
Tiara berlari mengikuti langkah Shasa, matanya mengitari ke semua lorong tapi tak kunjung melihat keberadaan sepupunya itu, perasaan dia langsung berlari menyusul nya tapi Shasa entah berlari ke arah mana, "Sha!" bibirnya sesekali memanggil nama itu tapi tak kunjung ada jawaban, dia tidak bisa membiarkan Shasa seorang diri terlebih wanita itu pasti sangat terpuruk dengan hinaan yang di lontarkan teman-teman sekolah yang lain.
"Tiara!" Kenzo sendiri dari tadi terus mengikuti langkah Tiara, apapun kemauan sang istri dia mengikutinya, tapi sekarang sudah melebihi batas, dia tidak mungkin membiarkan Tiara terus berlarian mencari keberadaan Shasa yang tidak pasti entah di mana, "Dia sudah pergi biarkan saja." tuturnya sambil merangkul pinggang sang istri, kesehatan nya saja belum sembuh total kenapa harus mengeluarkan semua energinya untuk mencari Shasa. "Tunggu saja di kelas, dia juga pasti akan masuk kelas!" ajaknya sambil menarik sang istri untuk kembali, tapi langkahnya terhenti karena wanita itu menolak nya.
"Maaf Ken, aku begitu kasihan pada nya," Tiara sampai menyentuh dada Kenzo, maaf jika dia selalu bertingkah sesukanya, tapi untuk kali ini saja, dia harus memastikan keadaan sepupunya, Shasa tadi berlari ke arah sini, seharusnya dia bisa menemukannya, "Kau bisa ke kelas terlebih dulu, aku akan mencarinya sebentar." serunya meminta Kenzo untuk kembali. Tidak harus terus mengikutinya karena dia bisa mencari Shasa seorang diri, dan dia harus menghibur sepupunya itu.
Kenzo sampai menghela nafas, walau tidak bisa merasakan apa yang Tiara rasakan tapi dia tahu istrinya itu merasa iba pada Shasa, tapi tidak harus berlebihan, "Kau akan kelelahan kalau terus mencarinya."
"Aku tidak apa-apa, Ken. Aku janji tidak akan berlari-lari lagi, aku mohon ya! sebentar saja, sebentar saja aku harus mencarinya." ucapnya lagi, meminta izin. Tanpa mendengar jawaban Kenzo dia langsung berjinjit mengecup pipi lelaki itu dan berlaju pergi.
"Aisst." Kenzo sampai di buat geleng kepala, itulah Tiara yang dia kenal, akan selalu peduli pada orang yang kesusahan terlebih itu bagian dari keluarganya. Dia pun langsung mengambil ponselnya dan langsung mengakses cctv sekolah. "Aku akan mencarikan nya untuk mu," gumamnya sambil berjalan mengikuti langkah Tiara yang sudah berjalan terlebih dulu di depannya. Sungguh kalau bukan karena sang istri dia malas sekali repot-repot mencari keberadaan wanita itu.
Kaki Kenzo terus melangkah sambil melihat layar ponsel, terus melihat rekaman cctv mencari keberadaan Shasa untuk membantu istrinya, seketika matanya sampai membelalak tatkala layar di ponselnya memperlihatkan Shasa yang tengah berdiri di atas pembatas atap gedung sekolah. "Aisst, dia tidak sebodoh itu kan." umpatnya sambil mempercepat langkahnya menghampiri Tiara.
"Tiara, dia di atap." ucapnya sambil meraih tangan Tiara dan mengajaknya berjalan lebih cepat. Semoga saja apa yang dia lihat hanya sesaat, tidak mungkin kan Shasa berdiri di pembatas atap gedung untuk meloncat ke bawah bermaksud mengakhiri hidupnya.
......................
__ADS_1
...POV Shasa....
Ku pijakan kaki ku di pembatas atap gedung sekolah, pikiran ku gelap dengan harapan yang buntu, hatiku hancur, mataku menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan, perasaan di mana aku berada di antara kasihan pada diri sendiri dan membenci diriku sendiri, tentang seluruh hidupku.
"Kenapa semuanya harus begini, tidak adakah kesempatan untuk ku berubah? Kenapa semuanya menjadi begitu kejam." air mata ku terus berjatuhan. Hidup terasa sendiri, ketika semua orang tidak lagi peduli, mungkin diri ini tidak pantas untuk semua orang temani, akan tetapi hati kecil ku berharap pintu maaf terbuka, untuk tidak jatuh dalam kesalahan yang serupa. Namun semua nya percuma, harapan untuk kembali berubah sirna tatkala semua orang malah membenci ku, semua orang menghinaku, membuat ku benci akan diriku sendiri.
"Aaaaah...." Ku menjerit sekeras-kerasnya menahan keras rasa sesak yang meluap di dada, sesekali mataku menengok ke bawah, haruskah ku meloncat, ku akhiri saja hidupku untuk mengakhiri kesengsaraan ini, rasa malu, rasa sakit, penghinaan, semaunya juga pasti akan berakhir.
"Yah, maafkan Shasa." Ku tutup mataku, ku buang nafas dengan perlahan, bersamaan dengan kaki ku yang ku langkahkan ke depan.
