
"Argh...."
Arzan terus mondar-mandir mengacak-acak rambutnya sambil menghubungi bawahannya, tangannya terus memegang ponsel yang dia simpan di kupingnya, sedangkan matanya dari tadi tidak lepas melihat Shasa yang terus duduk di sofa sambil menekuk kan kepala bertumpu pada lututnya. Pikirannya semakin kacau, rasa takutnya makin tinggi, bagaimana jika dia tidak bisa menggugurkan kandungan Shasa, dia benar-benar akan di usir dari keluarga Prawira karena telah mencoreng nama baik keluarga mereka.
"Kenapa baru di angkat hah?" decak nya pada seorang yang dia hubungi. Tidak mau banyak bicara, dia enggan meladeni alasan bawahannya itu, "Segera carikan dokter untuk melakukan aborsi yang paling aman, cari sekarang juga!" titahnya dengan tegas. Dia pun langsung mengakhiri panggilannya saat sang bawahan sudah mengiyakan nya dengan tegas.
Arzan akhir-akhir ini sudah cukup pusing memikirkan untuk persiapan rapat terbuka nanti, dan sekarang malah harus membereskan dulu masalah Shasa sebelum menjadi sebuah bencana.
"Sudah jangan menangis lagi." titah nya sambil perlahan duduk di samping wanita itu. Otaknya jadi mumet padahal pagi ini dia harus menemui Ayah Prawira.
"Aku takut, bukannya melakukan aborsi sangatlah beresiko." pekik Shasa tidak terima dengan tawaran Arzan, lelaki itu gampang berkata demikian, tapi tidak untuk nya, resiko nya adalah nyawa. "Aku tidak mau, Aborsi."
"Sha!" Arzan sampai jengah, tidak bisakah wanita itu menuruti kemauan nya, ini juga demi kebaikan mereka, "Aku akan carikan dokter yang sudah profesional, tidak perlu takut." tutur nya berusaha meyakinkannya.
"Tidakkah ada cara lain, aku takut." Psikolog Shasa sudah kena, mental nya melemah, antara ketakutan menghadapi kenyataan dan ketakutan dengan sebuah resiko kematian.
"Tidak ada cara lain, jadi kau tidak perlu takut. Kau akan baik-baik saja."
Tit..... cklek
Suara pintu apartemen tiba-tiba terbuka, Arzan sampai terkejut bukan main, tidak ada yang tahu sandi kunci apartemennya selain Ayah Prawira.
"Ayah!"
Benar saja, apa yang di khawatirkan terjadi, Arzan sampai terkejut tatkala matanya melihat sosok Prawira sudah mendekat ke arah mereka. "Ayah tidak mungkin mendengar pembicaraan kami kan?" umpatnya sudah mulai tegang.
Bahkan Shasa yang sama-sama kaget langsung menyeka air matanya dan kembali duduk dengan benar.
"Loh, rupanya ada Shasa. Pantas kau telat ke rumah." ucap Prawira saat gadis remaja itu mendekat menyalaminya.
"Iya, maaf Yah. Shasa sakit dan dia meminta ku untuk mengantarkan nya ke rumah sakit." timpal Arzan berusaha mencari alasan. Dia memang sudah berjanji untuk ke kantor bersama dengan orang tua paruh baya itu, tapi dia tidak bisa karena harus membereskan kehamilan Shasa secepatnya.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa. Ayah bisa pergi bersama Jonathan." timpal Prawira sambil menoleh kearah Jonathan yang baru terlihat memasuki ruangan.
"Kalau sakit kenapa minta jauh-jauh di antar dia. Kan ada Pak Arya, seorang Ayah tidak mungkin membiarkan putrinya kenapa-kenapa," sindir Jonathan dengan penuh ledek, menatap Arzan penuh curiga, sepertinya memang ada yang di sembunyikan mereka terlebih dua insan itu terlihat begitu kaget saat melihat kedatangan sang Ayah dan dirinya. "Kecuali kalau Pak Arya tidak di beri tahu kalau putrinya sampai pingsan di sekolah." tuturnya penuh tanya. Kalau sakit kenapa harus di tutupi.
Arzan sontak menoleh ke arah Shasa. Kalau wanita itu sampai pingsan di sekolah berarti itu akan lebih menarik kecurigaan semua teman-temannya. "Argh, sungguh merepotkan. Aku memang harus secepatnya menggugurkan kandungannya agar tidak menimbulkan masalah."
"Ayah sudah sangat kelelahan karena bekerja, aku tidak ingin membebaninya jika tahu aku sakit." ucap Shasa dengan begitu cepat, dia langsung memberi alasan agar Jonathan tidak lebih mencurigai nya.
"Oh. Memang anak yang berbakti. Semoga lekas sembuh." Jonathan menimpali dengan begitu santai, enggan sekali terus bicara dengan kedua manusia itu, sama-sama pandai bersandiwara membuatnya tidak mau terus berlama-lama di sana. "Ayo, Yah. Ku antar ke kantor sebelum berangkat sekolah."
...***...
Keadaan di sekolah. Jam istirahat makan siang sudah tiba. Tiara dan Kenzo beserta kedua kawan dari mereka terlihat berkumpul bersama merayakan kemenangan mereka, berkumpul di satu meja kantin untuk acara makan-makan sepuasnya.
"Ayolah, permintaan kalian terlalu dermawan, bisa-bisa dompet kita menipis. Yang lain saja."
Devan mulai protes, gara-gara kalah bermain saat latihan basket tempo lalu, mereka kaum lelaki harus mengikuti permintaan kaum wanita, dan ternyata permintaan tiga wanita ini cukup menggila, para wanita itu menginginkan mereka kaum laki-laki mentraktir semua murid seantero SMA Trisakti untuk merayakan kemenangan nya kemarin.
