
"Kau gila." Kenzo sampai terperangah tak percaya, menyeka bibirnya dengan begitu keras, pergerakan wanita itu terlalu cepat bahkan dia tidak mengira Shasa akan seberani itu padanya, dengan keras langsung mendorong tubuh Shasa tapi wanita itu malah melingkarkan tangan memeluknya.
"Jir, dasar ***-*** sialan." Kenzo benar-benar murka, langsung melepaskan tangan wanita itu dan mendorongnya dengan keras. Apa wanita ini benar-benar Shasa yang penah dia kenal, bukan hanya memuakkan kini wanita itu benar-benar murahan. "Minggir, an-jing." Shasa sampai tersungkur di lantai karena dia mendorongnya dengan keras.
"Aww," tubuh Shasa sampai terbentur namun dengan cepat dia kembali bangun. "Bukan hanya melukai ku, kau juga melukai istri mu, Ken." timpal Shasa dengan menyeringai senang. Persetan Kenzo akan memaki-maki nya seperti apa yang jelas dia sudah puas karena bisa membuat Tiara terluka. Bahkan wanita itu kini sudah berdiri di belakang Kenzo dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah penuh kekecewaan.
"Istri?" Deg. Kenzo langsung menoleh, melihat ke arah mata Shasa melihat sekarang, dan benar saja dia sampai terkejut melihat sosok Tiara yang sudah berdiri persis di belakangnya dengan penuh amarah "Tiara!" Kenzo memanggilnya lirih, langsung marahi tangan sang istri, tapi dengan cepat Tiara menghempaskan nya. "Aisst," Kenapa bisa kacau seperti ini. "Tiara," Dia kembali meraih tangan Tiara, dan lagi-lagi wanita itu kembali menghempaskan nya. Entah harus menjelaskan seperti apa, Tiara terlihat begitu marah pada nya.
"Lepas!" decak Tiara dengan begitu dingin. Hatinya sakit, bahkan begitu kecewa pada Kenzo, rasanya dia ingin menghindari lelaki itu dan menangis sejadi-jadinya, tapi dia harus menahan itu dengan begitu keras, dia tidak boleh terlihat lemah di mata wanita yang tengah tersenyum licik menatapnya, amarah begitu meluap-luap sampai rasanya ia ingin melampiaskan kekesalannya.
Melangkah semakin dekat menghampiri Shasa, rasanya dia ingin mencabik-cabik wanita itu dan memberi perhitungan pada nya, berani sekali wanita itu menyentuh suaminya, Palkkk, tanpa basa-basi dan tanpa kata-kata, dia langsung mendaratkan telapak tangannya di pipi Shasa, menampar wanita itu dengan cukup keras, sampai wajah Shasa terpental karena tamparan nya. Kemarahannya tidak bisa di toleran lagi melihat ketidaksopannan wanita itu. "Kau puas?" decak nya geram, inilah akibat karena berani mengusiknya.
Shasa sampai meringis kesakitan, hampir tak percaya, "Kau?" decak geram tak terima, pergerakan Tiara begitu cepat sampai dia tidak bisa menangkisnya. "Berani sekali kau menampar ku, hah?" bentak nya dengan begitu geram, matanya sampai melotot sempurna menatap Tiara.
"Kenapa, bukannya itu yang kau inginkan! Kau terus mempersulit hidup ku, bahkan kau sudah berani melawati batasan mu, Sha. Apa kau belum puas?" Tiara tidak kalah membentak Shasa dengan begitu keras. Hatinya sudah begitu terluka, dia tidak bisa terus memendam itu, bahkan dia kembali menampar wanita yang tengah menatapnya dengan tajam. Plakk, tamparan yang kedua kalinya, Shasa kembali meringis kesakitan karena tamparannya. "Sakit?" decak nya geram, tahanlah karena rasa sakit itu tidak seberapa dengan luka yang wanita itu torehkan di hatinya.
