
Tiara dan Azzura sedang mengistirahatkan tubuhnya di sebuah bangku di bawah pohon, olahraga kali ini benar-benar menguras tenaga mereka terlebih sebelum olahraga emosi mereka tersulut Shasa dan kedua kawannya.
"Agrh gerahnya." Tiara sampai mengibas-ngibaskan tangannya, rambutnya yang panjang membuat suhu tubuhnya semakin panas, tangannya dengan cepat mengambil ikat rambut dari saku celana olahraga nya, mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menggelung nya sembarang hingga membentuk gaya rambut cepol yang sedikit berantakan, memberinya kesejukan saat hembusan angin berseliwir mengenai tengkuknya yang terekspos sempurna. "Segarnya." gumamnya sambil menselonjorkan kakinya.
"Tiara, apa kau yakin bisa mendekati Priscilla? dia wanita tegas yang tidak mudah di dekati." tutur Azzura, dia kembali membahas pembicaraan yang tadi terpotong. "Terlebih setelah kasus itu, dia selalu menutup diri dari murid-murid yang lain." lanjutnya menceritakan. Dia tahu seperti apa Priscilla, mungkin tidak mudah untuk mendekatinya.
"Pokoknya harus bisa, hanya dia harapkan satu-satunya untuk di jadikan teman satu tim basket nanti, jika lawan kita Alicia sang kapten basket putri, maka Priscilla adalah partner yang sepadan agar kita bisa menang melawan mereka." tutur Tiara kembali meyakinkan Azzura.
Priscilla Annabell adalah mantan kapten basket putri, si murid berprestasi di bidang olahraga, karena rasa iri Alicia padanya, dia menjadi korban kelicikan tiga sekawan itu, sampai pihak sekolah mencopot jabatannya dari kapten basket, bahkan dia langsung di keluarkan dari kelas unggulan.
"Kita harus bisa membujuknya, lagi pula itu juga akan menguntungkan bagi nya, aku akan membantu dia kembali ke kelas unggulan, dan yang lebih penting lagi dia akan bisa membalaskan dendam nya pada mereka bertiga, jika mau bergabung dengan kita," tutur Tiara kembali menjelaskan. Dia harus bisa menarik seorang Priscilla agar ada di pihak nya dia akan buktikan kalau dia mampu melawan mereka. "Aku akan berusaha bicara baik-baik, sepertinya dia tidak akan menolak."
"Kenapa kau akan menemuinya?" tanya Azzura, Tiara terlihat begitu percaya diri, dia jadi penasaran bagaimana nanti hasilnya.
"Mungkin setelah acara camping nanti, kalau dari sekarang waktunya tidak pas. Bukan malah membuat dia berada di pihak kita, dia pasti malah merasa terganggu karena sedang sibuk mempersiapkan diri untuk acara camping."
Azzura sampai tertegun, bukan hanya baik, Tiara memang sangat bijak, bahkan saat mau bertindak pun wanita itu tidak pernah asal-asalan.
"Ya, semoga saja dia mau di ajak kerjasama, aku pun akan kembali berlatih biar kemampuan basket ku bisa lebih baik." timpal Azzura, jika Tiara saja terlihat begitu semangat, kenapa dia tidak, setidaknya dia sudah berpengalaman bermain basket tidak seperti Tiara yang benar-benar tidak pernah bermain sama sekali.
"Thanks ya untuk bantuannya," Tiara langsung tersenyum lebar, beruntung sekali dia bisa punya teman yang bisa dia andalkan. "Maaf ya aku tinggal, aku harus menemui Kenzo dulu." pamitnya sambil beranjak berdiri. Dia harus menemui Kenzo, karena lelaki itulah sang tokoh utama yang akan membantu keberhasilan rencananya.
...*...
Sementara itu keadaan di basecamp, seperti biasa Kenzo sedang asyik Mabar dengan kedua temannya, memuaskan hobi nya karena saat di rumah dia tidak bisa leluasa seperti sekarang.
Legendary
Suara sound permainan terdengar jelas, Reno dan Devan sampai geleng kepala, Kenzo benar-benar menggila dalam permainannya sampai entah Legendary yang ke berapa kalinya, saking GG nya.
"Bos, bagi kill lah, masa cuma di kasih assist doang." oceh Reno tidak terima, bos nya itu malah tersenyum tipis, sepertinya lelaki itu benar-benar menikmati permainannya.
Double kill.
Tripel kill.
__ADS_1
Maniac.
Savege.
