Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Mengikuti kemauan paman.


__ADS_3

"Menikah!"


Shasa sampai mangap tak percaya mendengar kabar dari Arya, kenapa bisa Tiara dan Kenzo akan segera menikah? apa Ayahnya sudah tidak menyayangi nya, "Kenapa Ayah mengizinkan wanita itu menikah? Ayah tahu kan aku menyukai Kenzo?" decak nya kesal, bahkan Ayahnya tidak ada sedikitpun usaha untuk mencegah pernikahan mereka. Dia tidak terima, dia menyukai Kenzo dia tidak bisa merelakan lelaki itu menikah dengan gadis kampung yang di bencinya.


"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, Sha. Kita hanya perlu menjaga sikap, dan menuruti kemauan Pak Kenan, itupun jika kamu masih mau hidup dalam kemewahan." keluh Arya tidak mampu membela diri. Dia hanya bisa menasehati Shasa untuk legowo menerima kenyataannya.


Shasa sampai mengusap kasar wajahnya tidak percaya, apa semuanya harus berakhir begitu saja, sedari awal apa yang dia inginkan harus ia dapatkan, "Ini semua gara-gara Ayah, kalau saja Ayah tidak menampar Kenzo semua tidak akan serumit ini," cecar nya geram, kalau Ayahnya bisa lebih lembut pada Kenzo dia tidak akan terpuruk seperti ini, dia pasti punya banyak cara untuk mendekati Kenzo dan mendapatkan cinta lelaki itu. "Ayah jahat!"


"Sha, semuanya telah terjadi, kita hanya perlu bersikap lebih baik, terima saja kalau Kenzo sudah menjadi milik Tiara, maka Kenzo pun akan lebih baik lagi memperlakukan mu selayaknya memperlakukan adik ipar nya. Itu lebih baik dari pada kau terus di jauhi nya." tutur Arya berusaha menasehati, tidak ada pilihan lain, bukan dia tidak sayang pada putrinya, justru apa yang dia lakukan semuanya demi putrinya.


Shasa hanya diam, menggigit bibir bawahnya menahan sesak di dada, bisakah dia menerima semua itu, bisakah dia tahan melihat kedekatan mereka, bisa kah dia menahan keras perasaannya dan hanya menganggap Kenzo sebagai kakak ipar nya saja. "Arrrrgh......." hanya dengan memikirkannya saja dia serasa gila. "Tidak bisa, semuanya tidak boleh berakhir seperti ini." gumamnya masih tidak terima.


...***...


Sementara itu di kediaman keluarga Wijaya.


Semuanya terlihat makan malam bersama.


"Ikuti Daddy, ada yang harus Daddy bicarakan!"


Kenan tiba-tiba bersuara setelah menghabiskan makan malamnya. Menyuruh Kenzo yang sama-sama telah menghabiskan makanannya untuk mengikutinya.


Kenzo yang di panggil, Tiara yang kaget, apa pamannya kembali berbuat ulah, ekspresi Kenan terlihat begitu dingin saat memerintah putranya.

__ADS_1


"Iya, Dad." jawab Kenzo singkat, dengan patuh dia langsung mengikuti langkah sang Daddy.


Kenan dan Kenzo sudah sampai di ruangan kerja. Kenan langsung duduk di ikuti putranya.


"Apa ada masalah Dad?" Kenzo yang mengawali bertanya, melihat ekspresi sang Daddy membuatnya bisa mengira-ngira ada beban di pikirannya.


"Daddy sudah bicara dengan Pak Arya prihal pernikahan kalian, seperti yang kamu bayangkan Pak Arya tidak terima, Daddy sudah berusaha menekan nya, tapi Pak Arya malah mengajukan sebuah permintaan." tutur Kenan menceritakan, di kepalanya ada banyak beban. Bukan hanya masalah Kenzo melainkan juga masalah pekerjaan. "Pak Arya malah meminta mu untuk bisa memperlakukan putri nya dengan baik." lanjutnya menjelaskan.


Kenzo sesaat diam, permintaan Arya tidak lah aneh, karena sedari awal itu yang selalu di harapkan Shasa, tapi Daddy-nya tidak akan berekspresi seperti itu kalau dia merasa bisa membereskan masalah itu dengan mudah, pasti ada maksud lain sampai memanggilnya, dan itu pasti karena ada hal yang memang harus di lakukan nya. "Apa ada masalah lain, Dad?" tanya nya.


Kenan sampai menghela napas, sebenarnya dia juga tidak mengira semuanya akan bertepatan di waktu yang sama. "Keluarga Prawira mulai menunjukkan taringnya, Arzan Ravindra yang merupakan anak angkat keluarga Prawira mulai menyerang perusahaan kita, mereka mulai terang-terangan mengajak bersaing dengan perusahaan kita, Ken." tutur Kenan menceritakan. Iya inilah masalah barunya, di saat dia ingin membereskan masalah putranya malah datang lagi masalah yang tidak terduga, dia harus lebih fokus dengan masalah perusahaan dan itu tidak memungkinkan nya untuk menurunkan jabatan Arya dalam situasi seperti ini. Dia butuh orang-orang seperti Arya untuk menyaingi perusahaan Prawira.


