
Waktu menjelang malam, mobil Arya membelah jalanan kota, malam ini dia harus mengantarkan putrinya untuk mengikuti perlombaan di luar kota, "Mereka benar-benar memecat ku." gumamnya dengan tersenyum miris, biasanya dia tidak bisa mengantarkan Shasa kemanapun karena sibuk dengan urusan kantor, tapi keadaan sekarang berbeda, dia tidak akan punya kesibukan karena benar-benar jadi pengangguran karena ulah Tiara.
"Ayah yakni mau mengantar ku?" Shasa tiba-tiba bersuara, merasa kasihan karena sang Ayah bersikeras mau mengantarkan nya ke perlombaan meski harus melakukan perjalanan yang cukup jauh. Padahal keadaan sang Ayah sedang kacau karena di pecat dari pekerjaannya.
"Tidak apa-apa, Sha. Terus di rumah juga bosan. Anggap saja ini kesempatan Ayah untuk lebih memperhatikan mu." Iya, tidak harus terus terpuruk karena di pecat dari pekerjaannya, dia masih punya akal untuk membereskan masalahnya.
"Tapi Ayah tidak akan terus seperti ini, kan? Kemewahan kita bisa-bisa langsung hilang, kalau Ayah tidak bekerja lagi." keluh Shasa tidak terima. Bagaimana kehidupan nya di sekolah jika finansial nya tidak mendukung popularitas nya.
"Tenang Sha, itu biar menjadi urusan Ayah, Ayah sudah berpengalaman bekerja di perusahaan besar, jika kembali mencari pekerjaan pasti akan mudah. Anggap saja dua hari ini Ayah istirahat sambil mencari perusahaan mana yang harus Ayah datangi." timpal Arya dengan begitu enteng, dia begitu percaya diri kalau hidupnya tidak akan berakhir begitu saja.
"Tidak ada perusahaan lain yang sebesar perusahaan Wijaya. Apa Ayah sudah punya gambaran?" tanya Shasa lagi memastikan, perusahaan Wijaya sudah tersohor di mana-mana, dia tidak mau kemewahan nya sirna kalau sang Ayah tidak mendapatkan harta berlimpah seperti saat bekerja di perusahaan itu.
"Ada, walau belum sampai sebesar perusahaan Wijaya, tapi perusahaan itu sudah mempu menyaingi perusahaan Wijaya." timpal Arya dengan menyeringai, berkat perkataan putrinya dia bisa mendapatkan ide. "Sepertinya Ayah bisa melamar kerja ke perusahaan mereka."
"Perusahaan mana?" Shasa jadi penasaran, kalau itu benar perusahaan besar, pasti salah satu putra atau putri mereka bersekolah di SMA Trisakti, dan dia pasti mengenalnya.
"Perusahaan Prawira."
"Prawira?" Shasa sampai mengulang kembali perkataan ayahnya, dia begitu kaget, "Apa mungkin itu perusahaan Ayahnya Jonathan." tebaknya dengan yakin, marga Jonathan adalah Prawira. Sudah jelas itu pasti nama Ayahnya.
"Kau juga kenal putra keluarga Prawira?" Arya tidak kalah kaget, rupanya putrinya itu mempunyai sosialita yang bagus, selain mengenal Kenzo dia juga mengenal putra keluarga Prawira.
"Ya kenal dong Yah. Kita sama-sama Trisakti sekolah." jawab Shasa dengan enteng.
"Bagus dong. Daripada terus mengejar Kenzo, bukankah lebih baik kau mendekatinya nya." timpal Arya memberi saran, dari pada putrinya terus tersakiti mengharapkan Kenzo, lebih baik mencari cinta yang lain.
"Dia bukan tipe ku, yah. Dia terlalu lembek." jawab Shasa dengan ekspresi meledak, mendengar namanya saja dia tidak bersemangat, apalagi di suruh mendekati nya.
__ADS_1
Arya sampai tersenyum, dia sudah hapal sifat putrinya, sekalipun itu anak orang kaya jika tidak suka, Shasa akan mengabaikan, dia hanya bisa menasehati putrinya agar mempertahankan posisi sekarang, karena hanya itu jalan kesuksesan nya, "Posisi Trisakti sekolah adalah tiket emas, Sha. Dengan itu kau bisa dengan mudah masuk ke perusahaan, kuliah sambil bekerja itu tidak jadi halangan, kau bisa dengan mudah mendapatkan jabatan, jadi pertahankan lah posisi itu." titahnya dengan tegas, mereka memang tidak ada keturunan keluarga kaya, maka berusahalah untuk mendapatkan kekayaan agar tidak selalu di remehkan.
Shasa sesaat diam, sepertinya dia harus bercerita pada Ayahnya, mengenai masalahnya di sekolah, "Sekarang posisi ku sedikit terancam karena kehadiran Tiara, Yah. Wanita itu cukup pintar." keluh nya dengan ragu.
Arya sampai menghela nafas, Tiara memang pembawa sial untuk keluarganya, setelah mendapatkan lelaki yang di cintai putrinya wanita itu malah kembali mau mengambil posisi putrinya di sekolah. "Dia memang pintar, tapi dia mudah lengah, Sha. manfaatkan lah kesempatan itu. Kau sudah kalah dalam hal asmara, jangan sampai kalah lagi dalam hal ini." titahnya dengan tegas, mereka tidak boleh kembali jatuh dan di permalukan, jadi kali ini Shasa harus memenangkan permainan nya.
