Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hal yang tidak terduga.


__ADS_3

"Mabar jarang, nongkrong bareng jarang. Terus saja ngurusin cewek, benar-benar menyebalkan."


Reno terus saja mengumpat, merasa terabaikan karena Devan dan Bos nya itu sekarang sudah jarang sekali nongkrong di basecamp, lebih menjengkelkan nya lagi dia tidak bisa ikut gabung dengan mereka berdua karena mendapat mandat dari sang Bos untuk menemani cewek pirang yang kini sedang berjalan cepat di depannya.


"Woi piring, tunggu. Lo atlet lari ya, kenapa jalan nya cepat sekali?" umpatnya lagi sambil terus berjalan di belakang Chelsea, sedekat apa sih persaudaraan wanita ini dengan bos nya itu sampai menyuruhnya terus mengikutinya. "Gak usah di samperin juga si Bos bakal turun." ucapnya lagi berusaha mencegah pergerakan Chelsea. Bel sekolah kan sudah berbunyi kenapa repot-repot harus naik ke lantai tiga, bos nya itu juga pasti akan turun untuk pulang.


"Suka-suka aku dong, aku mau menemui Kak Kenzo, jangan terus mengikuti ku." protes Chelsea sambil menoleh ke belakang, dia tahu lelaki itu suruhan Kenzo tapi dia tidak menginginkan ini, dia ingin Kenzo sendiri yang memperhatikan nya, bukan malah menyuruh orang lain. "Pergi sana!" titahnya nya lagi. Dia terus berjalan menaiki tangga menuju kelas di mana Kenzo berada. Jangan terus mengomel karena dia tidak meminta mengikutinya.


"Aisst, kalau bukan si Bos yang minta, Gue juga ogah." Walau terus mengomel dia terus mengikuti langkah wanita itu.


Sementara itu, Kenzo dan Tiara berjalan untuk turun ke bawah. Kenzo terlihat sedang memainkan ponsel mendapat laporan dari bawahannya yang dia suruh memata-matai Arzan. Sedangkan Tiara berjalan paling depan berbeda tiga langkah dari suaminya itu.


"Ada berita apa?" tanya Kenzo pada bawahannya di balik teleponnya, dia mendapat laporan kalau bawahannya itu melihat pergerakan Arzan yang mencurigakan. Jadi dia ingin kembali memastikan.


"Tuan Arzan terlihat memasuki rumah sakit bersama sepupunya Nona muda, Tuan." tutur bawahan itu menceritakan, entah itu berita yang di harapkan Tuan nya atau tidak tapi baginya pergerakan mereka terlalu mencurigakan, "Saat mereka turun dari mobil, mereka sedikit berdebat kecil sampai sepupunya Nona, di tarik paksa Tuan Arzan untuk masuk ke rumah sakit itu." lanjutnya menceritakan.


Kenzo sedikit terkejut, memang tidak aneh jika Arzan membawa Shasa ke rumah sakit, yang dia tahu kalau wanita yang selalu bersama Arzan itu memang tengah sakit. Tapi kenapa harus main tarik paksa segala, membuatnya menaruh curiga, "Terus ikuti mereka, pastikan apa yang terjadi di dalam!" titah nya, setelah bawahannya itu mengiyakan perintahnya, dia pun kembali menutup panggilan dan lekas menyimpan ponselnya.


"Ada apa, Ken?" Tiara yang mendengar itu jadi penasaran, menoleh ke belakang melihat ekspresi suaminya yang terlihat begitu serius. "Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada yang penting," jawab nya singkat, dia tidak bisa menceritakan semuanya pada Tiara karena belum pasti, terlebih istrinya itu terlalu baik hati, walau sepupunya itu selalu menyakitinya tapi tetap saja Tiara selalu menaruh perhatian pada wanita jahat itu.


