
Murid di dalam aula semakin bergemuruh, sorak riang semakin kencang tatkala guru mulai membacakan nama-nama murid berprestasi dari tiap-tiap kelas, lebih bergemuruh lagi saat kepsek memberi sambutan sebelum pembacaan siapa saja murid berprestasi kelas unggulan yang akan di nobatkan sebagai Trisakti angkatan sekarang.
Iya. Alih-alih mendengar sambutan kepsek, hampir semua murid dari mulai kelas X sampai kelas XII semuanya berbisik-bisik menerka-nerka siapa yang akan menjadi Trisakti sekolah angkat sekarang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang melakukan taruhan untuk menebak siapa yang akan menjadi Trisakti andalan mereka.
"Kalau peringkat satu dan dua sudah jelas pasti Jonathan dan Kenzo. Tapi kalau peringkat tiga gue yakin posisi Shasa pasti lengser pada murid lain." Sang provokator mulai bicara, mengajak murid yang lainnya bergosip ria, tanpa mempedulikan kepsek yang tengah berbicara di podium di depan mereka.
"Gak usah di perjelas woi. Gak di tebak pun si Shasa tidak mungkin mendapatkan posisi nya kembali."
"Haha, sepintar-pintarnya dia, poin nya hilang karena kelakuan nya."
"Tidak di drop out dari sekolah saja beruntung."
Bisikan terus terdengar, gosip tentang kelakuan Shasa, sudah menjadi konsumsi murid seantero sekolah Trisakti, begitupun tentang siapa yang akan menjadi Trisakti sekolah sekarang memang kerap menjadi pembicaraan murid-murid.
"Menurut kalian siapa yang akan menggantikan Shasa?" timpal murid sang provokator yang tadi, mulai bertanya.
"Tiara."
"Tebakan gue sih, Azzura."
Persepektif murid-murid berbeda, dua nama itu yang mereka jago kan yang di gadang-gadang bakal menggantikan Shasa dari posisinya.
"Kok Azzura?" Tim pro pada Tiara mulai bertanya, tidak mengira sosok Azzura rupanya masuk dalam nominasi kandidat tiga Trisakti pilihan murid yang lain.
"Bukan hanya memiliki paras cantik Azzura juga pintar, lihat saja saat ujian mingguan. Nilai nya sama tinggi dengan Tiara,"
Setelah di pikir, memang benar adanya, Azzura dulu primadona sekolah sebelum Shasa mempersulitnya, pintar, cantik, baik, wanita itu bak paket komplit, tidak heran kalau dia di gadang-gadang bakal menduduki posisi Trisakti sekarang.
"Bener banget, setelah Tiara kecelakaan dan pernah lupa ingatan, dia satu minggu full tidak masuk sekolah. Otomatis poin nya pasti berkurang, kan?"
"Dan lagi saat dua hari pertama ujian. Dia kan masih lupa ingatan. Menjawab soal ujiannya pasti pada salah."
"Yo'i. Gue pilih Azzura yang akan menjadi Trisakti sekolah peringkat tiga."
Suasana mulai sengit, kini semakin banyak yang mendukung kalau Azzura yang bakal menduduki posisi Trisakti.
"Gue masih pilih, Tiara." Sedikit dari mereka masih kukuh, walau seorang murid pendatang baru, Tiara tidak kalah pintar dari murid yang lain dan menurutnya pantas menduduki posisi itu.
"Taruhan kita sepuluh juta woi. Yakin lo masih pilih Tiara?" Ada yang sewot, nebak si nebak, tapi jangan asal-asalan karena sepuluh juta mereka akan melayang.
"Yakin lah dia kan menantu keluarga Wijaya. Ya jelas lah pihak dalam akan memenangkannya." Murid yang lain menimpali, bahkan dia menyabit kekuasaan di balik sosok yang dia jagokan.
__ADS_1
Yang pro pada Azzura malah terbahak, tidak terima, "Hahaha, main suap dong. Gak seru kalau cara nya begitu."
"Iya, paling di tempatkan di posisi itu juga karena kasihan."
Diam-diam di belakang mereka rupanya ada yang mengepalkan tangannya geram. Iya, Kenzo dan Tiara baru saja masuk, ingin maju ke depan menuju tempat duduknya tapi terhenti saat mendengar ocehan mereka-mereka. Kenzo sampai tidak tahan ingin bicara, tapi ada orang yang masih membela istrinya
"Gak mungkin lah, Pak Kenan orang bijak. Terlebih kepala sekolah nya sudah di ganti, bukan orang yang mudah di sogok dengan uang, apapun hasilnya nanti pasti ini riel kemampuannya."
