
"Mom, apa ini tidak berlebihan. Aku tidak terbiasa dengan penampilan seperti ini."
Tiara mengeluh. Merasa tidak nyaman dengan penampilan nya sekarang. Bagaimana tidak Ze sudah mengubah drastis penampilan nya.
Dari mulai pakaian, aksesoris dan tatanan rambut yang semakin rapih.
Bahkan make up pun ikut menyempurnakan penampilan nya sampai Tiara terlihat semakin cantik.
"Ini tidak berlebihan, sayang. Malam ini kau harus terlihat lebih cantik, jadi penampilan mu tidak boleh terlihat biasa saja."
Ze berusaha meyakinkan Tiara. Dia sudah tahu kebiasaan orang orang kota yang selalu mempercantik putri mereka agar menarik perhatian lawan jenis nya.
Maka dia pun akan berusaha mempercantik Tiara agar tidak kalah saing dengan putrinya Pak Arya yang merupakan tulen gadis kota.
Walau Tiara seorang gadis desa, dia harus terlihat istimewa karena malam ini Tiara lah sang pemeran utamanya.
"Mom, bisakah aku sedikit menghapus lipstik ini, aku benar benar tidak nyaman."
Tiara sampai tersenyum kikuk. Bukan dia tidak menghargai pengorbanan Ze yang telah mempercantik diri nya. Tapi sungguh dia tidak nyaman karena belum terbiasa.
"Tidak boleh."
Ze tetap kukuh. Tersenyum kecil melihat tingkah Tiara yang masih kaku. Tiara sudah sangat cantik dengan penampilan nya sekarang, jadi tidak boleh mengubahnya apapun itu.
Karena mulai sekarang Tiara harus belajar terbiasa dengan penampilan seperti ini.
"Mommy harus ke atas dulu untuk bersiap, nanti mommy akan panggil Kenzo untuk menemani mu sebelum keluarga paman mu sampai di sini."
Ze pamit, dia langsung keluar dari kamar tamu yang di tempati Tiara. Dia juga harus bersiap untuk menyambut keluarga Arya.
"Tidak panggil Kenzo juga tidak apa-apa. Aku bisa menunggu mereka sendiri di sini."
Ingin sekali mengatakan itu pada Ze, tapi sang mommy sudah terlebih dulu pergi keluar dari kamarnya.
Tiara kini berdiri, melihat jelas pantulan dirinya di cermin, dia sendiri tidak mengira kalau itu benar benar dirinya. Bahkan tangan nya sampai tidak henti menarik mini dress yang dia kenakan karena panjangnya hanya sampai menutupi lututnya saja.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar nya. Tiara bergegas membuka pintu, sepertinya itu Kenzo karena Ze tadi bilang kalau Kenzo akan menemaninya.
Cklek...
Belahan pintu mulai terbuka, sosok Kenzo yang berdiri di depan pintu bisa dengan jelas melihat Tiara yang perlahan membukakan pintu untuk nya.
"Kau sudah siap?"
Kenzo langsung bertanya, tidak sadar sampai memalingkan muka merasa terkesima melihat penampilan Tiara yang jauh berbeda dari biasanya.
"Ekspresi macam apa itu? Apa penampilan ku seburuk itu di matanya."
Entah kenapa Tiara malah kesal. Ze saja bilang kalau dia cantik, tapi kenapa Kenzo malah tidak sampai lima detik menatapnya.
"Tahu gini kenapa harus repot-repot terlihat cantik. Orang dia es balok. Dia tidak tahu mana yang cantik dan mana yang tidak, di matanya semua terlihat biasa saja."
Tiara terus menggerutu dalam hati, mengatai Kenzo dengan begitu kesal.
Tidak tahu kalau sebenarnya Kenzo sedang mengalihkan keterkejutan karena melihat kecantikannya.
"Kenapa diam saja? Jika sudah siap ayo keluar!"
Kenzo kembali bicara, akan semakin canggung kalau mereka malah terus berdiri di sana dan Tiara hanya diam tanpa kata.
"Bisa tunggu sebentar! Sebenarnya aku belum siap."
Tiara kini bersuara. Dia harus kembali ke dalam untuk sedikit mengubah penampilannya.
"Mau apa lagi?"
