Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Debaran apa ini?


__ADS_3

Tiara baru keluar kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, menghirup udara pagi yang begitu sejuk dengan penuh kebebasan. Matahari yang cerah mulai menampakkan sinarnya, menghangatkan tubuhnya seolah menghantarkan ketenangan. Keadaan alam yang begitu bersahabat seakan menandakan bahwa hari ini akan di penuhi dengan kebahagiaan.


"Apa aku tidak terlalu serakah mendapatkan semua ini."


Tiara langsung bersiap untuk sekolah, mengenakan seragam sekolah nya sambil mengitari sekeliling kamarnya yang begitu luas dan megah.


Sesekali dia mencubit pipinya sendiri.


Apakah ini mimpi?


Apakah hanya sebuah halusinasi?


Dia tidak pernah berpikir kalau hidupnya akan berakhir seperti ini.


Menjalani kehidupan baru di kota.


Terpaksa menerima perjodohan dan pada akhirnya dia hidup dan tinggal bersama tunangannya sendiri. Mendapatkan keluarga baru yang lebih menghargai dan menyayanginya dari pada keluarganya sendiri.


Rasanya itu semua bagai sebuah anugerah bagi nya.


"Mommy benar benar mengerti keadaan ku."


Tiara tersenyum lebar melihat penampilan nya di cermin.


Seragam baru yang Ze siapkan sangat pas di tubuhnya, rok nya saja sampai di desain khusus untuk nya dengan ukuran tidak terlalu pendek. Panjangnya sampai lutut, agar dia merasa nyaman saat mengenakan nya.


Kini Tiara tidak perlu menggunakan stoking, Ze sudah menyiapkan kaos kaki panjang hampir sampai lutut, sengaja agar kulit kaki Tiara tidak terekspos sepenuhnya.


Penampilan ini terlihat begitu modis, tanpa harus berpakaian seksi.


Tiara mulai mengikat rambutnya, menggunakan bedak tipis-tipis, serta mewarnai bibirnya dengan lipstik berwarna peach sebagai pelengkapnya. Dia ingin mencoba berpenampilan baru, setidaknya dia berusaha untuk tidak terlalu kumuh, dan mempermalukan keluarga Pak Kenan.


"Seperti ini mungkin lebih baik."


Tiara tersenyum, dia sudah siap untuk berangkat sekolah langsung mengambil tas sekolahnya dan bergegas turun untuk sarapan bersama keluarga barunya.


Cklek...


Suara pintu terdengar begitu jelas, rupanya bukan hanya Taira yang baru keluar kamar, Kenzo yang berada di samping kamarnya juga baru terlihat keluar.


"P-pagi."


Agak sedikit kaget dan canggung, tapi Tiara akan berusaha untuk menyapa lelaki di depannya. Karena berpapasan seperti ini pasti akan terjadi setiap hari bahkan mungkin bisa setiap saat.


Orang mereka sekarang tinggal di satu rumah yang sama, berpasangan dan saling bertemu bukan hal yang bisa di hindari.


"Hemm."


Kenzo menjawab singkat.


Matanya sesaat terkejut melihat Tiara.


"Apa mommy yang mengajarinya untuk berpenampilan seperti itu?"


Kenzo membuang muka.


Apa gadis itu si cupu yang dia kenal?


Rasanya dia sedikit-sedikit memperlihatkan perubahan.


Terlihat cantik, tapi dia enggan mengakuinya. Dia pun langsung melangkah kaki, beranjak menuruni anak tangga untuk sarapan bersama.


"Akh, super cuek nya kambuh lagi. Padahal dia kan bisa bilang, pagi juga,"


Tiara mengumpat kesal, walaupun begitu dia langsung melangkah mengikuti langkah Kenzo si super cuek itu.


"Apa kau baik-baik saja sekarang?"


Tiara kembali bicara, dia berusaha menanyakan bagaimana keadaan Kenzo sekarang.