__ADS_1
"Kau gila?" Shasa sampai mengepalkan tangannya geram, pipinya terasa begitu nyut-nyutan. Wanita itu sekarang berani bermain fisik pada nya.
"Kau yang gila karena kau yang memulainya." timpal Tiara tidak kalah geram, "Maaf, Nek. Dia yang memulainya. Aku tidak bisa terus bersabar menghadapi nya." dia sampai bergelut dengan hatinya sendiri, hatinya menjerit, besar hati ingin memenuhi keinginan sang Nenek untuk menyayangi sepupunya, tapi sepupunya sendiri yang tidak pernah menghargai dirinya dan terus-terusan menyakiti nya. "Kau pikir aku akan terus bersabar dan mengalah menghadapi mu, jika kau bisa menjadi setan untuk terus mempersulit ku, maka aku bisa menjadi iblis untuk membalasnya." ancamnya dengan penuh penegasan. Sungguh dalam hati tidak ingin seperti ini tapi Shasa sendiri yang selalu mengikis kasih sayang nya.
Shasa sampai terhenyak tak percaya, bahkan Kenzo yang berdiri di belakang mereka sampai tertegun melihatnya.
"Tiara, kau salah besar karena berani menamparku." Shasa tidak terima, amarah nya tersulut, tangannya bergerak cepat ingin membalas tamparan Shasa, tapi kalah cepat dengan pergerakan Tiara yang begitu cepat menjambak rambutnya. "Aww." pekik Shasa sampai meringis kesakitan, kepalanya sampai terhuyung ke belakang karena tarikan tangan Tiara.
Tiara sampai menyeringai tipis, "Jangan pernah berpikir kalau aku lemah, Sha. Selama ini aku masih bisa bersikap lembut karena aku melihat sosok Nenek di belakang mu, tapi sekarang tidak lagi, kau sendiri yang menghilangkan itu, kau sendiri yang menginginkan hubungan persaudaraan kita berakhir, kan." ucapnya dengan penuh penegasan. Iya, sekeras ini Shasa pernah menjambak rambutnya, maka sekeras itu pula dia membalasnya, "Coba saja kalau kau ingin terus menyerang ku, maka dengan senang hati aku akan melawannya." decak nya dengan menyeringai, di tariknya rambut Shasa dan Ia hempasan dengan begitu keras, hatinya benar-benar puas, salah Shasa sendiri kenapa menorehkan luka begitu dalam di hatinya, "Sorry. Kau yang memulainya, Sha."
Tiara langsung berbalik, di sambut tatapan sang suami yang sedang tertegun menatapnya, "Argh, aku sedang kesal padanya, kenapa malah memasang ekspresi seperti itu," tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa menarik tangan sang suami agar lelaki itu menjauh dari wanita ***-*** yang berani menyentuh nya.
Kenzo hanya bisa tersenyum kecil, ditarik dengan pasrah mengikuti langkah sang istri yang entah akan seperti apa wanitanya itu akan menghukumnya. "Menampar dan menjambak rambut si ***-*** saja dia bernai, apalagi menghukum ku." gumamnya dengan tersenyum kikuk, bukannya takut, dia malah tertarik ingin melihat kemarahan sang istri, dia akan menerima hukuman dari Tiara karena dia sadar dia salah.
Di rasa tempat itu cukup sepi, Tiara langsung menghentikan langkahnya, melepas tangan Kenzo dan langsung berbalik dan menatap lelaki itu dengan begitu kesal. "Kau selalu mengatai ku bodoh, tapi kenapa kau sendiri yang bodoh. Kau bisa kan menghindari wanita itu," umpatnya tanpa basa-basi, tangannya bahkan bergerak cepat memukul lengan Kenzo sekeras-kerasnya. Kenzo selalu saja menasehatinya untuk berhati-hati, tapi lelaki itu sendiri yang lengah.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dia akan senekat itu." jawab Kenzo dengan enteng, iya, dia akan senang hati menerima omelan sang istri, karena dia memang salah. Jika posisi nya terbalik dan ada lelaki lain yang mencium Tiara di depan matanya, dia akan lebih menggila dan tidak akan menerimanya. "Maaf." lirihnya dengan tatapan sendu.
