
"Akhirnya kau sadar." Widia menyeringai, cincin itu ia genggam dengan keras, tersenyum penuh kemenangan akhirnya wanita itu mundur dengan sendirinya.
Tiara hanya bisa menunduk, air matanya mulai membasahi pipinya, bukan karena hubungan nya dengan Kenzo berakhir, tapi sakit yang amat mendalam dengan hinaan yang bibi nya lakukan, sungguh dia benar-benar malu, malu jika harus terus mempertahankan hubungan itu.
"Tiara," Kenzo sampai menatapnya dingin, tak percaya, wanita itu benar-benar melepas cincin nya, wanita itu benar-benar menyerah begitu saja.
Bahkan Kenan dan Ze pun sama-sama terkejut, mereka tidak menyangka hubungan Tiara dengan keluarga pamannya sampai serumit itu. Jika akan membuat Tiara semakin tersiksa mereka tidak bisa memaksa, karena sepertinya Tiara pun sudah menyerah.
"Ini kami kembalikan cincin nya." tutur Widia sambil menyodorkan cincin itu ke hadapan Kenzo, karena lelaki itu tidak mengambilnya dia menyimpannya di atas meja yang menghalangi mereka. "Maaf Nak Kenzo, ini adalah keputusan Tiara sendiri, hubungan ini sudah berakhir, dia sudah tidak pantas untuk tinggal di sini, kami akan membawa nya kembali pulang ke rumah." tutur Widia dengan wajah melemas, seolah ikut prihatin dengan keputusan Tiara, yang memutuskan hubungannya secara sepihak, dia langsung menatap Kenan dan Ze sama-sama meminta maaf pada keduanya, "Terima kasih sudah menampung Tiara beberapa hari ini dan maaf, maaf karena Tiara sudah menyusahkan Ibu dan Bapak." jelas nya lagi sambil membungkukkan kepala.
Kenzo sampai mengepalkan tangannya geram, wanita tua itu masih berani berekspresi seperti itu padahal jelas dialah penyebab nya.
"Kemasi barang mu, kita pulang sekarang!" seru Arya menimpali, bicara begitu tegas menatap Tiara, tidak ada lagi yang harus di bahas, dan tidak ada alasan untuk terus berlama-lama di sana, mereka harus segera kembali.
Tiara sesaat memejamkan mata, ini mungkin keputusan yang terbaik, dia sadar diri, dia memang pembawa sial bahkan Kenzo pun selalu terkena masalah saat bersamanya, cukup sampai di sini, dia tidak ingin Kenzo terus terkena masalah karena dirinya, "Maaf, Ken." lirih nya dengan menunduk, dia sampai tidak mampu menatap wajah lelaki itu, melangkah dengan begitu berat menuju kamar untuk mengambil barang-barangnya.
Tiara pergi, kini air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi, berlari cukup keras menaiki anak tangga menuju kamar yang di tempati nya.
__ADS_1
"Kalian sudah puas! Atau kalian masih belum cukup terus menyakiti nya?" Kenzo geram menatap Arya dan Widia dengan penuh amarah, dia sampai menggebrak meja karena amarahnya tidak terkendali, kalau saja bukan orang tua, dia benar-benar akan memukul Arya dan Widia, "Dasar bedebah tidak tahu diri!" decak nya geram, tunggu saja pembalasan nya, kali ini dia masih bisa berbaik hati membiarkan mereka bernapas lega karena harus menghampiri Tiara dan mencegahnya pergi dari rumah ini.
Tiara langsung masuk kamar, sedikit terkejut rupanya Tante yang tadi masih ada di dalam kamar sedang membereskan alat-alat makeup nya.
"Loh, kau kenapa, Nak?" Tante itu langsung mendekat, apa yang terjadi kenapa gadis ini menangis lagi, bahkan sekarang lebih parah.
"Pernikahan tanpa restu keluarga memang tidak ada akan baik-baik saja, Tan." lirihnya sambil menunduk, percuma Tante itu memberikan restu padanya, sampai akhir dia akan mendapatkan kesialan karena terlahir dari sebuah pernikahan yang tidak pernah di restui keluarga.
Tante itu sampai tertegun, semakin heran dengan apa yang terjadi, lebih kaget lagi saat melihat Tuan muda keluarga Wijaya tiba-tiba masuk kamar menghampiri gadis ini.
"Sudah ku bilang, apapun yang terjadi jangan pernah melepaskan cincin itu, kau akan menyerah begitu saja?" Kenzo langsung bicara, meraih tangan Tiara karena wanita itu sudah melangkah menghindari nya, bahkan bukan hanya menghindar, Tiara langsung menghempaskan tangannya dengan cukup keras.
"Keluar lah! Apa kau tidak mendengar apa yang bibi katakan?" Tiara malah bicara dengan begitu dingin, hubungan mereka sudah berakhir, dia harus pergi, dengan cepat mengambil koper untuk mengemasi semua barang-barang nya. Sungguh hatinya akan semakin sakit jika Kenzo terus mempedulikannya.