"Ku kira ada apa?" timpal Tiara dengan memasang wajah kecewa, tidak bisa di pungkiri dia memang khawatir dengan keadaan Shasa, sejahat apapun wanita itu kalau sedang terjatuh sakit dia pasti mengkhawatirkan nya. "Apa aku boleh ke rumah paman untuk menengok, Shasa?" pintanya dengan ragu. Bahkan dia sampai menundukkan kepala, maaf karena terus saja menghawatirkan wanita itu, tapi tetap saja dia tidak tega, wanita jahat itu adalah saudaranya.


Kenzo sampai menghela nafas, dia tahu bagaimana sifat istrinya, dia tidak mungkin diam saja, "Arzan sudah membawanya ke rumah sakit. Jadi jangan terus mengkhawatirkannya."


"Benarkah?" Raut wajah Tiara sampai kembali berubah, langsung mantap Kenzo, lelaki itu sedang tidak berbuat alasan karena tidak mengizinkan nya ke rumah pamannya, kan?


"Kau pikir aku berbohong, kalau tidak percaya ya sudah, pergi saja ke rumah paman mu itu, lihat wanita itu ada di rumah atau tidak." Kesal sendiri, masa iya hanya karena Shasa wanita itu sampai meragukan perkataanya.


Tiara sampai refleks mendekat dan merangkul lengan sang suami, lelaki itu pasti kesal karena dia selalu menyusahkan nya, "Iya-iya aku percaya kok. Aku tidak akan ke mana-mana, aku tidak mau menyusahkan mu lagi," ucapnya dengan begitu cepat. Bahkan tenaganya terus menggenggam lengan Kenzo dengan begitu erat, terus menatap sang suami berharap ekspresi dingin itu menghilang dari raut wajahnya. "Maaf, janji aku tidak akan menyusahkan mu lagi." lirihnya dengan mimik menyesal. Tapi lelaki itu masih saja diam.


"Kenzo, maaf."


Masih belum mau merespon, Kenzo hanya berusaha menahan tawa melihat ekspresi Tiara, salah siapa membuatnya kesal, dia terus diam sambil terus melangkah maju tangga tanpa melepaskan rangkulan tangan istrinya.


Tiara sampai kaget, Kenzo benar-benar marah, "Kenzo, sayang, maaf. Bicara dong. Hei. Maaf." dia sampai kutar ketir mana tahan di dimakan Kenzo seperti itu.


Kenzo sampai membuang muka dengan tersenyum kecil, "Hem, ayo pulang!" timpal nya dengan singkat, bibirnya tidak banyak bicara tapi tangan satunya lagi bergerak mengelus kepala Tiara.

__ADS_1


"Kak Kenzo," Chelsea bersuara dengan begitu riang, dari tadi sudah tidak sabar ingin bertemu Kenzo kini lelaki itu terlihat jelas di depan matanya, dia menjadi begitu bersemangat ingin segera menghampiri lelaki itu.


"Jangan lari-lari Chelsea!" Kenzo sampai keheranan melihat tingkah Chelsea, wanita itu memang terlalu kekanak-kanakan untuk ukuran anak SMA, masa iya harus berlari-lari menaiki tangga. "Hati-hati!"


Belum juga selang beberapa detik bibir itu menasehati, kaki Chelsea terlihat terpeleset saat memijak.


"Pirang!" Reno yang baru terlihat, sama-sama kaget, dia melihat jelas kaki wanita itu saat terpeleset membuat tubuh itu terjatuh menggelinding sampai terkapar lemas di depannya. "Astaga, sudah ku bilang kan jangan lari-lari." Reno refleks berjongkok, merangkul tubuh Chelsea dengan begitu gelisah.


"Chelsea!"


Kenzo dan Tiara sama-sama kaget, mereka langsung menuruni tangga menghampiri Chelsea melihat keadaan nya.


"Dasar bodoh, apa kau tidak bisa berhati-hati hah." Kenzo teramat khawatir, apalagi saat melihat darah yang mengalir dari kening wanita itu. Hanya karena ingin menghampirinya wanita ini sampai terjatuh, "Ayo ke rumah sakit!" ajak nya dengan begitu cemas. Dia langsung menggendong tubuh Chelsea bergegas untuk mengobatinya.


