
"Kenangan buruk mendominasi masa lalu Nona, ada kemungkinan di saat kepala Nona tidak merespon ingatan itu tubuh nona yang beraksi." Setelah Dokter memeriksa keadaan Tiara, Itulah yang bisa dia tafsirkan, menantu keluarga Wijaya itu merasakan tekanan yang memicu saraf otaknya menjadi menegang mengakibatkan kepalanya menjadi sakit.
"Tapi kenapa hanya pada saat-saat tertentu, Dok. Biasanya saya tidak pernah merasakan sakit kepala yang tiba-tiba seperti tadi?" tanya Tiara penasaran, sakit kepalanya memang sesaat, tapi yang anehnya rasa sakit bersama potongan ingatan itu hanya hadir di saat dia mendengar nama Arzan dan saat melihat sosok Shasa yang tengah menghampirinya.
Dokter itu langsung melihat ke arah Kenzo, dia tidak bisa bertanya pada Tiara karena jelas wanita itu tidak mengingat semuanya. "Ada kemungkinan hal-hal yang memicu itu berkaitan dengan masa lalu Nona, apa mungkin orang-orang itu berkaitan dengan setiap tekanan yang Nona dapatkan?" tanyanya pada Kenzo. Jika rasa sakit itu hanya saat melihat dan mendengar nama orang-orang tertentu itu pasti ada kaitan kuat dengan tekanan yang mengakibatkan Tiara melupakan ingatannya.
Kenzo sesaat terdiam, dia langsung melihat ke arah Tiara, akankah Tiara menerima semuanya terlebih orang itu adalah sepupunya sendiri. "Iya, Dok." jawabnya singkat.
Tiara hanya menunduk tanpa bersuara, dia tidak bisa berkata-kata dan hanya menyalahkan dirinya sendiri kenapa tidak bisa mengingat semuanya.
"Untuk sementara, jauhkan Nona dengan siapapun yang berkaitan dengan tekanan yang Nona dapatkan," tutur dokter menasehati, orang yang memberi tekanan di masa lalu memang bisa berdampak baik; ingatan itu menghilang karena adanya tekanan dan ada kemungkinan ingatan itu bisa kembali karena adanya tekanan lagi, tapi itu akan berdampak buruk jika keadaan Tiara belum sembuh total.
"Iya, baik Dok."
...*...
Shasa berjalan menelusuri koridor menuju ruangan kelas nya seorang diri, kepalanya tertunduk malu. Tatapan mata jijik serta cibiran murid-murid dari tadi terdengar jelas membuat mentalnya terpukul malu. Sungguh kalau bukan karena harus mengikuti ujian akhir semester untuk mengisi nilai raport nya, dia tidak mau menginjakkan kaki di sekolah karena teramat malu.
"Apa aku kembali pulang saja?" gumamnya dengan kelu. Bukan hanya rasa malu, tapi dia juga begitu sedih, tidak ada satupun orang yang mau menemani nya, tidak ada satupun teman yang mau menyapanya. Bahkan Jessica dan Alicia pun demikian, kawannya yang dulu begitu setia padanya kini mereka pun meninggalkan nya begitu saja.
Hanya satu harapan nya untuk bisa ia jadikan tameng; Tiara. Tapi naas, wanita itu pun tidak bisa membantunya, jangankan untuk di jadikan sandaran untuk meminta bantuan, dia bahkan tidak bisa menemui wanita itu, karena Kenzo melarang keras agar dia tidak mendekati nya.
"Akh... Apa ini benar-benar karma yang aku terima." gumamnya lagi sambil berusaha menguatkan dirinya. Dia sampai menarik nafas dalam-dalam, dia harus kuat. "Ayo masuk Sha, anggap saja di dalam tidak ada siapa-siapa." Dia perlahan masuk kelas. Sesuai dengan yang dia bayangkan, semua yang ada di dalam langsung menatapnya dengan begitu sinis. Karena sekarang sedang masa ujian dia pun langsung menuju bangkunya yang sudah di atur sesuai absensi.
"Untung saja saat ujian seperti ini satu bangku di isi satu murid," gumamnya sambil perlahan duduk di kursinya, kalau dia harus duduk dengan teman satu bangku nya yang dulu dia pasti akan lebih malu.
...~...
Bel masuk kelas sudah berbunyi, Kenzo dan Tiara terlihat berjalan beriringan dengan berpegangan tangan menuju kelas. Karena keadaan Tiara sudah lebih baik akhirnya Tiara pun memutuskan untuk mengikuti ujian.
"Ayolah, kita pulang saja, Tiara. Jangan memaksakan diri." Kenzo sedari tadi meminta sang istri untuk pulang, tapi sayangnya bukan Tiara namanya kalau tidak keras kepala terlebih jika itu bersangkutan dengan pendidikan, wanita itu begitu antusias, sampai menolak untuk pulang.
"Aku tidak apa-apa, Ken. Sungguh." Tiara lagi-lagi tersenyum meyakinkan, sakit kepalanya sudah sembuh, dia benar-benar sudah siap untuk mengikuti ujian.
