
Waktu sudah pagi, Ze terlihat berjalan di lorong rumah sakit menuju ruangan Tiara berada, karena putra dan menantu nya tidak jadi pulang kemarin, dia kini kembali ke rumah sakit untuk menjemput mereka.
"Loh, apa Kenzo belum bersiap-siap?" tanya Ze pada Pak Tono, waktu sudah cukup siang dia kira putranya sudah bersiap untuk pulang tapi supirnya itu masih terlihat bersantai santai di luar, "Kan bisa menunggu di dalam Pak!" ucapnya lagi.
Pak Tono sampai tersenyum tipis, "Aden dan Nona muda masih tidur, Bu." jawabnya cepat, dia tidak berani menunggu di dalam takut mengganggu kedua majikan mudanya.
"Benarkah?" Ze sampai terkejut, pasalnya semenjak Tiara kecelakaan putranya itu tidak pernah tidur dengan nyenyak karena gelisah, jangankan sampai kesiangan seperti ini, waktu tidur nya pun biasanya sangat singkat. Tidak mau banyak bicara dia pun langsung membuka pintu ruangan itu dan bergegas masuk ke dalam.
"Ahh, syukurlah." Ze sampai menghela nafas lega, matanya berbinar senang melihat keadaan di dalam, terlihat Kenzo sedang tidur pulas dengan mendekap erat tubuh istrinya. "Sepertinya hubungan mereka perlahan membaik." gumamnya sambil perlahan duduk. Dia berjalan dengan begitu pelan menuju sofa takut kedatangannya mengganggu mereka.
Sebelumnya dia sampai pasrah mengira Tiara akan susah untuk menerima putranya dengan keadaannya yang tengah lupa ingatan, tapi sepertinya putranya itu berhasil meluluhkan hati wanita itu sampai kini bisa kembali ke pelukannya dengan mudah. "Istirahatlah, mommy akan menunggu sampai kalian bangun."
...*...
Mobil yang di kendarai Pak Tono kini sudah membelah jalanan kota menuju kediaman keluarga Wijaya, setengah jam Ze menuggu pasutri muda itu dan sekarang mereka tengah dalam perjalanan pulang.
Wajah Kenzo terlihat berseri senang, bahkan genggaman tangannya dari tadi tidak lepas menggenggam tangan Tiara, walau wanita itu masih bersifat kaku dan dingin, tapi setidaknya sudah ada lampu hijau untuk nya bisa memulai kembali hubungan mereka untuk lebih baik lagi.
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah sampai di gerbang utama mansion keluarga Wijaya, mata Tiara sampai terkesima melihat kemewahan rumah itu, langsung melihat ke sekeliling melihat keadaan, dia tinggal di sini tapi sedikitpun tidak ada memori yang tersimpan di kepalanya, "Rumahnya besar sekali, apa aku benar-benar tinggal di sini?" Dia sampai melongo tak percaya, rumah di kampungnya begitu kecil dan sekarang dia malah tinggal dan hidup dalam kemewahan.
"Kenapa bengong, ayo turun!" ajak Kenzo berusaha menyadarkan Tiara, dia tahu mungkin ini terasa asing, tapi berusahalah beradaptasi karena di sinilah sekarang Tiara tinggal.
__ADS_1
Tiara mulai beranjak turun, tangannya sendiri tidak lepas menggenggam Kenzo, dia begitu gugup dan canggung, terlebih banyak pelayan yang menyambut kedatangan nya.
"Selamat datang, Nona muda."
Sambutan itu membuat Tiara merinding, seistimewa itukah dia di perlakuan di sana, "Ken!" lirihnya malu, dia berusaha meminta pendapat lelaki itu bagaimana dia harus menanggapi mereka.
"Tidak apa-apa, mereka para pelayan yang membantu segala keperluan di rumah ini. Mereka ikut senang dengan kesembuhan mu." Kenzo langsung menarik Tiara ke sampingnya, melingkarkan tangan di pinggang wanita itu, agar Tiara tidak terlalu canggung dengan semuanya.
