Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Tiara Lestari Wijaya


__ADS_3

Suasana hati Tiara kini sedikit lebih baik, walau suami sedingin es balok nya itu cukup kaku dan tidak pandai merayu, tapi lelaki itu sukses meluluhkan hatinya, di tambah lagi di iming-iming pergi liburan auto langsung terobati sampai tidak mengingat lagi kegiatan camping sekolah.


"Ken, mau kemana?" Tiara heran, bukannya masuk kelas, Kenzo malah menuntunnya menuju parkiran. "Satu mata pelajaran lagi, Ken. Aku tidak mau bolos pelajaran terakhir," rengek nya karena mengira Kenzo akan membawanya pulang. Bolos kelas bagi Kenzo memang sudah kebiasaan, tapi jika dia ikuti-ikutan bolos maka sekolah akan memberi citra buruk bukan hanya padanya tapi pada Kenzo sendiri.


"Tidak, ada yang ingi ku ambil." timpal Kenzo dengan begitu santai, terus menggenggam tangan Tiara agar gadis itu terus mengikuti langkahnya.


Mereka berdua sudah sampai di parkiran, Kenzo langsung membuka bagasi mobil, mengambil sebuah paper bag, dan sebotol air mineral yang selalu Kenzo sediakan di mobilnya.


"Ken?" Tiara sampai terperanjat, Kenzo menyuruhnya memegang paper bag itu, sedangkan lelaki itu sendiri langsung membuka switer yang di gunakan nya sekarang dan tanpa ragu membuangnya. "Kenapa di buang?" tanyanya heran, membuang switer saja, bagai membuang tisu bekas pakai.


"Switer itu sudah kotor. Penciuman Nona Wijaya terlalu tajam, aku tidak mau kena amukannya kalau terus menggunakan itu." sindir Kenzo dengan tersenyum jahil, dia langsung membungkukkan badan membasuh muka nya dengan air mineral yang sedari tadi di pegang nya.


Iya, dia harus menghilangkan bekas pelukan Shasa agar aroma parfum wanita itu tidak menempel di badannya, bahkan dia harus mencuci mukanya untuk menghilangkan bekas sentuhan wanita itu.


"Nona Wijaya?" Tiara sampai berpikir cukup keras, setelah nya dia sadar kalau suaminya itu sedang meledeknya, dia sampai tersenyum kecil, apalagi melihat Kenzo yang sedang cuci muka, dia sampai terkesima. "Ken, kau kan bisa mencuci muka di toilet sekolah," dia sampai geleng kepala, masalahnya bukan karena apa-apa, saat cuci muka dengan sebotol air mineral saja suami itu masih terlihat tampan dia yang melihatnya sampai terpesona.


"Malas," jawab nya singkat, Kenzo langsung membuang botol air mineral itu, menghampiri Tiara dan mencipratkan bekas air dari tangan nya ke wajah sang istri, "Kenapa bengong?" tanya heran melihat ekspresi Tiara. Dia sampai tersenyum kecil melihat ekspresi Tiara, wanita itu sampai mengerjapkan mata saat tetesan air itu mengenai matanya, kembali mengusap wajahnya dan kembali mencipratkan sisa air itu pada Tiara.


"Kenzo!"


Kenzo sampai terkekeh, "Makanya jangan bengong, mana switer ku!" pintanya sambil mengulurkan tangan. Istrinya itu sampai refleks membuka paper bag dan mengambilkan switer nya, "Terima kasih, istriku." ucapnya dengan tersenyum kecil, satu tangannya mengambil switer satu tangannya lagi mengelus kepala Tiara.


Iya. Sebenarnya dia bukan tidak bisa melakukan itu sendiri, bukan tidak mau mencuci mukanya di toilet sekolah, dia hanya ingin Tiara melihatnya sendiri kalau dia juga begitu benci dengan tragedi yang barusan terjadi. Dia benci akan tingkah Shasa yang begitu lancang menyentuhnya. Dia tidak ingin bekas-bekas wanita itu menempel di badannya.