...***...


Di sebuah rumah sakit. Arzan dan Shasa berada di sebuah ruangan, duduk di depan seorang wanita; dokter spesialis kandungan yang bawahannya rekomendasikan.


"Maaf, Tuan. Apa niatan anda bisa di pikirkan lagi?" tanya Dokter itu sambil menatap nanar gadis remaja yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Pergaulan bebas sangatlah menakutkan, permintaan untuk aborsi di kalangan anak remaja memang bukan hal baru baginya, tapi melihat raut wajah wanita yang harus dia eksekusi terlihat begitu tegang dan di dasari tekanan, membuat nya tidak tega. Terlebih itu akan berakibat buruk untuk kesehatannya.


"Keinginan kita sudah bulat, Dok. Mohon bantuannya." Arzan masih kukuh, walau Shasa dari tadi terus protes, dia harus tetap memaksanya.


"Sebelum memutuskan untuk melakukannya, kalian perlu menyadari apa saja dampak aborsi yang mungkin dialami. Sebagian besar dampak tersebut biasanya muncul beberapa hari hingga beberapa tahun kemudian. Dalam kasus yang parah, penanganan gawat darurat medis perlu dilakukan." ucapnya lagi, dia akan kembali memberi kesempatan mereka untuk berpikir, dia sedikit kasihan karena tindakan aborsi ini sepertinya hanya di inginkan sebelah pihak.


"Tapi, Dok."


"Maaf, Tuan. Silahkan kembali di lain waktu!" titah Dokter itu tanpa bisa di ganggu gugat.


Arzan sampai geram, bukannya dokter ini sudah profesional, kenapa malah menakut-nakuti pasiennya. Dia begitu menyesal telah datang ke sini.


"Baik, Dok. Permisi." Arzan langsung beranjak pergi, tidak lupa menarik tangan Shasa agar wanita itu mengikutinya. Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu, kenapa pula dia memasang ekspresi menyediakan membuat dokter itu enggan untuk membantu menggugurkan kandungannya.


Tangan Shasa terus saja di tarik Arzan menuju parkiran, cengkeraman lelaki itu begitu keras membuatnya kesakitan. "Arzan, sakit!" pekiknya sambil berusaha melepaskan cengkraman itu. Bukannya terlepas, cengkeraman tangan itu malah semakin keras.


"Makanya turuti kemauan ku, dasar bodoh." umpat Arzan sambil berbalik ke belakang, kalau saja wanita ini yakni untuk melakukan aborsi dia tidak akan kesusahan dan menjadi kesal seperti ini.


"Aku tidak mau, aku takut." sentak Shasa tetap tidak bisa, seenaknya saja mengatainya bodoh, padahal ini adalah kesalahannya. "Lebih baik aku menanggung malu, Arzan. Kita bicarakan baik-baik saja pada kedua orang tua kita. Ayo menikah saja, kau harus bertanggung jawab." pintanya dengan lirih. Kandungan masih muda, kalau mereka melangsungkan pernikahan dia tidak akan terlalu menanggung malu.


"Menikah?" Arzan sampai tersenyum pasi, kata menikah tidak ada dalam kamus nya. "Pernikahan hanya sebuah beban." tuturnya dengan begitu santai.

__ADS_1


Shasa sampai geram, "Dasar bajingan," dia sampai refleks memukul dada Arzan, dadanya serasa begitu sesak hatinya teramat sakit, kenapa bisa dia di pertemukan dengan lelaki kejam seperti ini. "Dasar biadab."


Arzan sampai menyeringai, langsung mencekam rahang Shasa yang berani membantah kemauannya, "Luapkan kekesalan mu sampai puas, karena tidak ada kata menikah sebelum aku membalas kan dendam ku." tuturnya dengan tegas, sedari awal dia hanya memanfaatkan wanita itu, jadi jangan pernah berharap akan mendapatkan hubungan serius dengan nya.


