
Setelan blazer kerja sudah terpasang rapih di tubuh Tiara, kemeja berwarna putih dibaluti jas hitam dan rok hitam sampai lutut, sudah terpasang lengkap membuat gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu terlihat begitu cantik nan elegan. Pagi ini dia dan Kenzo akan menghadiri rapat terbuka bersama sang Daddy dan juga om Roni. Momen yang paling mendebarkan sepanjang pengalaman hidup Tiara bisa ikut terlibat dalam acara penting seperti ini.
"Aku sendiri sampai tidak menyadari kalau ini aku." gumamnya sambil berputar melihat pantulannya sendiri di cermin, sang Mommy begitu mengerti tentang dirinya sampai menyiapkan pakaian yang sangat pas dan cocok di tubuhnya.
"Ken? Apa kau belum siap?" panggilannya karena Kenzo masih berada di ruangan wardrobe, sepertinya suaminya itu masih berkutat dengan pakaiannya.
"Hem." Kenzo hanya menjawab singkat, langsung keluar ruangan dengan sebuah jas dan dasi yang masih menyampai di pundaknya. Dia akui dia memang cukup lambat kalau di suruh bersiap, "Bantu dong, Yang." pintanya masih dengan menunduk merapihkan kancing kemejanya. Saat kepala itu terangkat dia begitu terkesima melihat penampilan Tiara yang terlihat berbeda.
Tiara sampai tersenyum malu karena suaminya itu sampai mematung menatapnya. "Kenapa? Apa terlihat aneh?" tanyanya dengan tersenyum kikuk.
Kenzo langsung tersenyum kecil, kepalanya sampai menunduk mengecup pipi sang istri, dengan begitu cepat "Cantik." ucapnya singkat. Tangannya langsung bergerak melingkar di pinggang Tiara menarik wanita itu agar semakin mendekat. "Pasangkan ini!" rengek nya dengan manja, tangan bergerak menunjuk dasi tapi bibir nya kembali bergerak mengecup pipi bahkan kini sudah bergerak beralih mengecup bibir sang istri, penampilan Tiara terlihat berbeda, membuat dia tidak tahan untuk tidak menggoda nya.
"Ken, sudah! Bagaimana aku akan memasangkan dasi mu kalau kau seperti ini." Tiara sampai gelang kepala, belum puas kah malam tadi, seluruh inci bagian wajahnya sampai sudah terjamah oleh bibir lelaki ini. Dia langsung mendorong tubuh Kenzo agar tubuh itu kembali berdiri tegak, mengambil dasi itu, dan mulai memakaikan nya. "Sudah siang, telat sedikit saja Daddy bisa marah." protesnya menasehati sang suami.
"Iya, baiklah Nyonya." Kenzo langsung patuh dengan menyeringai, diam dengan pasrah saat tangan sang istri mulai mendandani nya.
"Nanti pasti akan ada banyak orang, jadi jangan lepas dan jangan jauh-jauh dari ku." pinta Kenzo mulai serius.
"Iya."
...~...
Keadaan di bawah, Kenan dan Roni sudah terlihat siap di depan rumah sambil menunggu Kenzo dan Tiara turun, bahkan beberapa tim pengawal pun sudah siap, untuk mengawal mereka. Ini adalah pertama kalinya sosok pewaris tunggal keluarga Wijaya akan di publikasikan pada semua orang, kekhawatiran Kenan begitu mendalam terlebih setelah mengetahui kalau keluarga Wiranto masih membayang-bayangi keluarga mereka. Kenan tidak akan membiarkan siapapun melukai putra atau pun menantunya. Dia akan mengetatkan pengamanan tidak mau menanggung resiko yang tidak di inginkan.
"Apa sudah ada kabar bagaimana keadaan putra pertama Wiranto sekarang?" tanya Kenan pada Roni. Temannya itu yang membawa kabar tentang Arzan, dia pun langsung memberinya tugas untuk kembali menyelidiki bagaimana sekarang kehidupan Mario setelah lelaki itu keluar dari penjara.
