Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Do not leave me!


__ADS_3

Chelsea kembali menaiki tangga menuju kamarnya, kembali menjalani hari-hari yang membosankan karena harus seharian di dalam kamar, "Ku kira aku bisa sering bertemu dengan Kak Kenzo karena tinggal satu rumah, tapi ternyata tidak." umpatnya dengan melangkahkan kaki dengan begitu kasar, bahkan raut wajah terlihat begitu cemberut.


Bagaimana tidak. Yang awalnya ingin sarapan bersama dia malah di abaikan. Dan lagi Kenzo dan Tiara menghabiskan waktu cukup lama berada di ruangan Kenan sampai dia tidak bisa melihat kembali lelaki yang di suakinya. Bahkan saat keluar dari ruangan pun pasutri itu tidak sarapan di rumah, mereka langsung berangkat sekolah beralasan takut ke siangan.


"Akh, aku ingin segera masuk sekolah agar bisa sering-sering bareng Kak Kenzo." rengek nya lagi. Chelsea sampai membuka pintu kamarnya dengan begitu keras, ingin bergegas masuk tapi terhenti karena ada seorang pelayan yang menghampirinya.


"Maaf Non Chelsea, ini! Non Tiara menitipkan ini." ucap sang bibi pelayan, dia memberikan sebuah kotak besar, entah apa isinya, tapi yang jelas itu oleh-oleh dari Bali yang sudah Tiara janjikan.


"Sini!" Chelsea dengan cepat mengambil kotak persegi empat itu, saat dia pegang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan, dia jadi penasaran apa isi didalamnya.


Chelsea langsung masuk kamar, kembali menutup pintunya dan dengan cepat duduk di sofa untuk membuka oleh-oleh yang Tiara berikan. "Ini apa ya?" Tidak bisa membayangkan itu apa, dia perlahan membuka lapisan kertas yang membungkus kotak besar itu, sampai terlihat sebuah kotak tebal yang begitu elegan, di lihat dari luarannya itu seperti barang mahal.


Saat kotak itu terbuka mata Chelsea langsung melebar sempurna, "Oh my God," Dia sampai mengepalkan tangannya geram, di kira barang itu akan memuaskan, ternyata itu hanya sebuah frame foto berukuran 10r. Tampilan nya memang terlihat elegan, itu bukan frame murah yang selalu berjejer di pasaran.


Tapi tetap saja oleh-oleh itu membuat Chelsea tersulut emosi, di dalam frame itu sudah terpasang sebuah foto yang memperlihatkan kedekatan Kenzo dan Tiara. View hamparan laut biru dengan pose Tiara yang sedang memeluk Kenzo bahkan bibir wanita itu sedang mengecup mesra pipi suaminya, membuat Chelsea naik darah.


"Dasar wanita menyebalkan." decak nya lagi makin kesal. Tidak habis pikir bisa-bisanya Tiara memberi sebuah hadiah yang begitu memuakkan. Dia sampai membanting frame itu enggan melihat kemesraan mereka berdua.


...*...


Keadaan di sekolah.


Priscilla berjalan dengan cepat menelusuri koridor sekolah untuk menghindari Devan. Saat acara camping dia mengira lelaki itu hanya kebetulan saja terus membantu dan selalu ada di sampingnya, tetapi sepertinya itu bukanlah sebuah kebetulan karena sampai sekarang pun lelaki itu terus saja mengikuti dan mendekatinya.


Priscilla menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang, "Stop, Dev! Kenapa kau bertingkah seperti ini?" tegur nya heran. Ada angin apa lelaki itu terus saja mendekati dan mengikutinya. "Sebenarnya apa mau mu?" tanyanya lagi semakin heran, pasti bukan tanpa alasan lelaki itu tiba-tiba bersikap baik padanya.


Devan hanya tersenyum kecil, "Apa tidak boleh aku mendekati mu?" ucapnya dengan begitu santai, orang sedang bertanya dia malah kembali bertanya.


Priscilla malah semakin kesal, "Kau sangat menggangu, Dev." timpal nya dengan datar.


Devan malah menyeringai, yang awalnya hanya ingin menjalankan tugas dari Kenzo untuk memperhatikan Priscilla, dia malah kebablasan ingin lebih dekat dengan wanita ini. "Setelah di perhatikan kau cukup menarik juga." gumamnya tanpa memalingkan mata menatap gadis yang sedang menatapnya dengan kesal. Semakin wanita itu menolak semakin ingin dia mendekatinya.


"Menjauh lah!" titah Priscilla dengan dingin, sikap Devan yang seperti itu malah membuatnya tidak nyaman. "Jangan pernah mengikuti ku lagi!" pintanya dengan tegas sambil berlaju pergi. Lelaki itu begitu keras kepala, lebih baik dia yang menghindarinya.


Devan hanya bersiul-siul riang, terserah wanita itu akan sedingin apa padanya, dia akan terus mengikutinya. Terus berjalan di belakang Priscilla mengikuti langkah wanita itu yang akan menaiki tangga menuju kelas yang ada di lantai tiga.


