Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hilang kesadaran.


__ADS_3

"Kenapa harus di toilet si," Jessica protes, dia terus mengikuti Alicia sambil membawa sebotol air mineral yang baru dia beli dari ibu kantin, menuju toilet.


"Diam lah! Si Kenzo bisa mengetahui rencana kita pasti karena mengintai pergerakan kita dari cctv, dan kau tahu? Hanya di sini yang tidak ada cctv nya." ucapnya dengan menyeringai, dia langsung mengambil botol obat perangsang tadi dari saku bajunya. "Untung saja ini masih ada, dan aku belum melanjutkan aksi ku," gumamnya lagi. Dia langsung meminta Jessica membuka tutup botol air mineral itu dan meneteskan obat perangsang itu kedalamnya. "Oke, sip. Tinggal rencana selanjutnya."


Jessica sampai geleng kepala, ni si Alicia otak mapia kayaknya, otaknya busuk sekali, "Otak setan lo, ya. Haha."


"Alicia gitu loh! Nih, giliran Lo, hati-hati dari cctv. Pastikan ini sampai di tangan Tiara." timpal Alicia dengan tersenyum jahil, kini giliran Jessica melakukan aksinya.


"Siap, Al. Kalau hanya tugas ini serahkan pada ku," timpalnya dengan penuh percaya diri. Ya, inilah keuntungannya menjadi anggota osis, Jessica bisa dengan mudah menyuruh-nyuruh siapapun sesukanya.


Sementara itu di aula, suasana sudah mulai ramai, suara music sudah mulai terdengar bising, para murid ekskul seni mulai memperlihatkan kebolehan mereka ikut memeriahkan pesta, ada yang memainkan alat musik dan ada juga yang mengiringi music itu dengan lagu-lagu populer yang menjadi request dari murid yang lain nya. Semuanya mulai terlarut dengan keseruan pesta malam ini.


"Tiara!" Kenzo memanggil sang istri, situasi yang mulai bising sudah membuatnya tidak nyaman jika terus berlama-lama di sana, "Pulang yuk!" ajak nya dengan penuh harap, Tiara memang terlihat menikmati acara ini, tapi dia sudah tidak mau terus berlama-lama berada di sana. Terlebih setelah insiden minum itu, tidak ada lagi pergerakan yang mencurigakan, sepertinya Shasa dan konco-konco nya sudah menghentikan aksinya.


Bruk... Belum juga ada jawaban dari Tiara, salah satu pelayan yang mengantarkan minuman menubruk tubuh Kenzo dan menjatuhkan minuman itu di pakaian nya.


"Jir, apa lo gak punya mata, hah?" Kenzo sampai melotot kesal, jas dan kemejanya basah tersiram oranye jus yang di bawa pelayan itu.


"Akh, maaf Kak Kenzo, aku tidak sengaja?" Pelayan itu langsung berbungkuk, dia hanya adik kelas yang bertugas sebagai pelayan pesta. "Maaf," ucapnya kembali berbungkuk.


Tiara yang melihat kemarahan Kenzo langsung meraih tangan sang suami, "Dia tidak senagaja, Ken," ucapnya sambil menggelengkan kepala, dia sampai kasihan melihat murid wanita itu yang sudah gemetaran karena ke marahan suaminya.


Kenzo berusaha menenangkan diri, ada ada saja, dia langsung mengibaskan jas nya yang sudah basah, "Jangan ke mana-mana, aku ke toilet dulu, setelah ini kita pulang!" titah nya pada Tiara. Dia harus sedikit membasuh jas nya agar tidak terlalu lengket.


"Iya," Tiara mengangguk, kembali melihat murid yang tadi dan mengisyaratkan agar murid wanita itu segera pergi agar tidak terkena amukan Kenzo lagi.


"Sekali lagi maaf, Kak." ucap murid itu kembali berbungkuk, dan berlaju pergi.


"Devan, jangan kemana-mana sebelum aku kembali." pinta Kenzo pada teman lelakinya itu, jaga lah Tiara saat dia tidak ada di sampingnya. Terlebih jarak dari Aula ke toilet sekolah agak jauh, dia pasti membutuhkan banyak waktu untuk bisa kembali ke mejanya.


"Oke." jawab Devan dengan penuh kesiapan, Kenzo pun langsung melaju pergi menuju toilet.

__ADS_1


Di sudut lain, Jessica dan Alicia sudah menyeringai, sedari tadi memperhatikan orang titahnya, rencana mereka berhasil saat melihat Kenzo sudah beranjak pergi dari sana, "Masuk perangkap kau," bisik kedua wanita itu sambil saling menepuk kan sebelah tangan nya. "Giliran air minum nya," ucap Jessica mulai melancarkan aksinya. Dia akan kembali memanfaatkan adik kelas yang polos tadi untuk memberikan air mineral itu pada Tiara.


...~...


