Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Di Sandra


__ADS_3

"Siang, Pak." Kenzo masuk, langsung di sambut senyuman Pak Matteo yang tengah duduk santai di meja nya. "Ada apa bapak memanggil saya?"


Pak Matteo langsung duduk tegak, mengisyaratkan murid laki-laki itu untuk duduk di kursi di depan mejanya, "Tolong bantu saya mengerjakan semua ini," pintanya tanpa ragu, bahkan tangannya langsung memberikan laptop yang sedari tadi ada di depannya. "Kau cukup pintar, pasti sangat mudah hanya mengerjakan ini saja," tuturnya lagi tanpa dosa.


Kenzo sampai jengah, "Maaf, Pak. Ini bukan masalah mudah atau susah. Tapi ini masalah privasi nila murid, bukannya bapak sudah memiliki asisten kenapa malah menyuruh saya mengerjakan ini." tolaknya tidak bisa. Itu hasil ujian, tidak tahu malu sekali memintanya memeriksa semua itu padahal notabenenya ia merupakan muridnya.


"Jangan banyak bicara, kerjakan saja!"


Emosi Kenzo sampai meluap-luap, kalau bukan untuk melancarkan rencana sang Daddy dia akan langsung membuka kedok bajingan ini. "Baik, Pak." mau tidak mau Kenzo pun langsung duduk dan mulai mengerjakan apa yang Tua bangka itu perintahkan.


Sementara itu, di kelas unggulan, seorang murid laki-laki terlihat menghampiri meja di mana Tiara bersama Azzura dan Jonathan berada, "Tiara, asisten Pak Matteo menunggu mu di luar, katanya kau di suruh membawa minuman ke ruangan Pak Matteo," ujar lelaki itu memberi tahu.


Tiara langsung menatap lelaki itu, barusan asisten Pak Matteo habis dari sini memanggil suaminya, kenapa tidak sekalian saja. "Kau tidak berbohong kan?" tanyanya memastikan.


"Serius lah, masa bohong," timpal lelaki itu.


Azzura yang sama-sama mendengar itu sesaat terdiam. Dejavu, situasi yang terasa tidak asing. Itu sama persis dengan hal yang terjadi saat Tiara di jebak oleh Shasa. "Akh, itu mungkin hanya kebetulan saja. Pak Matteo kan seorang guru, masa iya guru mau mencelakai muridnya tanpa alasan." gumamnya berusaha menghilangkan pikiran buruknya. Tapi tetap saja dia akan memastikan Tiara benar-benar di panggil asisten Pak Matteo atau tidak.


"Ayo, biar ku antar untuk memastikan," ajak Azzura sambil beranjak berdiri. Dia harus memastikan apa benar asisten Pak Matteo yang menunggu Tiara.


"Tidak apa-apa kok, aku bisa menemuinya sendiri." tolak Tiara tidak enak, Azzura sedang berbincang dengan Jonathan masa lelaki itu mau di tinggal begitu saja, tapi bukannya berhenti, Azzura malah dengan sengaja merangkul lengan nya dan menariknya keluar bersama.


"Wah, asisten Pak Matteo memang sedang menunggu mu, Tiara." bisik Azzura saat melihat orang tua paruh baya itu berdiri di depan pintu masuk kelas dengan dua buah botol minuman di tangannya.


"Bapak memanggil saya?" Tiara pun bertanya untuk memastikan.


"Iya, tolong antarkan ini ke ruangan Pak Matteo, yang ini untuk beliau, dan air mineral ini untuk Kenzo." tuturnya sambil memberikan dua botol minuman itu pada Tiara, satu botol air mineral dan satu botol minuman rasa capuccino dalam kemasan botol. "Sebelum memfotokopi, tadi saya di suruh Pak Matteo membeli minuman, dan beliau sekalian menyuruh saya membelikan minum untuk Kenzo juga," ucapnya lagi berusaha mencari alasan agar terlihat natural. Tidak heran dia meminta Tiara yang mengantarnya, toh di ruangan itu juga suami wanita itu.


Tiara tidak mau banyak bicara, jika memang seperti itu dia akan dengan senang hati mengantarkan nya, "Azzura, aku mengantarkan ini dulu, kau bisa kembali, kasihan Jonathan menunggu mu."


"Iya, langsung kembali ya!"


Azzura kembali masuk kelas. Tiara pun langsung berjalan menuju ruangan Pak Matteo. Sedangkan asisten itu sendiri langsung menyeringai senang, itulah tujuan nya, menyuruh Tiara mengantarkan minuman itu agar Kenzo tanpa ragu akan langsung meminum nya.


"Terlalu mudah kalau hanya mengatasi anak SMA," decak nya dengan menyeringai, dia langsung berjalan mengendap-endap mengikuti Tiara untuk memastikan wanita itu sampai di ruangan bos nya. Persetan dengan meng-copy dokumen, sedari awal alasan itu memang untuk membodohi wanita itu.