Semalam dia dan Ze menghampiri Kenzo ke kamarnya untuk memastikan, tapi Kenzo sudah tertidur, mereka pun kembali keluar tidak ingin menggangu Kenzo yang sedang beristirahat.


"Seperti yang kau lihat."


Kenzo kembali bersuara dengan begitu datar, pertanyaan Tiara membuat mood nya sedikit berubah.


"Apa dia marah karena mengira aku tidak peduli padanya saat dia sakit?"


Tiara berusaha menerka-nerka, suara Kenzo terdengar begitu ketus, sampai dia mengira lelaki itu marah padanya.


"Semalam aku menghampiri mu bersama mommy, tapi kau sudah tertidur, jadi aku dan mommy kembali lagi."


Tiara berusaha menjelaskan, dia tidak mau Kenzo marah. Apalagi sampai mengira dia akan menjauhinya karena kelemahannya itu.


"Apa mommy menceritakan sesuatu pada mu?"


Kenzo tiba-tiba berhenti, langsung membalikkan badannya menghadap Tiara. Posisinya yang sedang berjalan di tangga membuat dia bisa dengan jelas melihat wajah Tiara yang kini menjadi sejajar dengan wajahnya.


"Astaga! Kalau mau berhenti bilang!"


Tiara refleks berhenti. Bukan hanya kaget karena Kenzo tiba-tiba berhenti, tapi kaget karena wajah Kenzo persis di depan mata. Dia memang lebih pendek dari tubuh Kenzo, tapi karena posisi dia berada di anak tangga paling atas tubuhnya kini bisa sejajar persis dengan Kenzo sampai dia bisa dengan jelas melihat wajah lelaki yang menatapnya dengan penuh tanya.


"Jawab! Apa mommy menceritakan sesuatu pada mu?"


Tanya Kenzo lagi,

__ADS_1


sang Mommy pasti tidak akan diam, dia pasti menceritakan semua tentang penyakitnya pada Tiara.


Dan dia ingin tahu seperti apa tanggapan nya.


"Iya,"


Tiara menjawab singkat, ekspresi nya bahkan bisa saja.


"Sampai mana mommy memberi tahu mu?"


Kenzo bertanya lagi, rasanya belum puas karena Tiara terlihat biasa saja.


"Semuanya."


Tiara lagi-lagi menjawab singkat.


Bukan karena apa-apa, sekarang yang ada di pikirannya hanya satu, ingin menghilang rasa canggung.


Dia wanita normal, wanita mana yang akan baik baik saja jika melihat ketampanan seorang Kenzo, apalagi dari jarak yang sangat dekat, dia tidak ingin wajahnya memerah apalagi sampai Kenzo menyadari kegugupannya.


"Apa kau tidak bisa memperjelas perkataan mu, dasar menjengkelkan."


Kenzo kembali berbalik dan kembali berjalan. Bahkan sekarang langkahnya begitu cepat.


Bukannya mendapatkan tanggapan, dia malah kesal. Tiara bahkan terlihat biasa saja. Mau dia sakit atau tidak, wanita itu memang tidak mempedulikannya.


"Aku tahu semuanya, Ken. Aku tahu kalau kau lemah akan cuaca dingin, kau lemah dari udara malam. Dan sekarang aku tahu kenapa kau tidak pernah melepaskan switer mu itu. Kau sedang menjaga keras tubuh mu agar orang orang tidak tahu tentang kelemahan mu.


Dan aku tahu kau bukanlah orang lemah.


Kau pasti bisa melalui semua itu dengan mudah."


Tiara mengungkapkan semuanya.


Tapi percuma, dia hanya bisa bicara dalam hati karena Kenzo sudah melangkah pergi jauh di depannya.


...*...


"Pagi anak-anak mommy yang tampan dan cantik, habiskan sarapan kalian. Dan ini bekal untuk makan siang nanti."


Ze bicara dengan penuh antusias, bergantian mengecup kepala Tiara dan Kenzo yang sedang melahap sarapan nya.