Mereka semua sudah masuk, Tiara yang merasa ini tempat asing sampai terlihat linglung, bahkan langkah kakinya terlihat tersentak-sentak melihat ke sekeliling ruangan, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat sebuah foto besar dan di sana juga ada dirinya. "Tiara bodoh, kenapa sedikitpun kau tidak mengingat nya." Dia hanya bisa meruntututi dirinya sendiri, di rumah ini banyak sekali foto-foto dirinya dengan Kenzo tapi kepalanya sedikitpun tidak mengingat hal itu.
"Ken, langsung ke atas saja ya, biar Mommy menyuruh pelayan mengantarkan makanan ke atas," Ze langsung menuju dapur, dia tahu Tiara butuh perkenalkan dengan rumah ini, tapi sepertinya putranya sendiri bisa melakukan itu tanpa bantuannya, biarkan saja mereka berdua terus bersama untuk kembali mempererat hubungan mereka.
"Ayo!" Kenzo kembali merangkul pinggang sang istri untuk mengajak naik ke atas. Tapi terhenti karena Tiara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ini saat kita mengikuti perlombaan putra dan putri sekolah, kita mendapatkan juara satu." jelas Kenzo menceritakan, dia bahkan langsung mengelus kepala Tiara, dari sekian banyak foto kenapa hanya itu yang menarik perhatian istrinya.
Tiara tidak sadar sampai tersenyum lebar, jadi suaminya itu juga begitu pintar. Membuat dia semakin bersemangat untuk kembali belajar di sekolah.
"Kenapa senyam-senyum seperti itu, kau tidak percaya kalau aku pintar." goda Kenzo, tangan yang awalnya di kepala Tiara kini langsung melingkar di perut sang istri dan memeluknya dari belakang, dia sama-sama memperhatikan foto kenangan-kenangan mereka, yang sengaja sang Mommy siapkan untuk membantu pemulihan Tiara.
"Sedikit heran saja, padahal kata Azzura kau di cap berandal sekolah, tapi bisa mengikuti perlombaan bahkan memenangkan juara satu." ucap Tiara dengan begitu polos, bahkan bibirnya kembali memasang senyuman, jika mengingat kembali cerita-cerita dari Azzura dan Priscilla, dia hampir tak percaya kalau Kenzo benar-benar suaminya.
__ADS_1
"Aisst," Kenzo sampai gemas melihat ekspresi sang istri, dia sampai langsung mengecup pipi nya dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. "Apa saja yang mereka ceritakan tentang ku?" tanyanya dengan bibir yang tidak henti mengecup sana sini.
Tiara sampai tidak bisa menjawab pertanyaan Kenzo karena bergidik geli, "Kenzo," protesnya malu, tapi lelaki itu masih asyik dengan kegiatannya, "Azzura tidak membicarakan yang aneh-aneh kok. Mereka hanya menceritakan tentang Trisakti sekolah, dan terus menyemangati ku untuk secepatnya kembali ke bersekolah," jelasnya menceritakan, dia memang sudah berusaha menerima Kenzo dan menerima perlakuan apapun dari suaminya itu, tapi tidak seperti ini juga, dia belum terbiasa jika lelaki itu terus saja mencumbu nya, terlebih di sana ada pelayan yang melihat kegiatan nya. "Sudah, malu di lihat yang lain!" lirihnya sambil mendongkangkan kepalanya ke belakang bermaksud menghentikannya tingkah lelaki itu. Saat kepalanya menengok, saat itu pula bibir Kenzo malah menempel persis di bibirnya, dan dengan perlahan melu-matnya sampai terasa begitu hangat.