Di ruangan Pak Matteo, lelaki itu terus memperhatikan pergerakan Kenzo, dia tidak mengira murid laki-laki itu benar-benar membantu menyelesaikan pekerjaannya, matanya sesekali melihat waktu, seharusnya minuman yang dia siapkan sudah tiba, tapi kenapa belum juga ada, "Dia bisa gak si, menjalankan tugasnya." umpat nya kesal, Kenzo terlihat sudah hampir beres dengan pekerjaannya, kenapa minuman oplosan narkoba itu belum ada juga.


Cklek...


Suara pintu terbuka, belum juga selesai mengumpat, belahan pintu itu perlahan terbuka lebar sampai kini memperlihatkan sosok Kenan, di ikuti lima anggota kepolisian.

__ADS_1


"Kenan?" Pak Matteo sampai kaget, matanya sampai terbuka lebar melihat sosok lelaki itu, "Aisst, mereka tidak mungkin tahu kalau ini aku, kan." gumamnya mulai gelisah, penyamarannya cukup sempurna, masa bisa di ketahui dengan mudah.


"Pak Kenan, ada apa bapak kemari?" tanyanya sok polos sambil beranjak berdiri. Dia akan terus berperan sebagai Pak Matteo yang akan dengan senang hati menyambut atasannya.


Kenan dan Kenzo sampai menyeringai sinis menatap orang tua paruh baya itu dengan begitu kesal. Bisa-bisanya masih terpikir untuk bersandiwara dalam situasi seperti ini.


"Kau pikir kau bisa membodohi ku, Mario Atmaja." decak Kenan begitu kesal, dia langsung menghampiri Kenzo meminta putranya itu untuk menjaga jarak dari bajingan itu. Mario sudah terperangkap, lelaki itu tidak bisa kabur lagi.


"Copot penyamarannya, langsung tangkap dia!" titahnya pada anggota kepolisian yang sedari tadi sudah siaga mengangkat pistol, berjaga-jaga agar lelaki itu tidak berani kabur lagi.


"Jangan bergerak!" titah sang polisi, satu anggota polisi langsung meringkus dan memborgol tangan Mario, satu lagi melepas semua penyamaran yang menutupi identitasnya, dan tiga lagi masih fokus menodongkan pistol pada bandar narkoba itu.


"Argh, sial." Mario hanya bisa mengumpat dalam hati, dia tidak bisa berkutik apalagi berusaha untuk kabur. "Bisa-bisanya aku kecolongan." umpatnya lagi tidak terima, dia tidak mau jika harus kembali ke balik jeruji lagi. "Asisten sialan, kemana lagi bajingan itu, jangan bilang dia sudah mengetahui situasi dan kabur terlebih dulu." decak nya lagi mengumpat bawahannya, dia kira lelaki itu benar-benar penjahat profesional, tapi lelaki itu tidak peka kalau polisi sedang mengincar mereka.


"Kau sendiri yang menyerahkan diri masuk ke kandang ku, Mario." cibir Kenan dengan begitu puas. Tangannya bahkan langsung bergerak mencekam kerah baju Mario, kesal sendiri bisa-bisanya lelaki itu punya nyali begitu besar sampai berani masuk ke yayasannya, "Jangan memasang ekspresi seperti ini! Terimalah kalau kau akan kembali membusuk di penjara bersama adik kesayangan mu itu." tuturnya lagi sambil mempererat cengkraman nya.


Mario benar-benar tertunduk tidak bisa berkutik, tidak bisa bicara ataupun melawan, dia masih menyayangi nyawanya, berontak sedikit saja peluru di depan mata pasti akan meluncur ke tubuhnya.


Brak....


Suara botol minuman jatuh. Semua yang ada di dalam ruangan Mario langsung menoleh ke sumber suara. Semua orang sampai tercengang, tapi tidak dengan Mario, lelaki itu malah menyeringai senang melihat siapa yang datang.


"Hahaha, rupanya kau bisa di andalkan." gumamnya dengan begitu puas.


Kenzo dan Kenan sampai tercengang, bahkan dua anggota kepolisian langsung menodongkan pistol pada orang yang baru datang.


"Jangan ada yang bergerak! Kalau tidak nyawa wanita itu taruhan nya!" ancam bawahan Mario dengan begitu tegas; penjahat profesional itu rupanya sudah mengetahui keadaan di dalam ruangan Bos nya sampai langsung memanfaatkan keberadaan Tiara untuk mengancam mereka. "Untung saja aku mengikuti wanita ini sampai ruangan Bos." gumamnya dengan menyeringai, dia dengan cepat menarik tangan wanita itu dan langsung meringkus nya kebelakang.


"Tiara....!"


Kenzo dan Kenan sampai terkejut bukan main, lebih terkejut lagi saat sebuah pisau sudah menempel pas pada leher wanita itu. Ingin bergerak menyelamatkan Tiara tapi lelaki yang menyandar Tiara, malah semakin mendekatkan pisaunya.


"Jangan ada yang berani melakukan perlawanan, kalian pikir aku main-main! Aku bisa membunuhnya hanya dengan sekali tusukan saja." ancamnya lagi tidak main-main, dia hanya perlu menggertak polisi-polisi itu agar dia dan Bos nya itu bisa selamat dari penangkapan mereka. "Turunkan pistol kalian!"


