
Bak ikut kembali ke masa lalu, Kenzo sampai tersenyum kecil melihat penampilan Tiara dengan seragam sekolah nya, "Cupu." bibirnya sampai bergumam, kata itu yang terlintas di kepalanya saat melihat penampilan istrinya sekarang, "Dari mana coba dia mendapatkan stoking itu?" gumamnya lagi sambil menggaruk kepalanya, dia langsung kembali masuk Wardrobe untuk mengambil rok seragam Tiara yang baru, dan kembali berjalan menghampiri Tiara yang tengah merapihkan pakaian seragam sekolah nya.
"Sayang, tidak harus menggunakan stoking," ucapnya berusaha merubah penampilan Tiara, dia sampai gelang kelapa, serasa sedang mengasuh anak kecil yang baru menginjakkan kakinya di kota.
"Tapi ini terlalu seksi, aku tidak bisa mengenakan ini." timpal Tiara dengan mimik malu, tangannya bahkan terus menarik ujung rok seragam nya karena ukurannya terlalu mini.
"Itu seragam lama, gunakan yang ini!"
Tiara pun dengan cepat mengambil rok itu, setelah dia lihat, yang di berikan Kenzo memang lebih panjang dari pada yang di kenakan nya sekarang. "Terima kasih," dia sampai tersenyum senang dan mulai bergegas untuk mengganti rok seragam nya.
"Tiara!"
"Hem," Tiara yang mau masuk Wardrobe langsung menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Kenzo, "Apa?"
Kenzo hanya menghela nafas, awalnya dia ingin bertanya apa istrinya itu benar-benar siapa untuk mengikuti ujian hari ini, dia takut kesehatannya terganggu jika harus memaksanya untuk berpikir keras, tapi jika dia tanya takut malah menyinggung perasaan nya karena Tiara terlihat begitu antusias.
"Apa, Ken?" tanya Tiara lagi karena lelaki itu masih terdiam. "Apa ada sesuatu yang aku lupakan?" tanyanya memastikan, jika ada sesuatu yang dia lewatkan tolong ingatkan.
"Tidak. Bersiaplah! Aku tunggu di bawah, tadi Daddy menyuruh ku untuk menemui nya sebelum berangkat sekolah." Akhirnya mencari alasan lain, dia akan berusaha membantu Tiara, jika saja ujian itu terlalu sulit untuk istrinya dia akan berusaha membantunya.
"Iya," Tiara langsung mengangguk, dia pun langsung masuk wardrobe untuk bersiap-siap.
Kenzo sudah sampai di bawah, dia sedikit terkejut saat melihat tiga bodyguard yang sudah berdiri tegak di ruang keluarga yang sepertinya siapa untuk bekerja, "Bukannya mereka anggota tim satu." gumamnya saat melihat tanda pengenal mereka, mereka adalah anggota tim yang skill bela diri nya paling tinggi di antara pengawal-pengawal yang keluarga Wijaya pekerjaan.
"Dad," panggil nya saat matanya melihat sosok sang Daddy yang sedang duduk di sofa ruangan itu. "Ada apa memanggil ku?" tanyanya sambil ikut duduk di sana.
Kenan sampai menghela nafas, jika tidak di beri tahu takut putranya itu akan lengah, tapi kalau di beri tahu takut malah jadi tekanan padahal putranya harus fokus dengan kesembuhan istri nya. "Untuk sementara ini mereka akan menjaga kalian selama kalian keluar rumah." tuturnya sambil menunjuk tiga bodyguard itu.
"Apa ada sesuatu?" Kenzo cukup peka, pasti bukan tanpa alasan jika sang Daddy memperketat keamanannya. "Bicara saja, Dad." ucapnya lagi.
"Mario berhasil lolos, Ken." Akhirnya terucap juga, Kenan sampai menundukkan kepalanya karena malu, sebagai sosok orang tua dia hanya menambah beban untuk putranya. "Sampai sekarang kepolisian dan bawahan Daddy belum juga menemukan nya, dia menghilang tanpa jejak." tuturnya lagi.
Kenzo sampai memijat pelipisnya, yang ada di kepalanya sekarang bukan tentang dirinya, melainkan keselamatan Tiara.
__ADS_1
"Terakhir kali Arzan juga menargetkan istri mu, ada kemungkinan Mario juga demikian terlebih sekarang keadaan Tiara sedang sangat lemah. Daddy tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan untuk yang kedua kalinya."
Kenzo sesaat memejamkan mata, pemikiran Daddy-nya dan dia memang sama, pasti keluarga gila itu lebih menargetkan Tiara karena dia lemah, "Apa kemungkinan orang itu masih berkeliaran di sekitar kita, sampai-sampai Daddy menyuruh para bodyguard untuk menjaga kita." ucapnya berusaha menebak.
