Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hati-hati.


__ADS_3

Pluk....


Kenan melempar beberapa foto di atas meja kecil di ruangannya, berita yang di bawa oleh bawahan putranya membuatnya tercengang, "Mario benar-benar gila, apalagi yang sedang dia rencanakan?" decak nya geram, tidak habis pikir, Mario begitu nekat sampai menyamar masuk ke sekolah tempat putra dan menantu nya belajar. "Kau harus berhati-hati, Ken!" ucapnya pada sang putra yang sama-sama ada di sana.


"Baik, Dad. Lalu apa sekarang yang akan Daddy rencanakan? kalau kita gegabah yang ada dia akan berhasil kabur lagi." tuturnya ikut bicara, Mario harus segera di tangkap terlebih sang bawahan yang dia percaya hanya mampu mendapatkan foto-foto bajingan itu dan tidak bisa mendengar jelas apa yang lelaki itu rencanakan. Lelaki lelaki itu orang licik, butuh strategi baik untuk bisa menangkapnya.


"Itu urusan Daddy, Daddy harus bicara dulu dengan pihak kepolisian," timpal Kenan dengan tegas, bagaimanapun Kenzo masih remaja, tidak sepatutnya dia terus melibatkan putarnya itu dalam masalah rumit seperti ini, "Untuk sementara bersikaplah seperti biasa seolah kita tidak mengetahui penyamarannya," lanjutnya lagi memberi arahan, kecoh saja bajingan itu agar terus merasa aman bersembunyi dengan kedok nya sekarang, buatlah lelaki itu lengah agar dia bisa merencanakan penangkapan yang begitu sempurna untuk lelaki itu.


"Baik, Dad."


"Akan Daddy pastikan, bajingan itu tidak akan lolos lagi," tuturnya dengan menyeringai. Dia akan buktikan kalau salah besar bajingan itu malah berani masuk dan bersembunyi di kandang singa keluarga Wijaya.


...~...


Pembicaraan selesai, Kenzo pun kembali ke atas untuk beristirahat, sekarang tinggal menunggu arahan sang Daddy setelah Daddy-nya itu mengatur rencana dengan pihak kepolisian.


Cklek....


Pintu kamar terbuka, Kenzo perlahan masuk dan di sambut Tiara yang ternyata tengah duduk di sofa kamar menunggunya.


"Ken!"


Kenzo langsung mendekat, setelah mengecup kening Tiara dia langsung merebahkan tubuhnya dengan kepala bersandar di paha sang istri. Tubuhnya begitu lelah, pikirannya penuh kegelisahan, masalah Om Mario kini lebih rumit dari pada saat menghadapi Arzan, terlebih sekarang dia berasa menghadapi lelaki itu seorang diri tanpa bantuan sang istri. "Kenapa belum tidur?" tanyanya dengan tangan bergerak membelai rambut panjang Tiara.


Tiara sesaat mematung, walau sudah sering mendapatkan kontak pisik dari Kenzo, tetap saja dia selalu kaget terlebih saat sentuhan lembut bibir lelaki itu mendarat di wajahnya, "Aku menunggu mu," lirihnya sambil mantap wajah Kenzo yang terlihat begitu lesu, akhir-akhir ini lelaki itu selalu saja menghampiri sang Daddy dan selalu wajah lesu seperti ini yang dia lihat tatkala lelaki itu selesai bicara dengan Daddy-nya, "Apa kau sakiti? kelihatan lelah sekali?" ucapnya bertanya, tanpa sadar tangannya langsung bergerak menyentuh kepala Kenzo dan mengelus-elus rambutnya.


"Hanya lelah saja," jawabnya singkat, nyaman, itulah yang Kenzo rasanya, sentuhan tangan Tiara membuatnya ingin langsung berbaring dengan memeluk istrinya itu, tapi sayang, ada hal yang harus dia sampaikan, "Tiara!"

__ADS_1


"Hem, apa?"


"Kau lihat kan sikap Pak Matteo saat di sekolah tadi, meskipun dia seorang guru kau harus tetap berhati-hati pada nya." tutur Kenzo berusaha mengingatkan, dia tahu attitude Tiara, wanita itu akan selalu bersikap sopan terlebih pada seorang guru yang harus dia hormati, wanita itu pasti akan selalu mematuhi dan menaati Pak Matteo itu, dan pasti tidak akan bisa menolak apapun perintahnya.


Tiara sesaat terdiam, tidak di pikirkan pun dari tadi siang dia merasa ada yang sesuatu yang terjadi, suaminya itu terlihat sibuk dengan ponselnya menghubungi orang sana sini, dan lagi nama Pak Matteo terdengar di dalam pembicaraannya, "Sebenarnya ada apa?" tanyanya penasaran. Bisakah dia di beri tahu apa beban yang di pikirkan suaminya ini.


"Tidak ada apa-apa, kau hanya perlu berhati-hati saja." Kenzo tidak bisa banyak bercerita, terlebih itu bersangkutan dengan Arzan, dia tidak mau menambah tekanan pada istrinya.


"Iya aku akan berhati-hati, dan maaf, maaf, aku selalu saja merepotkan mu," lirih nya merasa bersalah. Bagaimana tidak, setelah dia tersadar dari kecelakaan dia terus saja merepotkan Kenzo dan sekarang masalah dengan Pak Matteo pun pasti gara-gara dirinya. Kenzo sampai berdebat dengan guru itu juga karena ingin melindunginya.


