Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Kenzo adalah milik ku.


__ADS_3

Shasa terlihat sudah mengemas barang-barang untuk kembali ke rumah, perlombaan selesai, tidak ada alasan untuk nya terus berada di kota itu. Arya pun sudah bersiap-siap di lobby setelah menyiapkan mobilnya.


Shasa mengetuk sebuah pintu kamar, tempat di mana Arzan berada, pintu terbuka orang yang Shasa cari sudah berdiri di depan mata. "Mana? Aku harus pulang sekarang?" tanyanya tiba-tiba. Ada sesuatu yang harus dia ambil dari lelaki itu.


Arzan langsung menyeringai, "Sepertinya kau memang punya dendam berat pada gadis itu." ucapnya malah meledak, bahkan tanpa ragu wanita itu langsung mengiyakan sebuah ide yang dia berikan. Dia pun langsung menyuruh Shasa masuk kamar hotel nya. "Tunggu aku akan mengambilnya!"


Shasa masuk, kembali menutup pintu kamar lelaki itu, takut ada seseorang yang akan menguping pembicaraan mereka. "Iya, dendam apapun itu, aku hanya ingin memberi nya pelajaran, dan ingat kau harus datang ke acara pesta sekolah, kalau kau mau mengakhiri permainan ku." timpal nya, kembali menegaskan sebuah rencananya.


"Dengan senang hati baby," Arzan langsung menyeringai, kembali dengan sebuah bungkusan plastik berisi botol kecil di tangannya. "Nih!" Dia langsung menyodorkan barang itu, saat tangan Shasa bergerak mau mengambilnya, dia kembali menjauhkan barang itu. "Eits, kau kira semudah itu?" ucapnya dengan tersenyum kecil, satu tangannya menggenggam barang itu dengan keras, satu tangannya lagi membelai ujung rambut Shasa, seolah punya mana yang harus Shasa artikan.


"Heh, aku hanya ingin membantu mu untuk mendapatkan Tiara, bermain-main lah dengan nya." tegur Shasa dengan begitu tegas, dia langsung menepis tangan Arzan sampai tangan lelaki itu menjauh dari tubuhnya.


"Kau tahu, semakin kau menolak semakin aku ingin melakukannya,"


"Arz--," Bibir Shasa terbungkam, lelaki itu benar-benar penuh gairah, tengkuknya tertarik, lelaki itu mencium bibir nya dan melu-mat nya dengan begitu buas. "Akh, apa dia gila." Shasa langsung mendorong tubuh lelaki itu dengan cukup keras. "Apa yang kau lakukan?" decak nya kesal, dia langsung mengusap bagian bibirnya yang masih basah bekas ciuman gila lelaki itu.


"Haha, buruk sekali. Ku kira wanita licik seperti kau sudah berpengalaman, rupanya wajah cantik ini tidak menjamin kau bisa mendapatkan lelaki yang kau suka." tebak Arzan dengan penuh ledekan. Bagaimana tidak, untuk anak SMA seumuran Shasa seharusnya sudah mengenal tentang s*x, apalagi Shasa yang bukan wanita alim, wanita itu pasti akan memberikan apapun itu untuk lelaki yang di cintanya. Tapi tidak demikian karena sepertinya Shasa belum mendapatkan lelaki yang di suakinya, sampai ciuman saja sangat amatir.


Shasa sampai mengepalkan tangannya, apa lelaki ini sedang menghinanya, "Jangan ikut campur urusan pribadi ku, aku bersedia menjadi pacar palsu mu bukan berarti kau bisa menyentuh ku sesukanya." decak Shasa geram, sungguh kalau bukan karena menginginkan kedudukan tinggi untuk sang Ayah, dia jijik sekali berurusan dengan lelaki ini.


Arzan malah tergelak, "Haha, bukannya perjanjiannya seperti itu, kau harus bersikap selayaknya pacar ku, dan kau sendiri yang menyetujuinya." timpal nya mengingatkan kembali transaksi mereka, karena memang sedari awal dia ingin bermain-main dengan Shasa.


"Kau lupa, aku akan berperan dengan baik saat acara peresmian jabatan mu di perusahaan Prawira. Bukan berperan baik dari sekarang." kilah Shasa dengan tegas. Akh, memang sebuah bumerang berurusan dengan lelaki ini.


