
Keadaan di meja menjadi canggung setelah kehadiran Shasa, Kenzo dan Jonathan dengan cepat menghabiskan makanan mereka karena ingin secepatnya pergi dari sana, sedang Azzura dan Tiara hanya memasang senyum membalas senyuman Shasa walau tanpa bercengkrama.
"Syukurlah, sepertinya dia baik-baik saja," gumam Tiara dalam hati, dan kembali menyantap makanannya, bagi nya bisa melihat Shasa dari dekat dengan kondisi wanita itu baik-baik saja itu sudah cukup menghilangkan kekhawatirannya.
Azzura sendiri menatap Shasa dengan penuh selidik, iya, dia mengijinkan Shasa untuk bergabung di sana bukan karena bisa memaafkan wanita itu begitu saja, hanya ingin tahu saja apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu, sifatnya menjadi berubah bahkan penampilan nya pun ikut berubah, baginya itu terlalu mencurigakan, "Apa dia ingin menarik perhatian orang sampai berubah drastis seperti itu." gumamnya berusaha menebak.
Jika wanita itu benar-benar mencuri perhatian banyak orang dengan berpura-pura baik, susah bagi dia dan Tiara menjalankan rencana untuk menjatuhkan wanita ini, padahal Tiara sudah membantunya mengajukan permohonan masuk ke kelas unggulan. Tapi dia tidak yakin bisa membantu Tiara meyakinkan murid-murid yang lainnya jika Shasa sendiri berubah menjadi baik. "Argh, wanita ini memang penuh dengan akal akal licik."
Suasana yang awalnya hening, tiba-tiba gaduh, si bibi pelayanan kantin datang membawa minuman yang di pesan Jonathan dan Kenzo, "Aduh-aduh meja ini sekarang penuh ya." ucapnya sambil menyimpan beberapa gelas minuman di atas meja itu, matanya langsung melirik ke arah Shasa, yang hampir tidak di kenali nya. "Euleh-euleh, bibi kira itu teh siapa, ternyata neng Shasa, semakin cantik saja, neng,"
Azzura sampai mendekati, "Tuh kan, dia benar-benar sedang mencari perhatian, so cantik sekali." umpatnya sambil memalingkan muka, kecantikannya melebihi kecantikan Shasa, jadi jangan melambung tinggi hanya dengan pujian itu saja.
Shasa sendiri hanya merespon nya dengan senyuman, "Bi, satu es lemon ya." pintanya memesan minuman. Si bibi langsung mengiyakan dan beranjak meninggalkan meja.
"Nathan, apa pak guru sudah memberitahu mu kalau selesai pelajaran nanti ada rapat osis?" tutur Shasa berusaha membuka pembicaraan. Dia tahu semua orang yang ada di meja itu sangat membencinya, tapi dia harus berusaha mendekati semuanya dan mendapatkan kembali kepercayaan mereka.
"Sudah," jawabnya singkat. Yang di tanya Jonathan yang antusias malah Azzura.
"Rapat apa?" tanyanya penasaran sambil menolehkan wajahnya menatap sang ketua osis. Pasalnya kalau sudah ada rapat-rapat pasti bakal ada kegiatan seru yang akan di selenggarakan sekolah.
"Rapat membahas Camping," jawab Shasa dengan cepat, melihat antusias Azzura memberi nya kesempatan baik untuk bisa bercengkrama dengan mereka.
"Camping?" Tiara dan Azzura begitu antusias, sontak kembali menatap Shasa dengan penuh tanya, karena wanita itu pasti mengetahui banyak informasi hingga mereka bisa bertanya pada nya.
__ADS_1
"Aisst..." Kenzo dan Jonathan langsung refleks menarik tangan dua wanita itu, keras kepala sekali, sudah di bilang jangan mempedulikan Shasa, kenapa mereka malah antusias bertanya pada nya.
"Sudah selesai kan makan nya, ayo kembali ke kelas!" ajak Kenzo sambil menarik tangan Tiara. Tidak bisa menolak, wanita itu langsung mengikuti langkah suaminya. " Duluan ya, Sah."
Begitupun dengan Jonathan, dia langsung menarik tangan Azzura meninggalkan meja mengikuti langkah Kenzo yang sudah terlebih dulu melangkah di depannya.
"Bukannya kau membenci wanita itu, kenapa malah mempedulikan omongannya." umpat Jonathan kesal, turus menarik tangan Azzura sampai keluar kantin mengekor di belakang Kenzo dan Tiara. "Aku lebih tahu tentang camping itu, bertanya lah pada ku, jangan mengajak wanita itu bicara, dasar tidak peka." omelnya lagi.
"Itu refleks karena penasaran, Nathan. Santai saja napa." timpal nya dengan asal, melepaskan tarikan tangan lelaki itu sampai kini berjalan beriringan di sampingnya. "Emang acara camping nya kapan?" tanyanya penasaran.
"Entah, kan belum di rapatkan. Sekolah baru merencanakan saja. Namun aku mengusulkan akhir pekan nanti."
"Akhir pekan?" Azzura kembali antusias, kalau akhir pekan bukannya tiga hari lagi dari sekarang. Ini benar-benar kesempatan bagus untuk nya. Dia langsung melangkah cepat mensejajarkan langkahnya dengan Tiara berjalan beriringan bersama.