...~...


Sementara itu, mobil Kenzo sudah memasuki area parkiran rumah sakit, di susul mobil Reno yang sadari tadi mengikutinya, dia lekas turun membuka pintu mobil belakang dimana Chelsea sedari tadi berbaring di pangkuan istrinya.


"Sakit, Kak." rengek Chelsea saat tubuhnya mulai di gendong Kenzo, tubuhnya terasa remuk, kepalanya begitu pusing, terlebih darah yang keluar dari dahinya tercium begitu anyir membuatnya tambah pusing.


"Iya, tahan sebentar. Kita langsung ke UGD."


Kenzo langsung menggendong Chelsea masuk ke dalam rumah sakit, di susul oleh Reno. Tapi tidak dengan Tiara, langkah wanita itu tiba-tiba terhenti saat matanya melihat wajah yang dia kenal berada di sebuah sudut rumah sakit.


"Bukannya itu, Shasa?" Tiara begitu terkejut melihat keberadaan Shasa, lebih terkejut lagi saat Arzan berbuat kasar pada sepupunya itu. "Ken, maaf. Aku ke toilet dulu. Nanti aku menyusul." ucapnya meminta izin. Sedikit berbohong saja, Kenzo sudah cukup kesusahan mengurus Chelsea dia tidak mau mempersulit nya.


"Jangan lama-lama, langsung ke ruang UGD." timpal Kenzo dengan cepat. Karena terlalu cemas dengan keadaan Chelsea dia sampai hampir melupakan istrinya.


"Iya."


...~...


"Arzan, lepas! Kau tidak bisa memaksa ku seperti ini. Aku tidak mau aborsi, aku akan bilang pada Pak Prawira." ancam Shasa tidak terima. Dia teramat menyesal telah mengenal lelaki ini.


Arzan kembali berbalik, "Coba saja, sebelum kau menemui Ayah Prawira, akan ku pastikan janin itu sudah tidak ada di dalam rahim mu." decak Arzan dengan menyeringai, salah besar jika wanita itu berani macam-macam pada nya. "Ayo masuk!" ucapnya dengan paksa menyeret Shasa ke dalam mobilnya.


"Hentikan! ada apa ini? janin apa?" Tiara langsung bersuara, dia begitu terkejut saat mendengar percakapan mereka, membuat nya keheranan, "Apa yang terjadi?"


"Tiara," Shasa langsung menghempaskan cengkeraman Arzan, langsung berhambur memeluk Tiara. Bak angin segar saat ada wanita itu di sana, "Tiara tolong!" lirihnya dengan tubuh gemetar. Bahkan dia langsung bersembunyi di belakang tubuh Tiara, menghindari Arzan.


"Ada apa ini, kenapa kau begitu kasar padanya?" Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tiara tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Shasa terlihat begitu ketakutan tapi dia tidak tahu apa akar permasalahannya.


"Minggir, jangan ikut campur dengan urusan kita." Arzan sampai geram, kenapa Tiara tiba-tiba ada di sana. Jangan sampai kehadiran wanita itu malah memperkeruh suasana, apalagi kalau kehamilan Shasa tersebar ke mana-mana. "Minggir jika kau tidak ingin aku juga berbuat kasar pada mu." decak nya sambil perlahan mendekati Tiara. Tangannya sudah bergerak ingin menarik Tiara, tapi terhenti saat ada tiga orang berjas hitam menghadang pergerakan nya, dan melindungi Tiara.


"Jangan berani-berani menyentuh Nona muda kami!" decak orang-orang dengan begitu tegas, bahkan suara mereka terdengar begitu menggelegar. "Minggir!" titah salah satu dari mereka, bahkan orang itu langsung mendorong tubuh lelaki yang berani berbuat kasar pada Nona mudanya.


"Nona tidak apa-apa?"


"Iya, aku baik-baik saja," Tiara sampai kaget, sejak kapan bodyguard keluarga Wijaya ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2