Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Simbolis Trisakti.


__ADS_3

"Harap tenang anak-anak, kalian bisa duduk kembali ke tempat masing-masing." Sang guru pembawa acara sampai kewalahan, murid laki-laki yang tadinya duduk di belakang malah berpindah tempat menghampiri Kenzo dan Tiara yang duduk paling depan. Entah apa yang mereka lakukan, yang dia lihat semua murid itu tertawa lepas penuh kebahagiaan. "Jika mau memberi selamat bisa nanti setelah acara selesai!" titahnya lagi karena mereka masih santai diam di sana. Bukan karena apa-apa, suara mereka mengganggu teman yang lain terlebih menghalangi siswa di belakangnya.


"Kita duduk di sini saja, Bu." timpal salah satu murid mewakili tiga temannya. Dia langsung menyuruh murid yang duduk di bangku belakang jajaran Jonathan untuk tukar tempat dengan mereka. Setelah memberi selamat dan rasa terima kasih mereka atas keberuntungannya, mereka malah keenakan ingin bergabung dengan yang lainnya di sana.


Mario sampai keheranan, ada apa dengan mereka, "Ngapain pada pindah sini, hah? Kembali sana!" protesnya kesal. Perasaan mereka tidak begitu dekat dengan Kenzo maupun Tiara tapi mereka begitu antusias kegirangan saat posisi Trisakti sudah di bacakan.


"Dapat rezeki nomplok kita berkat Tiara." jawabnya dengan sumringah, dia langsung membisikkan tentang taruhan itu, bahkan tangannya langsung di angkat memperlihatkan gepokan kartu kredit yang tidak sedikit.


"Jir. Kagak ngajak-ngajak Lo!" cibir Mario sambil geleng-geleng kepala. Kaya mendadak dia kalau dapat uang sebanyak itu dengan begitu mudah. "Minta satu!" tuturnya saat menyadari ada kartu kredit yang terlihat bersinar, berbeda dari yang lain.


Murid lelaki itu langsung mengambil kartu kredit yang ditatap Mario, dan mengembalikan pada pemiliknya, "Nih, kartu kredit Lo!" tutur murid itu memberikan black card milik Kenzo. Kartu kredit sultan memang beda dari yang lain dia sampai merinding jika harus memegang nya lama-lama. "Takut hilang, itu no limit beda ama punya kita-kita," celetuknya lagi dengan tersenyum kikuk. Langsung melirik Mario seolah berkata jangan macam-macam karena kartu kredit itu milik sultan.


"Pantesan Black Card, milik Lo."


Kenzo sampai tersenyum kecil, "Yakin nih gak butuh ini?" ucapnya berusaha menawarkan, padahal dengan kartu itu mereka bisa saja menutup satu restoran ataupun cafe untuk di booking khusus buat mereka.


Yang di tawari para murid yang menang taruhan, tapi yang heboh malah Mario dan Devan. "Kalau gue yang pegang kagak bakal ilang," ucap Devan begitu percaya diri, langsung mengambil kartu itu dan menyeringai senang. Bagaimana tidak, dia sudah berpengalaman bahkan sering menggunakan kartu black card itu karena Kenzo sering menyuruh dia membeli makanan bahkan selalu mentraktirnya, jadi kartu kredit itu sudah terbiasa di tangan nya. "Yo kita booking tempat karaokean, bro." soraknya mengajak yang lain. Kalau hanya makan-makan saja tidak seru, ayo sambil karaokean agar suasan nya semakin menyenangkan.


Acara terakhir di mulai, yaitu acara di mana setiap anggota Trisakti akan maju ke podium dan menerima simbolis dari sekolah sebagai tanda kalau merekalah jagoannya sekolah, merekalah simbol dan citra sekolah Trisakti, dengan segala kemampuan dan kepandaian yang mereka miliki.


Salah satu petugas sudah membawa sebuah nampan berisi tiga kalung medali berbentuk bulat dengan logo Trisakti di tengahnya, tiga warna yang berbeda; gold, silver dan bronze melambangkan tahap kemampuan ketiganya, bahkan bukan hanya kalung, ada tiga Bros bintang kecil dengan warna yang berbeda pula.