Kenzo benar-benar melepaskan tangan Tiara, hingga dua wanita itu berjalan beriringan di depannya sedangkan Jonathan langsung mensejajarkan langkahnya berjalan di sampingnya.
"Ra, ikut ya. Acara camping nya pasti seru, dan tentunya itu akan memberikan poin plus untuk nilai kita." Azzura mulai bicara, akan semakin baik jika dia terus mendapatkan nilai tambah, dia akan bisa lebih cepat diterima di kelas unggulan, karena itulah persyaratannya. Mengumpulkan nilai plus sampai standar yang di tentukan. "Ayo kita satu tim." ajaknya lagi, dia sudah bisa membayangkan keseruan nya camping dengan teman barunya ini.
"Ayo." jawab Tiara sama-sama antusias.
Kenzo yang berdiri di belakang Tiara hanya bisa terus memperhatikan nya dari belakang. "Apa wanita selalu se-antusias itu kalau sudah membahas hal yang berbau bau travel, mereka langsung antusias hanya disogok oleh sebuah camping saja." umpat Kenzo karena merasa di abaikan Tiara. Tapi setidaknya wanita itu sekarang terlihat normal karena mempunyai teman untuk bertukar cerita.
"Iya, acara camping memang selalu ditunggu-tunggu anak-anak, Ken." ucap Jonathan menimpali. "Jangan bilang kau tidak akan ikut?" tanyanya penasaran, walau enggan sepertinya Kenzo harus mengikuti kegiatan camping itu, melihat Tiara yang begitu antusias ingin mengikutinya.
__ADS_1
"Acara seperti itu terlalu merepotkan, sepertinya aku tidak pernah bisa mengikutinya." timpal Kenzo memberi jawaban, sepertinya kali ini dia tidak bisa memenuhi keinginan Tiara karena acara outdoor seperti itu sebuah pantangan besar untuk nya.
...***...
Kenzo berjalan cepat setelah dari basecamp nya, di jam pelajaran terakhir ini dia kembali bolos kelas. Tidak ingin terus di tanya soal camping yang jelas dia tidak akan pernah bisa ikut dalam kegiatan sekolah itu, dan otomatis Tiara pun tidak bisa mengikuti kegiatan itu karena dia tidak bisa menemaninya.
Brukk... Karena berjalan dengan cepat Kenzo sampai menabrak seseorang saat berbelok di sebuah lorong. "Argh, Apa kau tidak punya mata?" Kenzo berdecak kesal, lebih kesal lagi karena orang yang dia tabrak adalah Shasa. Begitu menyebalkan, dari tadi wanita itu terus saja mendekatinya.
"Aww," Shasa meringis sakit saat kepalanya terbentur tubuh Kenzo, tubuhnya yang hampir terjatuh refleks berpegang erat persis pada switer di bagian dada lelaki itu.
"Lepaskan tangan mu!" Kenzo sampai menatap Shasa dengan kesal, terlebih tangan itu berani sekali menyentuhnya. "Lepas, bodoh!" decak nya makin kesal.
Shasa hanya bisa menatap wajah lelaki itu dengan ekspresi kesakitan, "Kau menubruk tubuh ku cukup keras, sakit Kenzo," lirihnya masih dengan berpegangan dan perlahan berdiri tegak dengan jarak yang cukup dekat dengan lelaki itu. "Maaf, sepertinya switer mu menjadi kotor gara-gara aku." ucapnya lagi malah menepuk-nepuk dada Kenzo.
Kenzo sampai geram, dengan cepat menepis tangan wanita itu menjauhkan diri tubuhnya, "Singkirkan tangan mu."
Shasa sampai menatap lelaki itu cukup dalam, "Apa se-benci itu kau pada ku, Ken?" ucapnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kepalanya langsung menunduk seolah terintimidasi oleh lelaki di depannya.
"Tidak perlu bertanya karena kau sendiri pasti sudah tahu jawabannya." timpal nya dengan kesal, apa maksud wanita itu memasang wajah menyedihkan seperti itu, apa wanita itu mengharapkan pengampunan nya. "Minggir kau menghalangi jalan!" titahnya dengan datar.
"Apa tidak cukup dengan maaf, Ken." Shasa kini mengangkat kepalanya, kembali menatap Kenzo yang sedang di penuhi amarah. "Ken! semua orang pernah punya salah, semua orang pernah terkena masalah, dan semua orang pernah kalah, namun apa salah jika orang ingin berubah?" tuturnya dengan berucap panjang lebar, dia akan berusaha keras mendekati Kenzo agar lelaki itu sedikit lebih percaya pada nya. "Aku sudah lelah, aku hanya ingin berubah, agar bisa lebih baik." lanjutnya lagi dengan intonasi yang lebih meyakinkan.
"Walaupun kau mengoceh seperti apapun, aku tidak peduli, minggir." Kenzo langsung mengendus kesal, berlaju pergi meninggalkan Shasa, entah kesialan apa yang menimpa nya, seharian ini rasanya wanita itu terus saja menghampiri nya.
__ADS_1