Langsung menyimpan sebuah kotak makan yang sengaja ia siapkan.


"Kita bukan anak TK mom. Tidak usah membawa bekal."


Kenzo protes, semenjak kehadiran Tiara di sana sang mommy terlihat begitu bersemangat. Dari dulu ingin mempunyai seorang putri, dan kini terkabul karena ada Tiara di sini.


"Jika kamu tidak mau membawanya tidak apa-apa. Kan ada Tiara, iya kan sayang."


Ze langsung mengelus kepala Tiara, mencari pembelaan agar calon mantunya itu menerima kerja keras nya yang telah menyiapkan bekal untuk mereka.


Tiara tersenyum lebar, sebaliknya dari Kenzo. Dia malah senang karena dalam pikirannya dia bisa menghemat uang jajan.


"Mereka memang cocok, bukan begitu, Dad."


Kenzo hanya bisa menggelengkan kepala, mencari teman bicara karena sang Daddy pun sama-sama terabaikan.


Sepertinya dua wanita itu punya dunia mereka sendiri, sampai mengabaikan mereka kaum laki-laki.


...***...


Tiara dan Kenzo sudah sampai di sekolah. Kenzo menyuruh Tiara terlebih dulu masuk kedalam karena dia harus memarkirkan mobilnya terlebih dulu.


Sesaat tidak ada yang beda, Tiara berjalan menelusuri koridor menuju kelasnya.


Berjalan melalui kumpulan murid murid yang lain yang sama-sama menjual kelas masing-masing.


Tapi hari ini sedikit berbeda, banyak mata tertuju melihat ke arah Tiara, bukan karena ada Jonathan si ketua osis, atau karena ada Kenzo si brandal sekolah.


Mereka terkesima melihat penampilan Tiara yang terlihat berbeda.


"Bukannya dia si murid baru di kelas unggulan?"


"Iya, apa sebelumnya dia secantik itu?"


"Entahlah, sebelumnya gue tidak pernah memperhatikan nya."


"Dia terlihat berbeda sekarang. Cantik dan menarik."


Murid laki-laki di koridor terdengar ricuh, mereka saling menimpali satu dengan lainnya. Bagaimana tidak, penampilan Tiara yang semakin cantik terlihat menarik di mata mereka.


"Lihat leher jenjangnya, bukankah itu sangat indah dan mempercantik penampilan nya."


Ucap salah satu dari mereka lagi,


mereka benar benar di buat terpesona oleh kecantikan Tiara.


"Sedang apa kalian, hah?"


Suara Kenzo tiba-tiba terdengar.


Perkataan mereka terdengar sangat jelas dan mengganggunya.


Murid-murid yang tadinya bersuara langsung terkejut dan terdiam.

__ADS_1


Kenzo dengan keras menarik pundak murid yang baru saja membicarakan Tiara. Menariknya dengan begitu keras sampai murid itu terpental ke belakang.


"Ken-kenzo? Ada apa Ken?"


Murid itu kaget setengah mati.


Tatapan Kenzo seperti ingin membunuhnya. Perasaan dia tidak pernah mengusiknya, kepada Kenzo tiba-tiba marah padanya.


"Jangan pernah memperhatikan murid baru itu dengan mata kotor kalian. Kalau tidak aku tidak segan-segan untuk mencungkil nya."


Ucap Kenzo dengan penuh penegasan.


Dia kesal sendiri, tidak terima murid-murid yang berkumpul di sana dari tadi terus memperhatikan tunangannya.


"Kenapa diam saja, jawab!"


Ucap Kenzo lagi.


"Iya, Ken."


Mereka serentak bicara, walau tidak mengerti apa maksud ucapan Kenzo tapi mereka takut dan mengiyakan.


Kenzo meninggalkan mereka, langsung mempercepat langkahnya mengikuti Tiara.


"Bisa ikut aku, sebentar!"