Tiara yang sedang kesal malah tidak berani memarahinya, "Argh, kenapa malah memasang ekspresi seperti itu," ucapnya dengan lirih, kedua tangannya langsung mencekam switer Kenzo, menundukkan kepala dan dia sandarkan di dada bidang suaminya,
"Aku berusaha menuruti perintah mu meski harus mendapatkan omelan guru, aku tidak apa meski harus divonis bolos sekolah bahkan sampai di rendahkan guru BK, itu tidak apa-apa karena aku tidak ingin merepotkan mu jika harus mengikuti kegiatan camping itu, aku tidak apa di pandang lemah karena terus bergantung pada mu, itu lebih baik dari pada orang lain melihat sisi lemah mu, tapi kenapa kau sendiri tidak berhati-hati, kenapa kau membiarkan wanita lain menyentuh mu dan membuat ku kecewa, kenapa?"
Tiara sampai menggeduk-gedukkan kepalanya pada dada Kenzo, ingin marah tapi tidak mampu lebih dari itu, dia hanya bisa mengeluarkan segala benak nya setelah dia di panggil guru BK, bicara dengan suara lemas, sampai air matanya terjatuh membasahi pipinya. Tidak apa jika tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk menduduki Trisakti sekolah, tapi tidak terima jika suaminya malah lengah sampai ada yang berani menyentuh, "Kenapa Ken?"
"Maaf." Kenzo tidak bisa berkata-kata, tangannya langsung bergerak memeluk Tiara, mendekapnya dengan erat untuk meredam kekesalan nya. "Aku berjanji hal itu tidak akan pernah terulang lagi, maaf." lirihnya lagi berusaha meyakinkan. Mendengar keluhan sang istri dia menjadi geram, sudah pasti Tiara sampai seperti itu karena ulah guru BK tadi.
"Akan ku pastikan semuanya baik-baik saja, jangan menangis!" seru Kenzo berusaha menenangkan Tiara, dengan lembut tangannya terus bergerak mengelus-elus kepala sang istri, meyakinkan wanitanya kalau tidak akan ada lagi yang berani merendahkan ataupun menghinanya. Dia pastikan akan membalaskan rasa sakit Tiara, bila perlu dia akan mendatangi kepala sekolah nya langsung untuk memberi perhitungan agar guru-guru Trisakti mendapatkan teguran. "Jangan terus memikirkan masalah camping itu lagi, aku akan membereskannya," serunya lagi sambil meregangkan pelukannya, menatap wajah sang istri dan perlahan menyeka setiap air matanya.
"Tersenyum lah! istri ku ini selalu terlihat cantik jika tersenyum." ucapnya dengan tersenyum kecil, dia tidak pandai merayu wanita jadi bingung harus bagaimana, rasanya apapun akan dia lakukan agar Tiara bahagia. "Apa kau mau liburan?" tanyanya sambil merapikan poni Tiara. Sepertinya sang istri belum sepenuhnya memaafkannya karena masih diam tanpa kata.
"Kau sedang menyogok ku." akhirnya Tiara bicara. Bisa-bisanya Kenzo menawarkan liburan di saat seperti ini.
__ADS_1
Kenzo sampai tersenyum kecil dan mengelus puncak kepala Tiara, "Iya, dari pada mengikuti kegiatan camping yang merepotkan bukannya akan lebih baik jika kita liburan saja, kita tidak akan divonis bolos karena izin sekolah," ucapnya dengan begitu enteng. Semuanya tidak akan menjadi sulit karena dia bisa mempermudahnya.