Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Amnesia.


__ADS_3

"Maaf, Non Shasa. Saya tidak bisa melanjutkan ini," Suster sampai terkejut, setelah melakukan pemeriksaan dia baru tahu kalau gadis yang ingin menyumbangkan darahnya ternyata sedang hamil. "Kami tim medis tidak bisa mengambil darah, Nona." tolaknya dengan tegas, bahkan dia langsung menyimpan kembali alat-alat yang tadi sudah di siapkan oleh nya.


"Kenapa, Sus? Bukannya suster membutuhkan transfusi darah. Saya tidak keberatan sus. Ini demi kesembuhan Tiara."


"Meski peredaran darah meningkat, tetapi wanita hamil tidak disarankan untuk melakukan donor darah karena perlu memastikan bayi dapat tumbuh dengan sehat di dalam rahim. Jika Nona tetap memaksakan melakukan hal tersebut, sesuatu yang berbahaya mungkin saja terjadi." Suster itu sampai menghela nafas berat, meskipun Shasa memaksa itu akan beresiko untuk kesehatan dia dan janinnya. Dia bukannya menakut-nakuti karena itu memang faktanya.


"Tidak apa-apa Sus." Shasa menjawab dengan begitu tenang. Tidak apa jika itu memang beresiko, setidaknya dalam hidup nya yang sedang terpuruk, dia bisa sedikit bermanfaat, "Aku pasti akan baik-baik saja," Dia malah tersenyum lebar, berusaha meyakinkan suster itu.


Sang suster sampai keheranan. Jika tetap melakukan donor darah saat hamil, maka risiko untuk mengalami anemia dapat berlipat ganda. Anemia yang dibiarkan dapat memicu masalah yang signifikan, seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan masalah kehamilan lainnya. Maka dari itu, sangat disarankan pada setiap ibu hamil untuk menghindari donor darah selama hamil bahkan saat menyusui.


"Maaf, kami tetap tidak bisa."


"Sus, aku mohon. Ini demi kesembuhan Tiara, aku pasti baik-baik saja. Resiko apapun akan saya terima, saya tidak akan pernah menyalahkan tim medis. Dari pada harus mencari pendonor lain, pasti membutuhkan waktu yang lama, kan?" ucapnya lagi tanpa beban.


Sang suster sesaat terdiam, perkataan Shasa benar adanya, jika harus mencari pendonor lain pasti akan membutuhkan waktu lama dan itu akan beresiko untuk Tiara, "Baiklah, saya akan mengambil darah Nona, dan saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kesehatan Nona Shasa dan janin Nona agar tetap sehat, dan baik-baik saja."


...***...


"Argh... Sial."


Arzan sampai mengendus kelas, dia sedang bersembunyi di kerumunan banyak orang, pesawat yang seharusnya Take Off beberapa menit lalu malah di tertunda, dan lebih menjengkelkan nya lagi bandara kini sudah di penuhi polisi dan beberapa pengawal keluarga Wijaya, yang sedang mencari keberadaan nya.


Rekaman cctv di sebuah apartemen yang memperlihatkan mobil Arzan dengan sengaja menabrak Tiara sudah tersebar di mana-mana, membuat Arzan kini menjadi buronan.


"Sial... Aku harus sembunyi." Arzan langsung memposisikan topinya agar menghalangi wajahnya, koper nya sampai ia tinggal agar bisa kabur dengan mudah menghindari orang-orang yang tengah mencari nya. Terus berjalan menuju tempat sepi berusaha mencari celah agar bisa kabur dari sana.


Bruk,


"Aisst, sial." Arzan malah menabrak seorang anak kecil yang tengah berlari di depannya. Sontak tangisan anak itu sampai terdengar kencang dan memancing perhatian. "Diam, bodoh." Dia sampai berdecak. Bahkan kini para polisi sudah melihat keberadaan.


"Di sana." Sang komandan langsung memberi instruksi, seluruh anggota kepolisian langsung sigap, berlari ke arah Arzan untuk menangkap lelaki itu. "Berhenti!" titahnya dengan tegas karena Arzan dengan begitu berani melawan melarikan diri. Mereka terus berlari membuat Arzan semakin cepat melarikan diri.


Srtttt...... Dor....

__ADS_1


Satu tembakan menancap pas di kaki Arzan, kepolisian terpaksa melumpuhkan kakinya agar lelaki itu tidak bisa kabur lagi.


"Argh....." Arzan sampai meringis kesakitan, kaki sebelah kirinya sampai tidak bisa bergerak, tapi keinginan tinggi untuk kabur memberi nya kekuatan untuk terus berlari, "Aku harus sembunyi," gumamnya sambil mencari tempat aman agar tidak terlihat orang-orang yang sedang mengejar nya.


Dor.....


Bruk....


