
"Ken, ayolah. Kau bisa kan meminta Daddy memundurkan waktunya. Aku belum siap." rengek Tiara, dia terus mengikuti langkah Kenzo yang sedang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. "Kenzo!" pintanya lagi.
Kenzo masih diam, bukannya menjawab dia malah tersenyum senang mendengar rengekan Tiara, keputusannya sudah bulat tanpa bisa di ganggu gugat, menikahi Tiara di waktu dekat memang hal paling tepat. "Ikuti aku, ada yang ingin ku berikan." pintanya sambil terus berjalan. Sebenarnya dia cukup ragu memberikan barang itu, tapi dia sudah terlanjur membelinya. Karena nasehat Devan dan Reno dia benar-benar membeli sekotak coklat dan setangkai bunga mawar, tapi dari tadi dia bingung bagaimana cara memberikannya.
Kenzo sudah masuk kamar, tapi Tiara masih diam di luar. "Kenapa masih diam? Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku tidak akan macam-macam." timpal nya, dia langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar, agar Tiara tidak berpikir mesum tentang dirinya.
"Karena ciuman nya tadi, aku jadi takut kalau berdua dengan nya." gumam Tiara, dia begitu ragu untuk masuk ke dalam, dia memilih menunggu di luar saja, "Aku tunggu saja di sini." timpal nya, walau dia penasaran apa yang akan Kenzo berikan tapi dia memilih untuk berjaga-jaga. Dia mendadak jadi lupa kalau dia sedang merajuk protes masalah pernikahan.
"Ambil sendiri, barang nya ada di atas meja!" titah Kenzo dengan datar, sudut matanya langsung menunjuk ke arah barang itu. Dan badannya langsung bersandar di dinding, seolah berkata masuk saja dia akan tetap diam menjaga jarak darinya. Gengsi nya terlalu tinggi, tidak bisa memberikan barang itu secara langsung pada tangan Tiara, biar wanita itu sendiri yang mengambilnya.
Tiara masuk, dia sudah penasaran apa yang Kenzo berikan, detik selanjutnya langsung tertegun, tatkala matanya melihat barang yang Kenzo siapkan, "Apa ini sebuah sogokan?" gumamnya dengan tersenyum kecil, dia terus berjalan semakin mendekat ke meja di mana dua barang itu bertengger, jujur dia cukup terkesan karena Kenzo memberikan nya setangkai bunga dan sekotak coklat, tapi kenapa tidak ada manis-manisnya sama sekali. Bahkan tidak terlihat romantis sama sekali
"Dalam rangka apa ini?" tanya nya, Tiara belum mau mengambil kedua barang itu sebelum Kenzo bicara apa maksud dia memberikan itu. Bahkan di samping kotak coklat itu ada sebuah map yang memancing rasa penasaran nya.
"Jangan banyak tanya, kalau mau, ambil! Kalau tidak mau, sini biar ku buang." timpal Kenzo dengan begitu datar, dari tadi sudah menahan rasa malu, ekh, Tiara malah banyak tanya, daripada langsung mengambilnya. Dia langsung berjalan cepat menghampiri Tiara. "Sudah keluar sana! sepertinya kau tidak mau menerima barang yang aku berikan." ucapnya ketus, dia benar-benar mengambil kotak coklat dan bunga itu untuk dia buang.
Tiara sampai tidak kuat menahan tawa melihat kelakuan lelaki itu, "Ya Tuhan, apa ini benar lelaki yang akan menjadi suami ku. Dia sungguh kaku sekali, dasar es balok." umpat nya dalam hati. Dia langsung bergerak cepat menahan pergerakan Kenzo dan mengambil coklat dan bunga itu dari tangan si es balok itu. "Sini! itu sudah menjadi milik ku, seenaknya saja kau mau membuangnya." cegah nya. Bahkan dia begitu sewot, mengimbangi sifat dingin lelaki itu.
Kenzo sampai tersenyum kecil, dia kini mengambil map yang berisikan biodata murid-murid yang Tiara minta. "Nih, satu lagi. Ini biodata anak-anak yang kau minta." jelas nya sambil mengulurkan map itu di depan Tiara.
"Sungguh, kau benar-benar mendapatkan biodata mereka?" timpal Tiara begitu antusias, dia tidak mengira bahkan Kenzo membantunya sampai sejauh itu.
