Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Maaf telah melupakan semuanya.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Kenan harus pulang dulu karena harus mengurus beberapa urusan, Ze yang sudah terbiasa melayani sang suami tidak bisa membiarkan Kenan pulang seorang diri, membuat keduanya harus pamit pulang terlebih dulu, dan berjanji akan secepatnya untuk kembali ke rumah sakit.


"Maaf ya, sayang. Mommy tinggal dulu sebentar." pamit Ze sambil mengecup kening menantunya itu. Setelah wanita itu mengangguk dia dan suaminya langsung keluar ruangan meninggalkan putra dan putrinya itu.


Keadaan kembali canggung saat hanya ada mereka berdua, Tiara sampai bingung harus bagaimana, terlebih lelaki itu dari tadi terus memperhatikannya, tanpa kata.


"Apa aku boleh bertanya?" Tiara mulai bersuara, keadaan akan semakin canggung jika mereka terus diam saja, terlebih banyak sekali yang ingin dia ketahui.


"Hem," Kenzo langsung mengangguk menjawab singkat, dia teramat bahagia melihat keadaan Tiara yang sudah lebih baik. Suara yang tadinya terdengar begitu terbata-bata dan begitu lemas kini membaik, yang awalnya hanya terbaring kini Tiara bisa duduk dengan menyandarkan punggungnya, bahkan raut wajah Tiara kini terlihat semakin cerah. Wajah yang pias pasi kini memudar membuatnya bisa sedikit bernafas lega. "Apa yang ingin kau ketahui, aku akan menjawabnya." tutur nya dengan senang hati.


"Kenapa kita bisa menikah?" tanyanya tanpa ragu. Iya, itulah yang ingin di ketahui Tiara. Dia merantau ke kota agar bisa sekolah di tempat yang layak dengan cita-cita bisa bersekolah sampai perguruan tinggi, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia malah sudah menikah. Rasanya dia tidak bisa menerima fakta itu dengan mudah.


"Karena aku mencintaimu dan kau pun mencintaiku," Kenzo menjawab dengan begitu cepat, itu alasan yang logis, sekalipun mereka awalnya memang di jodohkan tapi pada akhirnya mereka memang saling mencintai. Dia tidak mungkin mengingatkan Tiara seberapa dramatis nya pernikahan mereka.


"Kalau kita sudah menikah bagaimana dengan pendidikan ku? aku masih bersekolah, dan lagi bukankah kita masih sangat muda?" tuturnya lagi memberi alasan. Dia tidak ingin berpikir terlalu keras untuk mengingat semuanya takut kepalanya menjadi lebih sakit, makanya dia membutuhkan jawaban yang pasti dari lelaki ini.


Kenzo sampai mengangkat sudut bibirnya, apa mungkin karena ini Tiara belum bisa menerima kenyataan dengan hubungan mereka, "Tidak perlu khawatir, meski status kita sudah menikah, itu tidak akan menjadi hambatan, kau masih bisa bersekolah, bahkan kuliah sampai perguruan tinggi. Kita bisa menjalani semua itu sama-sama, Tiara." tuturnya memberi kebebasan, jalanilah masa mudanya dengan baik, jangan merasa terbebani dengan statusnya. Buanglah semua keraguan tentang hubungan mereka karena dia benar-benar suaminya, mereka adalah pasangan suami-istri.


Tiara bisa menerima alasan itu, tapi baginya yang merupakan gadis desa, itu terasa tabu, "Tapi tetap saja, kenapa harus menikah muda?" ucapnya dengan ragu. Bahkan tatapan matanya langsung meredup takut pertanyaan itu menyinggung lelaki itu.

__ADS_1


"Itu karena aku tidak mau ada batasan di antara kita, aku sudah berjanji untuk menjaga mu, aku tidak bisa membiarkan mu jauh dari ku karena aku harus memastikan kau tetap aman, makanya kita memutuskan untuk menikah muda," jelasnya berusaha meyakinkan Tiara, bahkan tatapan matanya tidak berpaling sedikitpun menatap lekat wanita itu untuk meyakinkan nya.


Deg.... Tiara sampai memejamkan mata. Kenapa sekarang malah hatinya yang merasa tersayat, "Ada apa ini?" Dia serasa melewatkan sesuatu yang begitu penting, membuatnya begitu sedih, rasanya dia ingin menangis sampai perlahan memalingkan muka, bibirnya seketika langsung terbungkam, sebesar itukah perhatian Kenzo padanya? haruskah dia meragukan semua itu? saat mendengar itu dia menjadi malu sendiri, kenapa bisa dia melupakan semua itu.


"Tiara..." Kenzo memangilnya dengan lirih, tangannya perlahan bergerak menyentuh punggung tangan Tiara, seolah meminta wanita itu untuk kembali menatapnya, setidaknya tataplah matanya dan lihat kesungguhannya. "Tiara!" panggilannya lagi membuat wanita itu langsung menatapnya.


"Maaf, telah melupakan semuanya," Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Tiara, dia tidak mampu berkata-kata, hanya bisa menatap Kenzo dengan tatapan sendu.