Yang tulus mendukung Tiara memberikan penjelasan, sekolah ini bukan sekolah asal-asalan yang akan menilai seorang murid berdasarkan pangkat atau pun kekuasaan, penilaian sekolah di tentukan oleh kualitas dan kuantitas murid itu sendiri.
"Wah, kalau memang benar seperti ini gue ikutan deh, gue pilih Azzura, gue yakin dia yang akan menduduki Trisakti." Yah, di kira mau mendukung Tiara, rupanya murid itu lebih memilih Azzura melihat dari fakta yang ada.
Suasana semakin sengit, yang awalnya sedikit kini banyak murid yang ikut selon bergabung dengan taruhan memilih jagoan masing-masing.
"Oke bro, kita pilih Azzura dan kita pasti pemenang nya." Sang provokator pembuat taruhan semakin antusias, mengajak enam orang yang memilih Azzura, mereka mulai mengeluarkan kartu kredit untuk di jadikan bahan taruhan.
Satu, dua, tiga, terhitung sampai sepuluh murid menjagokan pilihan mereka masing-masing, dan yang memilih Azzura tetap mendominasi.
Yang memilih Tiara tidak kalah antusias, "Oke, kita tebak Tiara pemenangnya. Siapa pun yang akan menjadi Trisakti nanti, uang kalian jadi pemilik yang tebakan nya benar."
Sisanya empat orang, walau pilihan mereka cukup lemah, tidak apa-apa hanya hilang sepuluh juta, ini hanya untuk seru-seruan saja.
Pluk... sepuluh murid itu mengeluarkan kartu kredit masing-masing dan menyimpannya di kursi di tengah-tengah mereka yang sengaja mereka kosongkan. Jika di jumlah, seratus juta sudah terkumpul, dan uang sebanyak itu akan melayang pada sang pemenang yang tebakan mereka benar.
"Astaga, murid macam apa mereka, bukan mendengar sambutan kepsek mereka malah bertingkah seperti ini." Tiara sampai menelan saliva nya dengan keras, geleng-geleng kepala hampir tak percaya. Murid-murid yang sedang taruhan sampai tidak menyadari adanya dia dan Kenzo yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. "Oke, aku tahu sekolah ini sekolah orang-orang kaya, tapi tidak harus taruhan hal seperti ini dengan nominal yang fantastis juga kan." gumamnya sampai berdecak dalam hati, awalnya dia begitu tertarik dengan percakapan mereka karena ada dari sebagian mereka yang mendukungnya, tapi percakapan di akhir membuatnya tidak habis pikir, uang seratus juta sudah mereka kumpulkan hanya untuk taruhan.
"Sudahlah Ken, ayo ke depan, jangan terus mendengarkan mereka!" ajaknya pada sang suami dengan berbisik. Dia sudah dag, dig, dug, sendiri, bertanya-tanya, apakah dia bisa menduduki posisi Trisakti, ataukah memang Azzura pemenang nya seperti yang murid lain bicarakan.
Kenzo sendiri dari tadi berdiri tegak memantau mereka, dia jadi berpikir, percakapan mereka memang benar adanya. Azzura yang mereka jagokan ada kemungkinan besar bisa menduduki posisi Trisakti. "Sial, aku bahkan tidak bisa menyogok guru-guru untuk memberikan posisi itu pada Tiara." umpatnya dalam hati. Iya, dia tidak bisa bermain curang, karena kalau caranya seperti itu dia sama saja dengan mempermalukan sang Daddy, dan menjatuhkan citra sekolah ini. Kemungkinan Tiara pemenangnya memang cukup lemah karena di pengujian akhir banyak hal yang di langgar istrinya gara-gara kecelakaan itu.
"Ken, ayo!" ajak Tiara lagi karena lelaki itu masih diam.
Bukannya bergerak untuk meninggalkan murid-murid selon itu, Kenzo malah mengeluarkan kartu kredit nya dan ikut melempar kartu kredit itu di tumpukan kartu kredit murid yang lain. "Aku bertaruh kau yang akan menang." ucapnya dengan tegas. Meski dalam hati sedikit ragu, semoga saja dengan uang itu harapan nya terkabul.
"Kenzo!" Tiara sampai mangap tak percaya, bukannya menertibkan mereka suaminya malah ikut-ikutan taruhan. "Apa-apa?" dia sampai terus menoleh kartu kredit Kenzo yang sudah tergeletak, bergantian menatap wajah suaminya yang tidak bergeming, lelaki itu benar-benar serius mengikuti taruhan dengan murid lain.
Bukan hanya Tiara yang kaget, semua murid yang taruhan sama-sama kaget dan langsung menoleh pada sosok yang sedang mereka bicarakan, "Anjai, orang nya dari tadi di sini coi."