"Belum ada kabar, bawahan ku masih menyelidikinya. Informasi tentang nya sangat tertutup rapat. Sepertinya lelaki itu sudah jera karena selama ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari nya." jawab Roni menceritakan. Dia memang tinggal di luar negeri, tapi banyak bawahannya yang dia tugaskan di mana-mana.
__ADS_1
"Iya, semoga saja. Karena akan lebih merepotkan jika kedua putra Wiranto menggabungkan kekuatan." timpal Kenan dengan hati yang sedikit gelisah. Baru satu tahun putra pertama Wiranto keluar dari penjara, seharusnya lelaki itu belum mempunyai tenaga jika memang ingin membalas dendam atas kematian Ayah nya.
Kenzo dan Tiara terlihat mendekat, pasutri itu sampai terkejut saat melihat begitu banyak bodyguard yang Daddy nya kerahkan untuk mengawal mereka.
"Dad?" Kenzo sampai gelang kelapa, ayolah sekarang dia bukan anak kecil, Daddy nya itu tidak perlu sampai segitunya menyiapkan pengawal sampai sebanyak itu. "Ini akan lebih memancing perhatian banyak orang, Dad." protesnya merasa tidak nyaman, para bodyguard itu bahkan tidak bisa di hitung dengan jari saking banyaknya.
"Ini acara terbuka, Ken. Daddy tidak ingin mengambil resiko. Lebih baik berjaga-jaga, dari pada terjadi hal yang tidak terduga." timpal Kenan dengan tegas. Acara ini akan di lihat banyak mata, pasti banyak pula resiko yang mengancam mereka.
...*...
Di sebuah apartemen, Arzan duduk dengan penampilan yang terlihat kusut, layar ponselnya terlihat menyala di sebuah meja di depannya, di telinganya terpasang headset bluetooth karena sedang melakukan panggilan dengan seseorang di sebrang telepon nya.
"Maaf Bang, semuanya tidak bisa sesuai rencana." keluhannya pada Mario; Kakak kandungan nya. Dia sudah menceritakan semuanya. Rencana awal mereka untuk membalas dendam kepada keluarga Wijaya dengan cara halus memanfaatkan perusahaan Prawira akhirnya kandas karena dia sudah tidak lagi di percaya Prawira. Dan ternyata Abangnya itu sampai marah besar padanya.
"Dasar bodoh. Bukannya sudah kubilang kau harus lebih berhati-hati! Sekarang tidak ada lagi kesempatan untuk kita bisa menghancurkan mereka, Arzan." decak Mario kesal. Padahal hanya perusahaan Prawira yang bisa mereka manfaatkan sebagai batu loncatan untuk membalaskan dendam nya. Tapi adiknya itu malah mengecewakan hanya karena seorang wanita.
"Kau gila. Apa kau ingin masuk penjara dan kembali menyeret ku ke balik jeruji besi itu untuk kedua kalinya." Mario sampai meninggikan suaranya, adiknya itu begitu gegabah, lelaki itu memang belum berpengalaman menghadapi bagaimana kejamnya sosok Kenan. "Bukannya menghabisi putra Pak Kenan, yang ada kau yang akan mati terlebih dulu, Arzan."
Arzan sampai mengendus kesal, buat apa Kakak nya itu bergabung dengan komplotan gangster kalau nyalinya lembek seperti itu, mempunyai banyak anak buah pun percuma kalau tidak bisa di andalkan. "Hanya menembak satu orang saja kenapa harus takut bang, nyawa di balas nyawa, jikapun sampai tertangkap dan harus di penjara aku rela agar nyawa Ayah lebih tenang di alam sana."
Mario di sebrang sana sesaat terdiam, perkataan adiknya sedikit bisa di mengertilah juga, "Lihat dulu situasi dan kondisi. Setelah semuanya pasti dan aman, kembali hubungi Aku. Akan ku kirimkan tiga sniper kepercayaan ku." timpal Mario mulai luluh. Pastikan dulu siapa sosok pewaris tunggal keluarga Wijaya, setelah itu baru bisa melancarkan aksi selanjutnya.
...***...
