Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Peran seorang istri.


__ADS_3

Shasa terkulai lemas tak berdaya, betapa sakitnya di saat dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri orang yang dia cintai mengikat janji suci dengan wanita lain, "Haruskah berakhir seperti ini?" Dadanya serasa sesak. Dia yang terlebih dulu mengenal lelaki itu, dia yang terlebih dulu dekat dengan lelaki itu, dia yang mencintai lelaki itu, kenapa akhirnya malah menjadi milik Tiara, "Ini tidak adil, dia tiba-tiba hadir dan dengan seenaknya mengambil semuanya, kau jahat, Tiara. Kau jahat." Ingin rasanya menangis, dia tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya, dia tidak pernah terpuruk seperti ini sebelumnya.


Pandangan Shasa dan Tiara saling bertemu. Shasa langsung menatapnya dengan tajam. Ingin sekali dia menjambak wanita itu, merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik nya. "Kau puas, Tiara," geramnya kesal, itulah kata yang ia lontarkan lewat tatapan tajam nya.


Tiara langsung menunduk, sungguh dia tidak bermaksud menyakiti hati siapapun, ini salah mereka, kalau saja mereka bisa bersikap sedikit lebih baik, mereka tidak akan berakhir seperti itu. "Maaf Nek, Tiara bukan tidak sayang pada bibi dan paman, tapi mereka yang membenci ku bahkan sampai menghina Ibu,"


"Kenapa masih tegang begitu? semuanya sudah selesai." Kenzo langsung menatap Tiara, wanita itu masih tertunduk, masih terlihat ketegangan di raut wajahnya. "Tidak ada yang perlu kau khawatir kan lagi." ucapnya sambil menggerakkan tangan mengelus pucuk kepala Tiara. Dia sendiri menghela nafas lega, yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun untuk menikah muda kini benar-benar terjadi, dia sudah menjadi seorang suami dari wanita yang sebelumnya tidak pernah dia kenal sedikitpun. Seolah wanita yang jauh dari pedesaan sana tiba-tiba merantau ke kota memang sengaja di kirimkan untuk nya. "Kau istri ku, dan sekarang kau adalah tanggung jawab ku."


Tiara langsung menoleh, nafas yang tadinya terasa berat kini ia hembuskan, menatap sendu seorang lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya "Terima kasih, terima kasih untuk semuanya." lirihnya dengan tersenyum manis. Entah apa lagi yang harus dia katakan, perasaan senang dan haru nya teramat dalam sampai tidak mampu untuk ia utarakan.


Widia sampai kesal melihat ekspresi Tiara, bisa-bisanya wanita itu tersenyum senang di atas penderita mereka. "Ayo mas, kita harus pulang. Tidak ada gunanya lagi terus berada di sini." Dia beranjak berdiri, langsung meraih tangan Shasa mengajaknya keluar dari sana, jika terus berada di sana mereka akan semakin di permalukan. "Jangan pernah menganggap kita sebagai keluarga mu lagi, Tiara." decak nya lagi. Kini Widia, Arya dan Shasa benar-benar sudah pergi meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.


Tiara menatap miris kepergian mereka, sampai hati mereka benar-benar membuangnya, walau hati kecilnya tidak bisa menerima itu, dia harus terima jika mereka yang meminta.


"Tidak apa-apa, sayang. Sini! Ada kami, Mommy dan Daddy akan selalu ada untuk, mu. Kau tidak sendiri sayang, kita akan menjadi keluarga yang bahagia." Ze sampai tak kuasa melihat ekspresi Tiara, bahkan setelah Kenzo menjatuhkan mereka, masih sempat-sempatnya mengukir luka di hati menantunya, dia langsung merentangkan kedua tangannya, memberi Tiara kebebasan, kapanpun gadis itu bisa bersandar di pelukannya. Dia akan menjadi seorang ibu yang akan selalu ada untuk putrinya.


Air mata Tiara tidak boleh jatuh, cukup, kesedihan cukup sampai di sini, tidak perlu menangisi keluarga yang memang tidak pernah menghargai dirinya. Dia akan memulai kehidupan baru dengan status barunya, akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk orang tua dari suaminya. "Terima kasih, Mom." Tiara mendekat, menerima uluran tangan Ze dan berlabuh di pelukannya. "Mohon restu dari Daddy dan Mommy, jangan sungkan memarahi ku jika aku berbuat kesalahan." Pintanya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada orang tua, tidak ada kerabat keluarga, hanya restu mereka yang bisa dia pinta.

__ADS_1


"Iya, sayang. Tanpa di minta pun restu kami selalu menyertai kalian, dan terima kasih telah hadir di keluarga kami," Kini Ze yang meneteskan air mata, tidak tahan menahan haru bahagia, akhirnya Kenzo dan Tiara bisa hidup bersama tanpa sebuah batasan yang akan menghalangi mereka.


"Iya, Mom." timpal Tiara dengan lirih, pelukan Ze terasa begitu hangat, dia yang sudah hampir kehabisan tenaga setelah menghadapi keluarga Arya sampai hampir terlelap di pelukannya.


Kenzo sampai terus memperhatikan Tiara, pantas jika wanita itu terlihat begitu lelah, bukan hanya menahan rasa sakit, wanita itu mengeluarkan banyak air mata dan tenaga saat berusaha menghindar dari nya, "Biarkan dia istirahat, Mom. Aku harus kembali ke atas." pamitnya dengan suara pelan. Karena terlalu fokus dengan masalah pernikahan, dia sampai lupa kalau harus mengemas barang-barang nya untuk perlombaan besok.