"Iya, karena di manapun tidak ada data-data keberangkatannya ke luar negeri, dia pasti sedang bersembunyi." jawabnya cepat, Kenan memang sudah mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari Mario, jika lelaki itu masih ada di sekitar mereka itu akan menguntungkan sekaligus merugikan, keuntungannya pasti akan mudah untuk mencarinya, tapi kerugiannya lelaki itu pasti akan menjadi ancaman untuk keselamatan anggota keluarga Wijaya.
"Jika orang itu terus mengintai kita seharusnya bawahan Daddy bisa mendeteksinya kan?"
"Iya, itu pasti. Daddy hanya menyuruh mu untuk berjaga-jaga saja, keturunan Wiranto orang-orang gila yang akan melakukan segala cara untuk bisa membalaskan dendam mereka, jadi kau harus tetap waspada." tuturnya lagi memberi nasehat.
"Baik, Dad." Kenzo pun langsung mengiyakan dengan begitu sigap, dia tidak akan membiarkan Tiara mengalami kecelakaan yang kedua kalinya.
Pembicaraan mereka selesai, di sudut lain ternyata dari tadi Tiara mendengar jelas percakapan mereka, dia yang awalnya ingin menghampiri Kenzo langsung terhenti karena mendengar sang Daddy membicarakannya. "Arzan?" Hatinya bagai tertusuk, sakit, itu yang dia rasakan saat mendengar nama itu, jantungnya berdenyut kencang, tubuhnya serasa bergetar lemas, "Argh..." tangannya langsung bergerak menyentuh kepala, ada kilasan bayangan melintas di kepalanya yang membuat nya cukup trauma. Sebuah mobil hitam menghantam keras tubuhnya tergambar jelas di kepalanya membuatnya pusing.
"Ingatan apa itu?" tubuhnya lemas, Tiara berusaha berjalan mencari tempat duduk sambil merayap menyentuh dinding. Ingatan orang yang ada di dalam mobil itu terlihat samar-samar tapi begitu menyakitkan sampai membuat tubuhnya bergetar seolah ketakutan. Kenapa saat mendengar percakapan sang Daddy dan suaminya ingatan itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Tiara!" Kenzo sampai khawatir, yang awalnya ingin menghampiri Tiara ke atas dia malah di buat terkejut melihat keadaan istrinya. "Kau kenapa?" tanyanya, dengan cepat menghampiri sang istri yang tengah duduk di sofa bawah tangga.
"Kau yakin? Jangan membohongi ku, kepala mu pusing lagi kan?" Kenzo sampai menyibakkan poni Tiara, mengelus kedua pipi wanita itu untuk memastikan keadaan nya, "Kalau pusing istirahat saja, kita tidak harus pergi ke sekolah."
"Tidak apa-apa, Ken. Kepala ku tidak sakit kok." Bibir Tiara sampai memasang senyum, dia akan meyakinkan Kenzo kalau dia baik-baik saja. "Aku hanya terkejut. Maaf aku tidak sengaja menguping pembicaraan mu dengan, Daddy." ucapnya sambil menunduk, sakit di kepalanya mulai memudar dan sepertinya tidak akan apa-apa kalau dia bertanya, dan menceritakan tentang ingatannya.
"Kau mendengar semuanya?" Kenzo sampai terkejut, pantas saja Tiara terlihat begitu syok. Jadi istrinya itu mendengar pembicaraan mereka. "Maaf, apapun yang kau dengar jangan menjadi beban pikiran, tidak harus takut karena aku akan melindungi mu."
Tiara langsung mengangguk, dia mendengar jelas kalau mereka akan mengetatkan pengamanan, tapi tatap saja ada hal yang membuatnya penasaran, "Siapa Arzan? Kepala ku tiba-tiba mengingat sesuatu, dan itu terlintas begitu saja saat aku mendengar nama itu." tuturnya menceritakan.
"Kau mengingat sesuatu, apa yang kau ingat?" Kenzo kembali terkejut, dia bahkan langsung mengelus kepala Tiara, apa potongan ingatan istrinya itu perlahan kembali, tapi kenapa itu tangan Arzan kalau ingatan itu malah akan menjadi tekanan.
"Aku dengan sengaja di tabrak oleh sebuah mobil, apa itu Arzan? dia yang menabrak ku?" tuturnya dengan pilu, ingatan itu hadir dengan sendirinya saat nama Arzan terngiang di kepalanya.