"Jir, Savege coy." Devan sampai berdecak kagum, baru juga beberapa menit dalam permainan, Kenzo terus membantai musuh sampai tidak di kasih celah untuk bernafas. "Lo kayak lagi balas dendam, Ken." timpal Devan dengan mata masih fokus pada ponselnya.
Pasalnya Kenzo akhir-akhir jarang on, dan sekali on permainannya selalu menggila. Yang biasanya suka Mabar hampir tiap hari bahkan tiap malam, kini lelaki itu semakin jarang, di ajak pun terkadang selalu menolak, apalagi kalau malam hari. Padahal biasanya mereka hampir setiap malam selalu Mabar bahkan terkadang sampai lupa waktu, tapi sekarang momen itu jarang sekali terjadi.
"Iya, nih. Akhir-akhir ini bos jarang Mabar kalau malam hari. Kenapa Bos?" tanya Reno penasaran, rasanya bagi dia yang seorang gamer sejati, sulit meninggalkan hobi tanpa alasan yang pasti.
"Sibuk." jawab Kenzo singkat, padat, tapi tidak jelas. Dia masih fokus pada permainan bersiap untuk menyerang base musuh, mumpung musuh mereka sudah di buat rata olehnya.
"Sibuk apa? sesibuk-sibuk nya kau kalau di ajak Mabar biasanya juga langsung on." timpal Devan penasaran, baginya Kenzo adalah seorang core sejati, lelaki itu tidak akan bisa dengan mudah melupakan permainannya.
"Iya, sibuk saja," jawab Kenzo masih membuat kedua temannya penasaran, dia langsung tersenyum kecil, masa iya dia harus bilang kalau sekarang malamnya lebih menyenangkan daripada Mabar bersama mereka karena ada Tiara, "Aku punya mainan baru." ucapnya malah keceplosan.
Kedua laki-laki itu langsung saling menatap heran, "Mainan apa?" tanya mereka dengan kompak. Setahu mereka tidak ada permainan yang lebih menyenangkan selain game yang mereka mainkan sekarang. Iya, begitulah nasib jomblo sejati, mereka tidak mengerti kesibukan malam apa yang kapten game mereka alami.
Kenzo sampai kembali tersenyum, untung saja pemikiran kedua temannya itu masih polos tanpa terkontaminasi pikiran-pikiran dewasa, jadi sedikitpun mereka tidak mengerti apa yang di ucapkan nya.
"Ken?"
Suara Tiara mulai terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu basecamp itu, sontak tiga laki-laki yang ada di dalam langsung melihat ke arah pintu. Mata tiga laki-laki itu langsung terkesima, tapi tidak dengan dua detik selanjutnya, Kenzo langsung menendang kaki kedua temannya, karena telah lancang menatap sang istri,
"Woi, siapa yang menyuruh kalian menata nya hah?" protes Kenzo tidak terima, bak anak kecil yang sedang protes, dia tidak mau kedua temannya itu terpesona oleh kecantikan Tiara, "Melihatnya lebih dari tiga detik, gue cungkil mata kalian ya." ancamnya lagi tidak main-main.
Mereka berdua sampai refleks membuang muka. "Ett dah, cuma liat doang." umpat kedua lelaki itu dengan kesal.
Iya tidak bisa di pungkiri, mereka berdua juga mengakui kecantikan Tiara, terlebih gaya rambut wanita itu yang di cepol sembarang, dengan poni yang membingkai wajah mungilnya, wanita itu terlihat lebih cuek dan santai, dan itu malah menambah kecantikannya.
Tidak mau kena amukan Kenzo, Devan dan Reno kembali fokus pada ponselnya, dan memulai permainan lagi, terlebih Tiara kini sudah semakin dekat menghampiri Kenzo. Mereka akan menutup mata menganggap mereka berdua tidak ada di sana.
"Ada apa?" Kenzo langsung bersuara, langsung meraih tangan Tiara dan menarik sang istri sampai wanita itu duduk di pangkuannya.
"Ken!" Tiara sampai kaget, ingin protes dan merajuk tapi takut memancing perhatian kedua teman suaminya, dia memilih diam terlebih sang suami malah memposisikan kakinya sampai kini dia bisa duduk di sofa dalam himpitan kedua kaki lelaki itu, "Apa aku mengganggu?" tanya Tiara dengan ragu, Kenzo terlihat sedang memegang ponselnya dengan layar tampilan sebuah game yang selalu dia mainkan.
__ADS_1
"Kenapa ini?" Orang bertanya, Kenzo malah balik bertanya, saat merapihkan poni Tiara dia bisa melihat jelas memar merah di dahi wanita ini, "Apa sakit?" tanyanya sambil mengecup memar itu tanpa ragu.
