
Kenzo duduk di basecamp nya, menatap layar laptopnya dengan seksama, Mario benar-benar membantunya meng-hack cctv sekolah, bukan hanya bisa di akses di ponsel, dia juga bisa mengaksesnya di laptop agar bisa lebih leluasa.
"Bagaimana, apa sudah ada pergerakan yang mencurigakan?" tanyanya pada Devan yang sama-sama sedang membantunya mengamati Shasa dan konco-konco nya.
"Belum ada, Ken." jawab Devan singkat.
Kenzo langsung menghela nafas, dia sendiri hanya bisa melihat pergerakan Shasa yang sedang mengawasi bawahnya mendekor aula, tanpa ada pergerakan yang mencurigakan. "Bukankah kalau seperti ini lebih aneh?" gumamnya heran. Dia sampai memijat pelipisnya, dari tadi mengintai keadaan di sekolah, tapi nihil, tidak ada pergerakan yang dia curigai, Shasa bertingkah selayaknya panitia yang mengarahkan bawahannya, begitupun Alicia dan Jessica, mereka sama-sama berkerja normal selayaknya mengerjakan tugas mereka masing-masing. Bahkan dia terus mengoper chanel nya, dari depan, belakang, bahkan aula sekolah tidak luput dari pengintainya. Yang dia lihat hanyalah murid-murid panitia yang berlalu lalang melaksanakan tugas nya.
"Tunggu, Ken. Ada pergerakan sedikit aneh dari Jessica," Devan langsung antusias, begitupun Kenzo langsung melihat layar yang sedari tadi Devan perhatikan. "Yang di tangannya apa sebuah minuman?" tanyanya meminta pendapat Kenzo. Terlihat seperti sebuah sirup, tapi wanita itu memisahkan satu botol itu dan memerintahkan bawahannya dengan sebuah isyarat yang tidak di mengerti nya.
"Ya, untuk sementara kita curigai itu. Aku harus berhati-hati dengan minuman yang di siapkan mereka." timpal Kenzo langsung menafsirkan hal buruknya. "Nanti malam jangan sampai terpisah bantu gue untuk berjaga-jaga. Walau belum pasti, mereka pasti merencanakan sesuatu." tutur Kenzo membuat kesimpulan. Shasa tidak bergerak sendiri, dia pun harus meminta bantuan Devan untuk membantunya.
"Apa perlu gue bawa botol misterius itu?" tawar Devan menawarkan diri.
"Jangan, biarkan saja. Kita hanya perlu hati-hati. Jangan memancing kecurigaan mereka, kita hanya perlu pura-pura tidak tahu apa-apa, kalau mengusik mereka sebelum waktunya, mereka akan semakin menggila, mereka pasti akan membuat rencana yang baru lagi." cegah Kenzo dengan tegas. Shasa bukan wanita yang mudah mengalah, jika rencananya di gagalkan, wanita itu pasti akan membuat rencana baru. Untuk sekarang dia hanya perlu berjaga-jaga, sebelum mendapatkan bukti yang nyata.
"Oke. Siap Ken." jawab Devan dengan tegas. Dia hampir tak percaya, demi menjaga Tiara, Kenzo mau turun tangan sendiri memperhatikan kelicikan Shasa, maka dia pun akan dengan senang hati membantunya.
...~...
Shasa sang ketua panitia terlihat duduk santai di sudut ruangan sambil mengamati bawahan nya yang sedang bekerja. Sedangkan Jonathan sang ketua osis hanya berperan sebagai penanggung jawab jadi dia tidak turun langsung ke lapangan.
__ADS_1
Shasa beranjak berdiri, menghampiri salah satu pekerja yang menata area depan aula, "Heh, apa kau tidak bisa bekerja, aku sudah bilang kan, pakai tirai yang lebih tebal, kain tipis seperti ini tidak cocok," decak nya kesal, kenapa anak ini tidak mendengarkan perkataanya.
"Tapi Sha, biasanya juga tidak seperti ini kan. Tirai ini malah menghalang pandangan dari aula ke luar," kilah murid itu memberi alasan, biasanya juga hanya mengunakan dekorasi bunga saja, kenapa sekarang malah di tambah tirai.
"Heh, jangan melawan, tema kali ini berbeda, ikuti saja arahan ku kenapa susah sekali si." decak Shasa makin geram. "Pokoknya gue tidak mau mendengar lagi ocehan Lo, pasang tirai di bagian depan dengan bahan yang lebih tebal agar terlihat elegan, baru kau dekorasi dengan bunga-bunga sesuka Lo." tuturnya lagi memberi perintah. Laksanakan saja, karena ini bagian dari rencananya.
Murid itu langsung mengangguk, dia hanya seksi dekorasi tidak bisa melawan dan lekas mengerjakan tugas nya.
Shasa langsung menyeringai, strategi ruangan selesai, kini tinggal menghubungi Jessica dan Alicia yang bertugas di bagian belakang, 💬 "Lo di mana, Jess?"
Shasa langsung mengirimkan sebuah chat pada grup wa yang berisikan Dia, Jessica dan Alicia saja.