Kenzo langsung menghela nafas lega, apakah ini awal baik untuknya, sepertinya Tiara mulai menerimanya, karena tangan wanita itu kini tidak lagi menghindar saat dia menggenggamnya.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, Kenzo sampai mengendus kelas, dia sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintu itu, "Aisst, kenapa waktunya tidak tepat sekali." umpatnya kesal. Bagaimana tidak, suasana tadi serasa begitu intim, tapi ketukan pintu itu malah membuat suasana menjadi kacau bahkan Tiara sampai terkejut membuat genggaman tangannya terlepas. Matanya langsung melihat seorang suster yang membawa bubur dan obat untuk Tiara.


"Tidak apa-apa, suster bisa kembali, biar istri saya, saya yang suapi." ucapnya dengan tegas. Pelayanan rumah sakit ini memang sangat baik, tapi akan lebih baik bila dia sendiri yang melayani istrinya.


"Apa perlu saya nyalakan TV nya biar Nona tidak bosan." ucapnya menawarkan, masa dia hanya lewat saja masuk ke ruangan Tiara tanpa memberikan pelayanan.


"Tidak perlu repot-repot, sus." tolak Kenzo dengan dingin, yang di tanya siapa yang kembali menjawab siapa, bagaimana tidak, jika benar-benar menyala kan TV, dia pasti akan di abaikan Tiara. "Suster bisa kembali sekarang!" titahnya tanpa dosa, sang suster itu sampai dengan cepat langsung meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Kenzo!" Tiara sampai tidak sadar menegur lelaki itu, Kenzo begitu lembut memperlakukan nya tapi kenapa bisa terlihat begitu dingin pada orang lain. "Kasihan susternya." ucapnya lagi tidak sadar. Entahlah, lelaki itu bak orang asing tapi dia begitu berani menegurnya, terlebih kelakuan nya memang patut di nasehati


Orang sedang di tegur Kenzo malah kegirangan, akhirnya Tiara bisa memanggil namanya, rasanya itu sama seperti saat wanita itu selalu mengomeli nya. "Mau melihat sesuatu?" tanyanya sambil mengeluarkan ponselnya. Dia tidak mempedulikannya teguran Tiara karena mempunyai ide dari tawaran sang suster tadi.


Tiara sampai di buat keheranan terlebih Kenzo langsung memberikan ponselnya pada nya. "Untuk apa?"


"Lihat saja, dari pada kau bosan." ucapnya sambil perlahan menyuapi Tiara. Berkat suster itu dia memiliki ide untuk memperlihatkan galeri di ponselnya biar Tiara melihat semuanya. Isi foto di galeri itu semuanya hasil jepretan Tiara, dan senyuman memperlihatkan seberapa dekat dan mesra nya hubungan mereka. Bahkan ada satu foto saat saat wanita itu sedang mengecup bibirnya yang awalnya foto itu mau Tiara hadiahkan untuk Chelsea.


"Kita benar-benar sedekat ini?" Tiara malah malu sendiri, tidak bisa mengelak dan tidak bisa di pungkiri, dari foto itu saja ekspresi nya terlihat jelas kalau dia menyukai Kenzo dan begitu menyayangi lelaki ini.


"Kenapa bengong, mau di praktekkan lagi agar lebih yakin. Biasanya kau tidak pernah ragu untuk mencium ku." ucap Kenzo dengan begitu sengaja.


Tiara sampai terbatuk-batuk, "Ti-tidak," tolaknya cepat, bisakah jangan dulu menggodanya, dia sudah begitu malu kenapa Kenzo malah dengan sengaja memperjelas tentang foto ciuman itu. Terlebih kenapa jantung nya ikut berdebar kencang, serasa ada perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.


Kenzo sampai terkekeh, "Aku hanya bercanda," ucapnya sambil kembali menyuapi Tiara, jangan menutup mulutnya seperti itu, karena dia harus kembali menyuapinya. Setelah menyuapi Tiara kini sendok berisi bubur itu malah berlabuh di mulutnya dan dengan cepat kembali menyendok bubur itu dan ia suapkan pada sang istri, "Ciumannya biar ku titipkan pada sendok ini." timpal nya lagi dengan begitu santai tanpa dosa.


Wajah Tiara sampai menunduk dengan wajah bersemu merah, dia di buat salah tingkah sampai tidak bisa berkata-kata. Di ingatannya Kenzo bak orang asing tapi hatinya begitu senang saat mendapatkan perhatian lelaki itu. Terus menyuapinya tanpa henti, sampai tidak terasa mangkuk bubur itu sudah kandas tidak tersisa.


"Ini," Kenzo langsung mengambil segelas air putih dan membantu Tiara untuk meminumnya.

__ADS_1


"Sudah kenyang?" tanyanya sambil menyeka bibir Tiara dengan sebuah tisu yang baru saja dia ambil.


"Terima kasih, Kenzo." lirihnya dengan tersenyum.


__ADS_2