Kenzo tiba-tiba bicara, Tiara sampai kaget, sejak kapan Kenzo ada di sampingnya.


"Astaga, kenapa kau hobi sekali mengagetkan ku, Ken."


"Ikuti aku!"


Pinta Kenzo lagi. Dia tidak mau menarik tangan Tiara karena banyak murid lain di sekitar mereka.


Walau sedikit heran, mau tidak mau Tiara menuruti Kenzo, mengikuti langkah lelaki itu walau tidak tahu dia akan mengajaknya ke mana.


"Ada apa?"


Tiara langsung bertanya, saat Kenzo menghentikan langkahnya.


Lelaki itu sepertinya tidak akan berjalan lagi karena suasana di sana sudah cukup sepi.


Kenzo langsung berbalik, dia ingin bicara tapi bingung harus bagaimana.


Dia hanya terus menatap Tiara berharap wanita itu bisa mengerti apa yang di pikirkan nya.


"Ken, aku tidak akan mengerti kalau kau tidak bicara."


Tiara bingung, lelaki itu sebenarnya mau apa. Apa mungkin kepalanya terbentur dinding, Tiara berpikir kalau tingkah Kenzo sedikit aneh.


"Lain kali jangan berpenampilan seperti ini saat di sekolah."


Kenzo sampai menggaruk tengkuknya, dia sendiri merasa kalau dia sedikit tidak waras, bisa-bisanya dia bicara seperti itu, tapi masa bodoh dia tidak mau jika kecantikan Tiara di lihat laki-laki lain.


"Kenapa? Apa di matamu aku terlihat makin cupu."


Lakh, yang cowok nya malu-malu. Ekh, cewek nya malah tidak peka, tidak sadar kalau dirinya cantik dan berhasil mencuri perhatian banyak kaum Adam.


Kenzo malah kesal, Tiara sedikitpun tidak mengerti maksud perkataan nya.


"Iya, kau sangat cupu. Jadi jangan pernah menguncir rambut mu seperti ini selain di hadapan ku."


Kenzo sampai sewot, bicara dengan begitu jelas, tangannya dengan cepat menarik ikatan rambut Tiara.


Langsung merapihkan rambut itu dengan kedua tangannya sampai rambut itu tergerai sempurna.


"Hei apa yang kau lakukan?"


Tiara begitu kaget, tubuh Kenzo semakin mendekat ke tubuhnya.


Apalagi tangan terasa begitu lembut mengelus rambutnya.


"Seperti ini, kalau di sekolah kau harus menggeraikan rambut mu."


Tidak mempedulikan ocehan Tiara,


Kenzo malah asyik merapihkan rambut Tiara agar leher jenjangnya tidak terekspos sepenuhnya.


"Iya. Iya. Tapi bisa kau memundurkan tubuhmu. Kalau kau terlalu dekat aku bisa-"


Bibir Tiara langsung terbungkam, dia hampir saja keceplosan.


Dia tidak mungkin mengatakan kalau debaran jantungnya tidak karuan kalau Kenzo terlalu dekat dengan nya.


"Bisa apa?"


Kenzo langsung bertanya, bukannya memundurkan tubuhnya dia malah semakin penasaran dan ingin tahu reaksi Tiara.


"Akh, tidak apa-apa. Mundur saja."


Tiara makin gugup, langsung menundukkan kepala, tangannya dengan cepat mendorong tubuh Kenzo agar lelaki itu menjauh dari nya.


"Hanya itu kan yang ingin kau bicarakan, aku duluan."


Tiara pergi, dia tidak mau Kenzo melihat wajahnya yang sudah memerah karena malu. Bisa-bisanya jantung nya terus berdebar tidak karuan, hanya karena Kenzo berada di radius yang begitu dekat dengan nya.

__ADS_1


"Lucu sekali."


Kenzo malah tersenyum. Tiara yang lari terbirit-birit malah terlihat menarik di matanya.


__ADS_2