
Pak guru terlihat memasuki kelas untuk memulai pembelajaran pagi ini, dia bergegas duduk di kursi dan langsung mengitari sekitar mengecek murid-murid nya.
"Kenzo tidak masuk lagi." gunam nya, dia melirik tempat duduk Kenzo tapi lelaki itu tidak ada di tempatnya. "Loh!" Pak guru sampai kaget, rupanya bukan tidak masuk, tapi si brandal sekolah itu pindah tempat. "Kenzo, kenapa kau duduk di sana?" tanya nya dengan penuh selidik.
Memang tidak ada aturan khusus dalam hal tempat duduk, tapi sedikit aneh jika murid laki-laki dan murid perempuan duduk di satu bangku yang sama, maka Pak guru itu harus menegurnya.
"Kembali ke tempat duduk mu!" titah guru itu. Bukan karena apa-apa, dia takut Kenzo mengganggu Tiara, karena yang dia tahu Tiara adalah murid baru di sana. Murid wanita itu pasti akan jadi sasaran empuk kejahilan seorang Kenzo.
"Tenang, Pak. Saya tidak akan berbuat ulah. Lagi pula ada ketua osis di sini." timpal Kenzo dengan begitu santai, dia tahu guru itu pasti mengira dia akan macam-macam. Kenzo sampai menggerakkan kakinya di bawah sana menendang kursi Jonathan di depannya.
"Bukan begitu ketua osis, kalau aku berulah tegur saja." pintanya, dengan begitu santai. Keberadaan Jonathan di depannya memang sangat menguntungkan.
"Iya, Pak." jawab Jonathan. Pak guru itupun tidak bisa bicara lagi. Dia mulai membuka buku pelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran pagi ini.
"Sungguh formasi yang sempurna. Pantas saja dia mengajak Jonathan untuk pindah bersama." Tiara sampai bergumam. Pantas mereka sampai berteman dekat, keadaan mereka memang saling menguntungkan.
Kenzo bisa memanfaatkan posisi Jonathan untuk mencari aman dari segala tingkah nya yang selalu sesukanya, sebaliknya Jonathan pun memanfaatkan kekuatan Kenzo yang merupakan berandal sekolah untuk menakuti murid yang lain agar tidak ada yang berani menggeser posisi nya sebagai orang nomor satu di sekolah.
Melihat kekompakan mereka Tiara jadi penasaran. Dia langsung menulis sesuatu di bukunya dan ia berikan pada Kenzo agar lelaki itu membacanya. "Istirahat makan siang nanti bisa kita hanya berdua saja?" tulis Tiara dalam bukunya. Dia ingin bicara berdua saja tanpa di ikuti Shasa maupun Jonathan, ingin bertanya secara langsung, apa sikap Kenzo yang ikut-ikutan tidak peduli dengan kelakuan Shasa yang suka membully karena dia juga merasa terancam dengan kepintaran korban-korban Shasa? Atau ada alasan lain?
Kenzo membaca tulisan Tiara dengan tersenyum kecil, dia langsung mengambil pensil dan membalas nya. "Kalau mengajak kencan yang sopan, masa mewakilkan pada sebuah tulisan." tulisnya sambil terkekeh, dia langsung mengembalikan buku itu pada pemiliknya.
"Orang ini." Tiara sampai mengumpat, dia langsung menggerakkan kepalanya, menatap Kenzo dengan kesal. Bisa-bisanya lelaki itu meledak permintaannya. "Aku serius, Ken." ucapnya dengan berbisik.
Kenzo diam, sepertinya Tiara benar benar ingin bicara serius dengan nya. Dia langsung mengambil kembali buku Tiara dan menulis sesuatu di sana. "Aku tunggu di atap." tulisnya memberi jawaban.
...***...
Istirahat tiba, Kenzo langsung beranjak pergi dari kursinya untuk memenuhi keinginan Tiara, dia akan menghindari Jonathan agar lelaki itu tidak mengikutinya. Terutama menghindari kecurigaan murid yang lain.
"Ken, mau ke kantin kan. Tunggu!"
Lepas dari Jonathan, kini Shasa menghadang langkahnya, wanita itu masih berusaha keras mendekatinya, tidak kapok walau tadi sudah ia abaikan.
"Gue ada urusan, minggir!" titahnya dengan begitu dingin.
Shasa sampai mengeram kesal, kenapa sesusah itu kembali mengambil simpati Kenzo.
Kenzo pergi meninggalkan Shasa, setelah di rasa wanita itu tidak mengikutinya dia kembali menoleh ke belakang, dia harus memastikan Tiara juga bisa keluar kelas tanpa di hadang siapa-siapa. "Kalau ada mau nya. Dia terlihat baik-baik saja." gunam nya saat melihat Tiara bisa keluar tanpa hambatan.