Deg... "Arzan!" Kenzo sampai terkejut, dia pernah mendengar nama itu karena Jonathan pernah menceritakannya. Dia tidak mengira kalau Arzan benar-benar mengambil kuasa perusahaan Prawira mengalahkan Jonathan yang merupakan putra aslinya."Rupanya ini lebih rumit," gumamnya dalam hati. Mendengar cerita sang Daddy membuatnya bisa langsung mengerti arah dan maksud pembicaraannya.


"Daddy tidak mau banyak bicara karena sepertinya kau juga sudah mengerti apa yang harus kau lakukan. Setidaknya lakukan sampai pernikahan mu berlangsung, karena Daddy tidak mau jika keadaannya semakin rumit." titah Kenan menjelaskan. Tidak ada pilihan lain ikutilah dulu kemauan Arya, agar dia bisa membereskan semua masalahnya. Pernikahan Kenzo dan Tiara tidak tertunda dan permasalahan perusahaan pun bisa di bereskan dengan mudah.


"Baik Dad." jawab patuh Kenzo, dia sendiri sudah membayangkan apa konsekuensinya, dan harus bagaimana menyikapinya.


...*...


Kenzo sudah keluar dari ruangan Daddy nya, mencari keberadaan Tiara tapi tak kunjung menemukan nya. Dia pun bergegas menaiki tangga karena sepertinya Tiara sudah berada di kamarnya.


Tok tok tok....

__ADS_1


Kenzo mengetuk pintu kamar Tiara, berharap wanita itu belum tidur karena dia ingin menemui wanita itu sekarang juga.


Pintu terbuka, Tiara bisa langsung melihat Kenzo yang berdiri tegak di depanya. "Ken?" panggilannya, dari tadi sudah khawatir dan sekarang Kenzo menemui nya juga. "Ada apa?"


"Boleh aku masuk?" timpal Kenzo malah bertanya, dia ingin bicara tapi bingung harus bagaimana memulainya.


"Kau tidak akan macam-macam kan?" refleks Tiara langsung berjaga-jaga, lelaki itu tiba-tiba ingin masuk ke kamarnya, bukankah itu aneh.


Kenzo seketika langsung menyentil kening Tiara, mendadak kesal, dia ingin menyampaikan sesuatu padanya tapi wanita itu malah berpikir yang tidak-tidak, "Apa semesum itu aku di mata wanita mu?" decak nya kesal.


Tiara sampai mengelus keningnya, bukan maksud berpikir yang tidak-tidak, hanya akan lebih aneh jika dia membiarkan lelaki itu masuk ke kamarnya begitu saja, "Sakit tahu," rengek nya kesal. "Makanya kalau bicara jangan setengah-setengah, jadi aku bisa sedikit lebih mengerti diri mu." omel nya lagi memberi saran, dia tahu lelaki itu sangat dingin, tapi bisakah bersikap seperti orang normal, dan bicaralah apa adanya. Tiara pun membuka pintu kamar lebar-lebar mengizinkan lelaki itu masuk.


Kenzo benar-benar masuk, langsung duduk di sofa kamar Tiara, dan menyandarkan punggungnya. "Apa kau ingin terus berdiri di sana? duduklah! ada yang harus ku bicarakan." titahnya dengan serius. Dia langsung menatap Tiara memberi isyarat agar duduk di dekatnya.


Tiara mendekat, ini kamarnya, kenapa rasanya dia yang di jajah lelaki itu di kamar nya sendiri, mau tidak mau dia pun duduk di sana. "Ada apa?" tanyanya penasaran.


"Pernikahan kita tiga hari lagi, dan aku hanya butuh waktu dua hari saja." ucap Kenzo lagi-lagi berbicara yang tidak bisa Tiara cerna, wanita itu sampai bingung apa lagi maksud ucapan nya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi, pasti bukan tanpa alasan lelaki itu sampai bicara demikian.


"Ada sedikit masalah, dan aku tidak ingin menambah masalah lagi sampai pernikahan itu terjadi. Untuk berjaga-jaga aku harus memperlakukan Shasa sedikit lebih baik agar dia tidak berbuat nekad menggagalkan pernikahan kita." tutur Kenzo menjelaskan, mungkin ini terdengar aneh, tapi itulah yang terjadi, dia tidak ingin pernikahan mereka malah gagal dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dan dia ingin memberi tahu Tiara agar nanti wanita itu tidak salah paham dan berharap bisa mengerti. "Aku hanya perlu memastikan dia tidak berani menyakiti, mu." lanjutnya lagi menjelaskan.


Bersikap seperti apapun dia nanti pada Shasa, dia pastikan wanita itu tidak akan berani menyakiti calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2