"Akh." Arzan terkulai lemas, baru juga melangkah pergi, kini kaki kanannya terkena tembakan lagi, kakinya lemas sampai ambruk terjatuh di lantai.


"Menyerah lah!" Para kepolisian langsung menghampiri Arzan, meringkus tubuh itu dan langsung memborgol tangannya. "Kalau anda menyerahkan diri dari tadi, kami tidak akan bertindak sejauh ini, Tuan." decak sang komandan sambil menekan kepala Arzan. Memang kriminal sejati, setelah melakukan kesalahan masih saja bisa percaya diri untuk melarikan diri.


"Ayo, bawa dia ke Polsek, dan segera hubungi Pak Kenan kalau kita berhasil menangkapnya." titah komandan memerintah seluruh bawahannya. Tugas mereka sudah selesai, kini tinggal mengamankan Arzan dan memberi nya hukuman yang setimpal.


...*...


Di rumah sakit. Keadaan Tiara sedang dalam masa pemulihan, berkat donor darah dari Shasa keadaan Tiara sudah sedikit membaik meski belum sadarkan diri. Sedangkan keadaan Shasa sendiri sedang terbaring lemas dengan perawan medis yang membantu kestabilan tubuhnya. Sang suster yang mengambil darah Shasa tidak mau menanggung resiko dan terus memperhatikan wanita itu sampai keadaan tubuhnya membaik.


Di luar ruangan tempat Tiara berbaring, Jonathan dan Chelsea masih terlihat duduk di luar menuggu Tiara siuman, bahkan belum lama terlihat Roni dan Rani juga ada di sana.


"Maaf, kami sudah berusaha yang terbaik tapi ini tidak bisa di hindari, Tuan." Sang dokter sampai bicara dengan penuh iba, tangannya langsung mengulurkan hasil CT scan Tiara pada suami wanita itu. "Ini! Keadaannya memang dalam pemulihan, tapi cidera di otaknya cukup berat dan kami tidak bisa berbuat apa-apa." tuturnya lagi dengan menghela nafas berat.


Tangan Kenzo sampai bergetar menerimanya, dia cukup pintar, tidak di jelaskan pun dia tahu arah pembicaraan dokter itu, terlebih saat melihat hasil CT scan yang memperlihatkan tengkorak kepala Tiara ada yang retak, hatinya bagi ikut tersayat merasakan sakit yang di alami istrinya, "Kemungkinan besar Tiara--." Kenzo sampai tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Itu bagai siksaan terberat untuk nya, bagaimana dia bisa menerimanya.


"Iya, Non Tiara di diagnosa Amnesia Retrograde, Tuan." lirihnya berusaha menjelaskan, amnesia jenis ini pengidapnya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang tengah terjadi, pada periode tertentu.


Nyutt... Hati Kenzo bak di hantam tusukan pedang, tubuhnya langsung lemes, kepalanya sampai tertekuk. Andai saja saat itu dia tidak mengijinkan Tiara untuk pergi sendiri, ini semua tidak akan terjadi. "Argh..." untuk kedua kalinya, air mata nya terjatuh. Tangannya mengepal keras memukul dirinya sendiri, kalau saja dia bisa menjaga Tiara, istrinya itu pasti akan baik-baik saja. "Argh, kenapa harus seperti ini?"


"Ken, tenang sayang!" Ze sampai refleks memeluk Kenzo, hatinya ikut sakit melihat keadaan putranya yang begitu frustasi, bersabar dan bersyukur lah karena Tiara masih selamat.


Bahkan tangan Kenan pun ikut bergerak menyentuh kepala putranya. Sesakit itukah luka yang tertoreh di hati putranya sampai lelaki sedingin es itu juga bisa menangisi wanita yang di cintai nya. "Semua pasti akan baik-baik saja, Ken." lirihnya ikut menenangkan putranya.


"Jangan terlalu terpuruk, Tuan muda. Nona memang akan hilang ingatan. Tapi jiwa, hati dan naluri Nona tetap sama." tutur Dokter itu berusaha menasehati. Tidak perlu bersedih dan berkecil hati, walaupun memori lama telah terhapus Kenzo bisa kembali mengisi memori itu.

__ADS_1


...***...


Waktu sudah hampir tengah malam, sudah sebelas jam Tiara terbaring lemas tidak sadarkan diri, dan selama itu pula Kenzo terus duduk di samping Tiara menunggu istrinya siuman, walau besar kemungkinan wanita itu tidak akan mengingat siapa dirinya.


Berkali-kali Ze menyuruh putranya untuk pulang dulu agar bisa membersihkan tubuhnya, tapi putranya itu terus menolak dan memilih terus menunggu istrinya. Membuat Ze menyuruh pelayanan nya yang datang ke rumah sakit mempersiapkan segala keperluan putranya.


