
"Kau gila, jangan macam-macam, Arzan. Apa kau tidak lihat bertapa ketatnya penjagaan mereka." Mario berdecak geram, tidak ada di lokasi pun dia bisa melihat dari layar televisi nya. Acara live di sebuah stasiun TV memperlihatkan penjagaan ketat para bodyguard keluarga Wijaya yang mengawal atasan mereka sampai ke pintu utama gedung. Dia tahu adiknya itu kesal pada keluarga Wijaya tapi tidak harus gegabah seperti ini, salah melangkah saja mereka yang akan kembali terpuruk menanggung kecerobohan mereka.
"Bahkan tidak ada sedikitpun celah jika kau ingin menembak wanita itu." tutur nya lagi. Bukan hanya di kawal beberapa bodyguard, wanita yang di targetkan adiknya itu terus berada dalam rangkulan suaminya, mana bisa sniper kepercayaan nya bisa menebak tepat sasaran.
"Ayolah, Bang. Orang-orang mu sniper jitu kan, aku sudah terlalu kesal pada wanita itu. Bunuh saja wanita itu, maka Pak Kenan dan si Kenzo itu pasti akan merasakan apa yang kita rasakan setelah kepergian Ayah." timpal Arzan di balik alat komunikasi nya. Dia sudah tidak sabar ingin melancarkan tembakan tapi Kakak nya itu terus saja menghalanginya.
"Oke, gue tahu lo begitu kesal pada mereka, tapi cari waktu yang tepat, Arzan. Pilihlah cara yang lebih halus agar kita tidak ikut terperosok pada lubang yang kita buat." timpal Mario berusaha menasehati adiknya. Jika mengeksekusi wanita itu sekarang itu terlalu beresiko. Tahanlah sebentar amarah dan kekesalannya. "Aku punya cara yang lebih baik untuk membalaskan dendam kita." tutur nya menjelaskan. Terbalaskan jika satu tembakan itu akan tepat sasaran, bagaimana kalau tidak. Ke depan nya Pak Kenan pasti akan curiga dan akan lebih memperketat pengawasan untuk keluarga nya, dan itu akan membuat dia dan adiknya itu tidak bisa punya kesempatan baik untuk menghabisi nyawa putra maupun menantu keluarga Wijaya.
"Argh.... Baiklah, semuanya mundur!" Walau kesal akhirnya Arzan menurut, menyuruh semua orang-orang yang Kakaknya kirimkan untuk mundur dari sekitaran gedung, mereka harus tarik ulur untuk membalaskan dendam nya. Mundur dulu menunggu waktu yang tepat sampai keluarga Wijaya lengah. "Lalu apa yang Abang rencanakan sekarang?"
"Ikutlah denganku! terus hidup dengan Prawira pun percuma karena kau sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari nya." tutur Mario dengan menyeringai, mengetahui fakta kalau putra dan menantu Pak Kenan masih anak SMA di mendadak memiliki rencana yang menarik. "Kau harus menghilang, dan setelah itu kau bisa kembali tapi tidak dengan jati diri mu yang sekarang, Arzan."
"Baik, bang."
...*...
Beberapa jam berlalu, rapat telah terlaksana dengan lancar dengan hasil yang memuaskan tanpa ada hambatan dan perdebatan, dari awal adanya perseteruan antara perusahaan Wijaya dan perusahaan Prawira memang karena Arzan, sekarang sang perusuh sudah tidak memegang kuas maka kerja sama antara Prawira dan Wijaya pun terlaksana.
Acara makan-makan tiba, Bapak menteri terlihat menghampiri meja di mana Prawira dan Kenan berada, "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-tuan." tuturnya sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Kenan dan Prawira bergantian, dia langsung membungkukkan kepala pada sosok Kenan sebagai permintaan maaf pernah salah paham dengan brand yang telah mereka luncurkan.
"Maaf atas ketidak sopanan kami. Putra dan menantu Tuan, sungguh menakjubkan." decak nya kagum, sambil beranjak duduk di kursi kosong di samping Kenan. Pengusaha ternama di negara ini memang tidak pernah mengecewakan, terlebih saat melihat persentase dan penjelasan dari sang pewaris mereka. Dia saja sampai terheran-heran, begitu cerdasnya sosok putra dan menantu keluarga Wijaya sampai bisa meyakinkan semua pihak, setiap brand dari perusahaan Wijaya tidak harus di ragukan kelayakannya, bahkan para mitra-mitra mereka pun patut di berikan penghargaan karena kerja keras mereka yang telah ikut mengharumkan nama negara, berkata kerja sama mereka pasar perusahaan Wijaya sudah mencakup manca negara.
