Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hari pertama di luar kota.


__ADS_3

Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, di dalam sebuah kamar villa, Kenzo dan Tiara masih terlelap dalam tidurnya. Cahaya matahari mulai memancar melalui celah jendela kamar membuat keadaan di kamar terasa lebih hangat.


Tiara menggeliat pelan, dia mulai tersadar dari tidurnya, perlahan membuka mata, dan melihat sekitar, "Akh, apa ini halusinasi," gumamnya sambil mengucek kedua matanya, karena semalam tidur di pangkuan Kenzo dia sampai melihat bayangan-bayang lelaki itu sedang terlelap di hadapannya. Dia kembali membuka mata, baru sadar rupanya itu bukan halusinasi melainkan sebuah kenyataan, sontak dia langsung berteriak karena kaget, "Aaaaa, kenapa kita bisa tidur bersama?" Tiara sampai refleks menjauh, sejak kapan lelaki itu ada di sana, apa mereka tidur bersama, apa terjadi sesuatu, pikiran jadi berpikir yang lebih dari itu. "Apa ini di villa?" gumamnya lagi masih dengan keadaan kaget. Semalam dia tertidur sampai tidak ingat apa-apa, bahkan tidak ingin kenapa mereka bisa tidur di satu ranjang yang sama.


"Tiara, kenapa berteriak?" Kenzo mengendus kesal, langsung menggeliat mendengar kebisingan Tiara, mulai tersadar walau matanya masih terpejam karena masih terasa berat. Iyah, dia sudah mengira kalau istrinya pasti akan kaget, tapi tidak mengira reaksinya akan berlebihan sampai mengganggu tidurnya.


"Kau! Kenapa tidur di sini? Kau membuat ku kaget." Tiara langsung memberi alasan, kembali menarik selimutnya sampai leher, terlihat jelas kegugupan di wajah nya karena mendapati Kenzo tidur di satu ranjang bersama nya.


"Aku suami mu, wajar kan kalau kita tidur bersama. Kenapa se-kaget itu," decak Kenzo dengan begitu datar, tidak mempedulikan ocehan Tiara, tangannya malah dengan cepat menarik sang istri ke pelukannya. "Dima lah! Aku masih ngantuk," titahnya dengan begitu santai tanpa dosa, tidak tahu Tiara sudah gugup, dia malah dengan begitu nyaman mendekapnya. "Tidak buruk juga." gumam nya dengan tersenyum kecil, kembali memejamkan mata, rupanya ada baiknya juga menikah muda, kini ada seseorang yang menemani tidurnya.


"Ken?" Tiara menggeliat, tapi Kenzo makin memposisikan tidurnya, bahkan lelaki itu menjadikan satu lengannya sebagai tumpuan kepalanya, memeluk nya dengan erat membuat dia tidak bisa bergerak. Entahlah, debaran jantungnya benar-benar tidak terkendali, badannya membeku, dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. "Ini sudah hampir siang, Ken. Bukannya kita harus segera ke hotel menemui yang lain." ucapnya pelan, walau masih gugup dia akan berusaha terbiasa dengan keadaan seperti ini, karena lelaki itu suaminya. Bahkan dia juga merasa nyaman menyandarkan kepala di dada bidang lelaki itu.


"Perlombaan nya jam sembilan," jawab nya singkat. Kenzo langsung tersenyum senang karena Tiara tidak memperlihatkan penolakan.Tanpa sadar dia langsung mengelus rambut Tiara, seolah berkata kalau dia hanya ingin memeluk nya saja.


Tiara sampai berdesir, perasaannya semakin tidak karuan, kalau menunggu sampai jam sembilan nanti, berarti mereka akan terus di tempat tidur seperti ini.


"Tiara!" Kenzo memanggilnya lirih, "Sepertinya aku harus berterima kasih pada paman mu." ucapnya tiba-tiba, masih dengan memejamkan mata.


Tiara sampai bingung, "Berterima kasih untuk apa?" tanyanya sambil mendongkangkan kepala menatap wajah Kenzo, nyawa suaminya sepertinya memang belum ngumpul sampai bicara ngelantur. Bukannya lelaki itu sangat membenci pamannya, kenapa sekarang tiba-tiba mau mengucapkan terima kasih.


"Karena dia telah memberi ku hadiah." jawabnya ambigu. Mata terus terpejam, tapi bibir masih bisa bicara.


"Hadiah?" Tiara sampai mengulang kata itu, berpikir cukup lama mencernanya, kapan pamannya memberi Kenzo hadiah, kenapa dia tidak tahu. "Hadiah apa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Kau." Kenzo lagi-lagi menjawab singkat.


Tiara sampai di buat pusing, perkataan lelaki itu selalu saja sulit untuk di mengerti, "Aku?" tanya nya makin bingung, refleks menggoyangkan tubuh Kenzo agar lelaki membuka mata dan memperjelas perkataan nya.


"Kau hadiah yang di berikan Pak Arya sampai aku harus bersusah payah untuk menjaganya." jawabnya dengan asal, masih dengan mata terpejam. Iya, salah besar jika Arya menganggap Tiara pembawa sial, baginya wanita ini sebuah hadiah yang memberi banyak warna di hidupnya membuat dia ingin terus menjaganya.


Tiara sampai tersenyum kecil, apa ini sisi lain dari seorang Kenzo, saat bangun tidur perkataanya jadi ngelantur tapi terdengar jujur, tidak seperti Kenzo si es balok yang berhati dingin dan tidak punya perasaan, "Apa kau senang menerima nya?" tanya nya memastikan, mumpung lelaki itu setengah sadar ini kesempatan bagus untuk mengetahui perasaannya.