"Apa kau tidak punya pendengaran? Kenapa terus mengikuti ku, si." umpat Priscilla makin geram. Walau dia terus berjalan lurus menaiki tangga, dia tahu lelaki itu terus berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Devan malah terkekeh, "Berjalan saja, jangan hiraukan aku." dia malah semakin gencar menggoda wanita itu, karena semakin dingin nada bicaranya semakin menarik pula wanita itu di matanya.


"Aisst, dasar menyebalkan." Sesaat dia menoleh ke belakang, ingin menegur Devan tapi kakinya malah salah melangkah membuatnya terpeleset.


Brugg


"Aww." Hampir saja tersungkur, tubuh Priscilla sampai terhuyung ke belakang, dan menubruk tubuh Devan.


"Hati-hati kalau berjalan!" Devan sampai kaget, dengan cepat menyangga tubuh Priscilla sampai punggung wanita itu kini bersandar di dekapan nya. "Sekarang baru tahu kan apa gunanya aku terus berada di dekat mu." bisik nya dengan menyeringai. Kecelakaan yang begitu menguntungkan, momen ini benar-benar membuatnya kegirangan.


"Kau yang membuatku terpleset." decak Priscilla kesal. Dia tahu lelaki itu telah membantunya tapi dia enggan mengakuinya. "Lepas!" titahnya dengan suara makin tinggi.


"Berdiri dulu yang benar, baru aku lepas." timpal Devan malah tersenyum jahil, posisi sekarang wanita itu yang bersandar pada nya, kalau dia melepaskan pegangannya otomatis wanita itu akan tersungkur ke lantai.


"Aisst." Sontak Priscilla langsung berdiri tegak, bisa-bisanya dia mati gaya di depan seorang pria. "Jangan mendekati ku lagi." serunya dengan begitu ketus, dia kembali berjalan menaiki tangga dengan langkah yang cepat.


Devan sampai terkekeh, di sembunyikan sekalipun dia bisa melihat raut wajah Priscilla yang bersemu merah. "Hati-hati! Awas terpeleset lagi." godanya sambil kembali mengikuti langkah wanita itu. Sebelum Tiara berbicara dengan Priscilla dia harus memastikan Shasa dan kedua kawannya tidak mendekati wanita ini.


Sementara itu di parkiran, Kenzo baru saja memarkirkan mobilnya. Dia langsung menatap Tiara yang sedang melamun. "Tiara!" panggilannya berusaha menyadarkan wanita itu. Karena terus melamun istrinya itu sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di sekolah. "Sayang!"


"Hem." Tiara sampai gelagapan, tersenyum malu menatap sang suami. "Iya, kenapa?" tanyanya dengan begitu polos.


"Tidak, justru aku senang jika bisa membantu, Daddy." jawab Tiara dengan cepat, apapun itu dia akan melakukan yang terbaik untuk membantu, "Tapi, aku takut mengecewakan, Ken." timpal nya dengan suara melemas, permainan Daddy nya kali ini begitu berat, dia belum berpengalaman dalam urusan perkantoran, terlebih harus berhadapan langsung dengan petinggi-petinggi perusahaan asing. Dia belum tahu bagaimana caranya memulihkan keadaan eksternal perusahaan, tidak tahu bagaimana caranya membuat persentase yang baik untuk bisa menarik kembali para investor asing yang di ceritakan sang Daddy.


"Tidak harus takut karena kita belum mencoba, kita hanya perlu berusaha, Tiara." tuturnya sambil mengelus kepala sang istri, Kenzo tahu ini memang cukup beresiko, tapi dia yakin kalau mereka berusaha hasilnya pasti tidak akan mengecewakan. "Setelah sekretaris Daddy mengirimkan dokumen yang bersangkutan, aku akan mengajarimu membuat persentase yang baik, untuk selebihnya aku yang akan mengurusnya." tuturnya berusaha meringankan beban sang istri.


Tiara sampai menunduk malu, akar mula semua permasalahan ini pasti karena dirinya, "Maaf, kalau saja aku tidak hadir dalam kehidupan mu, kalian tidak akan kesulitan seperti ini." lirihnya dengan suara lemas. Hati Tiara sedikit terusik, antara malu dan sedih, sampai hati keluarga pamannya menaruh rasa benci padanya sampai berani mengusik perusahaan sang Daddy, karena dendam mereka yang begitu dalam. "Aku memang hanya wanita pembawa masalah, Ken. Maaf." lirihnya lagi. Selama dia ada di sampingnya selama itu pula masalah akan terus menimpa lelaki itu. Karena keluarga pamannya sendiri yang menciptakan permasalahan itu.


"Tiara!" Kenzo sampai mengubah posisi duduknya menghadap Tiara, tangannya bergerak meraih dagu wanita itu dan mengangkatnya dengan perlahan sampai kini mata mereka saling bertatapan. "Dari awal aku yang memilih mu, aku yang bertekad untuk menjaga mu, aku yang membawa mu keluar dari siksaan keluarga paman mu. Jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri karena aku sendiri yang menginginkan kan nya. Apapun masalah yang mereka ciptakan, yakinlah kalau semaunya pasti akan baik-baik saja."