"Iya, aku tahu itu, dan aku harus mengajari mu bagaimana cara memperlakukan seorang lelaki," timpal Arzan dengan tersenyum licik. Lagi-lagi perkataan nya terdengar begitu intens dengan mana yang begitu dalam.


"Lakukan itu pada Tiara, jangan pada ku, cepat! mana barang nya. Aku harus segera pulang." Shasa sudah muak, Arzan tidak bisa ia kasari karena dia membutuhkan bantuan lelaki itu, dia hanya perlu menjaga jarak, harus segera pergi karena Arya pasti sudah menunggunya di bawah sana.


"Nih, ini efek nya cukup ampuh, gunakan secukupnya saja." tutur Arzan menjelaskan.


Entah itu obat apa, yang jelas itu adalah barang yang di inginkan Shasa. Sebuah ide gila yang Arzan usulkan untuk membantu Shasa dan pada akhirnya Arzan sendiri yang akan di untungkan.

__ADS_1


Shasa langsung tersenyum senang. inilah keuntungannya bekerja sama dengan seorang Arzan, hal yang tidak pernah terpikirkan oleh nya, kini bisa ia dapatkan dengan mudah, "Thanks, Kak Arzan!" ucapnya dengan tersenyum lebar, ide-ide gila lelaki itu sangat membantu, bahkan tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang masih duduk di bangku SMA.


...***...


Keadaan di SMA Trisakti, murid murid sudah bergemuruh setelah mendengar kabar keberhasilan Kenzo dan Tiara, undangan pesta perayaan yang sudah menjadi tradisi sudah tersebar ke setiap murid SMA Trisakti khusus setiap murid kelas XII.


Sama halnya dengan murid-murid yang ada di kelas Devan, mereka semua sedang berbincang ringan membahas peserta yang sebentar lagi akan diselenggarakan.


"Hai." Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar.


Devan langsung mengerjap kaget, tambah terkejut lagi saat wanita itu malah duduk di kursi kosong di sebelahnya. "Azzura," gumamnya dengan begitu kaget, baru juga tadi malam membahas wanita ini, kenapa sekarang tiba-tiba menghampirinya. "Hai, tumben, ada apa nih?" ucapnya langsung bertanya, ada angin apa wanita ini mau duduk di samping nya kalau bukan untuk membahas tentang Kenzo.


"Hanya ingin membahas tentang pesta saja." timpal Azzura dengan begitu santai, dia tahu Devan tidak bodoh, sebenarnya lelaki itu pasti sudah menebak dia akan membicarakan apa. "Pesta bulan lalu tidak terlalu menarik karena Jonathan tokoh utama nya. Tapi kali ini berbeda, bukankah begitu?" tutur nya berusaha memancing Devan untuk bicara.


"Iya, sepertinya begitu. Itupun kalau si Kenzo mau hadir ke acara pesta nya."


Tuh kan, masuk dalam perangkap, tanpa Azzura bertanya, Devan sudah membicarakan nya, Azzura sampai tersenyum kecil, "Kenzo mungkin tidak terbiasa dengan acara pesta, tapi tidak dengan pasangannya kan. Tiara pasti akan hadir." lanjutnya lagi. Dia ingin tahu, sedekat apa hubungan mereka. Dan Devan yang merupakan teman Kenzo pasti mengetahui nya.


Azzura sampai tersenyum kecil, sepertinya dia memang harus terang-terangan untuk bertanya, dia sudah terlalu penasaran seperti apa Tiara. "Kalian teman dekat, tidak mungkin kan kau tidak tahu seperti apa pacar nya Kenzo itu?"


Devan tidak bisa berkata-kata, dia sendiri tidak tahu seperti apa Tiara, "Kenapa kau penasaran sekali pada nya?" Ya dari pada tidak bisa menjawab, kembali bertanya saja. Emang mau apa kalau dia sudah tahu seperti apa Tiara. Devan sampai diam-diam mengontak-ngatik ponselnya, dia harus menelepon Kenzo agar temannya itu tahu apa yang di bicarakan Azzura.


...~...


Sementara itu di belahan kota lain di waktu yang sama, Tiara sedang merapihkan barang-barangnya karena sudah harus kembali pulang ke rumah, besok pagi mereka sudah harus kembali sekolah, jadi siang ini harus segera melakukan perjalanan untuk pulang.


