
Acara mengerjai Kenzo selesai, Jonathan begitu puas telah mengerjai lelaki itu. Kini dia tinggal membicarakan hal yang serius. Dia langsung mengajak Kenzo untuk bicara berdua saja tanpa di temani teman-teman Mabar nya.
"Apalagi sekarang hah? Gue mau pulang." decak Kenzo kesal. Walau bibir mengumpat, dia langsung mengikuti langkah Jonathan setelah meminta Tiara menghampiri Chelsea terlebih dulu.
"Duduk dulu lah!" Jonathan malah cengengesan melihat ekspresi masam si brandal sekolah. Langsung duduk di ikuti Kenzo yang langsung duduk di samping nya. "Arzan mau ke luar negeri, Ken." ucapnya tiba-tiba. Itu kan yang Kenzo harapan kan, berita gerak gerik dari kakak angkatnya itu. "Tadi pagi dia menemui, Ayah. Dia bahkan berterima kasih karena telah mengangkatnya sebagai putra nya." tuturnya menceritakan. Dia juga sampai kaget. Lelaki itu benar-benar akan pergi, seperti tidak akan pernah kembali lagi.
"Dia ke luar negeri?" Kenzo sampai penuh tanya. Lelaki yang meluap-luap penuh dendam pada keluarga nya kini malah pergi begitu saja, tanpa adanya pergerakan, bukankah itu mencurigakan, "Kau yakin?"
"Iya. Ayah bahkan terlihat begitu marah pada nya, bukannya bertanggung jawab dengan kehamilan Shasa lelaki biadab itu benar-benar akan pergi." Jonathan kembali menegaskan, dia yang melihat perdebatan antara Kakak angkat dan Ayahnya itu bahkan hampir tidak percaya, "Bahkan dia tidak mengharapkan di anggap sebagai anak lagi oleh Ayah." tuturnya meyakinkan.
Jonathan sampai langsung menunduk, bukan karena menyayangkan Arzan, dia justru begitu senang jika Arzan tidak lagi menjadi bagian dari keluarganya, tapi yang ada di benaknya sekarang adalah Shasa, dia begitu kasihan pada wanita itu. Sejahat apapun Shasa, wanita itu pernah menjadi teman dekat mereka, bagaimana nasib anak yang di kandung Shasa tanpa sosok Ayah, Arzan biadab itu bahkan tidak ada sedikitpun niatan untuk bertanggung jawab. "Nasib Shasa sangat buruk, kasihan sekali." keluh nya dengan lirih.
"Itu karma yang harus dia terima, Jo." Kenzo menimpali sambil menepuk pundak Jonathan, jangan terlalu terbawa suasana, Shasa sendiri yang memilih jalan hidup yang seperti itu, sekarang dia sedang menerima hasilnya. Anggap saja itu sebuah balasan untuk membersihkan kejahatannya yang telah dia lakukan.
"Iya, semoga saja dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia pasti menjalani hari-hari yang berat karena harus menjadi singel parent tanpa sebuah pernikahan." timpal Jonathan dengan menghela nafas panjang, bisa-bisanya teman wanitanya itu berakhir dengan begitu menyediakan.
Kenzo sendiri menanggapinya dengan diam, baginya itu tidak seberapa dengan perlakuan mereka pada istrinya. "Gue duluan ya, gue harus mengantar Chelsea ke apartemen." pamit nya sambil beranjak berdiri, dia tidak bisa lama-lama karena harus menuruti permintaan sang mommy untuk main ke apartemen Chelsea. "Kalau ada kabar lagi hubungi gue!" titahnya lagi sambil berlaju pergi.
Pikiran Kenzo di penuhi kegelisahan, Arzan pergi begitu saja baginya itu sangatlah janggal. "Semoga saja dia benar-benar melupakan dendam nya."
...~...
Tiara terlihat berjalan menuju parkiran beriringan dengan Chelsea, setelah mendengar cerita tentang Om Pano ayah dari gadis ini, dia selalu merasa iba padanya, mau merengek seperti apapun pada Kenzo dia memilih mengalah membiarkan Kenzo memprioritaskan dia dan menuruti kemauan gadis ini.
Sama halnya seperti sekarang, wanita yang sudah Kenzo anggap seperti adiknya itu terus merengek meminta duduk di kursi mobil bagian depan.
"Ayolah, Kak. Kak Tiara setiap saat bersama Kak Kenzo. Aku hanya ingin duduk di bangku depan masa tidak bisa." ucap Chelsea dengan begitu manja.
Tiara langsung menganggukkan kepala dengan menghela nafasnya, "Iya, baiklah." ucapnya lirih, hanya masalah duduk masa harus di perdebatkan. Dia langsung menoleh mencari keberadaan Kenzo, sudah cukup lama tapi suaminya itu belum turun juga.