Tiara sampai tertegun, di sana ada orang kenapa sesantai itu Kenzo mengecup kening nya, "Tidak sakit kok," jawab Tiara cepat, lelaki itu sepertinya mulai tidak sinkron, setelah melingkarkan tangannya di perutnya sekarang malah mengecup tengkuknya sana sini sampai membuatnya bergidik geli, bagaimana kalau dua temannya itu melihat tingkah manja ini, "Ken, ajari aku bermain basket." pinta nya to the poin. Untunglah, suaminya itu kini mulai menghentikan kegiatannya, kalau kedua temannya itu melihat tingkah Kenzo, dia yang akan malu sendiri.
"Basket? Kenapa tiba-tiba?"
Tiara langsung menceritakan semuanya, Kenzo sampai tersenyum kecil, tingkah Tiara memang ada-ada saja. "Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka? Bahkan kau tidak pernah bermain basket sebelumnya!"
"Makanya ajari aku sampai bisa," pinta Tiara dengan sungguh-sungguh. Dia sampai menggeser tubuhnya agar bisa menatap Kenzo dan memohon kepada lelaki itu, "Tanpa bantuan mu aku tidak bisa melawan mereka,"
Kenzo sampai tersenyum simpul, permainan basket tidaklah mudah, apalagi bagi mereka yang benar-benar awam, tapi istrinya itu begitu percaya diri, merasa akan bisa jika belajar dan menekuninya, "Aku akan mengajari mu, tapi tidak gratis, kau harus membayar jasa privat, ku!" pintanya sambil tersenyum jahil menggoda sang istri. Cari kesempatan dalam kesempitan, kapan lagi kan bisa mengerjai Tiara.
"Aisst," Tiara sampai refleks memukul dada Kenzo, di saat seperti ini masih sempat-sempatnya lelaki itu menggodanya, "Iya. Aku akan membayar nya dengan jiwa dan raga ku." ucapnya dengan begitu jelas, itu kan yang di inginkan suaminya.
Kenzo sampai terkekeh, "Jiwa dan raga mu memang sudah menjadi milik ku, kau tidak bisa membayar dengan itu." timpal nya kembali menggoda, dia ingin melihat kesungguhan Tiara saat memohon sesuatu padanya.
Tiara sampai menghela nafas, kehabisan akal, memang ya, lelaki itu paling bisa kalau mempersulit orang. "Everything for you, I will do whatever you want," ucapnya dengan tersenyum manis, bahkan tatapan matanya tidak berpaling menatap mata sang suami berusaha merayunya.
Kenzo sampai tersenyum kecil membalas senyuman sang istri, "Are you sure?" timpal nya berusaha mengetes nya, benarkah Tiara akan melakukan apapun yang dia minta.
"Yes, so please teach me!" pintanya lagi, bahkan kedua tangan Tiara langsung menempel di pundak Kenzo untuk meyakinkan lelaki itu
"Allright darling. But kiss me hare!" pintanya tanpa ragu, bahkan telunjuknya langsung menunjuk bibirnya agar Tiara melakukan nya dengan benar.
Sontak Tiara langsung menatap lelaki itu dengan tajam, tidak ada permintaan yang lain kah, di sana ada orang lain, bagaimana kalau mereka berdua melihatnya, "Just don't kiss, the others." rengek nya tidak bisa.
Kenzo malah terkekeh, "Kiss me hare!" pintanya masih kukuh, dia tidak mau mendengar rengekan Tiara karena itu syarat kalau mau di ajari basket oleh nya.
"Akh, dasar lelaki ini." umpatnya kesal. Tiara langsung menoleh ke arah Devan dan Reno yang sedang asyik dengan ponselnya, walau harus menuruti kemauan Kenzo sepertinya mereka berdua tidak akan melihatnya.
Di tatapnya kembali wajah Kenzo, langsung merangkul tengkuk sang suami dan mulai mencium bibirnya dengan perlahan. Ingin kembali melepas ciumannya, tapi tangan Kenzo malah bergerak cepat menyentuh tengkuknya, dan kembali menciumnya dengan cukup lama.
"Ken!" rengek nya saat tautan bibir mereka terlepas, tangannya refleks mendorong tubuh Kenzo, nafasnya sudah naik turun, malu kan kalau kegiatan mereka kepergok dua temannya itu.
Kenzo sampai menahan tawa melihat ekspresi Tiara dengan wajah yang bersemu merah, tangannya langsung bergerak mengelus kepala Tiara. Wanita ini benar-benar begitu menggemaskan, apalagi bibirnya yang seksi itu, membuatnya candu sampai ingin terus mencium nya.
__ADS_1