
"Jo, mau ke mana? Gak mau ikut karaokean nih?" Devan mulai bertanya, acara penobatan Trisakti sudah berakhir, kini giliran berpesta merayakan semuanya tapi lelaki itu malah kembali menuju aula padahal semuanya sudah memasuki mobil masing-masing untuk langsung pergi.
"Sherlock lokasinya ntar gue nyusul. Ada yang harus gue urus dulu." jawab Jonathan sambil berlaju pergi. Ada yang tertinggal membuat nya harus kembali.
"Oke, sekalian kalau lihat Kenzo bilang kita tunggu di lokasi." teriak Devan menimpali. Jonathan tidak bisa menjawab lagi lelaki itu hanya mengangkat tangannya mengiyakan apa yang dia ucapkan.
Jonathan mulai memasuki aula, nengok kiri kanan mengitari ruangan, mencari hal yang tertinggal, bukan sebuah barang, melainkan mencari seseorang yang tiba-tiba kabur saat acara sudah selesai yang tidak lain pacar barunya itu.
"Dia pikir dia bisa kabur," gumamnya dengan tersenyum kecil, orang lain kalau sudah pacaran nempel terus, ekh ini wanitanya malam pergi entah ke mana. "Akan ku cari meski harus mengelilingi sekolah, Azzura." gumamnya lagi sambil melangkahkan kaki mulai mencari keberadaan Azzura. Dia yakin wanita itu masih di dalam sekolah karena tadi saat di parkiran dia melihat jelas mobil wanita itu masih terparkir di sana.
Sementara itu di toilet wanita, Priscilla sampai hampir kesemutan karena harus terus berdiri menemani Azzura, wanita konyol yang malah sembunyi karena tidak mau bertemu dengan pacarnya.
"Ayolah, Lo bukan anak SMP yang baru kasmaran kan. Nora banget Lo." decak Priscilla kesal, nervous si nervous tapi jangan mengajaknya juga. Dia yang menjadi korban karena harus terus menemaninya.
"Tolong dong Cilla, gue belum siap kalau harus menemui nya sekarang, sebentar lagi, tunggu di sini sebentar lagi. Tunggu sampai Jonathan pergi dengan anak yang lain," timpal Azzura dengan memohon. Entahlah, rasanya dia belum siap menemui lelaki itu saat status mereka sudah berubah. Padahal biasanya dia yang selalu nempel-nempel padanya tapi sekarang mendadak malu untuk menemui nya. Bagaimana tidak kata Bicaus l love you yang keluar dari bibir Jonathan masih terngiang di kepalanya membuat hati nya berdebar tidak karuan.
Sepuluh menit berlalu, Priscilla dan Azzura akhirnya keluar juga dari toilet, Azzura sampai bernafas lega melihat keadaan sekolah yang sudah sepi sepertinya murid-murid sudah pada pergi.
"Mau langsung parkiran nih?" tanya Priscilla masih keheranan melihat Azzura yang masih celingukan sana sini melihat keadaan. Biasa aja kali, ini malah kayak buronan yang sedang di cari polisi.
"Hem." Azzura hanya menjawab singkat sambil mengendap-endap berjalan pelan di belakang Priscilla. Wanita itu tidak tahu sih seberapa berdebar hati nya sekarang, dia benar-benar belum siap kalau harus bertemu Jonathan sekarang. Langsung berjalan cepat menarik Priscilla menuju parkiran.
Di sudut lain, Jonathan sudah hampir kewalahan karena mencari pacarnya sana sini, setelah berkeliling cukup lama akhirnya mangsa ada di depan mata, "Aisst, ternyata dia di sana." gumamnya sambil berjalan dengan perlahan menunggu waktu yang pas. Saat Priscilla sudah melepaskan gandengan nya dan meninggalkan Azzura menuju mobilnya sendiri, saat itulah dia langsung berjalan cepat menghampiri Azzura.
"Mau ke mana?" bisik Jonathan dengan tangan bergerak cepat menghentikan Azzura yang sedang membuka pintu mobil nya, berdiri di belakang wanita itu dan mengunci pergerakan nya.
"Astaga..." Azzura sampai kaget dan refleks berbalik ke belakang, "Nat-natan?" bibirnya sampai terbata-bata, lelaki ini ternyata belum pergi, "A-ada apa?" tanyanya dengan gelagapan, debaran jantungnya semakin tidak karuan terlebih kini lelaki itu berdiri tegak di depannya dengan jarak yang begitu dekat.
Jonathan sampai tersenyum kecil, mana Azzura yang selalu banyak bicara, wanita itu kini malah seperti kucing jinak yang kehilangan majikannya, "Aku ingin menemui pacar ku." ucapnya dengan begitu santai, kakinya langsung bergerak maju membuat wanita itu mundur dan terpojok sampai bersandar di mobilnya. "Kenapa, sepertinya kau terlihat kaget sekali saat melihat pacar mu." timpalnya malah menggoda.
Azzura sampai tersenyum kikuk, "Emm... Tid-tidak kok. Hanya saja apa kau bisa mundur. Ini terlalu dekat." ucapnya malu.