"Kau tahu Ra, katanya ada mitos menarik saat pemberian medali ini." tutur Azzura mulai bercerita. Inilah uniknya sekolah Trisakti yang di ketahui dan selalu menjadi kepercayaan banyak murid, bahkan guru pun ikut menghargai itu dan selalu memberi kelonggaran dengan apa yang murid itu inginkan.


"Mitos, Apa?"


"Katanya setiap murid bisa meminta satu keinginan sebelum medali nya di kenakan, dan karena namanya juga Trisakti, katanya setiap keinginan murid itu selalu terkabulkan," tutur Azzura menceritakan, dia sendiri yang sudah bersekolah selama tiga tahun di sini antara percaya atau tidak, tapi yang dia dengar keinginan Trisakti yang sebelumnya memang ada yang terkabulkan. "Bahkan ada kebiasaan unik, setiap Trisakti bisa meminta seseorang untuk mengalungkan medali nya, maka orang itu akan menjadi pasangannya." tutur nya lagi.


Tiara sampai menohok, ternyata ada juga cerita di balik sekolah Trisakti yang belum dia ketahui, "Harus percaya gak ya?" timpalnya malah tersenyum, jika benar adanya mungkin dia bisa mencobanya.


"Coba saja, minta satu keinginan. Dan lihat kedepannya apa keinginan itu akan terkabulkan!" tutur Azzura memberi saran, karena kalau hanya mengalungkan medali tidak aneh jika pun Tiara yang memasangkannya untuk Kenzo karena lelaki itu memang pasangannya.


...~...


Pemberian simbolis di mulai, Kenzo, Jonathan dan Tiara sudah berdiri di depan podium di lihat beratus-ratus murid Trisakti, tiga murid yang patut di jadikan motivasi untuk semua murid untuk bisa lebih cerdas lagi dari pada sebelumnya.

__ADS_1


Petugas yang membawa nampan medali sudah berdiri di samping ketiganya, sang pembawa acara mulai menuntut kegiatan mempersiapkan Kenzo mengutarakan kewenangan nya, "Mungkin kau mau meminta Tiara untuk mengalungkan nya?" tutur MC itu dengan tersenyum kecil, romansa anak muda malah menginginkan nya pada suaminya.


Kenzo sampai tersenyum kecil menatap Tiara, seumur dia bersekolah di sini tidak pernah percaya dengan mitos itu bahkan tahun kemarin pun dia memilih sang guru untuk mengalungkan nya, tapi sekarang berbeda, ada wanita yang begitu dia sayangi dan dia mendadak percaya dengan itu dan menginginkan wanita itu yang mengalungkan nya dan berharap wanita itu pula yang akan menjadi pasangannya seumur hidupnya. "Ya, aku ingin istriku yang mengalungkan nya." tuturnya masih menatap Tiara dengan tatapan hangat.


Wit....wiw.....


Sorak-sorai sampai langsung terdengar, sejarah baru di sekolah Trisakti, ada murid yang mengucapkan kata istriku dalam pengobatan Trisakti.


Tiara sampai gelagapan, malu sendiri karena di soraki banyak orang, dia perlahan melangkah dan berdiri persis di depan suaminya.


"Pasangkan Bros nya dan suruh dia meminta satu keinginan," bisik sang petugas yang membawa nampan.


Tiara pun langsung mengambil Bros bintang kecil berwarna gold dan kembali menghadap suaminya, "Apa yang kau inginkan?" tanya nya sambil perlahan menyematkan Bros itu di kemeja seragam Kenzo di sebelah kiri.


"Hidup bahagia selamanya bersama mu, wahai istriku." bisik nya dengan tersenyum kecil. Ya. Baginya tidak ada permintaan lain selain hidup bahagia bersama wanita di depannya.


Tiara sampai tersipu malu, tidak mau semakin salah tingkah dia langsung mengambil medali gold itu dan perlahan mengalungkan nya saat Kenzo sudah membungkukkan badannya, "Selamat atas pencapaiannya, Sayang. Dan keinginan mu pasti akan terwujud karena aku pasti akan selalu bahagia hidup bersama mu." tuturnya dengan senyuman.


Sorak tepuk tangan semakin meriah, kini giliran Jonathan yang akan menerima medali nya.


"Azzura Fellysa. Mohon naik ke podium. Kata ketua osis kau yang harus mengalungkan nya!" Sang MC hanya bisa menyampaikan keinginan, dia sendiri tidak mengira karena tahun lalu pun lelaki yang di juluki si pemuda murah hati ini terlihat polos tanpa ada neko-neko.