"Tiara!"
Tiara sampai kaget, yang dia cari Kenzo kini malah sosok Arya yang ada di di sana dan menghampirinya. "Paman?" Dia sampai penuh tanya, ada apa gerangan pamannya menemui nya.
"Tiara, apa kamu punya waktu sebentar, paman ingin bicara." pintanya dengan begitu lirih, raut wajah yang biasanya penuh kebencian kini sirna, tertinggal raut penyesalan dengan tatapan mata yang begitu sendu.
__ADS_1
Tiara sesaat terdiam, dia tahu skandal Shasa pasti bak tamparan untuk pamannya, dia merasa kasihan pada sosok lelaki paruh baya itu, tapi kalau mau bicara tidak bisa di sana karena ada Chelsea, terlebih sekarang tidak ada Kenzo.
"Ada apa?" suara Kenzo tiba-tiba terdengar. Dia langsung berdiri di samping Tiara dan melingkarkan tangan merangkul pinggang wanita itu. Ada apa lagi sekarang Arya kembali menemui Tiara. Tadi Jonathan membicarakan Shasa, sekarang Arya ada di depan matanya.
"Ken?" Tiara langsung menyentuh dada sang suami, jangan memasang ekspresi kesal seperti itu, sepertinya pamannya sekarang sudah berubah. "Paman hanya ingin bicara." bisik nya lagi seolah meminta pendapatnya.
"Bicara saja di sini, kita harus segera pergi." seru Kenzo sambil kembali menatap Arya. Bicaralah dengan terang-terangan apa yang dia inginkan.
Arya sampai menekuk kepalanya dengan menarik nafas panjang, "Maaf, paman hanya ingin minta maaf, maaf atas segala perlakuan Paman dan bibi mu selama ini, Tiara." lirihnya mengakui kesalahan. Dia sudah bertekad untuk memulai hidup baru dengan lebih baik lagi, tapi rasanya tidak tenang sebelum dia meminta maaf pada Tiara dan memperbaiki hubungan kekeluargaan nya.
Hati Tiara sampai berdesir, inilah yang dia harapkan, perdamaian antara dia dan pamannya, sungguh dia sendiri merasa tersiksa jika harus membenci keluarga pamannya. "Iya, aku memaafkan paman." timpal nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mungkin ini hikmah di balik masalah yang Shasa terima. Mereka bisa perlahan berubah menjadi lebih baik.
"Tiara! Shasa sakit, dia selalu ingin bertemu dengan mu. Kesehatan dan mentalnya sangat lemah, mau kah kau menjenguknya. Paman sudah bingung harus bagaimana lagi. Tolong bantu paman untuk mensuport Shasa." pinta Arya lagi dengan lirih. Dia sudah bingung harus meminta bantuan pada siapa.
Tiara sampai terhenyak, separah itukah keadaan Shasa, dia langsung menatap Kenzo meminta pendapat lelaki itu.
Kenzo sendiri sampai tersenyum pasi menatap Arya, dulu mereka terus mempersulit Tiara dan tidak mau menganggapnya sebagai keluarga, dan sekarang saat terpuruk, baru mereka mengingat Tiara dan langsung meminta bantuannya, dia sampai terheran-heran rupanya masih ada manusia yang tidak tahu malu seperti itu. Kalau saja dia tidak punya hati, dia tidak akan pernah mengizinkan Tiara untuk kembali menginjakkan kakinya di rumah Arya.
"Kalau kita senggang, kita jenguk dia." ucapnya sambil mengelus kepala Tiara. Sungguh itu bukan karena Arya maupun karena kasihan pada Shasa, dia hanya menghargai sang istri yang masih berbesar hati memaafkan keluarga pamannya.
"Terima kasih Nak Kenzo."
Signature Park Grande Apartment. Di sinilah Chelsea tinggal, sebuah apartemen paling besar dan mewah dengan pasilitas paling lengkap di kota. Mungkin hanya kalangan orang-orang elit yang sanggup tinggal dan menempati apartemen sekelas VIP ini.
Kenzo, Tiara dan Chelsea sudah berada di lobby apartemen, tangan Kenzo terlihat menentang beberapa kotak makanan karena Chelsea terus merengek kelaparan saat di perjalanan, sedangkan Tiara terlihat merogoh tas dan saku baju seragamnya mencari sesuatu.
"Kenapa?" Kenzo sampai heran kenapa Tiara seperti yang kebingungan.
"Ken, ponsel ku ketinggalan di mobil. Aku kembali ke basement ya." ucapnya sambil meminta kunci mobil, dia harus kembali karena membutuhkan ponselnya.
"Kau tunggu di sini, biar aku ambilkan." Kenzo sudah mau melangkah, tapi terhenti.
