberapa pemuda yang menghalangi perjalanan kita." jawab Pak Tono dengan begitu gugup. Masalahnya bukan karena apa-apa, jumlah mereka bukan hanya dua atau pun tiga orang, melainkan lebih dari sepuluh orang. Sudah pasti dia akan gelisah memikirkan keselamatan kedua majikannya, terlebih pemuda-pemuda itu semuanya sudah mendekat sambil membawa balok kayu di tangan mereka masing-masing.
"Astaga!" Kenzo tidak kalah kaget, mereka benar-benar di jegal, penampilan mereka saja terlihat begitu urakan sudah pasti mereka preman. "Tenang, Pak. Sebisa mungkin jangan turun!" ucapnya berusaha lebih tenang. Tapi baru juga selesai bicara salah satu dari mereka sudah mengetuk pintu mobil mereka menyuruh untuk turun.
"Tidak apa-apa, Den. Biar saya yang turun, kalau bicara baik-baik mereka mungkin tidak akan macam-macam." timpal Pak Tono berusaha melindungi majikannya. Para preman itu pasti hanya membutuhkan uang, dan dia hanya perlu memberikannya saja.
"Hati-hati Pak!" Kenzo hanya bisa memantau dari dalam, masalahnya bukan apa-apa, kalau hanya ada dia dan Pak Tono saja dia bisa menghadapi mereka, tapi masalahnya sekarang ada Tiara, dia harus berpikir dua kali takut orang-orang itu malah mencelakai istrinya.
"Maaf, Tuan-tuan. Ada apa?" Pak Tono langsung bertanya. Bahkan dia langsung menutup pintu mobil nya dengan begitu cepat biar orang-orang itu tidak melihat ada kedua majikannya di dalam.
Tuk....tuk.... tuk...
Satu dari pemuda itu hanya memantulkan ujung balok nya ke aspal, melihat penampilan orang tua paruh baya ini dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Orang kaya, ya." ucapnya dengan menyeringai, bukan hanya mobilnya yang terlihat mewah, penampilan supir nya saja terlihat begitu rapih. "Buka mobilnya, kami harus memastikan ada apa di dalam!" titah nya dengan begitu tegas tanpa basa-basi.
Sontak Pak Tono langsung terperangah, itu yang dia takutkan, orang itu malah ingin memeriksa ke dalam, "Maaf Tuan, di dalam mobil tidak ada apa-apa, jika Tuan menginginkan uang katakan saja, berapa pun akan saya berikan asal saya bisa lewat." tutur nya dengan begitu ramah, dia akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengusik mereka.
"Hahaha, uang? Boleh juga," pemuda itu malah terbahak, tapi sayang nya bukan itu yang dia inginkan, "Kau mungkin orang kaya, tapi sayang, uang bukan tujuan kita, jadi cepat buka mobilnya!" sentak nya dengan keras, bahkan balok kayu yang sedari tadi dia pegang sudah berpindah arah menodong orang tua paruh baya ini.
"Wah, rupanya masih ada orang di dalam." tutur pemuda itu sambil mengangkat sudut bibirnya, matanya sampai menatap sinis lelaki yang baru saja keluar dan sepertinya lelaki itu seumuran dengan nya. "Pemuda kota, ya!" gumamnya sinis. Bukan hanya terlihat rapih penampilan nya terlihat begitu cool.
Kenzo sendiri tidak kalah sinis menatap lelaki yang sepertinya pemimpin dari semua preman-preman itu, tidak habis pikir, padahal rupa lelaki itu cukup tampan tapi kenapa penampilan dan langkah hidupnya cukup meresahkan. Rambutnya pirang, di lehernya terpasang kalau rantai, di kedua telinganya terpasang anting-anting bahkan celana jeans nya saja terlihat robek-robek memperlihatkan kalau lelaki itu memang preman sejati.
"Apa yang kalian inginkan? kita hanya mau lewat." ucap Kenzo mulai bicara, jika masih bisa di bicarakan ayo bereskan, jangan dulu main kekerasan.
Pemuda itu kembali menyeringai, menatap lelaki itu dengan cukup kagum, dalam situasi seperti ini lelaki itu terlihat tenang juga, padahal dia dan kawan-kawan sudah cukup menyeramkan dengan peralatan tempur yang mereka bawa. "Kita harus memastikan apa yang kalian bawa di dalam." timpal nya dengan bersiul-siul. Mereka orang kaya, tidak menutup kemungkinan apa yang mereka bawa cukup aneh kan.