Jonathan malah semakin gencar ingin terus menggodanya. "Jawab dulu, kau belum menjawab pernyataan ku." bisik nya tanpa ada niatan untuk mundur. Walau sudah di terima menjadi pacarnya tetap terasa belum afdol, kalau wanita itu belum menjawab cintanya.
"Pernyataan?" kata Azzura mengulang kembali. Saking gugupnya dia tidak bisa mencerna apa yang di maksud lelaki itu, perasaan dia sudah menjawab kalau dia bersedia menjadi pacar nya. "Yang mana?" tanyanya memastikan.
"I love you."
__ADS_1
Azzura sampai tertegun malu, terlebih kenapa lelaki itu mengucapkan nya dengan begitu manis, dengan senyuman nya.
"Kau tidak mau menjawabnya?"
"Love you too." lirihnya dengan malu, bahkan Azzura sampai menundukkan kepalanya karena terlalu gugup. "Ayolah, kau sudah terbiasa berdekatan dengan lelaki ini kenapa kau berdetak dengan begitu kencang, tenang lah kalau tidak kau bisa mati gaya, Azzura." gumamnya berusaha menenangkan diri. Tangannya langsung bergerak mendorong tubuh Jonathan agar lelaki itu bisa sedikit lebih menjauh dari nya. "Sudah ku jawab jadi mund--" belum selesai bicara lelaki itu malah dengan begitu santai berbungkuk mengecup pipinya.
"Thanks." Jonathan sampai menyeringai senang, dia kira wanita itu tadi terpaksa menerimanya karena kasihan padanya.
"Jonathan!" Azzura sampai mematung, apa yang terjadi barusan, lelaki itu benar-benar mengecup pipi nya.
"Kenapa apa tidak boleh mengecup pacar sendiri." timpal nya tanpa dosa, Jonathan malah tersenyum kecil melihat ekspresi Azzura. "Atau kau mau lebih dari itu?"
"Tidak." Azzura sampai refleks mendorong tubuh itu agar menjauh dari nya, bisa bahaya kalau lelaki itu terus berada di jarak dekat dengan nya.
Jonathan sampai terkekeh, dan langsung memegang tangan itu, "Mau ku antar pulau?" tanyanya menawarkan diri. Sepertinya wanita itu terlihat tidak ingin berlama-lama di sekolah.
"Tidak aku bisa pulang sendiri," tolaknya cepat, bukannya murid laki-laki semaunya mau karaokean, kenapa lelaki ini masih di sini. "Kau tidak gabung dengan yang lain?"
"Aku akan menyusul setelah menangkap pacar ku yang kabur." jawabnya dengan tertawa kecil.
Azzura sampai kembali tertunduk malu, jadi dari tadi Jonathan mencarinya, "Sekarang sudah ketangkap kan, pergi sana aku juga mau pulang!" ucapnya tanpa dosa.
"Akhm. Pacaran nya jangan di parkiran dong, bro."
Suara seseorang yang Jonathan kenal tiba-tiba terdengar, dia langsung menoleh dan benar saja, siapa lagi orang yang berani mengganggunya kalau bukan si brandal sekolah.
"Aisst, kalau mau lewat, lewat saja napa. Pura-pura gak lihat bisa kan." omel nya kesal. Bukan karena apa-apa, lelaki itu malah dengan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Tiara seolah sedang meledeknya. Jelas lelaki itu bisa sesukanya menyentuh wanitanya orang wanita itu istrinya.
Kenzo sampai terkekeh, kepuasan hakiki di saat dia bisa meledek sahabatnya sendiri, "Iya, di pegang saja, awas lecet, anak gadis orang." bisik nya sambil menepuk pundak Jonathan.
Jonathan kembali di buat kesal, "Pergi sana mengganggu saja!"
Dua lelaki itu terus berdebat, Tiara dan Azzura sendiri hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuan mereka, persahabatan mereka cukup baik bahkan saat bercanda pun lebih dari kata baik tidak tanggung-tanggung saat mereka melempar banyolannya.
Kenzo sampai tertawa puas mengerjai lelaki ini, "Oh ya, Lo mau karaokean kan? bilang kalau gue gak bisa ke sana." tuturnya sambil berjalan menuju mobilnya sendiri, tanpa melepaskan rangkulannya dari pinggang sang istri.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mau langsung pulang." jawabnya singkat dan mulai membukakan pintu mobil untuk Tiara, baginya lebih baik menghabiskan waktu dengan Tiara, dari pada dengan yang lainnya.
...****************...
Keadaan di kediaman keluarga Wijaya.
Waktu sudah malam, Tiara terlihat baru selesai merapihkan beberapa koper, barang-barang dia dan sang suami yang akan mereka bawa untuk ke kampung halaman nanti. Tubuhnya sampai ia rebahkan di tempat tidur karena cukup lelah setelah merapikan semuanya.