Tiara sampai mematung, tangannya sampai mencekam lengan lelaki itu, aliran darah sampai terasa mengalir cepat, rasanya suhu tubuhnya sampai memasna, "Ken," lirihnya malu, dia sampai refleks kembali menatap ke depan, dalam ingatan nya ciuman itu adalah hal yang baru tapi rasanya sentuhan lembut itu tidak terasa asing, membuatnya hatinya berdesir hebat.
"Maaf," Kenzo sampai tersenyum kecil melihat raut wajah Tiara yang sudah bersemu merah, "Aku sangat merindukanmu," lirihnya dengan kelu, itulah ungkapan rasa yang dia tahan selama hampir seminggu ini, seminggu di abaikan Tiara rasanya seperti bertahun-tahun. Tangannya kembali mempererat pelukannya dengan kepala kembali bersandar di bahu istrinya, "Aku begitu mengkhawatirkan mu, aku begitu takut kehilanganmu, dan kau tahu, aku begitu sakit saat kau tersadar tapi sedikitpun kau tidak mengingat ku, aku bagai tersiksa dia saat kau mengabaikan ku, Tiara." keluh nya dengan suara berat. Tiara harus tahu seberapa besar rasa rindu yang dia tahan, terus menunggu sampai Tiara bisa kembali menerimanya itu sangatlah berat.
Tiara sampai terhenyak, tangannya langsung bergerak mengelus punggung tangan Kenzo yang sedang melingkar di perutnya, "Maaf, jangan merasa sakit lagi karena aku akan berusaha untuk tidak mengabaikan mu lagi." timpal Tiara dengan suara pelan. Kepalanya memang tidak mengingat tentang kenangan mereka, tapi nalurinya selalu menariknya untuk terus berada di samping lelaki ini.
...***...
Seorang lelaki paruh baya terlihat berdiri di depan sebuah cermin, tangannya bergerak mengenakan sebuah wig berwarna putih setelah mengenakan kacamata bening di matanya, merasa belum puas dengan penampilan barunya lelaki itu kini mengenakan sebuah kumis palsu dan polesan make up untuk menutupi wajah aslinya. Sampai kini dia terlihat lebih tua dari umur aslinya.
"Dasar adik keras kepala, sudah kubilang jangan gegabah dan sekarang dia malah kena batunya, kan." decak lelaki itu sambil merapikan kemeja nya, penampilannya sudah terlihat rapi untuk menjalankan misi sekaligus menyembunyikan identitasnya dari buruan polisi yang tengah mencarinya. "Untung saja aku sudah menyiapkan semua ini, kalau tidak aku bisa kembali masuk ke tempat mengerikan itu." ucapnya lagi sambil mengangkat sudut bibirnya. Awalnya ini memang rencana cadangan; menyembunyikan identitas aslinya untuk turun ke lapangan, tapi dia tidak mengira harus menggunakan trik ini sekarang, rencana awalnya dia ingin mengumpulkan dulu banyak uang, tapi rencana itu hancur gara-gara kecerobohan Arzan.
"Bos, anggota yang lainnya sudah tertangkap polisi dan kepolisian itu terus bergerak mencari keberadaan kita."
Salah satu bawahannya terlihat mendekat dan memberikan kabar buruk untuk mereka. Tapi Mario terlihat tetap santai tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Tenang saja, yang mereka cari adalah aku, kau tidak perlu takut. Dan lagi mereka tidak akan ada yang mencurigai ku dengan penampilan baru ku ini." timpal Mario dengan santai, penyamarannya sudah sangat sempurna, dia yakin tidak akan ada yang mengenalinya.
__ADS_1
"Lalu sekarang Bos mau ke mana dengan penampilan seperti ini?" tanya bawahan itu penasaran. Di luar sana para polisi tengah mencari nya tapi Bos nya itu malah terlihat santai saja.
"Aku harus mengajar ke sekolah, identitas ku sekarang bukalah Mario si mafia narkoba, melainkan guru baru di sebuah sekolah SMA ternama." jawab Mario dengan menyeringai. Inilah awal misinya.