Di sebuah gedung megah, di sinilah rapat terbuka akan di selenggarakan, red karpet sudah membentang sebagai jalan masuk orang-orang penting yang akan datang. Acara yang di selenggarakan secara live di beberapa stasiun TV akan segera dimulai, bahkan beberapa Kamera yang sudah terpasang di setiap sudut mulai me-record acara. Para wartawan dari berbagai stasiun televisi sudah stand by di sana untuk mengambil beberapa gambar sebagai bahan berita mereka, terlebih setelah mendengar kalau putra pewaris keluarga Wijaya juga akan menghadiri acara ini, semua wartawan sudah bersiap ingin mengambil momen paling langka dan ingin menyoroti seperti apa putra Pak Kenan yang sudah sangat lama identitas aslinya sembunyikan. Berita ini pasti akan menjadi tranding topik dan akan menjadi konsumsi banyak publik.
Rombongan dari pihak pemerintah berserta antek-antek nya terlihat sampai lebih awal, di susul utusan perusahaan perusahaan asing yang di hadiri orang-orang ternama.
__ADS_1
Di sudut lain di waktu bersamaan, terlihat rombongan Prawira yang tidak lain di hadiri Pak Prawira, Pak Arya dan putra pertama Prawira yaitu Jonathan, terlihat sampai di sana.
Orang-orang sampai bergemuruh, para wartawan yang awalnya ingin mewawancarai sosok Arzan mundur kembali karena lelaki itu tidak terlihat di sana. Menit selanjutnya semua orang di buat tercengang melihat rombongan Wijaya dengan beberapa mobil yang mengiringi mereka. Sontak para wartawan dan beberapa kameraman langsung menghampiri rombongan itu saat Kenan dan Roni terlihat turun lebih awal, mereka di kawal beberapa bodyguard dan langsung menuju mobil di mana sosok pewaris mereka berada.
"Ken," Tiara sampai gemetar, tangannya tidak lepas menggenggam tangan Kenzo karena gugup melihat keadaan, dia tidak menyangka antusias orang-orang akan seperti ini saking penasarannya pada sosok suaminya.
"Tidak apa-apa, ayo turun!" ajaknya saat salah satu bodyguard sudah membukakan pintu mobil mereka. Kenzo langsung merangkul pinggang sang istri melindungi wanita itu dari sorot mata maupun kamera yang tengah tertuju pada mereka.
"Maaf, permisi. Beri kami jalan!"
Beberapa bodyguard langsung membuka jalan, mereka para para wartawan memang tidak tahu sopan santun sampai berkerumun tidak memberikan celah untuk mereka melangkah.
"Pak Kenan, jadi ini pewaris keluarga Wijaya yang selalu anda sembunyikan identitas?"
"Siapa wanita yang berdiri di sampingnya, Pak?"
"Jawab Pak, kenapa Bapak diam saja?"
Pertanyaan dari para wartawan begitu bertubi-tubi, Kenan enggan menanggapi itu karena yang lebih penting sekarang mereka harus segera masuk ke pintu utama gedung, demi keselamatan putra dan menantunya.
Para bodyguard sudah mengelilingi mereka, dan membuka jalan, tetap saja orang-orang itu terus bertanya tanpa ada niatan untuk pergi, sampai menghalangi pergerakan mereka.
"Iya, dia putra saya. Wanita yang ada di sampingnya adalah menantu saya. Jadi permisi beri kami jalan!" Kenan begitu tegas menjawab pertanyaan wartawan-wartawan itu.
Sontak semua orang langsung tercengang begitupun dengan Jonathan yang sama-sama hadir di sana dan melihat keberadaan Kenzo dan Tiara bersama sosok Kenan Ardi Wijaya, dia tidak menyangka ternyata sahabat nya itu sosok pewaris yang sedari dulu identitas di sembunyikan. Bukan hanya itu, rupanya kedua temannya itu bukan hanya sekedar bertunangan tapi mereka sudah menikah.
Di sudut lain jauh dari kerumunan. Ada sudut bibir yang terlihat menyeringai, di telinganya terpasang headset bluetooth sebagai alat komunikasi nya, "Ini akan lebih menarik," gumamnya dengan sorot mata tajam melihat ke arah Tiara, lelaki itu langsung memberi instruksi kepada bawahannya. "Rubah sasaran, tembak wanita yang merupakan menantu keluarga Wijaya." titahnya tanpa basa-basi.
__ADS_1