"Sesenang itu? Bahkan dia begitu antusias menerima ini dari pada coklat dan bunga itu. Tahu gini aku tidak akan mendengarkan perkataan Devan dan Reno, bikin malu saja." umpat nya dalam hati, di kepalanya langsung terbesit sesuatu untuk memanfaatkan situasi ini. "Aku akan memberikan ini, tapi ada syaratnya." timpal nya dengan tersenyum jahil, takut Tiara tiba-tiba mengambilnya, dia langsung menyembunyikan map itu di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Kau!" seketika rasa antusiasnya memudar, bikin kesel saja, seharusnya dia bisa mengira kalau Kenzo tidak akan cuma-cuma membantunya. "Apa?" tanya nya penasaran.
"Jangan merengek minta mengundurkan pernikahan, kita." ucapnya dengan begitu serius, itu adalah syarat penting yang harus Tiara lakukan.
"Loh, kok syarat nya berat sekali." umpat nya kaget. Tapi persetan dengan syarat dari Kenzo, di kepalanya hanya ingin mendapatkan map itu. Dia langsung menganggukkan kepala mengiyakan syarat lelaki itu.
"Tiara, ini bukan karena map ini. Aku sungguh-sungguh." tutur Kenzo kembali meyakinkan. Karena terlihat jelas dari raut wajah Tiara kalau wanita itu menganggap ucapnya sebagai lelucon. "Tatap mata ku, dan jawab dengan serius," pinta nya semakin tegas.Tiara sampai tertegun, baru kali ini melihat raut wajah Kenzo yang terlihat serius seperti itu. "Iya." jawab Tiara patuh.
"Kau tidak keberatan jika kita menikah dalam waktu dekat?" tanya Kenzo lagi.
"Iya," Tiara menjawab singkat, tatapan Kenzo bak hipnotis yang membuatnya tidak mampu mengelak.
"Kau mau menikah dengan ku?" tanya Kenzo lagi. Tiara langsung tertegun, kenapa harus bertanya seperti itu, bukankah jawabannya sudah pasti karena dia tunangannya. "Iya," jawab Tiara lirih. Jujur walau awalnya hubungan mereka karena keterpaksaan, tapi hati kecil Tiara tidak merasa terbebani jika harus menikah muda dengan lelaki ini.
Kenzo langsung tersenyum kecil. Map yang tadi di belakang punggungnya langsung mendarat di kepala Tiara. "Nih, ambil. Cepat istirahat! besok kita harus menemui paman mu." ucapnya lagi, lain di kata lain di hati, suara dan tingkah nya terlihat begitu kasar, dalam hati sudah tersenyum senang mendengar jawaban Tiara.
"Iya, terima kasih coklat dan bunga," timpal Tiara dengan tersenyum manis, lekas pergi meninggalkan kamar lelaki itu
"Kenapa? Kau gugup?" Kenzo langsung menatap Tiara, langkah wanita itu menjadi melambat tatkala tinggal beberapa langkah lagi untuk mereka masuk ke rumah Arya. "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja!" ucapnya lagi, tangannya kini bergerak merapihkan poni rambut Tiara karena wanita itu terus menunduk seperti memendam kegelisahan didalam hatinya.
Tiara menghela nafas, hubungan dia dengan pamannya tidak lah baik, mungkinkah jika mereka mendatangi mereka semuanya akan baik-baik saja.
"Jangan di jadikan beban, kita belum mencoba, kau hanya perlu percaya pada ku kalau semua pasti baik-baik saja." tutur Kenzo lagi, dia langsung meraih tangan Tiara, menggenggamnya erat dan lekas mengajaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Sementara keadaan di dalam, Arya, Widia dan juga Shasa sudah menunggu kedatangan mereka, Arya yang sudah di beritahu Kenan kalau putra nya akan main ke rumah langsung pulang lebih awal dari kantor. Kenan tidak memberi tahunya lebih detail maksud kedatangan mereka, dia hanya bisa menerka-nerka.