Kenzo di buat heran, kurang apalagi? Padahal Tiara sudah begitu cantik dengan penampilan nya sekarang.
"Tunggu saja, tidak lama kok!"
Tiara masuk, Kenzo pun refleks mengikutinya.
Kenzo akan memastikan Tiara tidak memakan waktu lama karena waktu sudah semakin singkat.
Tiara berjalan menghampiri meja rias,
langsung mengambil beberapa lembar tisu bermaksud menghapus lipstik yang sedari tadi terasa aneh menempel di bibirnya.
Berhubung Kenzo tidak mempedulikan penampilannya mungkin tidak apa-apa jika dia menghapus nya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Kenzo tiba-tiba bersuara.
Tiara sampai kaget dia kira Kenzo akan menunggu nya di luar.
"Aku kan menyuruh mu menunggu, kenapa ikut masuk. Aku tidak akan lama, hanya ingin menghapus lipstik saja."
Tiara kembali menghadap cermin, lipstik yang berwarna merah muda kini sirna dari bibirnya.
"Pantas saja mommy menyuruh ku cepat ke sini. Mommy tahu kalau si cupu ini pasti akan langsung menghapus make-up nya, merepotkan saja."
Kenzo mendekat ke arah Tiara. Dia langsung melihat beberapa alat makeup yang masih berjajar di atas meja.
"Nih. Gunakan ini saja. Ini akan lebih cocok untuk mu."
Kenzo mengambil sebuah lipstik berwarna peach, langsung memberikan itu pada Tiara agar gadis itu mengenakan nya.
Tiara sampai melongo melihat Kenzo, apa makeup merupakan hal biasa bagi orang-orang kota, Kenzo yang seorang laki-laki saja sampai menyarankan sebuah lipstik, padahal tadinya dia tidak tahu itu apa.
"Kenapa masih diam? Cepat! Pak Arya keburu ke sini."
Kenzo kembali bicara, kenapa Tiara malah terus menatapnya.
__ADS_1
"Tidak mau,"
Tiara sampai menutup bibirnya. Bukan hanya karena merasa penampilannya menjadi aneh, memakai lipstik juga membuat bibirnya terasa kaku sampai rasanya tidak bebas untuk bicara.
"Akh gadis ini. Dia memang cupu tapi tidak harus secupu ini kan."
Kenzo sampai kesal sendiri. Langsung meraih tangan Tiara yang menghalangi bibirnya.
Tidak habis pikir, padahal dia tahu Tiara sangat keras kepala, tapi dia malah mau terus membantunya.
"Diam dan jangan banyak gerak! kalau tidak, bukan hanya mengenai bibir tapi lipstik ini akan mengenai seluruh bagian wajah mu."
Kenzo membuka lipstik itu, bergerak dengan begitu cepat, tangan kirinya meraih dagu Tiara sedangkan tangan kanannya bersiap untuk mengoleskan lipstik itu di bibir Tiara.
"Hei...."
Tiara sampai tidak ada waktu untuk menghindar saat ingin bicara saja Kenzo langsung menatapnya dengan begitu tajam dan lipstik itu benar benar sudah mendarat di bibirnya.
"Apa di gila."
Tiara sampai menelan keras saliva nya, terkejut bukan main, apa sebenarnya yang di pikirkan Kenzo? Dia benar benar memasangkan lipstik itu di bibirnya.
"Lepaskan! Aku bisa-"
Tiara ingin protes, posisi Kenzo yang memasangkan lipstik di bibirnya membuat dia tidak nyaman.
"Diam! kalau tidak hasilnya malah jadi berantakan."
Kenzo benar benar tidak mempedulikan ocehan Tiara, dia malah begitu lihai menelusuri setiap inci bibir Tiara dengan lipstik di tangannya.
"Kenzo! Tiara! Ayo, nak. Pak Arya sudah sampai."
Suara Ze tiba-tiba terdengar begitu jelas.
Kenzo sampai kaget, langsung menurunkan tangan yang memegang lipstik menjauh dari bibir Tiara.
"Sial."
Percuma, sebelum dia mengembalikan posisinya, Ze sudah masuk dan melihat jelas kalau satu tangannya lagi masih memegang dagu Tiara.
"Akh maaf. Sepertinya mommy mengganggu ya."