"Ken," Ze begitu lirih memanggil Kenzo, tangannya mengelus kepala putranya yang terlihat begitu lemas sampai tertidur dengan kepala tertunduk pada pinggiran ranjang yang di tempati Tiara, bahkan tangannya sedari tadi tidak lepas menggenggam tangan wanita itu. "Ken, berbaring lah. Biar mommy yang menjaga Tiara." serunya saat Kenzo mulai tersadar, Kenzo juga harus mengistirahatkan tubuhnya, jadi berbaringlah biar Tiara dia yang jaga.


"Tidak apa-apa, Mom. Mommy saja yang istirahat. Aku akan menunggu Tiara." Kenzo sampai mengusap wajahnya, membuang rasa lelah dan kantuknya, matanya kembali menatap sang istri yang masih terpejam sempurna. Hatinya begitu teriris jika melihat Tiara sekarang. Kepalanya saja sampai terbalut perban yang menutupi lukanya, selang infus dan oksigen masih terpasang di hidung dan tangannya, "Sayang, bangunlah!" gumamnya lirih. Kepalanya kembali tertunduk mengecup punggung tangan sang istri seolah berkata kalau dia telah menunggunya. Bangunlah karena dia tidak akan bisa tenang sebelum memastikan keadaannya baik-baik saja.


Beberapa menit berlalu, Kenzo begitu kaget saat genggaman tangannya merasakan pergerakan tangan Tiara. Istrinya itu terlihat siuman, dia langsung menekan tombol panggilan darurat agar dokter segera ke sana untuk melihat keadaan istrinya.


"Ken, ada apa?" Ze langsung mendekat, bahkan Kenan dan Arya yang sedari tadi sedang bicara ikut masuk menghampiri Tiara.


"Tiara mulai sadar, Mom." ucap Kenzo memberi tahu, dia kembali menatap sang istri, kegelisahan nya perlahan memudar tatkala Tiara sudah mulai membuka matanya. "Sayang," panggilnya lirih.


Tiara mulai tersadar, matanya mulai menata langit-langit rumah sakit, kepalanya terasa berat, tubuhnya terasa nyeri dan kaku, matanya kini melihat ke sekelilingnya dan menatap orang-orang yang terasa asing, terlebih dari tadi ada yang memanggilnya dengan panggilan Sayang membuat nya semakin heran.


"Aww." kepalanya terasa sakit, tatkala pikirannya mulai bertanya-tanya siapa mereka. "Paman! Ini di mana?" tanyanya pada Arya, hanya sosok Arya yang dia kenal selebihnya dia tidak tahu siapa mereka. Bahkan suaranya sampai terdengar samar karena terhalang alat pernapasan, yang terpasang di mulutnya.


"Tiara, mana yang sakit, sayang?" Kenzo sampai menghela nafas berat, ternyata sesakit ini saat Tiara malah mengabaikan nya. Tapi walau begitu dia akan berusaha meyakinkan Tiara kalau dia bukanlah orang asing baginya. "Jangan dulu banyak bergerak sayang." serunya dengan lirih, tanpa melepaskan genggamannya.


Ze dan Kenan sama-sama terhenyak, walau sudah tahu akan seperti ini tapi mereka begitu terkejut saat Tiara benar-benar tidak mengingat putranya.


Tiara sampai heran, kenapa lelaki ini terus menggenggam tangan nya dan memanggilnya sayang, bahkan lelaki tahu namanya. "Si-siapa, kau?" suara nya sampai bergetar. Kini matanya langsung mengekor menatap Arya seolah bertanya.


"Dia suami mu, Tiara." Suara Arya bahkan terdengar pilu, Tiara benar-benar tidak mengingat sosok lelaki yang selalu melindunginya. "Dia Kenzo, dia suami mu."


"Su-suami?" Bibir Tiara sampai terbata-bata, kembali menatap Kenzo, ingatan nya tidak menerima itu membuat kepalanya terasa pusing. "Awww, sakit!" lirihnya meringis kesakitan, kepalanya bak tertusuk ribuan jarum tatkala otaknya berusaha mengingat siapa lelaki itu. Hal yang tidak terduga membuat saraf otaknya terasa tegang untuk mengingatnya.


Dokter terlihat memasuki ruangan, dia langsung memeriksa keadaan Tiara dan menyuruh orang-orang untuk keluar dari sana, Tiara masih sangat lemah, otaknya belum siap untuk menerima segala interaksi di sekitarnya.


"Dok, kenapa Tiara sampai kesakitan seperti itu?" Kenzo menjadi gelisah, dia tidak akan keluar sebelum memastikan Tiara baik-baik saja.

__ADS_1


"Jangan memaksanya mengingat semuanya, Tuan hanya perlu perkenalkan dengan pelan-pelan hal-hal penting yang telah Nona lupakan. Karena tekanan itu akan berdampak buruk untuk Nona."


__ADS_2