...~...


Setelah memastikan Tiara masuk kelas, Kenzo kembali keluar, seperti bisa dia akan bolos kelas karena harus membereskan masalah camping dengan guru BK, bahkan dia menghubungi sang Daddy agar Daddy nya bisa datang ke sekolah untuk membungkam mulut kotor guru-guru yang berani merendahkan Tiara, jika mereka menyinggung kekuasaan dan latar belakang, maka dia bisa membalas mereka dengan kedudukan dan latar belakangnya.

__ADS_1


"Kau yakin tidak akan ketahuan murid yang lain?" tanya Kenan di balik panggilan putranya, jika Kenzo memintanya datang ke sekolah tidak menutup kemungkinan murid yang lain akan tahu dan identitas asli putranya bisa ketahuan banyak orang.


"Tidak akan, Dad. Murid yang lain sedang ada kelas. Daddy hanya perlu menampakkan wajah Daddy saja sekalian suruh sekretaris Daddy membawa kartu keluarga kita," pinta Kenzo dengan begitu enteng, untuk membereskan masalah Tiara dia harus menurunkan sang Daddy agar pihak sekolah tidak lagi semena-mena pada istrinya.


"Iya, Daddy ke sana sekarang."


Menghubungi sang Daddy selesai, kini Kenzo melangkahkan kakinya menuju ruang guru untuk menemui guru BK itu.


Pintu ruangan guru terbuka, Kenzo langsung masuk dan menghampiri guru BK barada, "Permisi, Pak." sapa nya sambil berbungkuk, walau kesal dengan guru itu, dia harus sedikit memperlihatkan tata krama nya.


"Kenzo?" Guru BK itu sampai kaget, dia tidak memanggil murid lelaki ini, tapi kenapa tiba-tiba ada di kantor. "Ada apa kau kemari?" tanyanya heran.


"Apa boleh duduk?" Bukannya menjawab pertanyaan guru itu, Kenzo malah meminta untuk duduk. "Saya juga tidak ikut camping, kenapa bapak tidak menegur saya." ucapnya lagi sambil perlahan duduk karena guru BK itu malah diam menohok tanpa kata.


"Oh, karena itu!" timpal guru itu sudah bisa menerka-nerka.


Guru BK sesaat sampai terdiam, "Sedekat itukah mereka sampai si brandal sekolah ini langsung membela nya?" gumamnya dalam hati, dia bingung harus bagaimana membalas perkataan murid lelaki ini, "Bapak hanya menegur Tiara, itu sudah sangat bijak karena itu tugas Bapak." timpal guru itu membela diri.


Kenzo sampai tersenyum tipis, "Menegur atau menghinanya, Pak?"


Guru itu sampai tertegun, bukan Kenzo namanya kalau tidak berani melawan seorang guru. "Bapak tidak menghinanya, apa yang bapak bicarakan memang kenyataannya, kamu dan dia berbeda, jadi murid wanita itu tidak bisa dengan mudah mengharapkan posisi Trisakti, tanpa mematuhi peraturan sekolah," kilah guru BK membela diri, Kenzo terkenal dengan murid yang berani, dan tingkahnya itu bukan sebuah kesalahan, jadi dia harus pandai-pandai bicara agar tidak terpojok oleh murid ini.


"Dia hanya murid baru, masuk sekolah ini karena jalur prestasi, bukan karena latar belakang dan dorongan keluarga, sebagai guru bapak harus menegurnya, karena dari awal dia hanya mengandalkan prestasi maka sampai akhir harus patuh pada peraturan sekolah, mau tidak mau dia harus mengikuti apapun kegiatan sekolah yang akan menunjang nilainya." tutur nya kembali menegaskan.


Kenzo sampai geram dan mengepalkan tangannya, berani sekali guru itu merendahkan istrinya, "Tapi saya tetap tidak akan mengizinkannya." timpal nya dengan tegas.