Sontak Kenzo langsung memeluk Tiara, dia tidak tega melihat ekspresi Tiara yang terlihat jelas begitu ketakutan. "Iya, tapi jangan pernah takut, Arzan tidak akan pernah bisa menyakiti mu lagi. Dan siapapun itu tidak akan ada yang bisa menyakiti mu, Tiara."
...*...
__ADS_1
Kenzo dan Tiara sudah sampai di sekolah, mereka baru terlihat keluar dari mobil setelah Pak Tono membuka pintu mobil untuk Tiara sedangkan salah satu bodyguard membuka pintu mobil untuk Tuan mudanya.
"Kalian bisa tunggu di sini, tidak harus masuk ke dalam!" titah Kenzo pada ketiga bodyguard itu, keadaan akan membuat Tiara semakin canggung jika mereka juga akan terus mengikuti mereka sampai ke dalam kelas.
"Tapi Tuan!"
"Tidak apa-apa, ini di sekolah. Keadaannya pasti akan cukup aman." timpal Kenzo sambil mendekati Tiara dan langsung menggenggam tangannya. Selama di sekolah dia bisa menjaga diri dan juga menjaga Tiara jadi mereka tidak harus terus mengikutinya.
"Tiara...." Suara Azzura terdengar jelas, wanita itu langsung mendekat menghampiri Tiara bersama dengan Priscilla. "Akhirnya kau masuk sekolah juga." ucapnya lagi sambil tersenyum senang dengan tangan perlahan menggandeng lengan Tiara.
"Hai!" Tiara pun langsung tersenyum menyapa kedua wanita itu.
"Ayo masuk bareng!" Azzura mulai menarik lengan Tiara tapi tiba-tiba terhenti karena di hadang tiga bodyguard itu.
"Maaf, Nona tidak boleh jauh-jauh dari, Tuan." ucap salah satu dari mereka dengan begitu kaku.
Azzura dan Priscilla sampai menohok, "Astaga, beda ya kalau punya teman sultan." keluh Azzura dan mulai menghentikan langkahnya. Baiklah dia akan menurut dan tidak akan menjauhkan Tiara dari suaminya itu. "Tadinya aku mau mengajak mu bergosip." bisik Azzura.
Kenzo sampai mendelik, "Mau apa lagi, jangan membicarakan hal yang tidak-tidak pada, Tiara." ucapnya dengan dingin.
"Aisst, galak sekali si. Aku kan hanya mau memberi tahu nya kalau hari ini bakal ada guru baru. Iya kan Cill." ucap Azzura menceritakan bahkan dia langsung melirik Priscilla meminta bantuan wanita itu untuk meyakinkan perkataanya.
"Iya. Dan katanya beliau akan menjadi pengawas ujian di kelas unggulan." sambung Priscilla menceritakan.
Tiara menanggapinya dengan biasa saja, toh baginya mau guru baru dan guru lama semua sama saja, dia tidak mengenal semuanya.
"Guru baru?" Kenzo yang kaget. Guru yang mengajar di SMA Trisakti tidak lah abal-abal, jarang ada yang bisa lolos seleksi kecuali melalui jalur dalam dan tentunya itu semua berkat bantuan Daddy-nya. "Tapi Daddy tidak pernah bercerita kalau dia telah memasukkan guru baru di sini." gumamnya masih dengan penuh tanya.
Belum juga selesai menerka-nerka, dia malah di buat kaget karena Tiara tiba-tiba begitu erat menggenggam tangannya saat terlihat ada Shasa menghampiri mereka. "Kenapa?" tanyanya heran. Bahkan badan Tiara terlihat bergetar. Setelah kecelakaan ini memang pertama kalinya Tiara bertemu dengan sepupunya itu.
"Kepala ku sakit." bisik Tiara, dia juga heran, kenapa tiba-tiba begini. Dia tahu wanita itu sepupunya, tapi kenapa tubuhnya serasa merasakan hal aneh. "Argh." tangannya langsung bergerak menyentuh kepala, lagi-lagi ada potongan ingatan yang melintas di kepalanya. Teriakkan, ancaman, ledekan, cibiran, bahkan perlakuan keras dari seseorang yang terlihat sama-sama kenapa tiba-tiba melintas di ingatannya. "Argh, sakit...."
"Tiara?" Kenzo semakin panik. Bahkan Azzura dan Priscilla juga demikian. "Ayo ke UKS, biar aku telepon dokter untuk memeriksa keadaan mu." ajaknya sambil memboyong sang istri. Tidak mungkin jika dia yang mengajak Tiara ke rumah sakit, biar sang Dokter yang menghampirinya.
__ADS_1