"Ekh, Ken, ikut taruhan nih?" Sang provokator tersenyum kikuk takut kena marah karena istri lelaki itu mereka jadikan bahan taruhan, ekh ternyata Kenzo malah ikut-ikutan.
"Iya. Gue pilih, Tiara." Sama selon nya dengan mereka, Kenzo memilih Tiara dan rela mengeluarkan sepuluh juta untuk menjagokan pilihan nya.
__ADS_1
"Aisst...." Tiara hanya bisa menghela nafas, terserah lah, suka-suka yang ingin suaminya itu lakukan saja.
"Oke, seratus sepuluh juta terkumpul, kita lihat siapa yang akan menjadi Trisakti sekolah kali ini."
"Tapi kau tidak bermain curang kan Ken? Lo sengaja ikut taruhan padahal sudah tahu bini lo pemenangnya." Celoteh yang lain masih ragu.
"Tenang saja, ini murni," jawab Kenzo dengan tegas. Wajah masih terlihat datar tapi hati sudah gelisah, bukan karena takut uang akan melayang, dia takut Tiara tidak bisa menduduki posisi Trisakti seperti apa yang istrinya itu inginkan.
Acara taruhan selesai, tinggal menunggu pengumuman pemenang nya yang akan segera mereka dengan beberapa menit lagi. Kenzo dan Tiara pun langsung berjalan ke depan untuk duduk bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Tiara langsung duduk di kursi yang Azzura siapkan yang ada di tengah Azzura dan Priscilla. Sedangkan Kenzo duduk di belakang sang istri di hapit Jonathan dan Devan.
"Dari mana saja, aku kira kau tidak akan masuk," Azzura langsung antusias bertanya. Bahkan tangannya langsung merangkul tangan wanita itu saking senangnya Tiara sudah bergabung di sana.
"Sebenarnya dari tadi sudah sampai, cuma tadi di belakang ada sesuatu yang sedikit menarik." timpal nya dengan tersenyum kecil. Tiara tidak mungkin mengatakan kalau mereka berdua di jadikan bahan taruhan gara-gara posisi Trisakti yang akan segera di umumkan.
Suasana semakin tegang, yang awalnya bergemuruh semau murid menjadi diam. Semuanya memasang telinga baik-baik ingin mendengar jelas siapa saja Trisakti angkatan sekarang.
"Sekolah bangga atas prestasi setiap murid di sekolah ini, dan kami atas nama sekolah memberikan penghargaan tinggi kepada tiga murid paling berprestasi di sekolah ini. Yang jatuh pada; Peringkat satu: Kenzo Julian Wijaya."
Sorak riang mulai terdengar, semua murid tidak ada yang mengira, di kira Jonathan tapi malah Kenzo yang menduduki posisi satu. Bahkan Tiara sampai menoleh ke belakang melihat ekspresi suaminya.
"Kok ekspresi nya biasa saja sih. Senyum dong!"
Yang di omeli masih tetap memasang wajah datar, yang dia harapkan bukan prestasi dirinya melainkan prestasi yang sedang mengomelinya.
"Peringkat dua: Jonathan Prawira."
Kembali bergemuruh, sorak riang bersama tepukan tangan mendominasi. Tinggal pembaca peringkat tiga. Semua orang jadi tegang terlebih yang sudah memasang taruhan. Akankah balik modal atau malah apes uang nya melayang.
"Peringkat tiga: Tiara Lestari Wijaya."
"Kita memang, woi." Sorak dari belakang terdengar jelas. Bukan Tiara yang heboh, tapi mereka yang menang taruhan, yang pertama kali kegirangan.
Sorak riang pecah, tepukan tangan mendominasi, yang kalah taruhan tepuk jidat.
"Bangsat, sepuluh juta kita melayang, Jir."
"Wih, bukan hanya balik modal, untung besar kita bro." Yang mendukung Tiara senang bukan main, langsung meraup semua kartu kredit itu dan bersiap untuk menggesek nya. "Ken, kita party nih." terikat mereka pada Kenzo. Seratus sepuluh juta ayo habiskan untuk berpestapora.
Kenzo sendiri sampai berdiri melangkah menghampiri sang istri. "Selamat, sayang." kegembiraannya pecah, tersenyum senang, akhirnya apa yang di dambakan istrinya terkabul juga. Dia sampai refleks berjongkok di depan Tiara menggenggam kedua tangan sang istri dan perlahan mengecup nya.
"Terima kasih, tapi jangan seperti ini, Ken." Tiara sampai malu, mata semua orang tertuju pada mereka tapi Kenzo malah begitu santai masih menundukkan kepala di pangkuan nya.
__ADS_1