__ADS_1
Kenzo sampai menghela nafas, "Iya, baiklah tapi ingat jangan jauh-jauh dari ku." titahnya memberi syarat. Dia sudah tahu betul peraturan ketat sekolah ini, jadi sudah bisa menebak apa yang akan terjadi nanti.
"Iya." Tiara langsung mengangguk mengerti, Kenzo sampai refleks mengelus kepala yang tengah mengangguk itu.
Kenzo dan Tiara langsung masuk kelas, di sudut lain di belakang mereka terlihat guru wali kelas berserta guru baru yang akan masuk ke kelas itu.
"Tidak sia-sia aku mengeluarkan banyak uang untuk menyogok kepala sekolah agar bisa mengajar di sini." gumam guru baru itu dengan menyeringai senang, matanya dari tadi tidak henti memperhatikan Kenzo dan Tiara sampai punggung mereka menghilang dari pandangannya saat kedua sasarannya itu masuk ruangan kelas.
"Kenzo-Kenzo ternyata kau masih terlihat begitu polos seperti Kenzo kecil yang dulu," gumamnya lagi, dia jadi penasaran seperti apa sekarang sosok Kenzo yang dulu pernah dia perdaya.
Keadaan di dalam kelas, yang awalnya hening karena kehadiran Shasa kini jadi bergemuruh setelah kehadiran pasutri itu di sana. Bahkan Azzura yang lebih heboh, dia sampai berdiri menghampiri bangku Tiara untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
"Bagaimana sekarang keadaan mu, apa lebih baik?" tanya Azzura dengan begitu khawatir, tadi saat dia mau ikut ke dalam UKS, dia dan Priscilla langsung di hadang para bodyguard Tiara sampai tidak bisa tahu bagaimana keadaan wanita itu.
"Sudah lebih baik, Ra."
Kedua wanita itu langsung berbincang, sedangkan Kenzo sendiri langsung menuju bangku tempat duduk yang sudah di atur sekolah, tapi bukannya duduk di sana, dia hanya mengambil kursi itu untuk dia simpan di tempat Tiara agar bisa duduk bersebelahan dengan istrinya itu.
"Ken?" Jonathan yang duduk berdekatan dengan bangku Kenzo sampai kaget, dia sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan brandal sekolah itu. "Pak Guru bisa marah kalau kau melanggar peraturan," dia berusaha menasehati, dia tahu Kenzo sudah terbiasa melanggar peraturan sekolah, tapi sekarang berbeda, sekarang sedang ujian, dan peraturannya pun lebih di perketat.
Belum juga menarik kursi itu sampai di tempat Tiara, terlihat wali kelas dan guru baru memasuki ruangan. "Pagi anak-anak!" sapa nya sambil berjalan menuju meja nya di ikuti guru baru itu. "Harap tenang dan cepat kembali di tempat duduk masing-masing!"
Semua murid terlihat duduk rapih, tapi tidak dengan Kenzo, si brandal sekolah itu terlihat begitu santai menarik kursi dan langsung dia simpan di samping Tiara dan diapun bergegas duduk di samping istrinya.
Wali kelas itu hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tahu seperti apa Kenzo jadi dia tidak bisa menegurnya, terlebih dia tahu siapa anak itu dan sekarang sedang duduk di samping istrinya.
"Baik anak-anak, sebelum memulai ujian, bapak akan memperkenalkan guru baru. Ini adalah Pak Matteo, selama ujian berlanjut beliau akan menjadi guru pengawas di kelas ini." tutur wali kelas itu sambil menunjuk guru baru itu dan memperkenalkan namanya.
Murid-murid itu serempak langsung memberi hormat, "Selamat pagi Pak Matteo."
Guru itu langsung tersenyum menyapa murid-muridnya "Pagi anak-anak, ayo semangat belajar, untuk kedepannya bapak yang akan membimbing kalian." tuturnya dengan penuh wibawa. Sikap penuh dedikasi tapi hatinya tersenyum senang menyeringai licik, "Mario, Matteo, bukannya itu tidak jauh beda, tapi bisa dengan mudah mengecoh mereka. Haha, ternyata nama itu cukup pantas untuk ku." gumamnya dengan tersenyum senang dalam hati.
Perkenalkan selesai, semuanya kembali fokus pada pelajaran, karena sudah ada Pak Matteo, guru wali kelas unggulan kembali keluar ruangan karena tugasnya sudah selesai. Pak Matteo pun langsung mengambil perannya dan mulai melihat ke sekeliling ruangan memerhatikan murid-murid di sana.
__ADS_1
"Ini ujian, tidak di beri tahu pun seharusnya kalian sudah tahu apa yang harus kalian patuhi kan?" ucapnya tiba-tiba dengan mata langsung tertuju pada Kenzo dan Tiara berada. Semua murid duduk rapih di tempat masing-masing dengan nomor urut ujian masing-masing, tapi kenapa dua orang itu malah duduk di satu bangku yang sama. "Kau!" panggilannya dengan mengangkat pensilnya menunjuk Kenzo. Jika melihat absensi seharusnya Kenzo tidak duduk di sana.