💬"Oke, kerja bagus, lanjutkan. Kita harus lebih berhati-hati karena Kenzo pasti tidak akan tinggal diam." titah Shasa memberi nasehat, bahkan dia sengaja berkomunikasi dengan sebuah chat agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
Sebuah chat dari Alicia muncul, 💬 Urusan Kenzo udah gue atur, kita jangan dulu berkumpul sampai nanti malam agar tidak menarik perhatian," Alicia ikut memberi nasehat, dia sudah terlatih dalam kelicikan, sudah yakin rencananya kali ini akan berhasil. 💬 "Bagaimana obat nya, Jess. Sudah lo pindahkan ke botol minum kan? Simpan bekas nya di tas gue, biar gue atur sisanya." titah nya lagi pada Jessica, tanpa mengecoh fakta, mereka jelas akan langsung ketahuan.
💬 "Udah, udah gue siapin dari tadi di rumah, udah gue campurkan dengan sirup minuman untuk nanti malam, sisanya udah gue atur sama anak-anak konsumsi, mereka bahkan tidak tahu kalau itu obat perangsang." jawab Jessica dengan tawa, sungguh dia berasa sedang bermain drama. 💬 "Sha, obat nya gue masukin semuanya, tinggal sisa sedikit, gak apa-apa kan?" tanyanya penasaran. Shasa bilang harus sedikit, tapi dia terlanjur memasukkan semuanya.
💬 "Gak apa-apa kali ya, biar lebih ampuh." jawab Shasa dengan begitu santai. Sudah klir, rencananya sudah hampir delapan puluh persen berhasil, tinggal menunggu nanti malam untuk eksekusi.
"Tinggal menghubungi Arzan, seharusnya dia berterima kasih karena aku dengan senang hati memberi nya makanan empuk." gumamnya sambil menyeringai.
__ADS_1
...*...
Malam tiba, Kenzo dan Tiara sudah berada di parkiran sekolah untuk bergegas masuk ke dalam.
"Jangan jauh-jauh dari ku!" pintanya pada Tiara, dia memang tidak tahu persis apa rencana Shasa, mungkin mereka belum bergerak, tapi tidak untuk nanti, dia hanya perlu memastikan Tiara tetap ada di sampingnya, agar mereka tidak terkena masalah.
Tiara langsung mengangguk, dia berjanji akan berhati-hati, akan mencurigai sesuatu yang di rasanya cukup mengganjal.
"Sudah siap kan? ayo masuk! Devan dan Reno sudah menunggu kita di dalam." ajak nya langsung meraih tangan Tiara. Sebenarnya dia juga agak gelisah, tapi dia harus terlihat tenang, agar Tiara pun bisa lebih tenang berada di samping nya.
Di dalam aula sekolah, keadaan sudah di penuhi murid-murid, bahkan masih ada juga yang baru berdatangan memenuhi ruangan. Semua meja hampir sudah terisi, di mana di setiap meja yang berbentuk bulat itu, berisi lima kursi di setiap mejanya.
Di sudut ruangan terlihat Azzura dan kedua teman wanitanya mendekat ke arah meja di mana Devan dan Reno berada. "Hai," Seperti biasa, Azzura menyapa Devan dengan suara khas nya, langsung duduk bergabung dengan dua lelaki itu di ikuti kedua temannya.
"Hai," Devan kembali menyapa, matanya sampai silau melihat penampilan Azzura yang terlihat lebih cantik dengan gaun yang di kenakan nya sekarang, seorang putri dari pengusaha fashion memang tidak pernah kaleng-kaleng dengan style nya. "Ku kira kau tidak akan datang." ucapnya basa-basi. Dia sudah mulai grogi, murid laki-laki seantero SMA Trisakti pasti mengidolakan sosok Azzura, dan dengan sendirinya wanita itu malah menghampirinya. Iya, walau dia tahu, kedatangan wanita itu ada maksud terselubung. "Kenapa harus datang di waktu seperti ini, si Kenzo sedang mengkhawatirkan keadaan Tiara, ni si Azzura malah ikut nangkring di sini. Bisa tambah berebe dah." umpatnya sudah mulai gelisah, mengusirnya tanpa alasan juga tidak mudah.
"Ya, datang lah, kan lo sendiri yang bilang kalau Kenzo dan Tiara akan datang, aku semakin penasaran seperti apa Tiara." ucapnya dengan santai. Iya, keinginannya tidak muluk-muluk, dia hanya ingin tahu seperti apa Tiara, dan ingin mencoba berbincang dengan wanita itu. "Wah, kau lihat, mereka panjang umur." ucapnya lagi dengan menyeringai. Baru juga di bicarakan Kenzo dan Tiara terlihat beriringan memasuki Aula.
Sontak orang-orang yang ada di aula langsung bergemuruh. Menyambut keduanya. "Ken! Sini!" Devan langsung melambaikan tangan, mengajak keduanya untuk bergabung bersama. Menghitung jumlah kursi, Azzura langsung menyuruh kedua temannya untuk pindah dari sana agar Kenzo dan Tiara bisa duduk bersama mereka.
"Azzura?" Tiara sampai kaget, dia hanya melihatnya di foto, dan ternyata aslinya lebih cantik dari dugaannya. "Kenapa dia duduk di sana?" gumamnya semakin khawatir, apa yang di inginkan wanita itu sebenarnya. Kenzo sudah memberi tahu kalau Devan dan Reno akan berjaga-jaga untuk mereka, tapi kenapa di antara dua lelaki itu ada Azzura.
__ADS_1