"Buru-buru sekali, Ken. Tidak mau naik bareng." cegah Ze, tapi putranya benar-benar sudah melangkah pergi.


"Aku harus mengemas barang yang harus di bawa nanti."


Tiara yang hampir terlelap kembali membuka mata "Mau ku, bantu?" tanyanya dengan ragu, dia langsung bangkit dari pelukan Ze, walau masih canggung, bukan kah itu sudah menjadi tanggung jawab seorang istri untuk membantu menyiapkan segala keperluan suami.


"Istirahatlah di atas, nanti sore kalian harus perjalanan ke luar kota kan?" seru Ze menimpali, sambil mengelus kepala Tiara. Kenzo menyuruhnya istirahat, jadi istirahatlah tidak perlu membantunya.


...*...


Tiara sudah berganti pakaian, sudah membersihkan makeup dan melepas tatanan rambutnya, kini dia mengenakan pakaian santai dengan rambut yang di ikat tinggi-tinggi, ingin istirahat tapi tidak bisa, dia langsung keluar kamar menghampiri kamar Kenzo karena masih ingin membantunya.

__ADS_1


Dia langsung mengetuk pintu kamar, tidak membutuhkan waktu lama sang pemilik kamar sudah membuka pintunya. "Apa ada yang bisa ku bantu?" tanyanya dengan ragu. Dia tidak bisa istirahat apalagi tahu kalau Kenzo malah menyiapkan keperluan nya sendiri.


"Aku bisa melakukannya sendiri," timpalnya dengan datar, walau begitu dia langsung membuka pintu membiarkan Tiara untuk masuk, "Istirahatlah! Lagi pula semuanya sudah beres, tinggal mengambil beberapa buku saja." titah nya sambil menyuruh Tiara untuk duduk.


"Kau selalu membantu ku, masa aku tidak bisa membantu mu." ucapnya masih kukuh, masa dia di suruh masuk hanya untuk melihatnya beres-beres saja.


Kenzo sampai tersenyum simpul, bukan Tiara kalau wanita itu tidak keras kepala. Mau tidak mau dia harus menyuruhnya, karena dia sendiri belum sempat berganti pakaian biar wanita itu yang membereskan sisanya. "Itu!" Kenzo menunjuk sebuah rak buku di kamarnya, menyuruh Tiara mengambil beberapa buku dari sana.


Tiara yang merasa bisa membantu langsung kegirangan, melangkah menuju rak buku mencari beberapa buku yang Kenzo sebutkan. "Wah, pantas dia begitu pintar, pasti semua buku-buku ini selalu di bacanya." gumamnya sampai menatapnya dengan kagum, sebuah rak buku yang begitu besar dengan bermacam-macam buku yang bertengger di sana malah terlihat seperti perpustakaan, dia sampai celingukan sana sini mencari judul buku yang Kenzo butuhkan, "Akh, ketemu!" Dengan begitu antusias dia langsung berjinjit untuk meraih buku itu, tapi percuma, badannya yang terlalu pendek tidak bisa meraihnya. "Akh, kenapa susah sekali!"


Kenzo yang melihat tingkah Tiara sampai terkekeh, mana yang katanya ingin membantunya, mengambil satu buku saja tidak bisa, dia langsung menghampiri wanita itu dan berdiri di belakangnya, "Ku, kira kau akan benar-benar membantu ku," ledeknya nya dengan berbisik persis di telinga Tiara, tubuhnya yang tinggi dengan mudah langsung mengambil buku itu, dan memperlihatkannya pada Tiara.


"Ken," Tiara sampai kaget, "Aku akan mengambil sisanya!" ucapnya dengan cepat karena malu, bisa-bisanya jantungnya langsung berdebar kencang saat hembusan nafas Kenzo terasa begitu hangat.


Kenzo dengan cepat menghentikan pergerakan Tiara, tangannya bergerak menyentuh ikatan rambut nya, membeli nya dengan pelan seolah meminta wanita itu untuk berbalik menghadapnya, "Dari pada membantu ku bukannya kau harus mengemas barang-barang mu!" bisik nya lagi.


Tiara sampai refleks berbalik, "Aku sudah mengemas nya kok, kita tinggal berangkat," jawabnya dengan sedikit gugup sambil memalingkan wajah, dia tidak bisa menatap wajah lelaki itu karena jarak mereka terlalu dekat.

__ADS_1


"Tiara!" Kenzo meminta wanita itu untuk menatapnya, heran, dia bicara tentang apa tapi di tanggapi nya dengan apa, "Bukan untuk ke perlombaan, tapi untuk pindah ke sini." tegas Kenzo menjelaskan, dia sampai mengangkat sudut bibirnya, ekspresi malu-malu Tiara membuat dia ingin terus menggodanya. "Apa kau lupa status kita sudah berubah?" tanya nya makin memperjelas situasi.


Tiara sampai gelagapan, dia harus menjawab apa, dia memang sudah menjadi istrinya tapi belum siap untuk tinggal di satu kamar yang sama, pikiran nya terlalu dini untuk membayangkan hal yang lebih intim. "Akh, maaf sepertinya aku harus istirahat," kilahnya dengan tersenyum kikuk, dia harus mencari aman dan kabur dari lelaki itu, "Sepertinya aku memang terlalu pendek untuk mengambilkan buku-buku mu," ucapnya lagi berusaha mengalihkan pembicaraan, dia langsung pergi, berusaha menyiapkan hatinya, jika nanti Kenzo benar-benar akan menarik dia ke kamarnya.


__ADS_2