"Ken, ponsel mu berdering," Tiara memanggil sang suami. Ponselnya di tinggal di meja sedangkan orang nya sedang di kamar mandi.


"Siapa?"


Tiara langsung mengambil ponsel Kenzo dan memeriksa nya, "Devan," ucapnya memberi tahu.

__ADS_1


"Angka saja." Entah apa yang di lakukan Kenzo di dalam sana, dia meminta Tiara untuk menjawabnya.


Tiara langsung mengangkat panggilan itu, baru juga mau menyapa dia sudah mendengar jelas suara wanita di balik ponselnya. "Siapa ya? Kok dia membicarakan aku?" gumamnya heran.


"Aku hanya ingin tahu saja seperti apa Tiara, terasa janggal kan seorang murid baru tiba-tiba di akui Kenzo sebagai pacarnya. Aku tahu Kenzo seperti apa, dia bukan tipe lelaki yang mudah dekat dengan wanita. Aku curiga, kalau Kenzo menerima nya sama seperti pada ku."


Deg, Tiara makin kaget, wanita itu bahkan sampai mengetahui sikap Kenzo seperti apa.


"Tidak juga, Kenzo memperlakukan Tiara dengan baik, tidak seperti saat memperlakukan mu."


Suara Devan, memperjelas prasangka nya. "Devan sengaja menelepon agar Kenzo mendengar ini?" tebak Tiara masih setia mendengarkan percakapan mereka.


"Oh ya, aku jadi semakin penasaran seberapa dekat hubungan mereka, kalau hubungan mereka bukan kepalsuan, Tiara pasti bisa dong, dengan mudah mengajak Kenzo ke pesta,"


"Pesta?" Tiara sampai kaget, kenapa harus kembali membahas pesta.


"Apa hubungannya kedekatan mereka dengan sebuah pesta, sudahlah Azzura, lupakan perasaan mu, Kenzo sekarang sudah menemukan pasangannya."


Tut..."Azzura!" Tiara langsung menutup panggilan Devan, dia sampai terkejut, rupanya wanita yang membicarakan nya adalah Azzura. Mendengar ucapan wanita itu dia menjadi semakin tertantang, dia harus membuktikan kalau prasangka wanita itu salah, hubungan mereka bukanlah kepalsuan.


"Lihat saja, Kenzo adalah milik ku, Azzura." gumamnya dengan kesal, dia sampai menggenggam ponsel Kenzo dengan begitu keras, bahkan sampai mau melempar nya karena terlalu kesal, pikiran sudah di buat mumet karena perkataan Shasa yang penuh kejanggalan, sekarang hatinya di buat gerah karena perkataan Azzura seolah tidak terima jika Kenzo berhubungan dengan nya.


"Hei, kau mau merusak ponsel ku. Ada apa?" Kenzo kembali, berdiri dari belakang Tiara dan perlahan melingkarkan kedua tangannya memeluk Tiara dari belakang. "Separtainya kau marah sekali? Devan bicara apa?" tanyanya sambil perlahan mengecup tengkuk sang istri.


Kekesalan Tiara tiba-tiba langsung mereda, kenapa harus tersulut emosi, Kenzo memang milik nya, dia tidak akan membiarkan wanita lain mengambilnya, "Devan tidak bicara apa-apa, hanya ada seseorang yang ingin melihat kita berdua datang ke pesta." jawabnya singkat.


"Jadi bagaimana? Mau ke pesta atau tidak?" Kenzo kembali bertanya, tadi mereka sudah sepakat untuk tidak menghadiri pesta karena merasa ada kejanggalan dengan sikap Shasa, tapi melihat ekspresi Tiara sekarang, sepertinya wanita itu berubah pikiran.


"Ayo kita hadir di pesta itu, aku harus membuktikan kalau kau adalah milik ku."


ucapnya dengan tegas. Persetan dengan kejanggalan dari Shasa, nanti dia akan mengantisipasi nya. Yang penting sekarang dia harus memperlihatkan pada Azzura kalau hubungan mereka bukanlah kepalsuan.

__ADS_1


Kenzo sampai tertawa kecil, langsung membalikkan badan Tiara tanpa melepaskan pelukannya, "Ya, aku milikmu, jadi jangan terlalu khawatir," ucapnya dengan tersenyum kecil, mendadak ia ingin melahap wanita itu setelah mendengar apa yang di ucapkan nya.


__ADS_2