Ze tersenyum malu. Posisi Kenzo malah terlihat seperti sedang bersiap mau mencium Tiara. Dia sampai memalingkan muka dan bergegas pergi dari sana.
"Ini gara-gara kau!"
Antara malu dan kesal. Tiara langsung memundurkan tubuhnya menjaga jarak dari Kenzo.
"Bukannya berterima kasih, kau malah marah-marah."
Kenzo mengendus kesal. Kalau bukan karena kasihan pada Tiara dia enggan membantunya.
"Nih, rapihkan! Lawan mu sekarang adalah Sahsa. Setidaknya kau harus bisa mengubah penampilan mu agar bisa lebih percaya diri untuk melawannya."
Tiara sampai tersentak, rupanya apa yang di lakukan Kenzo memang bukan tanpa alasan. Dia menjadi malu, karena dia sendiri tidak pernah berpikir sampai ke arah sana.
"Maaf dan terima kasih."
...*...
"Malam Pak Kenan,"
"Malam Bu Zepania,"
Arya dan Widia menyapa Kenan dan Ze, tersenyum ramah sambil memperkenalkan Shasa kepada mereka.
"Ayo sini Nak. Ini Pak Kenan dan Ibu Ze."
Arya mengajak Shasa untuk mendekat.
Shasa pun langsung memperkenalkan diri sambil menyalami keduanya.
"Shasa."
"Duh, putri Pak Arya cantik sekali ya."
Ze langsung tersenyum lebar.
Menyuruh mereka semua untuk bergegas masuk ke dalam. Dan duduk di ruangan yang sudah di siapkan.
"Kenzo dan Tiara kok belum kelihatan si."
Shasa langsung mengitari sekeliling rumah, kenapa Tiara tidak ada untuk menyambut mereka, bahkan Kenzo juga.
Hatinya makin panas, sudah membayangkan kalau mereka sedang berduaan.
"Tiara mana ya Bu? Kok tidak kelihatan."
Widia memberanikan diri untuk bertanya.
Bukan hanya putrinya yang merasa kesal, dia juga merasa jengah. Bisa bisanya Tiara leluasa tinggal di sana.
"Oh, sebentar lagi mereka ke sini, ada hal yang belum di selesaikan."
Ze langsung menjawab dengan tersenyum, di kepalanya kembali muncul bayangan Kenzo dan Tiara saat mereka berdua di kamar.
"Katanya kamu dan Kenzo sudah berteman cukup lama ya?"
Ze mengawali bicara, sengaja agar mereka tidak menunggu kedatangan kedua putra putri nya.
"Iya, Bu. Kami sudah dekat dari awal masuk SMA."
Shasa menjawab dengan begitu senang.
__ADS_1
Sepertinya dia sedang membuktikan kedekatan mereka agar Ze dan Kenan menyetujui permohonan sang Ayah.
"Dan kami jadi lebih dekat saat di nobatkan sebagai Trisakti sekolah."
Lanjut Shasa lagi.
"Apa Trisakti? Kenzo juga bagian dari Trisakti sekolah?"
Ze dan Kenan sampai kaget. Mereka tidak tahu karena Kenzo tidak pernah bercerita sebelumnya.
"Iya, Bu. Kenzo di peringkat ke dua, dan saya di peringkat ke tiga."
Shasa kembali bercerita. Dan itu membuat Kenan mulai condong ke padanya.
Bagaimana tidak, bagi kalangan orang-orang kaya, bisa menduduki posisi Trisakti sekolah merupakan ajang bergengsi. Bukan hanya menaikkan popularitas, penghargaan itu bisa menunjukkan kalau putra putri mereka pantas dan mampu untuk bersaing meneruskan mereka di dunia bisnis.
Jika bagi Tiara, posisi Trisakti sekolah adalah sebuah jalan agar dia bisa mendapatkan beasiswa, bagi mereka orang-orang yang kaya posisi Trisakti sekolah adalah sebuah kartu emas untuk bersaing keras dengan para pemenang saham di perusahaan.
Jadi siapapun pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkan nya.
Kenan sampai menghela nafas.
Kalau saja Kenzo dan Shasa menjadi pasangan, itu akan lebih baik.
Tidak akan susah bagi Kenzo untuk meneruskan perjuangannya di perusahaan. Bukan hanya karena kemampuan Kenzo sendiri tapi Sahsa juga bisa menopang dia sebagai pasangan sempurna nya.