Tiara sampai tertegun. Perkataan suaminya kembali menangkan hatinya, tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, dia hanya perlu membuktikan, kalau dia tidak salah, melainkan keluarga pamannya yang serakah.


"Do not leave me!" pintanya dengan lirih, sungguh hanya Kenzo yang dia miliki, hanya lelaki itu yang bisa membuatnya tenang dan merasakan kenyamanan.


Kenzo mengangguk, langsung mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Tiara, mencium bibir wanita itu dengan begitu lembut, membuktikan seberapa besar kesungguhannya cintanya, dia akan menjaga dan terus mempertahankan Tiara di sisi nya. "forever i'm here for you."


...*...

__ADS_1


Brugg....


Tubuh Tiara menabrak seseorang, dia berjalan sendiri menuju kelas karena Kenzo harus mengambil laptop yang dia simpan di basecamp nya.


"Wah-wah, lihat. Siapa yang berani menabrak ku?" ucap Shasa menyeringai, memang waktu yang tepat, dia di pertemukan dengan Tiara saat wanita itu berjalan sendirian saja. "Bagaimana kabar mu, tiga hari tidak bertemu kau terlihat bahagia padahal kau sudah menyusahkan banyak orang." timpal nya lagi dengan tangan bergerak menyentuh switer yang Tiara kenakan.


Tiara sampai memundurkan tubuhnya, dia tahu persis apa maksud ucapan wanita itu, "Apa kau belum puas mempersulit ku? masalah nya hanya di antara kita, kenapa kau membawa-bawa Arzan sampai mengusik perusahaan?" sentak nya dengan begitu kesal. Dia masih bisa menerima jika Shasa dan keluarganya mempersulit nya, tapi berbeda cerita jika mereka semakin ngelunjak apalagi sampai berani mengusik keluarga suaminya.


Shasa malah tergelak, "Haha, bukannya kau yang memulainya. Kau yang telah mengeluarkan Ayah dari bagian keluarga Wijaya dan kau sendiri malah bersenang-senang sembunyi di balik kekuasaan mereka." cibirnya dengan begitu santai, dia kembali mendekati Tiara walau wanita itu terus saja menghindari, "Lihatlah, apa yang Arzan lakukan hanya permulaan, Tiara." ancamnya dengan begitu tegas sambil menekan pundak Tiara dengan telunjuknya. Dia akan melakukan segala cara agar wanita itu tunduk pada nya.


"Iya, terus lah berambisi. Buatlah skenario sebagus mungkin. Namun sebagus apapun itu alur ceritanya tidak akan berjalan mulus dengan skenario yang telah kau rancang." kilah Tiara dengan tegas, sekeras apapun Shasa dan Arzan berusaha menjatuhkan keluarga suaminya, sekeras itu pula mereka akan melawan dan membalasnya.


"Haha, begitu kah? sepertinya ada satu hal yang kau lupakan?" Shasa makin tersenyum senang, teruslah tersulut oleh perkataanya, dengan begitu wanita itu akan semakin mudah masuk dalam genggamannya. "Kau tidak melupakan tantangan basket itu kan?" lanjutnya dengan begitu santai. "Jangan terlalu lama menentukan match-nya, sanggup atau tidak besok kau harus sudah siap, Tiara." ucapnya dengan penuh penekanan.


"Besok?"


"Kau keberatan?" Shasa kembali menyeringai, "Tidak apa, aku akan menuruti keputusan mu kalau kau belum siapa, tapi dengan syarat?"


"Syarat?"


"Jangan pernah berharap bisa menggeser posisi ku sebagai Trisakti sekolah."


"Itu bukan syarat, Sha. Itu pelanggaran." Tiara tidak terlalu terkejut, dia tahu Shasa selicik apa, wanita itu pasti mempunyai berbagai cara untuk mempersulit nya.


"Terserah, hanya ada dua pilihan, match nya besok atau kapanpun kau siapa, tapi jika tim kau masih tetap kalah, kau harus mengikuti semua kemauan ku." timpal nya dengan begitu santai, pilih saja, dia sudah memberi banyak kewenangan untuk Tiara.


"Kau gila, itu sama saja, Sha."


"Hahaha belum apa-apa kau sudah takut. Dasar pecundang." Shasa sampai tertawa penuh kemenangan, terimalah semua jebakan dari nya.


"Bukan aku yang pecundang, tapi kau. Dasar licik!"


"Kau sendiri yang menyuruh kan. Itulah skenario ku. Bisakah kau merubah alur ceritanya?"


Tiara sampai mengepalkan tangannya geram, wanita ini benar-benar gila, bagaimana dia harus melawannya.


"Aku tunggu besok di lapang basket, entah itu kau siap untuk bertanding, atau ungkapan janji mu untuk tidak akan menggeser posisi Trisakti ku." ucap Shasa kembali menantang. Dia benar-benar sudah kegirangan karena berhasil memancing Tiara masuk dalam genggamannya.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak membual, jika keinginan mu tidak tercapai, itu akan lebih menyakitkan."


__ADS_2