"Maju....maju....!"


Sorak ring murid-murid semakin terdengar, sepertinya penobatan Trisakti kali ini akan lebih seru dari pada angkatan yang lalu.


Mau tidak mau Azzura pun maju dan langsung berdiri di depan Jonathan walau dengan perasaan malu, "Kenapa kau meminta ku mengalungkan nya?" bisik nya bertanya.


Jonathan langsung tersenyum tipis dan menatap wanita itu dengan tatapan hangat, "Because I love you." ucap nya dengan begitu tegas.


Sontak semua murid langsung bersorak. Acara menembak yang cukup berkesan dan berbeda dari yang lain.


"Terima.... Terima..." Suporter mulai bersorak, mereka berdua memang pasangan yang serasi.


Azzura sampai tertunduk malu, tidak bisa berkata-kata, dia langsung mengambil Bros bintang silver itu dan langsung mengenakan nya pada seragam Jonathan. "Cepat ucapkan apa keinginan mu karena aku ingin segera kembali." tuturnya dengan begitu gugup. Ayolah cepat karena dia bisa mati gaya jika terus berdiri di sana.

__ADS_1


"Aku ingin kau menjadi pacar ku." jawab Jonathan dengan tersenyum kecil. Rupanya wajah Azzura yang sedang tersipu malu lebih cantik dari biasanya. Membuatnya begitu senang saat menatapnya.


Azzura sendiri sampai terbatuk-batuk, bahkan sorak riang begitu menggema di seluruh aula, dan masuk ke rongga telinga nya.


"Terima..... terima!"


"Iya, keinginan mu terkabul karena aku bersedia menjadi pacar mu." bisik nya. Dengan cepat mengalungkan medali itu dan lekas kembali ke bawah sudah karena tidak kuat menahan malu.


"Dasar wanita itu." Jonathan langsung tertawa kecil, rencana untuk menembak Azzura berjalan dengan sempurna.


Kini giliran Tiara, momen yang di tunggu-tunggu oleh semua siswa bahkan semua guru. Bagaimana tidak, semua orang tidak menyangka kalau seorang Kenzo si brandal sekolah Trisakti yang terkenal dingin dan kejam kini terlihat jinak saat di depan pawangnya.


Bahkan di depan banyak orang dia tidak terlihat malu dan ragu memperlakukan wanita nya dengan begitu lembut.


"Jangan meminta sesuatu yang aneh," celetuknya sambil memasangkan Bros bintang itu di kemeja seragam Tiara.


Tiara sampai terkekeh, "Iya, keinginan ku tidak akan aneh-aneh kok."


"Apa?"


"Aku hanya ingin kau selamanya menjadi suami ku, dan tidak boleh ada wanita lain yang mengambil mu dari ku." pintanya dengan begitu serius.


Kenzo sampai refleks mengerakkan tangannya mengelus kepala Tiara, "Iya. Aku berjanji akan mengabulkan nya." tuturnya dengan senyuman, tanpa di minta pun dia pasti akan mengabulkannya. Dia pun langsung mengambil medali Tiara, dan perlahan memasangkannya.


Sorak murid-murid kembali terdengar, jiwa mana yang tidak terbawa perasaan melihat kemesraan mereka. Mereka menjadi ikut bahagia melihatnya.


"Cium dong, Ken! Jangan hanya di elus mulu." Mario bersorak dari bawah, mereka pasangan suami istri, tidak apa-apa kan berciuman di depan umum.


Tiara sampai melebarkan mata menatap Mario, jangan mengusulkan saran yang aneh karena suaminya itu pasti akan melakukan nya.


Cium... cium.... cium....


Sorak murid-murid yang lain malah mendukung, Kenzo sampai tersenyum kecil karena dia akan dengan senang hati melakukannya.


"Ken!" Tiara yang gugup. Please jangan di depan banyak orang terlebih ada guru di sana karena dia yang akan malu.

__ADS_1


Kenzo hanya tersenyum kecil, kedua tangannya bergerak menyibakkan poni Tiara, kepalanya perlahan menunduk.


Semua murid sampai histeris, sayangnya pemandangan itu tidak terlihat jelas karena Kenzo bergerak cepat dan hanya memperlihatkan bagian belakang kepalanya saja.


__ADS_2