"Hemm," Hanya itu jawabnya, Kenzo benar-benar kembali tertidur merasa nyaman karena ada Tiara di pelukannya.


Tiara yang menunggu jawaban langsung mengendus kesal, hemm-hemm apa? dia kan tidak tahu apa maksudnya. "Dia sudah membuat jantung orang hampir copot karena tiba-tiba main peluk, sekarang tidur begitu saja. Dasar menjengkelkan." gumamnya kesal.


...***...


Keadaan di hotel. Jonathan dan Arzan terlihat keluar dari ruangan general manager hotel. Raut wajah dua lelaki itu terlihat berbeda, Jonathan mengepalkan tangannya geram, berjalan paling belakang, sedangkan Arzan tersenyum senang sambil bersiul-siul riang.


Iya, hotel ini merupakan hotel keluarga Prawira, saat Ayah Jonathan tahu putranya akan berlomba ke kota ini dia langsung menghubungi pihak sekolah memberikan penginapan gratis selama pihak sekolah dan murid-murid ada di kota ini. Selain itu dia juga menyuruh Arzan untuk ikut bersama Jonathan sekalian mengecek keadaan hotel nya.


"Iya, ku harap kau tidak kembali berbuat masalah." timpal Jonathan geram. Sekarang dia hanya perlu bersabar, memperhatikan gerak gerik Arzan agar tingkah nya tidak di luar batasan, dan mengancam posisinya.


"Jangan menasehati ku, lihat saja keadaan mu. Kau hanya bocah, Jonathan." cibirnya dengan begitu santai. Bocah itu mulai mengusik ketenangan nya dengan menghasut Prawira agar hati-hati padanya, tapi sayangnya itu tidak mental, Prawira lebih percaya pada nya. "Aku ingin melihat seberapa keras usaha mu," timpal nya lagi berusaha menantang Jonathan, terus menyeringai mengejek adik angkatnya sambil melangkah berbelok ke arah kirinya.


Brug. Karena terlalu fokus bicara dengan Jonathan badan Arzan sampai menabrak tubuh seseorang.

__ADS_1


"Aw, tangan ku," Shasa merintih kesakitan, seorang lelaki tidak dia kenal menabrak pas pada tangan nya yang masih menggunakan gips. Padahal harus mengikuti perlombaan, kalau terbentur seperti ini bagaimana dia bisa melepaskan gips nya. "Akh, sial."


"Sha? Kau tidak apa-apa?" Jonathan yang kaget. Memang tidak punya mata itu si Arzan sampai menabrak seseorang. Dia langsung menghampiri Shasa karena wanita itu terus memegang tangan nya kesakitan.


"Nat, padahal harus ikut lomba, tapi tangan ku malah sakit lagi." keluh nya sambil melihat ke arah orang yang menabraknya. Ingin rasanya dia marah-marah pada lelaki itu tapi ia urungkan saat sadar melihat penampilannya.


Arzan kaget, bukan hanya karena telah menabrak seseorang, tapi kaget karena Jonathan mengenal gadis cantik yang dia tabrak. "Sorry, gak sengaja," ucapnya lantang, dia langsung menatap Shasa dan Jonathan bergantian. "Kalian saling kenal?" tanyanya penasaran. Rupanya teman wanita Jonathan cantik-cantik. Kemarin-kemarin melihat Tiara sekarang ada Shasa.


"Iya, dia pasangan lomba ku." jawab Jonathan dengan begitu tegas. Langsung menatap Arzan dengan begitu geram, menegur lelaki itu untuk tanggung jawab.


Shasa sampai terkejut, lelaki asing yang mengenakan setelan jas ini rupanya akrab dengan Jonathan. "Nathan, siapa dia?" bisik nya bertanya.


Jonathan baru saja mau menjawab, tapi kalah cepat karena Arzan sudah memperkenalkan dirinya.


"Maaf aku beneran tidak sengaja, kenalkan Arzan!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya. "Aku Kakak nya Jonathan." lanjutnya lagi dengan penuh percaya diri memperkenalkan siapa dirinya.


Shasa sampai tak percaya, lelaki ini Kakak nya Jonathan? Yang awalnya ingin marah-marah langsung menyeringai, dengan cepat menerima uluran tangan lelaki itu. "Shasa." jawabnya sama-sama memperkenalkan diri.


"Apa begitu sakit, mau ku antara ke rumah sakit, Aku akan merasa bersalah jika kau kenapa-kenapa." tutur Arzan dengan memasang wajah iba.


Jonathan yang melihat tingkah buaya itu hanya bisa mendelik kesal, "Iya, sepertinya kau harus mengecek tangan mu, Sha. Takutnya makin parah." timpal nya memberi saran. Biar si Arzan segera keluar hotel dan pergi dari hadapannya. Jangan sampai dia keburu bertemu dengan Kenzo, sahabatnya itu belum membaca pesannya, jadi belum tahu kalau Arzan ada di sana.


"Tapi Nathan, lombanya?" Shasa bingung, memilih di antara dua pilihan yang menguntungkan. Mengikuti lomba untuk meningkatkan poin nya di sekolah, atau pergi ke rumah sakit mundur dari perlombaan tapi punya kesempatan untuk dekat dengan sosok Arzan yang menurutnya itu akan menguntungkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ada Michel. Kesehatan mu lebih penting." timpal Jonathan berusaha meyakinkan. Toh jika tidak ke rumah sakit pun Shasa pasti tidak bisa mengikuti perlombaan.


"Baiklah." Akhirnya Shasa menentukan pilihan. Lebih memilih pergi ke rumah sakit bersama Arzan, untuk memanfaatkan kesempatan lebih mengenal lelaki itu.


__ADS_2