"Tidak apa-apa, Ken. Biar aku ambil sendiri." tolak nya kasihan. Suaminya itu dari tadi sudah kelelahan naik turun mobil mencari makanan untuk Chelsea, dia tidak mungkin kembali merepotkan nya. "Tidak lama kok. Hanya mengambil ponsel saja, aku akan langsung kembali." ucapnya lagi meyakinkan.
"Iya, Kak. Kak Tiara sudah besar, hanya ke basement juga. Kita tunggu saja di sini." Chelsea ikut menimpali, perutnya sudah lapar ingin segera sampai di apartemennya, Tiara malah ada acar meninggalkan ponselnya.
__ADS_1
"Nih! Langsung kembali!" Mau bagaimana lagi, Tiara yang minta, Kenzo pun langsung memberikan kunci mobilnya. Matanya terus menatap Tiara, melihat wanita itu yang mulai pergi meninggalkan area lobby.
Sementara itu di sudut lain, Arzan terlihat baru keluar dari lift. Penampilannya terlihat begitu kasual dengan sebuah topi hitam di kepalanya, dia berjalan dengan begitu terburu-buru sambil menyeret sebuah koper besar.
"Iya, bang. Aku menuju bandara sekarang." ucapnya di balik headset bluetooth nya. Dia berjalan begitu cepat menuju basement untuk mengambil mobilnya.
Keadaan di basement, suasana terlihat sepi, di tempat yang begitu luas hanya terlihat berpuluh-puluh mobil yang terparkir di sana, karena sudah di tunggu sang Kakak, Arzan langsung memasuki mobilnya untuk bergegas keluar dari apartemen, saat kakinya mau menginjak gas, bibirnya tiba-tiba menyeringai.
"Wah, pemandangan yang tidak terduga." gumamnya tatkala matanya melihat sosok Tiara yang sedang membuka pintu mobil nya. Wanita itu terlihat sendiri, bukannya itu adalah kesempatan yang bagus untuk nya mencelakai Tiara, "Inilah akibatnya karena kau berani mengusik ku, Tiara." ucapnya dengan menyeringai. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk dia mencelakai wanita itu.
...~...
"Ken, Kau di sini?" Jonathan begitu kaget, dia tahu Kenzo akan ke apartemen, tapi dia tidak mengira kalau apartemen nya sama dengan tempat Arzan tinggal. "Jangan bilang kau tidak melihat Arzan keluar dari sini?" tanyanya lagi karena Kenzo terlihat santai-santai saja. Kalau dua lelaki itu berpapasan, ekspresi Kenzo tidak akan setenang itu.
"Apa? Arzan?" Kenzo begitu kaget, jadi lelaki itu ada di sekitar sini. Sontak pikirannya langsung tertuju pada Tiara, yang sedang ke basement sendirian.
"Iya, dia baru saja turun. Dia mau ke bandara."
Kenzo sampai tercengang, tidak mau banyak bicara dia langsung beranjak berdiri dan berlari menuju basement, jangan sampai lelaki itu berpapasan dengan istrinya.
...~...
Keadaan di basement. Setelah menemukan ponselnya, Tiara bergegas kembali, langkah yang awalnya begitu cepat tiba-tiba terhenti saat mendengar suara mobil dari belakangnya. Dia sesaat menoleh, tidak ada jeda tidak ada kesempatan, mobil itu melaju dengan begitu cepat sampai dia tidak bisa menghindar.
"Aaa....!"
Brugg...
Serttt
Dukk...
Arzan langsung menyeringai, mobilnya begitu pas menabrak tubuh Tiara, sampai tubuh itu terseret sepanjang dua meter bahkan langsung terbentur keras jatuh ke lantai. "Mati kau, Tiara. Sekalipun keluarga Wijaya mencari ku, kalian tidak akan pernah menemukan ku." tuturnya dengan tergelak. Dia langsung menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menghilangkan jejak.
Mobil Arzan sudah pergi, tidak lama terlihat Kenzo berjalan cepat memasuki basement, "Tiara...." Suaranya sampai meninggi. Dadanya serasa sesak, nafas nya hampir tidak bisa bernafas dengan sempurna. Dia begitu syok melihat Tiara yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Dengan cepat menghampiri Tiara dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Tiara, bangun sayang!" bibir Kenzo sampai bergetar, seluruh tubuhnya terasa begitu lemas, air matanya perlahan jatuh. Apa yang terjadi kenapa istrinya seperti ini. "Tiara..." berkali-kali tangannya menyeka setiap darah yang keluar dari kepala sang istri. Tapi wanita itu tak kunjung membuka mata. "Tiara, bangun sayang! Tiara...."
"Arrgh.....!" Tubuh Kenzo terkulai lemas, tangannya mendekap tubuh sang istri dengan begitu erat, hatinya sakit bagai tercabik-cabik. "Tiara...."