Tim kepolisian tidak ada yang mendengar, mereka masih memasang kuda-kuda masih sigap dengan pistol nya mencari situasi yang tepat untuk melumpuhkan penjahat itu.


"Apa kalian budek hah! Buang pistol kalian! BUANG! Kalian lihat ini!" Lelaki itu kini tidak ragu menggores kulit leher Tiara dengan ujung pisau nya. Untuk memaksa anggota kepolisian itu.


"Argh. Stop!" Hati Kenzo bagai tersayat. Tangannya mengepal keras. Dadanya terasa sekak. Dia langsung menatap tiga polisi itu. "BUANG pistol kalian, apa kalian tidak dengar hah!" dia sampai berteriak keras, sekarang yang lebih penting keselamatan Tiara, turuti saja apa yang di inginkan lelaki itu.


Suasana semakin tegang, Kenan ikut memberi isyarat agar pihak kepolisian mengikuti apa yang di inginkan lelaki yang tengah menyandar menantunya itu.

__ADS_1


"Ken!" Tiara sendiri hanya bisa memanggil lelaki itu dengan begitu lirih. Dia begitu takut, tubuhnya bergetar lemas, ujung pisau yang menempel di lehernya terasa begitu perih. "Kenzo!" dia teramat takut, terlebih dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa dia malah di sandra.


"Diam, bodoh!" bawahan Mario sampai mempererat cengkraman nya dan menarik tangan Tiara kebelakang, agar wanita itu tidak berontak


"Aww..."


"Heh, lepas! Kita sudah menuruti kemauan mu, Jangan menyakitinya!" bentak nya dengan tegas, amarah Kenzo semakin tersulut, ingin rasanya langsung menghampiri Tiara dan menariknya dari lelaki itu tapi dia tidak bisa gegabah. Salah melangkah saja nyawa Tiara taruhannya. Dia hanya bisa menatap sang istri dan memberi isyarat agar Tiara tetap tenang.


"Aku akan melepaskannya nya, tapi lepaskan dulu si Bos!" pinta lelaki itu tanpa basa-basi, bahkan dia kembali menekan pisaunya agar mereka tidak bisa menolak. Bukan hanya menggores kulit putih Tiara, pisau itu kini merobek lapisan kulit itu sampai darah segar perlahan mengalir dari sana.


"Argh.... Tiara!" Hati Kenzo serasa remuk, nafasnya serasa di ujung kerongkongan, kedua tangannya mengepal keras, istrinya terluka tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan anggota kepolisian pun demikian.


"Oke, jangan menyakitinya. Kita akan melepaskan, Mario." Kenan ikut bersuara, keselamatan Tiara lebih penting daripada niatannya untuk memenjarakan bajingan itu. "Lepaskan dia!" titahnya pada pihak kepolisian yang sedang meringkus Mario.


Mario sendiri sampai tersenyum girang, jika tadi dia yang terpuruk sekarang dia yang akan membuat mereka merasakan siksaan yang begitu menyakitkan. "Heh, kau lihat, kalian yang begitu lemah." cibir Mario dengan menyeringai, dia benar-benar telah memang sekarang.


"Ayo pergi, jangan lepaskan wanita ini!" bisik Mario pada bawahannya. Enak sekali wanita yang akan menjadi kuncinya harus dia lepas dengan mudah.


"Baik, Bos."


Tiara yang melihat kedua lelaki itu lengah, langsung mantap Kenzo memberi lelaki itu isyarat, "Ken!" sudut matanya langsung mengekor pada tangan kanan lelaki yang memang pisaunya.


Kenzo langsung memberi kode pada salah satu polisi agar secepat mungkin kembali mengambil pistolnya.


Duk.... Sekeras mungkin Tiara menginjak kaki bawahan Mario, membuat lelaki itu lengah, sampai pisau itu menjauh dari lehernya.


Dor....


Prang.....


Satu tembakan sukses mendarat di tangan bawahan Mario, membuat pisau itu terjatuh. Tiara yang berombak ingin melepaskan diri malah ambruk jatuh pingsan saat pundaknya di pukul keras oleh Mario, yang bermaksud ingin kembali menyandar nya.


"Tiara..." Kenzo sampai berteriak panik. Pihak kepolisian langsung bergerak cepat memanfaatkan situasi.


Dor


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Empat tembakan meluncur pas pada kedua kaki Mario dan bawahannya yang berniat untuk kabur. Kedua lelaki itu langsung tersungkur lemas tanpa perlawanan.


Kenzo langsung kutar ketir menghampiri Tiara, di ikuti Daddy-nya. "Tiara...." untuk kedua kalinya hatinya bagi tercabik-cabik saat melihat istrinya terkulai lemas tidak sadarkan diri. "Argh... Bajingan, sialan." Lihat saja dia akan memberi mereka perhitungan setelah menyelamatkan istrinya.


__ADS_2