"Shasa, stop!" Tiara berteriak sekeras-kerasnya, berlari dengan cepat dan langsung menarik tubuh Shasa sampai tubuh itu kembali turun menginjak atap gedung. "Apa kau gila." Dia sampai tidak habis pikir, pantas saja Kenzo menyuruhnya untuk berjalan cepat, rupanya ini yang ingin sepupunya lakukan.
Kenzo sendiri sampai menghela nafas lega, naluri Tiara benar-benar kuat, untung saja istrinya itu terus merengek minta mencari Shasa, telat sedikit saja, Shasa pasti sudah mendarat di bawah sana dan mungkin hanya tinggal nama. "Kalau mau bunuh diri di laut sana jangan di sekolah, mencemarkan nama baik sekolah saja." umpatnya kesal. Tidak dulu tidak sekarang, wanita itu bisanya hanya merepotkan istrinya.
"Tiara, kenapa kau menghentikan ku?" Shasa bagai di telan keputusasaan, kepalanya sampai tertunduk saat wanita itu menatapnya dengan penuh kegelisahan. Dia malu, kenapa Tiara, kenapa wanita yang dulu begitu dia benci, wanita yang selalu ia sakiti yang malah mempedulikan nya, membuatnya begitu benci pada dirinya sendiri, kenapa bisa dia menjadi manusia bejat yang malah menyakiti orang yang menyayangi nya. "Kenapa kau tidak dorong saja tubuh ku, biar ku tidak harus hidup dengan menanggung malu karena semua kesalahanku!" lirihnya dengan kelu.
Sontak Tiara langsung memeluk tubuh itu dan membelai nya, "Semua masalah pasti akan berlalu, Sah. Jangan pernah berpikir ini jalan keluar nya." ucapnya berusaha menyadarkan Shasa. Dia bisa merasakan apa yang di rasakan Shasa, wanita itu pasti begitu terpuruk dengan sebuah penyesalan dan keputusasaan, tapi bodoh jika berpikir kalau harus menyelesaikan semuanya dengan mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
Tubuh Shasa sampai bergetar tatkala wanita itu terus memeluk dan menenangkan nya, bahkan hati nya sampai berdesir saat tangan hangat itu menyentuh kepala dan membelai rambut ku dengan begitu lembut, "Aku terlalu kotor untuk dikasihani, Ra." lirih nya dengan air mata yang perlahan jatuh dengan sendirinya.
"Berhenti menyesali masa lalu karena itu telah berlalu, yang paling penting adalah keadaan saat ini jangan sampai kesalahan itu terulang kembali, dan berusahalah untuk memperbaiki semuanya, Sha!"
"Aku sudah melakukannya, aku sudah mencobanya. Aku ingin berubah, tapi kau lihat sendiri kan. Aku terlambat menyadari kalau apa yang aku lakukan salah, sampai semuanya jadi percuma, dan orang-orang pun membenci ku." Shasa sampai terisak, sungguh dia bukan protes tentang orang-orang yang membencinya, dia hanya kesal pada dirinya sendiri kenapa menjadi sebuah kotoran, yang memang pantas untuk di rendahkan.
"Jangan pernah merasa semuanya terasa terlambat, Sha. Karena semua hal yang datang dalam kehidupan kita membawa sekeping perjalanan. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tergantung diri kita nya sendiri, akankah kesalahan itu bisa di jadikan pelajaran; bahwa semua itu mengandung hikmah yang bisa menjadikan kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam berpikir." Tiara perlahan melepaskan pelukannya, menatap wajah Shasa yang begitu pucat, tangan nya kini bergerak menyeka setiap air mata yang membasahi pipinya.
"Ayo mulai dari awal, meminta maaf lah pada semua orang yang pernah kau sakiti, karena itulah kunci utama untuk melangkah menjadi pribadi yang lebih baik lagi." ajaknya dengan tersenyum lebar berusaha mengalihkan kesedihan Shasa, jangan merasa terpuruk, karena pasti ada jalan untuk membuat kita kembali bangkit.
Shasa sampai kembali tertunduk, "Apa tidak akan malu?" ucapnya ragu. Terlalu banyak kesalahan yang pernah ia lakukan, apakah dia akan mendapatkan maaf dari semua orang.
"Jangan pernah merasa malu jika kau berjalan dalam sebuah kebaikan, Sha." Tiara kembali tersenyum memberikan semangat untuk sepupunya, jikapun tidak mendapatkan maaf, setidaknya wanita itu sudah menyesali perbuatannya, dan berniat untuk berubah.
"Kau sendiri, kenapa kau masih mempedulikan ku setelah apa yang pernah ku lakukan pada mu, Ra?" lirihnya malu, sebelum pada orang lain seharusnya dia meminta maaf pada Tiara tapi wanita itu terlebih dulu sudah memaafkan nya bahkan begitu menyayangi nya.
"Karena kita keluarga, dalam hubungan keluarga tidak ada kata dendam ataupun saling menyalahkan, dalam sebuah keluarga hanya ada saling menyayangi dan saling mengingatkan."
__ADS_1