"Terima kasih, Pak. Ini semua tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan Bapak dari pihak kepemerintahan." timpal Kenan ikut berbungkuk. Bukan hanya bapak menteri saja yang kagum pada sosok Tiara, dia saja yang Ayah mertuanya begitu kagum. Rupanya walau gadis desa wanita itu mempunyai kelebihan dari remaja-remaja lainnya, sampai bisa mengimbangi kecerdasan putranya.
__ADS_1
"Dan selamat atas pernikahan putra anda, Tuan. Jangan lupa mengundang kami jika acara resepsi pernikahan mereka di gelar." pinta Bapak menteri, sekarang tidak ada yang di sembunyikan lagi, tidak mungkin kan keluarga terpandang seperti mereka tidak mengadakan pesta untuk pernikahan putra semata wayangnya.
Kenan hanya bisa tersenyum kecil, dia sendiri tidak terpikir sampai ke sana, "Iya, baik Pak." jawabnya singkat. Entah akan kapan resepsinya di gelar. Iya kan saja. Orang yang ada di sampingnya merupakan orang petinggi negara, dia tidak bisa mengabaikan permintaan nya.
Di sudut lain, Tiara terlihat masih sibuk bersama Roni melayani pembicaraan orang-orang asing yang merupakan rekan bisnis mereka. Sedangkan Kenzo terlihat duduk di meja yang lain, lelaki yang mempunyai sifat dingin itu tidak pandai bercengkrama terlebih dia tidak pandai berpura-pura memasang senyum pada lawan bicaranya, di langsung menghindar dan memilih duduk santai bersama Jonathan.
"Sungguh mengejutkan, akting yang begitu sempurna, Ken." omel Jonathan karena selama ini lelaki itu telah membodohi nya. "Bahkan setiap kali ada orang yang membicarakan tentang pewaris keluarga Wijaya kau selalu diam saja padahal orang-orang itu tengah membicarakan mu." decak nya sambil geleng kepala, bukan hanya itu yang membuatnya tercengang. Selama ini dia selalu mengeluhkan tentang masalah Arzan, dan ternyata orang yang tengah di serang Arzan adalah orang yang selalu menjadi tempat curhatnya sekaligus orang yang selalu membantunya. "Thanks, berkata kalian kebusukan Arzan kini sudah di ketahui semua orang." ucapnya penuh terima kasih.
"Iya, syukurlah. Sekarang kau tidak akan merengek lagi kan?" timpal Kenzo dengan candaan. Seharusnya sekarang sosok Arzan tidak akan lagi menjadi ancaman untuk Jonathan.
"Iya," timpal Jonathan dengan tersenyum malu, jika di sekolah dia selalu di segani banyak murid karena pangkatnya tapi saat di depan Kenzo dia bak anak kecil yang tidak bisa apa-apa. "Walau Ayah tidak sampai mengusirnya. Lelaki itu sudah tidak lagi di percaya Ayah."
"Terus awasi dia, jika ada pergerakan yang mencurigakan terus kabari aku." pinta Kenzo dengan tegas. Seorang Arzan pasti tidak akan tinggal diam dan mengakui kekalahan begitu saja. Saat acara ini aman dan lancar saja dia langsung menaruh kecurangan pada lelaki itu.
Kenzo langsung menoleh, tangannya langsung mengepal geram tatkala ada beberapa lelaki asing yang mungkin lebih tua dari nya sedang berbincang dengan Tiara. "Aisst, lalat-lalat menyebalkan. Kalau saja Ayah mereka tidak sedang bekerjasama dengan Daddy akan ku hajar kalian." umpat nya geram. Tidak mau terus diam dia langsung beranjak berdiri menyusul Tiara.
Sementara itu, Tiara hanya bisa duduk diam melayani pembicaraan mereka, ya mau bagaimana lagi, ini demi personal kerja. Bahkan dia harus mengulurkan tangannya tatkala ada yang mau berkenalan dengan nya.