"Kenzo selalu ada di belakangnya, Yah. Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya." jawab Shasa memberikan alasan, iya itulah kendalanya, apapun yang dia lakukan selalu ada lelaki itu yang melindunginya. Jalannya menjadi buntu karena lelaki itu.
"Kau anggota osis, manfaatkan lah kekuasaan itu untuk mempertahankan posisi Trisakti mu." titah Arya kembali memberi saran.
Shasa sampai menyeringai, ide dari sang Ayah terdengar bagus. "Iya, aku akan mencobanya, aku akan mempertahankan posisi ku, Yah."
...***...
Kenzo dan Tiara sama-sama melakukan perjalanan ke luar kota, mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan yang mulai sunyi, waktu yang sudah cukup malam mengurangi mobilitas orang-orang. Mereka yang duduk di bangku belakang merasa semakin bosan dengan perjalanan nya.
"Berapa jam lagi ya?" gumam Tiara sudah mulai ngantuk, dengan begitu nyaman menyandarkan punggungnya di kursi mobil membuat matanya hampir terlelap.
"Ken?" Tiara sampai kaget, apa tidak apa-apa? mungkin kaki lelaki itu bisa pegal-pegal jika dia tidur di pangkuan nya.
"Jangan banyak bergerak dan tidurlah!" Sepertinya biasa, bibir bicara dengan begitu dingin, tapi tingkahnya selalu memperlihatkan kepeduliannya, tangannya terus bergerak mengelus-elus kepala Tiara agar wanita itu terlelap.
Bukannya terlelap, Tiara malah senyam-senyum sendiri menerima perhatian lelaki itu. "Bibirnya memang tidak ada manis-manisnya, tapi tingkahnya selalu membuat ku nyaman." gumamnya sambil memposisikan badannya.
"Aku menyuruh mu tidur, bukan malah tersenyum." decak Kenzo sambil mengelus dua kelompok mata Tiara, hingga membuat mata istrinya terpejam sempurna.
"Iya, baiklah aku tidur."
__ADS_1
Pak Tono yang melihat tingkah Tuan muda nya hanya bisa tersenyum, "Apa perlu saya ambilkan bantal, Den?" tawarnya merasa kasihan. Perjalanan nya masih panjang, jika terus dengan posisi seperti itu, di jamin kaki Tuan mudanya bisa langsung pegal-pegal.
"Tidak apa-apa, bangunkan saja jika sudah sampai." jawab Kenzo dengan datar, dia ikut memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil yang sudah dia condong kan ke belakang.
"Baik, Den."
...*...
Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul empat pagi, Pak Tono sudah memarkirkan mobilnya di dapan sebuah villa, terlihat para pelayan di villa mulai berhamburan menyambut kedatangan Tuan mudanya. Sesuai yang di perintahkan, pak Tono langsung membangunkan Kenzo sampai lelaki itu terbangun. "Apa nona juga mau di bangunkan, Den" tanyanya.
"Tidak usah, siapkan saja kamarnya." Dengan perlahan Kenzo menggendong sang istri membawanya masuk ke dalam villa.
"Ini kamarnya, Den." Salah satu pelayan sudah membukakan pintu. Kenzo pun langsung masuk dan dengan perlahan menidurkan Tiara di atas temat tidurnya.
"Den, tidak mau istirahat lagi?" tanya pak Tono tiba-tiba. Heran melihat Kenzo yang malah keluar dari kamar yang di tempati Nona muda nya.
"Saya akan istirahat di kamar yang lain," jawabnya singkat, Kenzo tidak ingin membuat Tiara tidak nyaman jika tau-tau saat wanita itu bangun tidur dan mendapati dirinya tidur di satu kamar yang sama. Reaksi saat tadi dia tiba-tiba masuk kamarnya saja terlihat begitu kaget, apalagi sekarang, wanita itu pasti langsung komat kamit mengomelinya.
Pelayan yang bertugas membersihkan villa langsung kebingungan, pasalnya Ze hanya menyuruhnya membersihkan satu kamar saja, kamar yang lainnya belum di bersihkan sepenuhnya. "Maaf, Den. Tapi, hanya kamar ini yang bisa di tempati sekarang." jawabnya dengan ragu.
Pak Tono pun langsung menyahuti, "Aden, dan Nona kan sudah menjadi suami istri, tidak apa-apa jika tidur di satu kamar yang sama." tutur nya merasa kasihan. Dari pada menunggu kamar lain di bersihkan, lebih baik langsung tidur di kamar yang sudah tersedia.
"Aist..." Tidak bisa mengelak, Kenzo yang sudah terlanjur lelah langsung kembali ke kamar, untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia langsung celingukan, mencari tempat tidur yang sekiranya nyaman selain di ranjang, "Argh." Sial, tidak ada yang terlihat nyaman selain di ranjang, terpaksa dia harus ikut berbaring di sana.
"Entahlah dia akan beraksi seperti apa, aku benar-benar sudah lelah." gumamnya sambil perlahan tidur di samping Tiara, persetan akan beraksi seperti apa, yang dia lakukan tidak salah karena wanita itu istrinya.
Tring... Bunyi pesan masuk di ponsel Kenzo terdengar, sang pemiliknya tidak sadar karena sudah terlalu lelah setelah melalui perjalanan panjang.
__ADS_1
..."Ken, Lo sudah sampai? Gue di hotel bareng Arzan. Kalau mau ke hotel berhati-hatilah, sepertinya si Arzan masih uring-uringan karena di panggil, Om."...
Iya itulah pesan singkat dari Jonathan, lelaki itu selalu memberikan kabar jika itu menyangkut ketenangan sahabatnya.