Yang di tunggu-tunggu kini sudah terlihat memasuki rumah, pemandangan Kenzo dan Tiara yang terlihat makin dekat membuat Shasa makin tertunduk lemas, kejadian kemarin di sekolah membuatnya syok, bahkan amarah Kenzo masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Yah, aku masuk saja." ucap Shasa meminta izin. Kejadian kemarin memberikan luka dalam di hatinya dia membutuhkan waktu untuk bisa melupakan semuanya.
"Sha," hati Arya bagai teriris melihat keadaan putrinya, dia tahu semua kejadian itu karena Shasa meminta di berikan ponsel baru karena ponsel lamanya rusak total dan saat itulah dia menceritakan nya dengan detail, pada dirinya. "Duduk lah!" cegah nya. Dia tidak akan membiarkan putrinya terluka begitu saja.
Kenzo dan Tiara mendekat, memberi salam kepada keluarga Arya namun mereka mendapatkan respon yang tidak terduga. Terlebih tatapan Widia, wanita itu memasang tampang yang begitu garang. Begitupun dengan Arya, bukannya mempersilahkan mereka duduk, dia malah menatap tajam keduanya.
Sadar akan situasi, Tiara sampai menunduk, dia sudah menduga semuanya akan begini. "Paman, bibi, bagaimana keadaan kalian? maaf aku baru bisa menyempatkan waktu untuk menengok paman dan bibi malam ini." tutur nya dengan lembut, walau respon paman dan bibinya begitu menakutkan, tapi dia harus seramah mungkin karena mereka sosok pengganti kedua orang tuanya.
"Rupanya kalian tidak tahu malu, setelah apa yang kalian lakukan kalian masih berani menginjak kan kaki di sini." decak Arya dengan begitu keras, bukannya mendengar perkataan Tiara dia malah semakin muak melihat wanita itu apabila mendengar kata-katanya.
Kenzo geram, apa sikap seperti itu pantas di sebut paman? Tiara sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghargai mereka, bukannya menjawab pertanyaan nya Arya malah mengatai nya. "Pak, apa anda tidak bisa lebih sopan sedikit, kita datang ke sini bermaksud baik." timpal Kenzo dengan penuh penekanan, kalau saja itu bukan paman Tiara dia pasti akan memukulnya.
Arya tidak terima, setelah mempermalukan putrinya, anak atasannya ini juga malah berani padanya, amarahnya makin menjadi dengan cepat dia berdiri dan menghampiri lelaki itu.
Plakkk.... Dengan begitu keras Arya menampar Kenzo tanpa aba-aba, "Jangan mengira karena kau putra Tuan Kenan aku tidak akan berani pada mu, hah." decak nya geram. Lelaki ini sudah mempermalukan putrinya, setidaknya dia bisa menamparnya untuk membalaskan dendam.
"Sial...." Benar-benar di luar dugaan, Kenzo sampai tidak percaya atas tamparan yang ia terima. Arya begitu tiba-tiba sampai dia tidak bisa menghindari nya.
"Paman!" Tiara sampai meninggikan suaranya, kaget bukan main, yang awalnya berdiri di samping Kenzo dia langsung menghalangi tubuh lelaki itu agar pamannya tidak lagi berbuat kelewatan. "Kalau paman benci pada ku, hukum saja aku, kenapa memukulnya. Aku yang salah kenapa paman marah padanya." bentak nya geram, hati nya ikut sakit, dia tidak terima dengan perlakuan Arya yang di luar batasan.
"Bahkan sekarang kau berani membentak paman, dasar anak tidak tahu diri." decak Arya, dia tidak kalah membentak Tiara, bahkan begitu geram sampai tangan nya kembali melayang ingin menampar wanita itu.
__ADS_1
Bug. Bukannya mengenai Tiara, tamparan nya itu malah mengenai tubuh Kenzo karena lelaki itu dengan cepat menghalangi nya dan menarik wanita itu ke pelukannya. "Sudah ku bilang, kita datang ke sini bermaksud baik, apa anda tidak bisa merendam amarah anda." geram Kenzo dengan tatapan tajamnya. Tidak apa jika menampar nya, asal jangan melukai Tiara. Dia benar-benar melindungi wanita itu di pelukannya takut Arya kembali melayangkan tangannya.
Niatan untuk meminta izin menikah rupanya masih jauh, karena Kenzo harus berusaha keras untuk meredakan amarah tua bangka itu.