Murid wanita yang tadi kembali ke meja Tiara, membawa sebuah botol air mineral di atas nampan yang di bawanya. "Maaf Kak Tiara, ini. Tadi saat kembali meminta maaf, Kak Kenzo menyuruh ku memberikan ini pada Kakak." ucap murid itu sambil menyimpan botol air mineral itu di depan Tiara.


"Oh ya, terima kasih." Tiara sampai tersenyum senang, raut wajah anak itu terlihat begitu polos dan tulus, dia tidak mencurigai apapun, terlebih Kenzo memang selalu memperhatikan nya.


Murid wanita itu kembali, Devan dan Reno sama-sama tidak mencurigai apapun, mereka masih adem ayem menikmati acara pesta dengan lagu-lagu yang di bawakan murid-murid di depan sana. Yang di curigai Devan hanya sebuah sirup minuman, dan itu tadi sudah di bereskan, dia tidak curiga sedikitpun dengan air mineral yang ada di depan Tiara, terlebih murid itu mengatakan kalau itu pemberian Kenzo sendiri.


Tiara celingukan sana sini, dari tadi terasa aman-aman saja, apa perkataan Shasa waktu itu memang sekedar ucapan selamat tanpa alasan yang lain, dia melihat keadaan tapi Shasa memang tidak ada pergerakan.


"Kau mencari sesuatu?" Azzura yang heran, dari tadi dia hanya menjadi pe-nyimak sejati. "Apa kau tidak tenang karena tidak ada, Kenzo." tebaknya dengan tersenyum tipis, terlihat sekali kalau Tiara benar-benar bergantung pada lelaki itu, karena langsung terlihat cemas saat lelaki itu pergi meninggalkan nya.


"Akh, tidak juga." Tiara langsung memalingkan muka, Azzura memang cukup peka hanya dengan melihat raut wajah saja. Dia harus menenangkan diri, lekas mengambil botol air mineral itu dan meneguknya. "Tenang, Devan juga ada di sini, tidak mungkin kan Shasa macam-macam saat ada banyak orang." gumamnya kembali meneguk air minumnya. Dia harus banyak minum untuk menghilangkan kegundahannya.


Di meja lain, Shasa tersenyum puas, "Mampu kau, Tiara!" gumamnya dengan menyeringai. Kini tinggal membereskan Devan dan Reno agar dua lelaki itu menjauh dari Tiara. "Al, cepat. Keburu obatnya bereaksi!" titah Shasa dengan begitu tegas. Dia akan terus mengawasinya dari sini.


"Sip, Sha." Alicia langsung memberi kode pada orang yang sudah dia percaya untuk menjalankan rencana.


"Ada apa?" bisik Reno, penasaran melihat ekspresi Devan.


"Sepertinya Mario membutuhkan pertolongan kita," jawab Devan dengan cepat, dia tahu dari subuh tadi Mario bela-belain datang ke sekolah demi membantu Kenzo, dia bisa menebak kalau Mario dapat masalah pasti karena masalah cctv itu, dia pun harus bergegas menghampiri lelaki itu dan membantunya.


"Kak Tiara, jangan ke mana-mana ya, si Bos sepertinya akan segera kembali, kita ada urusan mendesak. Kalau si Bos tanya, bilang kalau kita akan menghampiri Mario." tutur Reno dengan begitu tergesa-gesa, setelah Tiara mengangguk mengerti, dua lelaki itu langsung pergi meninggalkan meja, dan kini tersisa Tiara dan Azzura di sana.


"Mereka kenapa?" Azzura yang heran.


"Entahlah, mungkin ada urusan." Tiara juga merasa heran, tapi tidak mungkin juga dia mencegah mereka, bahkan sampai bertanya. Mereka terlihat terburu-buru.


"Bukannya ini terlihat aneh?" gumam Azzura, mulai menyadari sesuatu. Kenzo pergi, dua lelaki itu juga tiba-tiba pergi, mereka pergi di waktu yang bersamaan. "Hei kau kenapa?" Azzura lebih kaget saat melihat Tiara sedang memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja" jawabnya singkat, sepertinya dia terlalu gelisah sampai kepalanya menjadi sedikit berat.


Tiba-tiba terlihat seorang murid laki-laki menghampiri meja Tiara, "Kak Tiara, Kak Kenzo sudah menunggu di mobil, jas dan kemejanya basah jadi dia tidak bisa masuk lagi ke aula, Kak Kenzo menyuruh Kakak agar segera menghampirinya di mobil." tutur murid lelaki itu menceritakan.


Kebetulan kepala Tiara sudah terlalu berat, dia harus segera pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya. "Iya, terima kasih. Aku ke sana sekarang." Tiara beranjak bangkit mengambil tas selempang nya dan langsung menoleh ke arah Azzura. "Aku duluan ya." pamitnya dan beranjak pergi, baru beberapa langkah, dia sudah hampir terjatuh, "Astaga kenapa kepala ku berat sekali!" Dengan tubuh yang sedikit sempoyongan dia dengan cepat meninggalkan aula, lekas menghampiri Kenzo yang katanya sudah menunggunya.


