Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Kau, datang?


__ADS_3

"Dad, Mom. Kalian juga lihat kan bagaimana mereka merendahkan Tiara. Apalagi Pak Arya terlihat begitu kasar padanya." Kenzo berusaha menjelaskan kalau tingkah dia tidaklah gegabah, dia hanya ingin membantu Tiara.


Kenan langsung menghela nafas, dia sedikit ragu. Permintaan Kenzo terlalu berlebihan. Dia tidak bisa dengan mudah memberikan izin agar Tiara bisa tinggal bersama mereka.


"Mas, Tiara gadis sebatang kara. Keluarga pamannya memperlakukan dia dengan tidak baik, tidak ada yang bisa membantunya selain kita, apa kita akan diam saja? Tiara tunangannya Kenzo. Tidak ada salahnya jika dia tinggal di sini. Kita anggap Tiara seperti putri kita sendiri."


Ze ikut bersuara. Berusaha meyakinkan sang suami kalau mengizinkan Tiara tinggal bersama mereka bukanlah hal yang salah. Toh membiayai satu anak lagi bukan lah perkara yang susah bagi mereka.


"Iya, baiklah. Susul Tiara sana. Daddy yang akan bicarakan dan menjelaskan soal ini dengan Pak Arya besok." Akhirnya Kenan memberi izin. Dia sebagai kepala keluarga memang harus bertanggung jawab untuk putra dan tunangan putranya. Terlebih dia pun menyadari kalau Tiara tidak di perlakukan baik oleh keluarga Arya.


"Terima kasih, Dad." Kenzo sedikit bernafas lega, kini tinggal membereskan Tiara dan mengajak wanita itu tinggal di rumahnya.


"Minta di antar oleh pak Tono, dia tahu alamat rumah Pak Arya. Dan hati-hatilah


ini sudah cukup malam," ucap Kenan lagi. Menasehati Kenzo sebelum putranya benar benar pergi menjemput Tiara.


"Baik, Dad." Kenzo langsung melangkah ke luar, dia tidak ingin buang-buang waktu sebelum terjadi apa-apa pada Tiara


...*...


Mobil yang di tumpangi Arya baru sampai di depan rumahnya. Widia dan Shasa keluar terlebih dahulu, langsung menarik Tiara keluar mobil dan menariknya masuk ke dalam rumah.


"Bi, sakit." Tiara merintih, Widia begitu keras menggenggam pergelangan tangan dan menariknya.


"Sakit, sakit. Jangan manja kamu. Tadi begitu percaya diri, sekarang merengek seperti anak kecil." Widia bicara sambil mendelik kesal. Walau Tiara merintih dia tidak ada niatan untuk melepaskannya.


"Rasakan, ini balasan karena kau berani mempermalukan ku." Shasa ikut bicara. Tangannya dengan keras menarik rambut Tiara sampai tatanan rambut nya bermatakan tidak beraturan.


"Aww, sakit Sha. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Tiara semakin menjerit, langsung memegang kepalanya yang sudah tertarik ke belakang.


"Kau pikir cukup hanya dengan minta maaf hah?" Shasa langsung melotot, rasanya dia belum puas melampiaskan amarahnya.


Dia terus menarik rambut Tiara sampai gadis itu tidak berani untuk bersuara.


Sementara itu, Widia dengan cepat mengambil air, langsung menyiramkan air itu pas di wajah dan kepala Tiara sampai bercucuran membasahi pakaiannya.

__ADS_1


"Jangan so cantik ya kamu, sekali gadis kampung, kau akan terlihat kampungan. Dasar tidak tahu malu." cibir Widia dengan ketus, rasanya ia ingin merobek-robek wajah Tiara agar gadis itu tidak kembali berulah apabila sampai berani menyaingi putrinya.


"Akhhhh." Tiara hanya bisa menjerit dalam hati. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Dia sudah tidak tahan dengan siksaan mereka, berharap ada keajaiban dan dia bisa selamat dari amarah mereka yang sudah membabi buta.


"Jangan menangis, dasar cengeng." decak Widia lagi, saking kesalnya, dia langsung mendorong tubuh Tiara sampai wanita itu ambruk jatuh ke lantai.


"Seharusnya kau bersyukur karena kita masih menampung mu di sini." timpal Shasa, kakinya sampai bergerak menendang kaki Tiara yang duduk ambruk di depannya.


Sementara itu, Arya baru terlihat memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya. Dia langsung menghampiri Sang istri beserta putrinya yang sedang berdiri di depan Tiara.


"Tiara, jika saja kamu mendengarkan perkataan paman. Kamu tidak akan kesusahan seperti ini." Arya bersuara, entah itu nasehat atau ancaman. Dia tidak merasa kalau tingkah Shasa dan Widia melewati batasan. Sampai dia terus membiarkan istri dan putrinya menyiksa Tiara.


...*...


"Pak Tono, apa tidak bisa melaju lebih cepat." Kenzo sedari tadi terus bicara, menyuruh supir nya untuk lebih cepat mengendarai mobilnya.


"Maaf, Den. Ini sudah sangat cepat. Kalau kecepatannya di tambah bisa bahaya."


