Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Tiba-tiba di panggil guru BK.


__ADS_3

Tiara duduk di meja rias, sudah menggunakan seragam lengkap dengan tangan berkutat mengerikan rambutnya, gara-gara berita camping kemarin mood nya sedikit buruk karena Kenzo tidak mau ikut kegiatan sekolah itu, di tambah lagi setelah pulang sekolah kemarin dia melihat noda merah di switer sang suami, yang dia kira itu noda dari sebuah lipstik, "Jangan berburuk sangka, Tiara. Kenzo tidak mungkin seperti itu kan." Tiara sampai menggelengkan kepala, membuang pikiran buruknya, semoga saja itu memang hanya noda biasa saja.


"Ken! Aku bisa mengeringkan nya sendiri!" Tiara kaget, karena terus melamun tidak sadar sang suami sudah berdiri di belakangnya dan mengambil alih hairdryer dari tangannya.


"Kenapa? Kau marah karena tidak bisa ikut Camping?" Tidak mempedulikan ocehan Tiara, tangan Kenzo bergerak lihai mengerikan rambut sang istri. Wanita yang selalu penuh semangat itu pasti kecewa karena dia tidak mengizinkannya mengikuti kegiatan sekolah itu.


"Tidak, aku tidak marah." Tiara menjawab cepat, walau begitu tertarik dengan camping, dia tahu dengan keadaan Kenzo jadi dia tidak bisa memaksa, tapi kenapa kemarin Kenzo malah menghindarinya, dia kan sudah berusaha mengerti dengan keadaan nya dan mengalah. Kenapa membuatnya berpikir yang tidak-tidak, dengan sebuah noda merah di switer nya, matanya langsung melihat pantulan lelaki itu di cermin, berpusat pada dada sang suami di mana noda merah kemarin itu berada.


"Hanya kesal saja." gumamnya pelan. Kenapa sih Kenzo bisa setampan itu, sampai memancing perhatian wanita-wanita di luar sana. Membuatnya cemburu saja, dia langsung membalikkan badannya setelah Kenzo merapihkan rambut nya, melingkarkan tangan di pinggang sang suami dan memeluknya.


Kenzo sampai tertegun, ada apa dengan Tiara, tidak biasanya wanita ini bermanja-manja seperti ini. Bahkan berinisiatif terlebih dulu memeluk nya. "Apa kau sedang merayu ku agar bisa ikut camping." tebaknya dengan tersenyum kecil, tangannya sampai refleks mencubit hidung Tiara gemas melihat kelakuan nya. Tapi percuma mau merayu seperti apapun dia tidak akan mengizinkan nya.


"Tidak, ingin memeluk suami sendiri apa butuh alasan khusus?" kilahnya dengan memasang wajah cemberut, dia hanya tidak rela jika ada wanita lain yang memeluk suaminya, hanya membayangkan nya saja membuat dia kesal. "Kemarin sehabis dari basecamp kau kemana?" tanyanya penasaran, bertanya sambil menyandarkan kepala di perut sang suami. Dia baru sadar kalau harum tubuh Kenzo yang sekarang berbeda dengan kemarin, keharuman switer Kenzo yang kemarin terasa terkontaminasi dengan keharuman parfum yang lain.


"Tidak kemana-mana, aku langsung ke parkiran." jawabnya cepat, dia langsung mengelus kepala Tiara, tingkah wanita itu membuatnya heran, "Kenapa mengendus-endus seperti itu, aku sudah mandi, Tiara." Semakin di buat heran, apalagi sekarang yang di lakukan Tiara.


"Ini aroma tubuh mu yang ku kenal, tapi kenapa kemarin setelah kau dari basecamp terasa berbeda, apa yang kau lakukan kemarin?" Iya itulah kecemburuan seorang wanita, jika ada yang mengusik miliknya dia pasti akan uring-uringan, tak beralasan.


"Aisst, hidung nya terlalu peka, gara-gara bertabrakan dengan wanita itu dia jadi salah faham, kan!" Kenzo hanya bisa mengumpat dalam hati, karena ketidaksopannan Shasa yang terus menempel di badannya, wangi parfum wanita itu sampai menempel di pakaian nya. "Aku tidak melakukan apa-apa, kemarin hanya tidak sengaja menabrak seseorang." timpal nya berusaha menjelaskan.


"Menabrak atau memeluk?"


"Astaga! tenyata kau posesif sekali. Jangan berpikir yang aneh-aneh," Kenzo sampai gelang kelapa, menyentuh kedua pipi sang istri, apa ini yang di sebut kecemburuan seorang wanita, dia langsung berbungkuk dan meriah dagu Tiara, di angkatnya wajah wanita itu dan perlahan mencium nya, dia tidak segila itu sampai melakukan apa yang Tiara bayangkan. "Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya milikmu, sayang."


Tiara sampai tersipu malu, kembali memeluk Kenzo membenamkan wajahnya di perut suaminya. "Maaf."

__ADS_1


...*...