"Tenang, gak perlu takut dompet nya tipis, kan ada crazy rich." timpal Azzura sambil cengengesan menyenggol lengan Tiara. Pasalnya ide ini memang usulan dari Tiara untuk mengerjai suaminya.
"Haha....Kalian yang mulai kalian yang kalah. Terima akibatnya."
Azzura dan Priscilla sampai tidak tahan untuk tertawa, tersenyum puas melihat ekspresi lelaki yang sedang duduk di depan mereka.
"Woi, Ken. Lo diam saja, bicara dong. Lo juga ikut taruhan. Diam mulu Lo." cecar Devan tidak terima, bisa-bisanya lelaki itu masih terlihat santai menyuapi pacarnya padahal harga diri mereka sedang di jatuhkan, memang tidak setia kawan.
"Turuti saja apa yang mereka inginkan." timpal Kenzo dengan begitu santai.
Jonathan langsung protes, bisa-bisanya Kenzo juga mengikuti kemauan para wanita itu, gak takut ke jebolan apa itu isi dompetnya, "Ogah Gue terakhir seisi sekolah, kita traktir pasangan masing-masing saja. Terakhir makan sebulan full. Deal."
Haha, belum juga disetujui Jonathan sudah mengambil keputusan, terserah, dari pada harus mentraktir seisi sekolah.
__ADS_1
"Bagaimana, Ra?" timpal Azzura merasa kasihan pada Jonathan, ya mungkin bagi Kenzo itu hanya hal sepele tapi tidak untuk dua temannya itu.
"Terserah kalian saja, kalau aku si, jangankan hanya di terakhir makan satu bulan, semua biaya hidup saja di tanggung, Kenzo." timpal Tiara dengan begitu santai. Kenzo sampai tersenyum kecil membuatnya langsung membungkam mulutnya. "Aisst, bibir ini, kenapa bisa keceplosan." umpat dengan tersenyum kikuk. Kedua teman Kenzo mana terima, mereka tidak tahu kalau Kenzo suaminya.
Benar saja, Devan dan Jonathan sampai tercengang menatap Kenzo. Apa gaya pacaran jaman sekarang memang begitu. Harga diri mereka terasa jatuh mendengar perkataan Tiara.
Azzura yang tahu faktanya hanya bisa menahan tawa, apalagi melihat ekspresi Jonathan yang mengelus dada, dua lelaki itu memang begitu mengkhawatirkan jika di bandingkan dengan Kenzo.
Keadaan di kantin yang awalnya tenang tiba-tiba bergemuruh, kehadiran Alicia dan Jessica memancing pembicaraan murid-murid yang lainnya, terlebih tidak ada sosok Shasa yang selalu ada dengan mereka.
"Si Shasa sampai tidak masuk sekolah, katanya dia sakit."
"Iya, sakit karena terlalu malu,"
"Makanya jangan banyak gaya. Saat kalah jadi malu, kan."
"Salut gue sama si Alicia dan Jessica, mereka masih punya muka, pura-pura tidak tahu apa-apa."
"Haha..."
Cibiran murid-murid itu sampai membuat Alicia geram, kalau di kantin tidak ada Tiara dan kawan-kawan nya, ingin rasanya dia menghajar mulut mereka yang tengah meledek mereka. "Sungguh memuakkan,"
"Tenang Al, biarkan saja." Jessica langsung meraih tangan wanita itu, bersabar lah kalau masih mau bersekolah di sini karena mereka sekarang tidak bisa berbuat apa-apa terlebih tidak ada Shasa. "Ayo kita beli makanan saja, setelah itu kita keluar dari sini." ajak nya sambil menarik Alicia menuju kasir. Mereka hanya perlu mengisi perut mereka yang sudah kelaparan, jadi tidak perlu mendengarkan cibiran murid-murid lain.
"Bi, dua burger dan minuman seperti biasa." pinta Jessica pada pelayan kantin, dia langsung mengeluarkan beberapa lembar uang bergegas membayar makanannya karena harus lekas pergi "Ini, cepat, Bi"
"Maaf, Non Jess. Semua makanan di kantin sudah di beli Nak Kenzo." timpal si Bibi kantin sambil mendorong kembali uang yang sudah di berikan Jessica. "Kalau Non Jess mau, coba minta saja sama Nak Kenzo, pasti di kasih."
"Tidak akan, lebih baik kita makan di luar." Alicia sampai sewot, sudah terkena cibiran, mereka malah di permalukan.
Di sudut lain Tiara sampai terkekeh melihat ekspresi Alicia dan Jessica. Ternyata si bibi kantin benar-benar melakukan apa yang dia minta. Kenzo memang mentraktir semua murid yang akan makan di kantin sekolah, tapi tidak untuk Jessica dan Alicia, bahkan Shasa. Cuma sayangnya Shasa tidak masuk sekolah sampai wanita itu tidak terkena prank dari nya.
__ADS_1
"Kau puas?" Kenzo sampai tidak henti hentinya melihat ekspresi girang Tiara, bisa-bisanya dia memiliki ide aneh untuk mengerjai wanita-wanita itu.
"Iya, aku sangat puas. Terima kasih sayang ku, yang baik hati." timpal Tiara dengan menyeringai. Terima kasih karena telah menuruti kemauan nya meski harus memborong semua makanan di kantin sekolah. Anggap saja itu sebuah sedekah dari semua harta keluarga Wijaya yang begitu sangat melimpah ruah.