Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Chelsea menginap di rumah kediaman Wijaya.


__ADS_3

Tiara duduk di kursi balkon kamar villa, menyantap es krim yang suaminya belikan sambil menikmati keindahan hamparan laut biru dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa rambut panjangnya sampai terhambur tidak beraturan. "Akh, segarnya." gumamnya sambil terus menyantap es krim dalam cup di pangkuannya. Tangannya sibuk menyendok es krim itu dan memasukkan ke dalam mulutnya, satu tangannya lagi merapihkan poni nya yang berhamburan tertimpa angin.


Kenzo terlihat menghampiri Tiara, ikut bergabung setelah mengganti pakaiannya yang sedikit basah akibat kelakuan Tiara tadi, "Apa kau belum kenyang, kau sudah habis dua cup, Tiara." oceh nya sambil duduk di samping wanita itu, tangannya bergerak merapihkan rambut Tiara dengan mata tidak henti melihat pergerakan sendok es krim yang meluncur masuk ke mulut wanita ini, "Apa seenak itu?"


"Hem." Tiara hanya mengangguk senang, kembali menyendok es krim itu, dan mengarahkannya ke mulut Kenzo, "Kau mau?" tanyanya sambil berusaha menyuapi, tapi dengan cepat lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Ya, sudah. Padahal ini manis sekali loh!"


"Benarkah?" Kenzo sampai menyeringai, dengan cepat berbungkuk menempelkan bibirnya di bibir Tiara saat es krim itu sudah mendarat di mulut wanita itu, langsung menjulurkan lidahnya dan mengambil es krim itu dari mulut sang istri, "Manis." ucapnya saat tautan bibir itu terlepas, menjilat sisa-sisa es krim di bibirnya dengan menyeringai tanpa dosa.


Tiara sendiri sampai melebarkan mata mematung sempurna, menelan keras saliva nya, apa yang berusaha terjadi, "Kenzo!" pekiknya hampir tak percaya, lelaki itu benar-benar mengambil es krimnya yang sudah mau ia telan. "Itu es krim ku, bodoh." omelnya sampai salah tingkah, saking kagetnya dia sampai kehabisan kata-kata, "Kalau mau, ambil sendiri!" titahnya sambil memukul lengan Kenzo. Bisa-bisanya lelaki itu masih memasang wajah tanpa dosa setelah apa yang di lakukan nya.


Kenzo sampai terkekeh, "Mau ku kembalikan lagi?" tawar nya dengan cengengesan, dia sudah berbungkuk untuk mengembalikan es krim yang masih menempel di lidahnya.


"Gak mau, minggir sana! Dasar mesum." rengek nya sambil mendorong tubuh Kenzo, terus berdekatan dengan lelaki itu membuat debaran jantungnya tidak karuan, "Jantung ku bisa-bisa meloncat keluar." gumamnya dengan wajah merona malu, makin ke sini lelaki itu makin bertingkah sesukanya, tapi anehnya dia selalu saja terlena dengan tingkah konyol lelaki itu.


Bukannya menjauh Kenzo malah tersenyum kecil, tetap diam di samping sang istri sambil terus memperhatikan nya, tingkah wanita itu benar-benar menggemaskan, sampai rasanya tidak ingin mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Hei, terlalu banyak makan es krim perut mu bisa sakit." serunya sambil merapikan poni Tiara, rasa es krim yang dia cicipi tadi tidak seenak dugaan nya, tapi istrinya itu begitu lahap memakannya. "Sudah!" titahnya sambil mengambil cup es krim itu.


Tiara sampai menatap Kenzo dengan kesal, "Dasar pelit, padahal dia sendiri yang membeli es krim sebanyak itu, kenapa melarang ku untuk memakannya." umpatnya dengan suara pelan.


Kenzo yang melihat bibir Tiara komat kamit tanpa suara hanya bisa menggelengkan kepala, "Aku membeli banyak bukan untuk di habiskan semuanya sekaligus, bodoh. Habiskan sedikit-sedikit." ucapnya sambil menjitak kening Tiara. Kalau wanita itu melahap es krim itu semaunya perut kecilnya itu pasti akan bermasalah. Pada akhirnya dia sendiri yang akan khawatir kalau Tiara sampai jatuh sakit.


"Aww! sakit tahu." pekiknya makin kesal. Tadi mencium bibir seenaknya dan sekarang menjitak kening nya tanpa perasaan. "Dasar es balok menyebalkan." gumamnya pelan.


"Apa?"


"Es balok."


"Kau berani mengatai suami mu?"