Sang sopir menjawab dengan begitu lugas. Dia tahu Tuan muda nya ingin segera sampai di tempat tujuan, tapi dia tidak bisa terus menancap gas, terlalu beresiko di tambah keadaan malam yang gelap membuat jarak pandangnya terbatas.


"Tenang Den, sebentar lagi kita sampai." Sang sopir berusaha menenangkan Kenzo, dia bisa melihat jelas rasa khawatir yang tergambar jelas di wajah Tuan muda nya. Dia sampai tidak tega dan langsung menancap gas mempercepat laju mobilnya.


...*...


"Kalian puas? kalian puas memperlakukan ku seperti ini," Tiara kini bersuara, tangannya ia kepalkan dengan begitu keras, walau seluruh badannya terasa sakit, dia harus bisa melawan sang paman dan keluarganya.


"Asal kalian tahu, kalau saja paman tidak menjual rumah itu. Aku juga tidak mau tinggal di sini, aku lebih baik hidup di kampung dan tidak mau kenal dengan kalian."


Tiara berusaha meninggikan suaranya, dia harus kuat agar tidak mudah di tandas.


"Kau masih berani bicara padahal sudah membuat kesalahan besar," Arya langsung menimpali. Nada suaranya sampai begitu tinggi. Dia kesal karena Tiara malah menyalahkannya.


"Kesalahan apa? Aku tidak pernah melakukan kesalahan. Aku bertunangan dengan Kenzo itu juga karena, Shasa. Dia yang menolak perjodohan itu makanya aku menggantikannya. Seharusnya Shasa yang di salahkan, kenapa paman malah menyalahkan ku?"


Tiara kembali bicara, kali ini rasa takutnya hilang. Terserah mereka akan memperlakukan dia seperti apa. Setidaknya dia sudah melawan walaupun akhirnya tetap kesakitan.

__ADS_1


"Kau, kenapa tidak sopan sekali hah. Dasar benalu. Seharusnya kau berterima kasih karena bisa tinggal di sini."


Widia menimpali, punya keberanian dari mana Tiara sampai berani bicara seperti itu pada suaminya. Dia sampai kesal sendiri, langsung meraih rambut Tiara dan kembali menariknya dengan begitu keras.


"Awww."


"Bagaimana? Sekarang kau masih berani untuk bicara? Apa ini kurang sakit sampai kau masih berani bicara tidak sopan."


Widia makin keras menarik rambut Tiara. Suara rintihan Tiara sampai menggema karena ulah dirinya.


"Lepaskan! Apa kalian sudah gila?"


Suara Kenzo tiba-tiba terdengar dengan begitu menggelegar. Dengan cepat dia menghampiri Tiara di ikuti sang sopir di belakangnya.


"Nak Kenzo?"


Arya sampai terkejut. Shasa dan Widia tidak kalah terkejut, di tambah Kenzo semakin mendekat ke arah mereka dengan tatapan penuh amarah.


"Lepaskan tangan kotor anda dari tunangan saya!" Kenzo kembali bicara, dia sampai melebarkan mata, tidak habis pikir mereka bisa sekejam itu pada Tiara.


Widia sampai refleks melepaskan tangannya dari rambut Tiara dan kembali berdiri tegak.


"Maaf, aku terlambat." Kenzo berucap lirih, dia sampai menatap Tiara dengan penuh penyesalan. Langsung berjongkok dan merangkul Tiara ke dalam pelukannya. "Maaf." ucapnya lagi, sambil mengelus kepala Tiara. Berusaha menenangkan gadis itu kalau sekarang dia akan baik-baik saja.


"Ken!" suara Tiara sudah melemas, kedatangan Kenzo bagaikan tenaga baru untuknya. Dia hampir tidak percaya, apa ini benar nyata? atau hanya halusinasi saja. "Kau, datang?"


"Iya, aku datang untuk menjemput mu. Ikutlah denganku. Di sini bukan tempat yang pantas untuk mu." Kenzo kembali bicara, melepaskan pelukannya dan langsung menatap Tiara, tangannya sampai bergerak menyeka semua air mata Tiara yang membasahi pipinya. "Kau mau kan pulang dengan ku?" tanyanya lagi kembali memastikan.


Tiara langsung menganggukkan kepala mengiyakan ajakan lelaki itu.


"Ayo!" Kenzo langsung membuka jas bajunya, memakaikan pada Tiara dan perlahan membantu wanita itu untuk berdiri.


"Pulang? Rumah nya di sini Ken. Kau mau membawanya ke mana?" Shasa sampai tidak percaya, Kenzo benar benar mempedulikan Tiara sampai datang ke rumahnya, bahkan ingin membawanya keluar dari sana.


"Kau sebut ini rumah?" Kenzo sampai tersenyum miris. Bisa-bisanya Shasa masih berani bicara setelah melihat kemarahannya.

__ADS_1


Kenzo enggan berlama-lama di sana. Banyak bicara pun percuma. Dia langsung menatap Arya, "Di sini bukan tempat yang pantas untuk di tinggali Tiara, saya akan membawanya pulang. Permisi." ucapnya seolah berpamitan, tingkah Arya dan keluarganya begitu menyebalkan dia masih menghargai orang tua paruh baya itu sebagai pamannya Tiara. Walau sebenarnya tangannya sudah gatal ingin sekali memukul tua bangka yang tidak berwibawa itu.


__ADS_2