"Not only beautiful You are also very smart, can we exchange cell phone numbers so we can be closer." (Bukan hanya cantik Kau juga sangat pintar, bisa kita bertukar nomor ponsel agar bisa lebih dekat.) pinta salah satu dari mereka. Bahkan bule itu langsung mengeluarkan ponselnya berharap Tiara bisa memberikan nomor ponselnya.
"Apa mereka tidak mendengar saat perkenalan tadi, sudah kubilang aku sudah punya suami, kenapa mereka terus seperti ini." Tiara hanya bisa tersenyum yang di buat-buat, mau menolak takut menyinggung perasaan mereka. Tapi kalau di biarkan dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. "Emm sorry. I--" mau bicara, tapi Kenzo tiba-tiba duduk di samping nya bahkan langsung mengecup kepalanya. "Ken?"
"Sorry I just got back, what are you guys talking about?" (Maaf aku baru kembali, kalian sedang membicarakan apa?) ucapnya tanpa dosa, setelah melingkarkan tangannya dengan begitu mesra dia langsung menatap bule-bule yang sedang menggoda istrinya. "Sorry, what are you guys talking about with my wife?" (Maaf, apa yang sedang kalian bicarakan dengan istri saya?) ucapnya lagi dengan begitu dingin, bahkan dengan sengaja mempertegas kata istri agar lelaki lelaki itu tahu diri.
__ADS_1
"Ken, jangan galak-galak. Mereka hanya meminta nomor ponsel ku." bisik Tiara berusaha meredam emosi suaminya. Jangan memancing amarah mereka, sang Daddy baru saja memperbaiki hubungan dengan orang tua mereka, dia jangan mengacaukan nya.
"This is Kenzo, he is my husband." Tiara kembali bersuara, berusaha meredam kecanggungan. Ini demi personal kerja, jangan sampai memperkeruh suasana. Walau dia tahu mana mau suaminya itu memberikan nomer ponselnya dengan begitu saja pada orang lain.
"Alberto!" lelaki itu langsung memperkenalkan diri, menatap Kenzo.
Aisst, Mau bagaimana lagi, Kenzo kembali menatap bule-bule itu dengan memasang senyum yang di paksakan. Langsung menatap lelaki sang tokoh utama yang berani meminta nomor ponsel Tiara. "Sorry, let me type the number. Even though my wife is smart, she doesn't know her own cell phone number." (Maaf, biar saya yang mengetikkan nomor nya. Walau istri saya pintar, dia tidak hapal nomer ponselnya sendiri.) ucapnya dengan begitu santai. Dia langsung mengambil ponsel lelaki itu dan mulai mengetikkan nomor ponsel nya sendiri.
Tiara hanya bisa menahan tawa, bisa-bisanya Kenzo membuat alasan seperti itu, padahal jelas dia sedang menyimpan nomor nya sendiri di ponsel lelaki asing itu.
"Nih." Kenzo kembali mengembalikan ponsel itu dan langsung di terima lelaki asing itu dengan girang.
"Thank you, I will definitely contact you." (Terima kasih, aku pasti akan menghubungi mu.) ucap lelaki yang bernama Alberto dengan tersenyum menatap Tiara.
Kenzo sampai jengah, "Iya, hubungi saja. Karena aku yang akan melayaninya." umpatnya kesal. Ingin sekali dia mencakar wajah so tampan itu.
Tiara sendiri hanya mengangguk dengan senyuman, tangannya dari tadi tidak lepas menggenggam tangan Kenzo meredam emosi lelaki itu.
"Nice to meet you, Tiara. See you again." (Senang berkenalan dengan mu, Tiara. Sampai berjumpa lagi.) ucap Alberto sambil berlaju pergi. Dia sudah mendapatkan nomor ponsel Tiara, saat kembali ke Indonesia pasti dia akan semakin dekat dengan wanita ini.
"Iya, pergi sana An-jing. Jangan kembali lagi." Kenzo sampai uring-uringan. Jadi begini rasanya menjadi orang munafik. Wajah harus tersenyum tapi hati begitu kesal ingin sekali menonjok lelaki itu.
Tiara sampai menahan tawa, tangannya langsung membalas rangkul Kenzo meredam kekesalan nya, "Sabar, sayang!" bujuknya sambil mengecup pipi sang suami. Dalam berbisnis inilah resiko yang harus di hadapi. Harus terlihat ramah di hadapan semua orang.
__ADS_1