"Ini benar-benar aneh, apa aku harus mengikutinya, sepertinya dia tidak baik-baik saja." gumamnya Azzura dengan perlahan berdiri. Diam-diam dia mengikuti langkah Tiara di belakangnya.


Tiara sudah ada di parkiran mobil, "Ken!" panggilannya sambil mengetuk pintu mobil Kenzo. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda-tanda keberadaan Kenzo, apa sebenarnya yang terjadi, "Bukannya Kenzo sudah menunggu," gumamnya heran. Bukan hanya kepala, pandangan nya kini sudah hampir buram. Dia membutuhkan bantuan sang suami, karena rasanya tubuhnya sudah tidak karuan. "Akh, aku kenapa si." gumamnya kembali menyadarkan dirinya. "Kenzo!" Dia terus mencari keberadaan suaminya sambil mengitari mobilnya.


Bukan malah Kenzo yang muncul, bibir Tiara langsung terbungkam, kedua tangannya di tarik kebelakang, badannya terseret menuju sebuah mobil yang tidak jauh dari sana. "Emm." Tiara meronta, tapi percuma, tubuhnya yang lemas membuat nya tidak mempunyai tenaga. Tasnya langsung di rampas, dia di paksa masuk ke sebuah mobil yang dia sendiri tidak tahu itu siapa, pandangannya sudah buram, kesadarannya perlahan hilang.


"Wah, kau benar-benar membawanya, sungguh mengejutkan." ucap Arzan dengan penuh kekaguman, kelicikan Shasa di luar dugaannya. Wanita itu benar-benar membawa Tiara ke hadapannya dengan keadaan hampir tidak sadarkan diri.


"Cepat pergi, dan selamat bersenang-senang!" ucap Shasa dengan menyeringai, "Jangan lupa kirimkan video dan beberapa foto nya, aku harus menghadiahkan nya pada Pak Kenan." tutur nya lagi dengan penuh penegasan, itulah hadiah dari nya karena seenaknya mengeluarkan Ayahnya dari perusahaan. Dia langsung menutup pintu mobil Arzan, menyuruh lelaki itu untuk segera pergi dari area sekolah.


Di sudut lain, "Oh my god!" Azzura sampai membungkam mulutnya. Apa dia tidak salah lihat. Dia hampir tak percaya, Shasa benar-benar kejam, apa yang akan di lakukan wanita licik itu pada Tiara, dia tidak bisa tinggal diam. "Oh god, aku tidak punya nomor Kenzo!" Dia sampai kalang kabut sendiri. Langsung menghampiri mobilnya, berusaha mengikuti mobil yang membawa Tiara pergi. Tidak ada waktu untuk mengurus Shasa, dia harus memastikan Tiara baik-baik saja, dia sempat melihat kalau seorang lelaki lah yang membawa Tiara.


"Oke, tenang Azzura. Tancap gas dulu, setelah itu kau pikirkan bagaimana cara menghubungi Kenzo." gumamnya berusaha menenangkan diri, dia memang tidak pernah mengenal Tiara, tapi tidak mungkin juga dia mengabaikan wanita itu di saat Tiara dalam masalah. Melajukan mobilnya dengan begitu cepat mengejar mobil orang yang membawa Tiara pergi.


...*...


"Heh, lo bosan hidup ya, gue hanya menyuruh kalian menemaninya, kenapa Tiara bisa menghilang?" Kenzo sudah marah-marah, mencekam kerah baju Devan, bisa-bisanya mereka terkecoh dan meninggalkan Tiara sendiri, dan pada akhirnya Tiara menghilang bahkan ponselnya tidak aktif sampai dia tidak bisa di hubungi.


"Sorry, Ken." Devan tidak bisa menyangkalnya, mereka memang tertipu, saat menghampiri Mario lelaki itu baik-baik saja. "Gue hubungi Azzura saja, tadi Tiara bersamanya." tutur nya berusaha meredam amarah Kenzo. Lelaki itu pun langsung menurunkan tangannya, dan dia langsung menghubungi Azzura.


Panggilan tersambung, suara Azzura terdengar kacau di sebrang sana, "Jangan banyak tanya, jangan banyak bicara, berikan ponsel lo pada Kenzo." titah Azzura tanpa basa-basi.


Sudah bisa menebak kemungkinan yang terjadi, Kenzo langsung mengambil ponsel Devan, "Kenzo cepat lo ke sini, gue gak bisa menghadang nya karena orang yang membawa Tiara seorang lelaki." ucap Azzura dengan suara mulai gelisah, dia mengkhawatirkan Tiara tapi tidak bisa menolongnya seorang diri.


Sontak Kenzo langsung tercengang, "Argh, jangan mematikan panggilannya, beritahu yang jelas di mana posisinya, Gue ke sana sekarang!"

__ADS_1


☘️☘️☘️


...Jangan lupa vote, like dan hadiah nya ya bestie . Dan jangan lupa masukin list favorit ya^-^...


__ADS_2