"Kenzo!" Tiara sampai kaget saat cipratan air menetes di wajahnya, kelakuan siapa kalau itu bukan kelakuan suaminya, dia sampai refleks kembali bangun dan mendapati suaminya yang hanya mengenakan kimono setelah membersihkan tubuhnya. "Basah tau!" protesnya kesal. Bukan mengeringkan rambutnya, lelaki itu malah mencipratkan tetesan air itu pada nya.
Kenzo sampai terkekeh dan mendekat, memang sengaja dia tidak mau Tiara sampai tertidur dan dia di tinggal tidur begitu saja, "Tolong keinginan rambut ku!" pintanya sambil melemparkan handuk kecil dari tangannya.
Tiara sampai gelagapan menerimanya, padahal biasanya Kenzo selalu mengerikan rambutnya sendiri kenapa tiba-tiba sekarang meminta dia yang mengeringkan nya, "Duduk!" titah nya sambil menepuk tempat tidur menyuruh lelaki itu duduk di depannya, kalau sambil berdiri dia tidak bisa menjangkau kepala itu karena tubuh suaminya terlalu tinggi.
Iya, dengan senang hati Kenzo mengikuti arahan istrinya itu, rupanya tidak buruk juga meminta istrinya itu untuk mengeringkan rambutnya. Bisa terus menatap wajah cantik itu dari dekat saat tangan mungil itu mulai menyentuh setiap helai rambutnya. "Tiara." panggilannya malah menggoda.
"Hem," Tiara hanya menjawab singkat, tangannya masih bergerak tapi detik selanjutnya di buat kaget saat tangan lelaki itu menariknya dan mengangkat tubuhnya sampai kini dia duduk di pangkuan lelaki itu. Posisi sekarang jadi terbalik, karena dia ada di pangkuan Kenzo, tubuhnya jadi lebih tinggi, membuat dia begitu mudah menjangkau kepala lelaki itu.
"Ken, diam dulu! rambut mu belum kering." rengek nya dengan menggeliat. Iya, dia memang bisa dengan mudah mengerikan rambut lelaki itu tapi karena kepala lelaki itu persis di depan dadanya lelaki itu malah bertingkah sesukanya, bahkan tangannya sudah melingkar di pinggang nya dan mulai menyibakkan piyamanya.
"Keringkan saja." tuturnya masih nyaman menyandarkan kepalanya di belahan dada wanita itu, dia sampai tersenyum kecil, dua mainannya itu kini terlihat semakin singkal dan lebih besar, apa efek karena kelakuan nya yang tidak pernah bosan menyentuhnya.
"Kenzo!" bibir itu kembali berucap dengan begitu berat, bahkan tubuhnya sudah mulai memanas saat tangan lelaki itu bergerak lembut menelusuri punggungnya dan perlahan membuka pengait bra nya. "Sebentar lagi, rambut mu belum kering!" ucapnya lagi dengan nafas yang sudah mulai naik turun. Bukannya mendengarkan, lelaki itu kini malah menyibakkan piyama bagian depan nya. "Ken." akhirnya desahannya keluar, bibir lelaki itu sudah bergerak nakal meng-hisap sesuatu yang membuat tubuhnya meregang sempurna.
Kenzo sampai tersenyum kecil, satu tangannya mere-mas satu persatu dua benda itu, dan bibirnya menghi-sapnya pu-ting nya dengan perlahan.
Tiara sampai mencekam rambut lelaki itu, membusungkan dadanya saat kelakuan suaminya itu sudah mulai menjadi, "Ken."
"Apa sudah kering," ucapnya tanpa tahu malu.
Tiara sampai mengusap pelan wajah lelaki itu, "Bagaimana bisa kering, kau mengganggu ku." protesnya sambil melingkarkan tangannya di pundak Kenzo, bahkan handuk kecil yang tadi ia pakai untuk mengeringkan rambutnya sudah jatuh tergelak di belakang lelaki itu.
"Tidak apa-apa, nanti juga kering sendiri." ucapnya dengan menyeringai, tangannya langsung bergerak membuka piyama Tiara dan melepas segala penghalang, sampai tubuh putih itu kini terlihat jelas, dengan dua benda menonjol yang terlihat begitu menantang. "Aku sangat menyukai ini." tutur nya kembali meremas dua benda itu.
"Lakukan saja apa yang kau suka karena semuanya milik mu."
Kenzo sampai menyeringai senang, perlahan bergerak merebahkan tubuh Tiara dan menghimpit tubuh itu dan mulai mencium bibirnya. Gairahnya semakin tersulut membuat tangannya dengan cepat melepaskan tali kimono nya dan melemparkan nya. "Apa tidak apa-apa jika aku ingin melakukannya?" tanyanya ragu. Tiara baru saja sembuh apa tidak apa-apa jika sekarang dia meminta hak nya.
__ADS_1
Tiara sampai tersenyum kecil, tangannya langsung bergerak melingkar di leher sang suami, "Tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja."
Pergulatan panas di mulai, setelah sekian lama menunggu akhirnya malam ini terkabul juga, bak seperti kembali ke malam pertama, mereka berdua kembali terbuai dengan kenikmatan surga duniawi yang mereka ciptakan dengan kasih sayang dan cinta yang amat dalam.