"Bukan kau, itu, es krim, maksud ku es krim itu lebih enak dari pada es balok." kilah Tiara dengan cengengesan.


"Dasar kau!" Kenzo sampai tersenyum kecil, di kira dia bisa di bohongi, dia langsung mengangkat tubuh Tiara dan membawa gadis itu untuk masuk ke dalam kamar. "Ayo masuk, besok terakhir kita liburan di sini, kau harus istirahat!"


"Tidak mau, aku istirahat di luar saja." protes nya sambil meronta, ajakan untuk istirahat hanya akal-akalan lelaki itu saja, dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika mereka sudah masuk ke dalam kamar, bukannya istirahat lelaki itu pasti akan terus mengganggunya.

__ADS_1


"Diam! ayo istirahat." Kenzo malah menyeringai, tidak mempedulikan ocehan Tiara dia langsung membaringkan tubuh mungil itu di tempat tidurnya.


...***...


Esok harinya di kediaman keluarga Wijaya. Ze memasuki rumah dengan menggandeng seorang gadis cantik berambut pirang, perjalanan jauh dari luar negeri membuat gadis cantik itu kelelahan sampai tidak bisa lepas dari gandengannya.


"Ayo, sayang. Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu sebelum Ayah dan Bunda mu sampai di sini." ucap Ze sambil memboyong Chelsea masuk.


Iya, Kenan dan Ze berhasil membujuk Roni beserta keluarganya untuk kembali ke Indonesia, lebih tepatnya meminta lelaki itu untuk bekerja di perusahaan Wijaya. Namun karena masih ada beberapa hal yang harus di urus Roni dan istrinya, Ze hanya bisa membawa Chelsea; putri mereka saja.


"Kamu tidak keberatan kan harus tinggal di sini? Tante khawatir jika kamu tinggal sendiri di apartemen." ucapnya sambil mengelus kepala gadis cantik itu. Tidak ada keluarga lainnya yang akan menjaga Chelsea sebelum kedatangan orang tua nya ke Indonesia.


Chelsea hanya mengangguk dalam diam, bukan hanya karena kelelahan, tubuhnya lemas karena masih syok, belum bisa menerima kenyataan kalau Kenzo sudah menikah. Lelaki yang pernah di jodohkan dengan nya kini sudah memilih wanita lain sebagai istrinya.


"Tan, Kak Kenzo benar-benar sudah menikah?" lirihnya kembali bertanya sambil membelalakkan mata saat melihat sebuah foto keluarga berukuran besar. Awalnya dia mengira kalau perkataan Ze hanya lelucon saja. Tapi foto keluarga Wijaya yang dia lihat benar-benar memperjelas semuanya, di dalam foto keluarga yang dulu hanya ada Kenan, Ze dan Kenzo, kini terlihat seorang gadis cantik yang menggandeng tangan lelaki yang di cintanya dengan begitu mesra. "Kak Kenzo, milik ku." gumamnya dalam hati.


Dua tahun lalu Chelsea masih bisa legowo menerima penolakan Kenzo karena beralasan mereka masih muda dan belum berpikir jauh dalam sebuah pertunangan, tapi kenapa saat dia kembali dengan usia yang sudah cukup dewasa, Kenzo malah memilih wanita lain bahkan sampai menikahinya.


"Maaf, sayang. Kau pasti akan menemukan lelaki lain yang lebih baik dari putra, Tante." timpal Ze sambil memeluk gadis itu. Berusaha meredam perasaan sedihnya. Dia langsung mengajak Chelsea untuk naik ke atas menuju sebuah kamar yang akan di tempati nya selama dia tinggal di sini.


"Tidak di kamar ini, Tan? Dulu kalau aku menginap, Tante selalu menyuruhku tinggal di kamar ini?" tanya Chelsea penuh harap, dia tahu di sebelah kamar itu adalah kamar Kenzo, dia tidak ingin jauh-jauh dari lelaki itu, dan ingin menempati kamar yang di tunjuk nya sekarang.


Ze sesaat terdiam, itu kamar Tiara, walau dia tahu kalau Tiara sudah tinggal di kamar putranya, tapi kamar itu tetap selalu di tempati Tiara, bahkan barang-barang mantunya itu masih tersimpan di dalam. Saat mengerjakan tugas sekolah atau tugas kantor dari suaminya, Tiara selalu berkutat di kamar itu. "Maaf ya, sayang. Kamar ini sudah terisi. Kamu di kamar itu saja ya." bujuknya dengan tersenyum ramah. Dia tidak bisa terus melukai perasaan gadis ini jika terus mengungkit-ungkit tentang Tiara.


