
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, burung burung mulai berkicau menyambut mentari pagi, namun keadaan di dalam kamar pasangan muda ini masih terdengar sepi.
"Emmhh," Tiara bergumam sambil menggeliat pelan, tubuhnya terasa berat dan tidak bisa bergerak, saat matanya terbuka, dia mendapati tangan Kenzo berada di atas pinggangnya, bahkan kakinya di bawah sana tertindih kaki sang suami yang sedang memeluknya bagai memeluk sebuah guling. Setelah di rasa-rasa kenapa kehangatannya terasa begitu alami, kulit tubuhnya terasa menempel sempurna di kulit suaminya. "Akh," Tiara sampai malu sendiri saat menyadari tubuhnya yang polos tanpa memakai sehelai benang pun, kedua tangannya langsung menutup wajahnya karena begitu malu, potongan ingatan nya tentang kejadian panas tadi malam mulai berkelebatan di kepalanya. "Kita benar-benar melakukan..." Akh, Tiara benar-benar malu, langsung membenamkan wajah ke dalam selimutnya.
Kenzo yang sama-sama terbangun karena pergerakan Tiara, hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah wanita itu, tangannya perlahan bergerak menarik selimut itu sampai terlihat jelas wajah sang istri yang sudah merah padam. "Kenapa? Apa sudah mengingat apa yang kau lakukan tadi malam," ucapnya dengan tersenyum jahil, wanita itu malah menggelengkan kepala, pura-pura tak mengingat apapun, karena terlalu malu, "Mau ku ulangi agar kau mengingat nya?" goda nya lagi, dengan cepat menarik selimut Tiara sampai tubuh polos wanita itu terlihat setengahnya.
"Kenzo!" Rengekan manja nya sampai terdengar seksi, dengan cepat kembali menarik selimutnya sampai menutupi bagian lehernya.
"Kenapa harus di tutupi segala, aku sudah melihat semuanya." ucapnya lagi dengan begitu santai, menggerakkan tangannya merapihkan poni Tiara yang menghalangi wajah cantik nya. "Tidur mu nyenyak?" tanyanya sambil perlahan mengecup kening Tiara.
Tiara hanya terdiam karena malu, saat bergerak dia baru sadar kalau di bawah sana miliknya terasa begitu perih, "Aww, sakit." refleks sampai merapatkan kakinya untuk meredakan rasa perihnya. Entah berapa kali lelaki itu melakukan nya sampai badannya terasa begitu lelah, dan miliknya terasa begitu perih.
"Apa yang terjadi?" Akhirnya Tiara memberanikan diri untuk bertanya, terakhir ingatannya hanya sampai saat di parkiran dan ada seseorang yang mendekap mulutnya.
Kenzo menceritakan semuanya, Tiara sampai menggigit bibir bawahnya, kesal dan sedih, seharusnya dia bagai sosok Kakak untuk Shasa, tapi kenapa wanita itu begitu membencinya, bahkan tega melakukan hal yang di luar batasan. "Dia benar-benar termakan oleh kebencian," gumamnya sambil menundukkan kepada. Shasa adalah keluarganya, dalam hati kecilnya tetap ada kasih sayang, rasa ingin membantu agar wanita itu tidak terus terjerumus dalam kesalahan. "Sha, kalau kau melangkah dijalan yang benar, aku pasti akan sangat menyayangi mu." gumamnya dengan menahan rasa sesak di dada.
Dulu mereka pernah bersama, bermain boneka bersama, tidur bersama, sama-sama merengek minta jajan pada sang nenek, tertawa bersama, menangis bersama bahkan banyak sekali hal yang mereka lalui semasa kecil mereka sebelum Arya memutuskan untuk merantau ke kota. "Iya, keadaan itu memang tidak akan bisa kembali lagi. Shasa yang dulu sudah menghilang." Dia sampai tak sadar menjatuhkan air mata. Masa lalu tinggal sebuah kenangan.
Kenzo yang menyadari perubahan ekspresi Tiara hanya bisa menghibur nya. "Tidak apa-apa, masih banyak orang yang menyayangi mu," Dia langsung menggerakkan tangannya, menyeka air mata sang istri dan perlahan memeluk nya.
...***...
Kenzo dan Tiara sedang di parkiran sekolah, ingin melangkah menuju kelas tapi terhenti karena ada seseorang yang memanggil Tiara.
"Tiara." Suara Azzura terdengar jelas, gadis itu langsung menghampiri pasangan suami istri itu dan langsung menggandeng lengan Tiara dan berjalan beriringan dengan wanita itu. "Hei, bagaimana tadi malam, kau puas dengan performa nya?" bisik nya, dengan tersenyum jahil menggoda Tiara.
__ADS_1
"Apa si," Malu sendiri, Tiara refleks memalingkan muka pura-pura tidak tahu apa-apa, baru juga bertemu kenapa langsung membahas itu, rasanya ia ingin menggali lubang untuk bersembunyi dari wanita ini.
"Tolong rahasiakan semaunya?" ucap Kenzo tiba-tiba, terlalu banyak yang Azzura tahu tentang mereka, dia berharap wanita itu bisa menjaga rahasianya.
"Tergantung," timpal Azzura dengan cengengesan, ingin sekali dia menggoda pasangan suami istri ini karena kelakuan mereka semalam.
"Tergantung apa?" Tiara yang menimpali, langsung menatap Azzura yang ada di samping sebelah kirinya.