...*...
__ADS_1
Mata Tiara celingukan sana sini, tangannya menenteng sebuah kotak bekal yang akan dia santap bersama Kenzo, dia yakin telah mengikuti Kenzo sampai ke atap gedung sekolah. Tapi dia belum melihat keberadaan Kenzo di sana.
"Wah," decak kagum Tiara, bukannya menemukan Kenzo dia malah terkesima melihat keadaan kota dari atas sana. "Ternyata indah sekali di sini." pujinya. Matanya sampai terus berkeliling melihat ke adaan.
"Sudah puas. Ayo duduk!" Suara Kenzo tiba-tiba terdengar. Dia langsung mengajak Tiara duduk di sebuah bangku yang selalu menjadi tempat istirahatnya jika dia ada di sana. "Cepat!"
"Iya," Tiara berjalan cepat mengikuti Kenzo, perasaan tadi dia tidak melihat lelaki itu, dari mana dia datangnya. "Sepertinya dia sering datang ke sini." gumam nya dalam hati.
Kenzo duduk, di ikuti Tiara yang langsung duduk di dekatnya. Tiara langsung menyimpan kontak bekal itu di tengah tengah mereka.
Mata Kenzo langsung tertuju pada bekal yang di bawa Tiara, "Jangan bilang kau hanya ingin berdua dengan ku karena ingin menghabiskan makanan itu saja."
decak nya. Padahal sudah mengira ada yang penting, jangan sampai wanita itu hanya mengerjai nya saja.
"Tidak, ada yang ingin ku tanyakan. Sekalian saja sambil makan siang, sayang kan mommy sudah susah-susah menyiapkan nya." timpal Tiara. Dia perlahan membuka kotak bekal itu. Menyiapkan bagian Kenzo sekaligus dengan sendok nya. "Nih!"
Kenzo menolak, berasa menjadi anak TK jika dia makan siang dari bekal yang di bawa dari rumah. "Makan saja, aku belum lapar." tolaknya. Biar setelah ini dia akan langsung ke kantin untuk makan siang di sana.
"Hei, mommy sudah susah-susah menyiapkan nya untuk mu, bisa kau sedikit menghargai nya, nih! makan."
Mode galak Tiara on. Heran, sudah ada makanan di depan mata lelaki itu malah menolaknya. Padahal ini di siapkan mommy nya sendiri.
"Apa kau tidak punya pendengaran, aku belum lapar makan saj-" Sudah sewot menolak, perkataanya malah terpotong. Kenzo kaget karena Tiara dengan cepat mengambil makanan itu dan menyuapkan ke mulutnya.
Kenzo sesaat terdiam, situasi macam apa ini, bisa-bisanya dia di paksa oleh seorang wanita, ingin menolak tapi sudah di depan mata. Diapun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Tiara. Sampai rasanya tidak percaya kalau dia bisa di suapi seorang wanita selain mommy nya.
"Anak pintar, makan yang banyak ya!" lagi-lagi Tiara tersenyum lebar, bicara layaknya seorang ibu pada anaknya, bahkan tangannya bergerak menepuk pundak Kenzo bertingkah seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.
Kenzo sampai terbentuk-bauk, ini cewek mau mengajaknya bicara atau mau mengerjainya. "Hei, bisa jauhkan tangan mu!" decak nya kesal. Dia sampai mencondongkan badannya agak tangan Tiara tidak menepuk pundaknya lagi.
Tiara sampai tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Haha. Maaf, maaf. Sini aku suapi lagi." ucapnya masih dengan tawa nya. Tangannya kembali mengambil makanan dan kembali menyuapi Kenzo. Dia kira Kenzo akan menolak, ternyata lelaki itu kembali menerima suapannya.
"Awas saja kalau tangan mu kembali menyentuh ku, aku tidak akan makan lagi." ancam Kenzo dengan begitu datar, pura-pura saja kesal, padahal dalam hati dia menikmati setiap suapan dari tangan Tiara.
Suasana sedikit lebih tenang, Kenzo terus melahap setiap suapan yang di berikan Tiara, wanita itupun merasa ini waktu yang tepat untuk bicara.
"Ken, hari sabtu lalu Shasa marah-marah sampai menamparku. Dia begitu bukan hanya karena masalah perjodohan, tapi dia juga memberi ku peringkat untuk tidak menggesernya dari posisi Trisakti sekolah setelah melihat nilai ku yang lebih tinggi darinya." jelas Tiara. Dia ingin tahu seperti apa reaksi Kenzo jika mengetahuinya.
Kenzo sesaat terdiam, menelan habis makanannya. Kenapa wanita itu tiba-tiba membahas masalah itu. "Apa kau tertarik dengan posisi itu?" tanya Kenzo. Dia malah jadi penasaran apa tanggapan Tiara sendiri mengenai Trisakti sekolah.