Rani; Ibu dari gadis ini adalah sahabat nya, dia tidak mungkin terus melukai perasaan putrinya mengingat kedekatan hubungan keluarga mereka yang sangat dekat.


"Ayo!" ajaknya sambil meraih tangan Chelsea, mengajaknya dengan pelan menuju kamar yang sudah dia siapkan.


"Tapi aku mau di sini, Tan." pintanya sambil menundukkan kepala.


Ze sampai menghela nafas, raut kesedihan terlihat jelas di guratan wajah gadis itu membuatnya menjadi iba, "Baiklah, tunggulah sebentar. Tante harus menghubungi Kenzo dulu." ucapnya sambil mengelus kepala gadis itu. Dia tidak bisa memutuskan sendiri karena itu menyangkut kenyamanan putra dan menantu nya nanti.


Chelsea kembali mengangkat wajahnya langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan tersenyum senang, "Tante memang paling baik. Terima kasih."

__ADS_1


"Iya-iya. Tunggu, Tante harus menghubungi Kenzo dulu." ucapnya lagi sambil meraih ponsel di saku bajunya.


"Tan, video call saja. Aku sudah tidak sabar ingin melihat Kak Kenzo," rengek Chelsea sambil bergelut manja di lengan Ze.


Iya, begitulah Chelsea, karena kedekatan hubungan keluarga mereka yang begitu dekat, wanita itu sudah menganggap Ze seperti orang tuanya sendiri, gadis itu sampai tidak pernah sungkan meminta apapun pada wanita paruh baya itu, terlebih Ze sendiri selalu bersikap baik padanya.


~


Di belahan kota yang berbeda, Tiara sudah bersiap untuk jalan-jalan yang terakhir kalinya di Bali. Duduk di sofa sambil menunggu Kenzo yang masih bersiap dengan pakaiannya.


"Ken, ayo!" ajaknya dengan suara sedikit kesal, lagi-lagi jadwal liburan nya terpotong karena Kenzo bangun kesiangan gara-gara Mabar semalaman.


"Bentar!" Kenzo menjawab singkat. Belum juga kelar merapihkan kancing kemejanya suara ponsel di dalam sakunya celananya terdengar berbunyi. "Aisst, siapa lagi?" gumamnya sambil berjalan menghampiri Tiara, dia harus meminta bantuan sang istri agar dia bisa melihat panggilan masuk di ponselnya.


"Yang, tolong kancing kan kemeja ku." pintanya sambil berdiri di hadapan Tiara. Dia langsung mengambil ponselnya takut ada yang penting karena panggilan nya tak kunjung berhenti.


Tiara sampai tersenyum tipis, dengan senang hati langsung berdiri membantu merapihkan pakaian Kenzo, "Siapa?" tanyanya sambil perlahan mengaitkannya satu persatu kancing kemeja sang suami.


"Mommy, tumben video call." jawab nya sedikit kaget, di simpan nya ponsel itu di meja di samping mereka dan dia sandarkan pada sebuah pas bunga kecil di atas meja itu agar dia dan sang istri bisa terlihat jelas di layar ponselnya.


Video call tersambung, pergerakan Tiara yang sedang merapihkan kancing kemeja Kenzo terlihat jelas di layar ponsel itu.


"Ada apa, mom?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya menatap wajah sang istri yang sedang berkutat merapihkan kancing kemejanya. Detik selanjutnya langsung terkejut saat suara seorang wanita memanggil nya dengan begitu antusias.


"Kak Kenzo!" suara Chelsea terdengar begitu nyaring.


Kenzo, bahkan Tiara juga langsung menoleh melihat layar ponsel, kini mereka berdua bisa melihat jelas tampilan gadis cantik yang sedang tersenyum ceria di layar ponsel itu.


"Chelsea."


Kenzo sampai terkejut, bahkan Tiara yang baru pertama kalinya melihat sosok gadis itu tidak kalah terkejut.


"Jadi dia yang namanya Chelsea?" batin Tiara dengan tersenyum pasi. Mereka berdua memang terlihat begitu dekat, wanita itu sampai memanggil sang suami dengan begitu manja.

__ADS_1


"Kak Kenzo cepat pulang? Aku sudah di rumah dan akan menginap di sini." tutur Chelsea tanpa mempedulikan sosok wanita yang berdiri persis di samping lelaki yang di ajak nya bicara. Dia hanya ingin melihat Kenzo tidak peduli siapa wanita di sampingnya.


__ADS_2