Kenzo sampai mengepalkan tangannya geram, sebisa mungkin dia harus mencegah pergerakan mereka, tidak sopan sekali mau menggeledah mobilnya, terlebih ada Tiara di dalam, "Tidak bisa, minta yang lain. Apapun itu pasti gue kabulkan."
Pemuda itu sampai terbahak, "Kalau begitu kembali! jangan harap bisa memasuki kawasan kami." timpal pemuda itu dengan tegas.
Kenzo sampai mengepalkan tangannya geram, "Aisst, kau!" Dia sampai refleks maju dan mencekam kerah lelaki itu. Seenaknya saja, dia pikir jalanan ini milik nenek moyang nya, sampai dia tidak bisa lewat.
__ADS_1
"Woi, macam-macam lo ya. Berani sekali kau menyentuh si Bos."
Bukannya pemuda itu, tapi orang-orang yang di belakangnya yang heboh. Baru kali ini ada yang berani melawan bahkan menyentuh si ketua preman kampung ini.
"Apa hah? Kalau lo laki, hadapi gue sendiri, jangan ngandelin anak buah lo itu." cibir Kenzo dengan menyeringai, dia sudah terlanjur kesal, kalau mau ada jotos, ayo! Hadapi dia secara jantan jangan beramai-ramai.
"Mundur." Pemuda itu langsung mengisyaratkan agar anak buah nya tentang, ini urusan dia dengan lelaki ini. Kalau mereka malah ikut campur, harga dirinya akan jatuh. "Lepas!" titahnya sambil menghempaskan tangan orang kota itu dari tubuhnya.
"Heh, lo mentang-mentang orang kaya jangan belagu ya. Gue hanya ingin melihat keadaan di dalam mobil lo, kalau memang tidak bisa kembali saja, kenapa lo nyolot dan bermain otot." decak pemuda itu kesal, tinggal milih kan, memperlihatkan isi mobil nya, atau kembali dan jangan berharap bisa melewati jalanan sini.
"Lo gak tahu privasi ya?" Kenzo semakin geram, di kota saja dia tidak pernah kesulitan seperti ini jika ingin melewati jalanan kenapa sekarang malah harus di persulit seperti.
Tiara yang mendengar percekcokan di luar sampai terbangun, "Ada apa ya, apa sudah sampai!" gumamnya sambil mengucek kedua matanya. Setelah matanya terbuka sempurna dan melihat keadaan di luar dia sampai kaget dan langsung turun dari mobilnya, "Astaga, aku lupa."
"Kembali, dan jangan berharap bisa lewat sini!" sentak pemuda itu kembali menegaskan, ini peringatan yang terakhir jangan memancing kemarahannya jika privasinya tidak ingin dia ketahui cepatlah pergi, bahkan balok kayu yang sedari tadi di pegang nya sudah melayang persis di depan wajah lelaki kota itu.
"Bagas, hentikan!" Suara Tiara terdengar begitu nyaring.
Semua orang langsung melihat ke sumber suara dengan begitu tercengang, bahkan balok kayu yang di pegang pemuda yang di panggil Bagas itu sampai terjatuh tergelak di aspal.
"Tiara...."
Pemuda itu dan semua bawahannya sampai tercengang kaget, kenapa Tiara juga keluar dari mobil itu.
Bahkan Kenzo dan Pak Tono lebih kaget lagi. Kenapa bisa Tiara mengenal preman itu bahkan memanggilnya Bagas, lebih menjengkelkan nya lagi kenapa preman kampung itu malah berdiri mematung seperti terkesima melihat Tiara.
"Tiara, ini beneran kau?" Bagas sampai tidak berkedip, apa ini benar-benar wanita pujaannya yang dulu pergi dari kampung begitu saja tanpa menjawab rasa cintanya. Bukan hanya lebih cantik kini wanita itu tidak terlihat lugu seperti dulu lagi. Dia terlihat lebih dewasa dan berkarisma. "Ku kira kau sudah tidak mengingat nama ku." ucapnya lagi dengan menatap wanita itu dengan begitu sendu. Rasa rindunya kini terobati setelah melihat wanita itu lagi.
"Heh, jaga mata mu." decak Kenzo kesal, dia bahkan langsung menarik Tiara ke pelukannya, "Kau mengenalnya?" tanyanya pada sang istri.
"Iya." Tiara langsung mengangguk, kembali menatap Bagas dengan tatapan hampa, lelaki itu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.
__ADS_1
"Kami tidak membawa barang yang akan merugikan ataupun mengancam keselamatan warga kampung, jadi biarkan kami lewat." pintanya tanpa memalingkan wajahnya menatap lelaki sang ketua penjaga kampung ini.