Kenzo sampai tersenyum kecil, "Kenapa minta maaf, kau sama sekali tidak merepotkan, apapun yang aku lakukan itu adalah tanggung jawab ku pada mu, Tiara. Kau istriku, sudah sepantasnya aku melindungi mu."


Tiara sampai tertegun malu, "Terima kasih,"


...***...


Sedangkan di sisi lain di sebuah ruangan; tempat di mana Pak Matteo menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, dia terlihat duduk di mejanya sambil melihat tumpukan lembaran-lembaran kertas ujian murid kelas unggulan yang harus dia periksa.


"Argh, sungguh memuakkan." decak nya kesal, dia masuk ke sekolah hanya untuk membalaskan dendam atas tertangkapnya Arzan, tapi kenapa sekarang harus di buat repot oleh hal seperti ini. "Heh, mana botol air mineral itu?" tanyanya pada sang bawahan. Lelaki yang selalu mengabdi pada nya kini dia seret masuk ke sekolah dan dia jadikan sebagai asisten nya agar dia bisa lebih mudah menjalankan misinya.


"Ini Tuan." Lelaki itu langsung menyimpan botol air mineral itu, langsung terkejut tatkala Bos nya memasukkan bubuk narkoba jenis sabu-sabu itu kedalam air itu, "Itu untuk apa Tuan?" tanyanya heran. Bukannya akan menjebak putra Pak Wijaya, tapi kenapa malah memasukkan serbuk itu pada minumannya.


"Terlalu klasik jika hanya menyimpan serbuk ini di tas anak itu, ayo buat dia juga harus meminumnya." jawab Mario dengan menyeringai, kebetulan sekali dia enggan memeriksa kertas-kertas ujian ini, dia bisa memanfaatkan momen ini untuk menjebak Kenzo. "Kau mengerti kan apa maksud ku?" tanyanya memastikan. Bawahan nya itu seorang penjahit profesional, seharusnya lelaki itu sudah mengerti apa yang harus dia kerjakan tanpa dia jelaskan.


"Siap, Bos."


Bawahan Mario langsung keluar ruangan, berjalan menuju kelas unggulan dengan tangan memegang botol air mineral yang tadi untuk melakukan tugasnya.

__ADS_1


"Kenzo," Panggilannya pada sosok pewaris keluarga Wijaya, saat dia sudah sampai di kelas unggulan.


Bukan hanya Kenzo yang menoleh, seluruh murid yang ada di kelas langsung melihat ke sumber suara.


"Bukannya itu asisten Pak Matteo, dia memanggil mu tuh Ken," Jonathan langsung menyenggol lengan Kenzo, menyadarkan lelaki itu yang tengah fokus pada ponselnya.


Azzura yang ada di samping Tiara ikut bersuara, "Enak ya, masa-masa ujian seperti ini tiap guru pasti memiliki asisten untuk membantu tugasnya."


Kenzo langsung menoleh, "Apa?" jawabnya sambil menatap lelaki paruh baya itu, seorang asisten guru memang selalu ada saat masa-masa ujian, tapi dia tidak bisa memprediksi itu sebelumnya, apa lelaki itu murni asisten guru atau orang-orang kawanan bajingan itu.


"Pak Matteo membutuhkan bantuan mu, kau di tunggu di ruangan nya," ucap asisten itu tanpa basa-basi.


Kenzo sesaat terdiam, kewaspadaan nya semakin tinggi, apa sekarang yang di rencanakan si Tua itu, "Maaf Pak, bukannya ada bapak, bapak asisten nya kenapa malah meminta bantuan saya."


"Saya di suruh memfotokopi beberapa berkas, mohon patuhi permintaannya, Pak Matteo terlihat kerepotan."


Kenzo sampai menghela nafas, dia harus bersikap selayaknya murid agar tidak mengusik si Tua itu, "Baiklah." ucapnya patuh sambil menatap Tiara, kalau hanya dia yang di panggil sepertinya tidak apa-apa, karena Tiara akan baik-baik saja bersama teman-temannya. "Aku menemui Pak Matteo dulu," pamitnya pada Tiara.


Tiara sampai refleks menyentuh tangan Kenzo, "Ken?" panggil nya dengan begitu khawatir, lelaki itu yang menasehati nya untuk berhati-hati pada guru itu, jadi Kenzo pun harus demikian.


"Iya, jangan kemana-mana sebelum aku kembali." pintanya sambil beranjak berdiri, setelah mengecup kening Tiara dia pun langsung berjalan pergi meninggalkan kelas nya.


Jonathan yang yang melihat adegan itu sampai mangap tak percaya, si dingin Kenzo tanpa ragu mengekspresikan perasaannya pada seorang wanita di depan umum, "Astaga.... Kalau mau pergi, pergi saja napa, kenapa harus mencium dulu istrinya." umpatnya kesal, jiwa jomblo nya jadi meronta-ronta melihat adegan itu.


Tiara sampai tersenyum malu, sedangkan Azzura hanya cengar-cengir mendengar umpatan Jonathan, baginya adegan itu terlihat biasa, karena lebih dari itu dia pernah melihatnya.


...~...

__ADS_1


Kenzo sudah berdiri di depan pintu ruangan Pak Matteo, sebelum masuk dia mengirim pesan terlebih dahulu pada Daddy-nya. "Dad, sekarang waktu yang tepat." tulisnya pada pesan itu. Dia tidak mau menanggung resiko jika Mario berbuat macam-macam, jalankan rencananya sekarang, terlebih situasi ini jauh dari kerumunan murid lain dan yang lebih penting di sana tidak ada Tiara.


__ADS_2