__ADS_1
"Iya, aku ingin menduduki posisi itu." jawab Tiara dengan lugas. Dia tidak mengira Kenzo malah akan bertanya seperti itu padanya.
Kenzo langsung menggerakkan kepalanya menatap Tiara. "Berusahalah karena itu tidak mudah." ucapnya. Tidak ada salahnya jika memang Tiara menginginkan posisi itu, asal wanita itu bisa melakukan nya.
Tiara kaget, semuanya tidak sesuai ekspektasi dia kira Kenzo akan berekspresi seperti Jonathan. Tetapi lelaki itu malah berbalik mendukungnya.
"Kau tidak merasa terancam jika aku menginginkan posisi itu?" tanya nya untuk memastikan.
"Kau terlalu percaya diri. Mana mungkin kau mengalahkan ku." timpal Kenzo dengan menyeringai, dia sampai refleks menyentil kening Tiara menyadarkan gadis itu.
"Aww." Tiara sampai merengek, langsung mengelus keningnya Memang salah besar kalau mengira pemikiran Kenzo sama dengan Jonathan. "Lalu kenapa kau selalu membiarkan Shasa membully murid lain jika kau merasa tidak terancam dengan kepintaran mereka?" tanya nya memastikan.
"Itu bukan urusan ku, untuk apa ikut campur urusan mereka." jawab Kenzo dengan begitu santai. Dari raut wajahnya saja tidak tergambar ada rasa simpati pada korban bullying itu.
"Dasar tidak punya hati, kau kan bisa menegur Shasa untuk tidak melakukan kekerasan itu. Dia kan teman mu."
Tiara kesal sendiri, refleks menggerakkan tangannya memukul lengan Kenzo. Hati Kenzo memang sedingin es, tapi setidaknya dia bisa menghentikan kebiasaan buruk Shasa.
"Hei, sudah kubilang kan, itu bukan urusan ku." Kenzo kembali menegaskan, agak kaget, Tiara sampai berani memukulnya karena mengasihani murid murid yang bahkan tidak di kenalnya. "Sudah makin berani ya, kau sampai memukul tunangan mu sendiri." decak nya kesal. Dia sampai mengelus lengannya "Sakit, Tiara." rengek nya berpura-pura.
"Cuma di senggol doang, juga." Tiara tidak kalah sewot, bisa-bisanya Kenzo malah berakting karena tidak mau kembali di omeli nya. "Sekarang kau harus membantu ku untuk membuktikan kejahatan Shasa," pintanya. Tiara hanya ingin Shasa mendapatkan hukuman yang setimpal agar dia merasa jera.
"Tidak mau. Itu bukan urusan ku." tolak Kenzo dengan acuh. Dia sudah di buat repot untuk memastikan Tiara baik-baik saja, kenapa wanita itu sendiri yang malah mencari masalah.
"Ayolah Ken. Kau pasti tahu kan siapa saja yang pernah di bully Shasa. Aku hanya butuh kesaksian mereka saja."
rengek Tiara. Jika dia tidak bisa mengumpulkan bukti, bagaimana bisa dia menjatuhkan Shasa. Yang ada dia yang akan di persulit Shasa, dan dia pasti tidak bisa menduduki posisi Trisakti sekolah. "Kau kan tunangan ku, jadi kau harus membantu ku," ucapnya lagi berusaha merayu. Tiara sampai tersenyum lebar agar Kenzo mengiyakan kemauannya.
"Bikin report saja." gumam Kenzo dalam hati. Mana bisa dia mengabaikan Tiara, apalagi wanita itu malah merayunya. "A..."
Kenzo malah membuka mulutnya, mengisyaratkan agar Tiara kembali menyuapinya. Sepertinya dia ketagihan akan suapan Tiara.
Tiara sampai heran, mana yang katanya tadi belum lapar? lelaki itu sudah hampir menghabiskan jatah makan siang nya.
"Nih! makan sendiri." tolaknya kesal. Bukannya menjawab permintaan nya, Kenzo malah meminta di suapi lagi.
"Padahal aku sudah berniat membantu mu, tapi kau malah kasar begini. Ya sudah, aku batalkan kembali niat ku itu."
timpal Kenzo sambil terkekeh. Belum juga selang beberapa detik, tangan Tiara langsung refleks kembali menyuapinya.
"Iya. Iya. Ini! makan yang banyak, mau memakan jatah ku juga tidak apa-apa."
__ADS_1
ucap Tiara dengan penuh semangat. Kenzo sampai tidak bisa menahan tawa, melihat kelakuan Tiara.
"Hahaha. Anak pintar." ledek Kenzo dengan tersenyum senang. Bukan hanya senang melihat kekonyolan Tiara, dia juga senang karena wanita itu kembali menyuapinya.