"Kau tidak percaya pada ku?" Kenzo kembali mendekat, kembali meraih tangan Tiara untuk menghentikan kegiatan wanita itu, dengan cepat merangkul pundak Tiara agar wanita itu menghadap ke arah nya, "Tatap mataku!" pintanya dengan begitu tegas. Dia harus menyadarkan wanita itu, agar tidak terhanyut omongan keluarga pamannya.
"Ken, cukup!" suara Tiara semakin dingin, bahkan nada suaranya cukup tinggi, dia berusaha meronta sambil terus memalingkan muka, "Terus di pertahankan pun percuma, Ken. Apa kau tidak mendengar perkataan bibi, semuanya akan menjadi petaka. Aku hanya pembawa sial yang akan terus menjadi beban untuk mu." tuturnya sambil menahan keras rasa sesak di dada, dia harus lebih kasar menghadapi Kenzo, tapi tidak mampu membohongi perasaannya sendiri kalau hatinya begitu sakit, "Aku harus pergi! Lepaskan." titahnya dengan begitu dingin, dia sampai memejamkan mata menahan keras air matanya.
__ADS_1
"Tiara!" Kenzo ikut meninggikan suaranya, bukannya melepaskan Tiara, dia malah semakin keras memegang kedua pundak Tiara berusaha menenangkan wanita itu agar mendengarkan dulu perkataan nya. "Kau pikir aku peduli dengan itu, hubungan kita, kita yang menjalankan nya, kenapa harus repot memikirkan pendapat orang lain." tutur nya dengan tegas. Dari awal dia berniat membantu Tiara, melepaskan wanita itu dari keserakahan keluarga nya sendiri, jadi percaya lah padanya, jangan terhanyut oleh perkataan mereka.
"Kau pikir semudah itu?" kilah Tiara dengan begitu tegas, kini dia memberikan diri untuk menatap lelaki itu, "Kau tidak pernah berada di posisi ku, Ken. Apa kau tahu betapa sakitnya di tinggal orang yang begitu kita sayang? Apa kau pernah merasakan sakit saat orang-orang menyalahkan mu atas kepergian orang itu? Bahkan bukan hanya orang lain, tapi keluarga mu sendiri. Dan kau masih menyuruh ku untuk tidak mempedulikan itu! Aku hanya gadis pembawa sial, Ken." Sakit, itulah yang Tiara rasakan, air matanya sudah tidak mampu ia bendung, cairan bening itu kini berjatuhan membasahi pipinya. "Ku mohon, lepaskan. Aku harus pergi, aku tidak ingin kembali merasakan rasa sakit itu." pintanya dengan begitu lirih, badannya serasa lemas, dengan cepat menyeka setiap butiran air matanya.
Kenzo sampai terhenyak, dadanya serasa ikut sesak, dengan cepat menarik gadis itu ke-pelukannya, sungguh dia tidak pernah tahu kalau Tiara memendam rasa sakit sebesar itu, "Jangan menangis!" lirihnya dengan begitu sendu, tangannya dengan erat mendekap tubuh itu mengelus kepalanya dengan lembut, "Aku tidak pernah menganggap mu sebagai wanita pembawa sial, jangan khawatir karena semuanya akan baik-baik saja, meskipun kau memohon, aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sini, aku akan memastikan kau tidak merasakan sakit lagi."
Tiara sesaat terhanyut, dekapan dan ucapan Kenzo benar-benar menenangkan nya, tapi semakin lelaki itu peduli padanya semakin takut jika lelaki itu akan bernasib buruk karena terus di sampingnya. "Lepas! Ken." pintanya dengan lemas, besar hati ingin terus di samping lelaki itu, tapi tidak bisa egois sampai terus membiarkan lelaki itu ada di sampingnya, dia langsung mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh dari nya. "Jangan terus seperti ini, aku tidak ingin kau terluka karena terus ikuti terlibat dalam masa--"
Cup. Belum juga selesai bicara, bibir Kenzo dengan cepat membungkam bibir Tiara dengan kecupan agar tidak lagi bicara. "Diam! jangan terus mengkhawatirkan orang lain padahal kau sendiri terluka."
"Aku pasti akan menyusah--"
Cup, kecupan kedua kalinya karena Tiara masih terus bicara. "Bisakah kau diam dan tidak menyalahkan diri mu sendiri, percaya saja pada ku, aku akan menjaga mu, aku akan baik-baik meski kau terus di samping ku. Jangan pernah menganggap kalau kau wanita pembawa sial." serunya dengan tegas. Dia kembali mendekatkan wajahnya karena Tiara masih mau menyangkal perkataan nya, "Kau belum mengerti? Aku akan kembali mencium mu jika kau masih belum paham." ucapnya lagi dengan tegas, jangan terus terpuruk, percayalah kalau dia akan menjaga nya.
Tiara benar-benar diam, langsung mengangguk kalau dia akan patuh dan percaya pada nya.
"Kau boleh mengemas barang-barang mu, tapi bukan untuk keluar dari rumah ini, melainkan untuk pindah ke kamar ku."
__ADS_1