"Tergantung kau mau membagi suami mu atau tidak." bisik nya dengan menahan tawa, dia sampai langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tiara. "Hahaha, tenang lah! Aku hanya bercanda Tiara, kenapa menakutkan seperti itu, ambil sana es balok mu itu." lanjutnya lagi tanpa melepaskan rangkulannya, rupanya wanita ini cukup menyenangkan juga. "Kita berteman yah, yah. Maka aku akan merahasiakan semaunya." ucapnya lagi dengan mengerjap kan kedua matanya seolah memohon.
Tiara sampai gelang kelapa, rupanya Azzura jauh dari dugaannya. "Dengan senang hati," timpalnya dengan tersenyum senang, langsung menyentuh tangan wanita itu yang sedang merangkul lengan nya. "Kita satu sekolah, tapi sebelumnya aku tidak pernah melihat mu?" tanyanya penasaran, tahu Azzura se baik ini, kenapa baru akhir-akhir ini di pertemukan dengan nya.
"Oh ya, aku sering kok melihat mu dari kejauhan, bahkan aku masih ingat saat kau baru masuk sekolah ini, kau terlihat sangat cupu, berbeda dengan sekarang." jawab Azzura dengan jujur.
Tidak lama, Devan terlihat menghampiri mereka, "Ken, Mario kena masalah." bisik nya sambil menepuk pundak Kenzo.
Sontak Kenzo langsung menoleh menatapnya dengan penuh tanya, "Dimana dia?"
"Di area loker sekolah, bahkan guru BK juga ada di sana, sepertinya ini sandiwara Shasa, Ken."
"Dasar wanita bajingan!" Kenzo sampai mengepalkan tangannya geram, apalagi sekarang yang wanita itu lakukan. "Minuman itu masih ada kan?" tanyanya dengan berbisik, Devan langsung mengangguk mengiyakan.
"Ada apa, Ken?" Tiara sampai penasaran dengan apa yang terjadi, Devan tiba-tiba datang dengan wajah cemas dan malah berbisik-bisik dengan suaminya.
"Hanya ada sedikit masalah, ayo! mau ikut?" ajakan sambil mengulurkan tangan, dia tidak beloh meninggalkan Tiara, bisa-bisa dia kembali terkena masalah.
__ADS_1
Sementara itu di area loker sekolah, sudah banyak murid yang berkerumun menyaksikan tragedi mencengangkan pagi ini. Bahkan guru BK sendiri yang turun tangan membereskan semua nya.
"Mengaku saja, Mario. Mungkin bapak bisa meringankan hukuman mu." Guru BK itu marah-marah, pagi ini dia mendapatkan laporan bahwa ada kasus pelecehan di sekolah ini malam tadi saat pesta sekolah berlangsung.
"Pak, sumpah Pak. Saya bukan pelakunya, saya tidak tahu apa-apa." Mario sudah kehabisan kata-kata, di tambah lagi kenapa semua barang-barang itu ada di loker nya. Dia langsung menatap Shasa dengan penuh amarah, namun dengan santainya wanita itu malah memalingkan muka dengan senyuman nya. "Aisst, sial. Shasa setan lo." Dia sudah bisa menebak wanita itu lah dalang nya.
"Kau bilang tidak tahu, lalu ini apa hah?" Guru BK itu langsung mengacungkan sebuah botol kecil, dan jelas sekali kalau itu obat perangsang, "Kau mencoreng moral sekolah, Mario." Teriaknya lagi dengan begitu tegas. "Hari ini kau di drop out dari sekolah!" kecam nya tanpa basa-basi dengan begitu tegas, pihak sekolah tidak bisa mentolerir tindakan yang tidak bermoral seperti ini.
"Pak!" Mario sampai tersentak, menghela nafas berat sampai mengusap kasar wajahnya tak percaya. Dia tidak bisa membela diri, tidak bisa membalikkan keadaan karena tidak punya bukti sama sekali. "Pak, itu benar-benar bukan punya saya Pak,"
"Masih bermain mengelak, padahal kau sendiri menyimpan semua buktinya. Kau bahkan menyimpan tas korban di dalam loker mu." Pak guru BK sampai tak habis pikir, kurang tegas kah dia dalam mendisiplinkan murid-murid nya sampai ada yang berani berbuat nakal.
"Pak, ini semua kelakuan, Shasa Pak." Akhirnya Mario angka suara, dia tidak bisa terus di pojokan seperti ini karena dia bukan pelakunya.
"Setelah melakukan hal menjijikkan sekarang kau mau melempar kesalahan mu pada orang lain, dasar murid tidak beradab." Amarah guru BK sampai meluap-luap, dia berharap Mario mengaku bukan malah melamar kesalahannya, terlebih pada Shasa seorang wanita bahkan dia waktos di sini.
Shasa, Alicia dan Jessica, sampai tersenyum penuh kemenangan, sungguh tontonan yang sangat memuaskan, pagi pagi begini mereka sudah di buat kegirangan.
Brakk.... Suara gebrakan terdengar begitu jelas, semua mata langsung tertuju pada sumber suara, dan ternyata itu Kenzo yang menendang loker sekolah dengan begitu keras.
"Anj*ng, dasar guru tak beradab." decak nya dengan begitu geram. Baru sampai di area loker dia langsung di suguhkan dengan perkataan guru BK yang terdengar begitu memuakkan.
"Kenzo." Mario kaget, bahkan guru BK itu tidak juga tidak kalah kaget. Si brandal sekolah itu sedang mendekat ke arah mereka dengan penuh amarah.
"Pak, apa otak bapak tertinggal di rumah?" Kenzo kesal sendiri, bisa bisanya guru itu pun terkecoh oleh kegilaan Shasa. Dia langsung menatap Shasa yang berdiri persis di depannya. "Dasar bajingan, Lo." Yang kena marah Shasa, yang kena mental guru BK.
__ADS_1