Keadaan di sekolah, tepatnya di ruang anggota osis tempat Shasa menjalankan tugasnya. Wanita itu terduduk sambil menyandarkan punggungnya di kursi, tangannya memegang ponsel yang di tempelkan di telinganya. Sepertinya dia sedang bercengkrama di balik ponselnya.


"Ide mu terlalu susah, Arzan. Kau pikir Kenzo mudah di dekati, yang ada aku terus kena amukannya." keluhnya pada Arzan yang ada di sebrang sana. Lelaki itu selalu saja memberi dia ide yang susah untuk dia lakukan.


"Bukannya aku sudah mengajari mu bagaimana memperlakukan seorang lelaki, kenapa kau tidak mencobanya."


"Sudah Arzan, tapi dia bukan lelaki murahan yang mudah terpengaruh oleh sentuhan seperti dirimu." decak nya kesal. Kemarin dia dengan sengaja menunggu Kenzo dari basecamp nya dan rela di tabrak lelaki itu agar bisa merayu dan mencari perhatiannya, tapi bukannya terpesona, lelaki itu malah memarahinya.


Arzan malah tergelak, "lakukan yang lebih dari itu." ucapnya memberi saran.


"Kau gila!"


"Kalau mau menjatuhkan seseorang jangan setengah-setengah, baby. Lakukan dengan benar." titah Arzan menegaskan.


"Ada apa?"


Jessica pun langsung mendekat memberikan map yang dia bawa dan di simpan nya di atas meja Shasa. "Ini, Sha."


Shasa langsung membuka lembaran kertas berisi laporan yang Jessica berikan. Rupanya itu sebuah data murid-murid yang akan mengikuti kegiatan camping sekolah. "Hanya Kenzo dan Tiara yang tidak ikut?"


"Iya, kau tahu sendiri kan, tiap tahun pun si Kenzo tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan seperti ini." timpal Jessica. Jika Kenzo tidak ikut maka tidak aneh kalau Tiara pun tidak ikut dalam kegiatan itu.


"Dasar pecundang. Tanpa Kenzo dia memang tidak bisa apa-apa." Shasa sampai menyeringai, di kepalanya langsung terbesit ide yang menarik. "Aku akan menemui guru BK untuk memberikan laporan ini, akan ku pastikan Tiara di panggil guru BK, dan kau hanya perlu sedikit menghasut wanita itu. Kau mengerti kan maksud ku?" tutur Shasa dengan menyeringai tipis. "Kalau mereka bertengkar sepertinya akan menarik."

__ADS_1


Awalnya tidak mengerti, tapi setelah mendengar perkataan Shasa, Jessica mengerti apa maksud ucapan atasannya itu. "Baik, Sah. Dengan senang hati." timpal nya dengan menyeringai.


...~...


Tiara sedang asyik membolak-balik halaman buku yang sedang dia baca, duduk seorang diri di perpustakaan mencari bahan pelajaran untuk ujian mingguan esok hari. Dia harus mendapatkan nilai tinggi tanpa bantuan Kenzo untuk membuktikan kemampuannya kalau dia pantas menduduki Trisakti sekolah.


Suara pengumuman tiba-tiba terdengar dari sound di dalam ruangan, pengeras suara yang terhubung langsung ke setiap ruangan yang biasanya di gunakan guru untuk memanggil seorang murid yang akan di panggil ke ruang guru, ataupun hanya sekedar pengumuman.


"Tiara Lestari, di mohon segera menghadap guru BK di ruang guru."


Suara itu sampai menggema di dalam perpustakaan, sontak Tiara langsung berdiri dan merapikan bukunya.


"Ada apa, ya. Kenapa tiba-tiba di panggil guru BK?" Tiara sampai keheranan dengan penuh tanya, perasaan dia tidak melakukan kesalahan, walau begitu dia harus koperatif menuruti panggilan dan lekas menuju ruang guru.


Panggilan di ponselnya tiba-tiba terdengar, Tiara yang sedang berjalan menuju ruang guru langsung mengangkat panggilan itu tanpa menghentikan langkahnya. "Ken!" panggilnya pada Kenzo, rupanya itu panggilan dari suaminya.


"Ada apa? Kau melanggar peraturan? Kenapa di panggil guru BK?" Kenzo langsung bertanya, dia yang sedang nongkrong bersama Devan tidak bisa langsung menghampiri Tiara, dan memilih langsung menghubungi nya.


"Tidak kok. Aku tadi di perpustakaan, dan tiba-tiba ada panggilan."


"Mau di temani?"


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Lagi pula aku tidak punya salah, tidak ada yang harus di khawatirkan." tolak Tiara tidak enak, dia akan semakin terlihat lemah jika Kenzo selalu saja membantunya.


"Baiklah, kalau di persulit guru BK, langsung hubungi saja. Nanti aku langsung ke sana!" tutur Kenzo menawarkan diri, hanya di panggil guru BK mungkin tidak apa-apa, Tiara sendiri pasti bisa mengatasinya. Tapi tetap saja dia harus memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Iya, aku ke ruangan guru dulu."


__ADS_2