"Mas."
Ze langsung meraih tangan sang suami.
Dia tahu betul apa yang di pikirkan suaminya. Maka dia harus kembali meyakinkan Kenan kalau putra mereka sudah menentukan pilihan. Jangan goyah hanya karena itu saja.
Kenzo dan Tiara kini terlihat, mereka berjalan mendekat menghampiri mereka.
"Kenapa mereka terlihat begitu dekat?
Benalu, kau benar benar tidak mempedulikan ucapan ku."
Shasa sampai mengepalkan tangannya.
Dia tidak terima, rasanya ia ingin langsung menarik Tiara dan menjauhkannya dari Kenzo.
"Kenapa Tiara bisa secantik itu?"
Widia ikut terkesima, matanya sampai melebar sempurna melihat Tiara yang berjalan di samping lelaki yang di sukai putrinya.
Bahkan lebih mencolok lagi karena Taira terlihat begitu cantik, mereka malah terlihat serasi, tidak sesuai dugaannya.
"Apa aku benar benar bisa melawan, Shasa?"
Tiara sampai memperlambat langkahnya. Tatapan Sahsa dan Widia bak anak panah yang membuat nya menjadi lemas. Bahkan tamparan Sahsa kembali terngiang di kepalanya.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."
Kenzo berbisik. Tangan nya langsung bergerak meraih telapak tangan Tiara dan menggenggamnya.
"Ken?"
Tiara sampai kaget. Apa tidak apa-apa?
Semua mata sedang tertuju pada mereka,
Jika Kenzo terus menggenggam tangannya bukankah itu akan memancing perhatian.
Kenzo enggan menjawab, dia malah terus berjalan tanpa mempedulikan kekhawatiran Tiara.
"Apa Pak Kenan tidak memberi tahu Kenzo soal pertukaran pertunangan ini, kenapa mereka malah terlihat makin dekat."
Arya yang kini menatap Kenzo dan Tiara dengan begitu heran, bahkan matanya sampai melihat jelas tangan Kenzo yang menggenggam tangan Tiara.
"Malam, paman, bibi."
Kenzo langsung menyapa Arya dan Widia. Begitupun dengan Tiara, Tiara langsung melepaskan genggaman Kenzo untuk menyalami paman dan juga bibinya.
"Malam, Sha. Tidak menyangka ya kita bisa bertemu di sini."
Kenzo menyapa, menatap Shasa dengan tatapan penuh arti, seolah berkata. Bagaimana perasaannya setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Kenzo."
Shasa menimpali, suaranya sampai paruh, seolah meminta maaf, kalau saja dia tahu lebih awal dia tidak akan pernah menolak perjodohan itu.
"Ken, maaf. Aku harap kau tidak akan mengabaikan ku."
Shasa bersuara dengan cukup pelan, sengaja agar hanya Kenzo yang mendengarnya.
"Baru satu hari tidak melihat mu kamu terlihat makin cantik saja, Nak. Sini duduk di samping, Bibi."
Widia langsung bicara pada Taira, ingin sekali menjauhkan Tiara dari Kenzo. Agar Kenzo memperhatikan putrinya saja.
"Kursi di sana terlalu penuh, Bi. Biar Tiara duduk bersama ku."
Bukannya mempedulikan Shasa, Kenzo malah meraih tangan Tiara. Agar tidak jauh dari nya.
"Terima kasih, Ken."
Hati Tiara sedikit tentang, Kenzo dengan cepat mengajak dia duduk di sofa di mana Ze dan Kenan berada.
Tiara benar benar tidak bisa bicara, dia bingung karena yang ada hadapannya adalah paman dan bibinya.
"Ken, aku tahu kau melakukan itu karena kesal pada ku atas penolakan ku waktu itu. Kau tidak mungkin benar benar peduli pada gadis kampung itu kan?"
Shasa hanya bisa bicara dalam hati. Hatinya begitu sakit. Kenzo yang dia kenal bukan laki-laki yang mudah mengabaikan nya, apalagi hanya karena seorang wanita yang baru di kenalnya. Dia tidak terima Kenzo lebih memilih mempedulikan Tiara dari pada dirinya.
__ADS_1
"Akan ku pastikan kau memilih ku, Ken."