"Kau memang brandal sekolah tapi kamu tidak punya hak untuk mengatur dan ikut campur dengan urusan murid sekolah ini." guru itu sampai geram, tanpa sadar dia sampai meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya tidak akan mengatur murid sekolah ini, saya hanya akan ikut campur dengan urusan Tiara karena saya punya hak untuk mengatur nya."


"Kenzo jangan melebihi batasan."


Guru BK sampai marah, ingin mengusir Kenzo dari kantor, tapi niatannya dia urungkan.


Guru-guru di dalam kantor langsung bergemuruh, seorang Kenan Ardi Wijaya sang pemilik yayasan tiba-tiba masuk ke dalam kantor beserta sekretaris nya.


"Tuan Kenan," Kepala sekolah langsung kutar ketir, langsung menghampiri Kenan dan berbungkuk menyalaminya. "Kenapa bapak tidak bilang mau ke sini, setidaknya saya akan menyiapkan penyambutan yang layak untuk Bapak." lanjut kepala sekolah itu dengan raut wajah malu.


"Tidak apa-apa, saya ke sini hanya ingin menemui putra dan menantu saya." Timpal Kenan dengan begitu santai.


"Putra? Menantu?" Kepala sekolah bahkan guru-guru yang ada di kantor sampai bertanya-tanya. Mereka tidak pernah tahu kalau putra Pak Kenan bersekolah di sini, bahkan menantu? Berarti putra Pak Kenan yang identitas di sembunyikan itu sudah menikah.


"Akh, ternyata putra saya di sana, kalau begitu saya permisi," pamit Kenan pada guru-guru yang sudah menyambutnya, "Kenzo ayo ikuti Daddy, ada yang ingin Daddy bicarakan." pintanya sambil melihat Kenzo. Mencari alasan saja, toh putranya hanya menyuruhnya menampakkan wajah nya saja. Dia langsung beranjak pergi saat Kenzo sudah menghampirinya.


Sontak kepala sekolah bahkan guru-guru itu langsung terperangah, "Kenzo?" Jadi si brandal sekolah itu putra Pak Kenan. Mereka semua hanya bisa diam menohok tanpa kata, berdiri mematung melihat kepergian Pak Kenan bersama putranya.


Sedangkan sang sekretaris yang sedari tadi berdiri di belakang Kenan masih berdiam diri di dalam kantor untuk menyelesaikan tugasnya. "Mana guru di bagian TU? saya harus memberikan ini," tanyanya sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas yang sedari tadi di bawahnya.


Di simpan nya kertas itu di atas meja sampai semua guru itu langsung membelalakkan mata. Saat melihat nama 'Tiara Lestari Wijaya' ikut terpampang jelas di kartu keluarga Wijaya.


"Saya harap bapak dan ibu guru semuanya bisa merahasiakan ini dari khalayak luar terutama murid yang lain, itupun jika bapak dan ibu masih menyayangi jabatan kalian." tutur sekertaris itu dengan penuh penegasan, matanya kini langsung melihat ke arah guru BK yang baru ikut berkumpul dengan guru-guru yang lainnya. "Dan satu hal lagi, saya harap kalian bisa lebih sopan pada Nona muda kami jika kalian tidak ingin di keluarkan dari pekerjaan kalian di sekolah ini." ancamnya dengan penuh tekanan. Bicara pada semua guru, tapi tatapan matanya begitu tajam menatap guru BK.


Sang Guru BK sampai menelan keras saliva nya, "Jadi Tiara menantu keluarga Wijaya?" gumamnya hampir tak percaya, dia menjadi gelisah dan harap-harap cemas dengan jabatan nya, dia hanya bisa berharap kalau pekerjaan nya tidak melayang begitu saja.


"Saya harap kalian semua mengerti apa yang saya ucapkan, permisi."

__ADS_1


Sekretaris itu pergi, semua guru bahkan kepada sekolah langsung menghela nafas panjang, akhirnya bisa bernafas lega setelah kepergian orang menyeramkan itu.


__ADS_2