"Hem." Kenzo hanya menjawab asal, bahkan dia enggan menggerakkan sudut matanya untuk menatap guru itu. Dia sudah bisa menebak, pasti guru itu akan menyuruh nya untuk kembali ke bangku nya.
"Hei, apa kau tidak punya kesopanan?" Mario sampai jengah. "Setidaknya tatap mata ku!" titahnya tegas, rupanya bocah itu cukup berani juga.
"Iya, Pak. Ada apa?" Mau tidak mau Kenzo langsung menatap guru itu. Kalau di biarkan keadaan akan semakin runyam, dan itu pasti akan menjadi beban untuk Tiara.
"Kembali ke tempat mu!" titah Matteo dengan tegas.
"Aisst," Kenzo sampai kembali membuang muka, kalau bukan guru dia malas sekali menanggapi itu, "Maaf, Pak. Saya tidak bisa," tolak Kenzo dengan tegas. Keadaan Tiara baru saja membaik, dia tidak bisa jauh-jauh dari nya takut sakit kepalanya kambuh lagi.
"Ujian ini bukan sebuah lelucon, Kenzo Julian Wijaya." ucapnya lagi dengan penuh penegasan, oke, dia harus memainkan perannya sebagai seorang guru, dan juga memerankan tugasnya sebagai putra Wiranto untuk membalas dendam pada anggota keluarga Wijaya. Jadi dia harus bisa menjatuhkan seorang Kenzo. "Jangan mentang-mentang kau putra dari pemilik yayasan ini kau jadi bisa bertingkah sesuka mu." decak nya lagi berusaha mendesak murid laki-laki itu.
"Anjir." Kenzo sampai jengah, dia sudah bicara baik-baik kenapa guru itu malah nyolot cari masalah. "Pak, jangan membawa-bawa itu, di sini saya sebagai murid dan Bapak sebagai guru. Saya punya alasan sampai tidak bisa memenuhi aturan sekolah, dan bapak sebagai Guru seharusnya bisa lebih bijak, saya harus duduk di sini untuk memastikan keadaan Tiara, jadi saya harap Bapak bisa memakluminya." tuturnya menjelaskan, bahkan dia sampai berusaha keras menahan amarahnya agar tidak memancing keributan.
Mario sampai menyeringai, jadi wanita itu kunci kelemahan seorang Kenzo, "Menarik," gumamnya sambil berjalan perlahan mendekati bangku di mana Kenzo dan Tiara berada.
Tuk...tuk... Pensil yang sedari tadi Mario pegang langsung dipukulkan pada bangku persis di depan Tiara, Tiara sampai refleks menyentuh tangan Kenzo agar lelaki itu menuruti saja apa yang guru itu inginkan, karena dia sudah mulai ketakutan.
"Kau sakiti?" tanya Mario pada Tiara, matanya sampai bergantian menatap pasangan suami istri itu. "Kalau kau sakiti, diam saja di rumah. Kenapa memaksakan diri harus bersekolah." tegur nya dengan begitu tegas.
Tiara sampai mengerjap kaget, "Ma-maaf, Pak." suaranya sampai terbata-bata, karena terkejut.
"Saya tidak butuh maaf, saya butuh kedisiplinan. Jika malah menyusahkan orang sampai melanggar peraturan, kau diam saja di rumah!"
"An-jing guru sialan." Kenzo yang geram, dia sampai tidak bisa menahan emosinya, tanpa ragu dia langsung berdiri menghampiri guru itu untuk memberinya peringatan. "Masa seorang pendidik tidak punya sopan santun, setidaknya bapak bisa sedikit lebih sopan dalam berbicara," decak nya geram, belum juga menyentuh guru itu untuk mencekik lehernya, tangan Tiara sudah begitu cepat pencegah pergerakannya. Bahkan dia ikut tersentak saat melihat orang tua paruh baya itu dari dekat, "Kenapa rasanya tidak asing?"
"Kenzo, sudah!"
Tiara memanggilnya, keterkejutan Kenzo pun langsung teralihkan, "Saya masih bisa bersikap sopan karena sepertinya bapak hanya guru baru yang tidak tahu apa-apa, jadi saya bisa memaklumi nya, untuk kedepannya sepertinya bukan kita yang harus mengikuti ujian, melainkan bapak. Pengetahuan bapak cukup dangkal untuk bisa di sebut sebagai guru." cibirnya dengan tegas. Yang penting sekarang bukan mengutamakan emosi nya. Ada yang mencurigakan dari guru ini jadi dia harus menyelidikinya.
"Silahkan Bapak kembali ke tempat bapak, kita harus segera mengikuti Ujian karena waktu sudah semakin siang!" titahnya lagi sambil beranjak duduk kembali.
__ADS_1
Mario sampai mengepalkan tangannya geram, kenapa sekarang malah dia yang di titah-titah oleh murid ini, bahkan bocah tengil itu sampai berani menghinanya.