
Di sebuah rumah sakit, Shasa dan Arzan baru selesai melakukan pemeriksaan, awalnya mereka ke rumah sakit hanya ingin memeriksa Shasa, tapi karena kelakuan Tiara Arzan pun sama-sama harus memeriksakan keadaannya. Punggung dan pundak Arzan membutuhkan pertolongan medis untuk meredakan rasa sakit nya.
"Apa kau bodoh, kenapa bisa begitu lengah sampai kena pukulan Tiara." Shasa mulai bicara, rasanya enggan sekali berbicara sopan pada lelaki itu. Masa iya seorang lelaki kalah sama wanita. Membuat nya bad mood saja, dia langsung berjalan cepat mendahului langkah lelaki itu.
"Tiara? Apa itu nama wanita itu?" Arzan tidak terlalu fokus dengan ocehan Shasa, dia hanya penasaran dengan nama wanita itu.
"Iya, dia Tiara." jawab Shasa dengan singkat, lelaki itu sampai tidak sadar dia memanggilnya bodoh hanya karena sebuah nama. "Apa kau menyukainya?" tanyanya memastikan.
Seketika Arzan langsung tergelak, "Kau hanya pacar pura-pura ku, tidak perlu ikut campur urusan pribadi ku, kau cemburu aku berurusan dengan wanita lain?" timpal nya dengan begitu percaya diri.
Shasa sampai bergidik, cemburu dari mananya, lelaki seperti Arzan bukalah tipe nya. "Aku malah senang jika kau menyukainya," timpal Shasa dengan seringai nya. Kembali berbalik menoleh ke arah Arzan, "Kalau Kak Arzan menyukainya berusaha lah lebih keras untuk mendapatkan nya, sepertinya Tiara harus di beri pelajaran karena berani memukul mu, kan." serunya dengan tersenyum kecil. Sekali melihat saja dia sudah tahu kalau lelaki yang kini ada di hadapannya adalah lelaki yang gila akan wanita, jadi dia akan begitu mudah menyulut ambisinya.
...***...
Hari menjelang malam, Kenzo dan Tiara kembali ke villa setelah menyelesaikan perlombaan, kegiatan hari pertama selesai, dengan hasil yang di harapkan, mereka semua lolos di babak pertama dan akan maju di sesi final esok hari.
"Hari yang begitu melelahkan." Kenzo merebahkan tubuhnya di sofa kamar Villa, inilah alasan utama dia tidak pernah menginginkan ikut dalam sebuah perlombaan karena acaranya begitu membosankan, dia harus berkerumun dengan begitu banyak orang dan lebih parahnya dia menjadi pusat perhatian orang-orang. Padahal dia begitu benci akan sebuah kebiasaan, apalagi menjadi pusat perhatian.
Bagaimana tidak setiap pertanyaan yang keluar baginya itu sangatlah mudah, tanpa harus berpikir pun dia bisa dengan cepat menjawabnya, di tambah lagi dia di pasangkan dengan Tiara yang sama-sama pintar, sebuah cerdas cermat bagi mereka seperti bukanlah sebuah perlombaan, tidak ada tantangan sampai rasanya mereka tidak punya lawan. Jelas saja mereka berdua menjadi pusat perhatian, mereka berdua terlihat begitu mencolok dari sekian banyak peserta yang ada.
Panggil di ponsel Kenzo terdengar, dengan cepat dia mengambil ponselnya dan menjawab panggilannya. "Ada apa?" tanyanya pada seseorang di sebrang sana.
"Kangen, Bos. Sehari gak ketemu udah kayak seminggu."
__ADS_1
Kenzo kembali melihat ponselnya, bukannya tadi yang memanggilnya Devan, kenapa sekarang yang bicara malah si Reno. "Kalian sedang bersama?" tanyanya lagi tanpa mempedulikan ocehan adik kelas nya itu.
"Iya, kita mau Mabar ni, Bos. Ayo gabung bos, Mabar tanpa bos terasa hampa." timpal Reno, di balik teleponnya. Murid laki-laki yang berbeda dua tahun dari bos nya itu terus merengek bagai anak ayam yang di tinggal induknya.
Kenzo langsung melihat jam, saat itu waktu baru menunjukkan pukul delapan malam, sepertinya dia harus menerima ajakan mereka, lagipula dia sudah melawati hari yang begitu lelah, bermain game separtainya akan sedikit menghiburnya. "Iya." jawabnya langsung mengiyakan ajakan mereka. Langsung mengakhiri panggilan Devan dan mulai loading masuk ke permainan.
Satu jam berlalu, Tiara terlihat memasuki kamar sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi dan lauk nya dan segelas air putih. "Dia sedang apa sampai lupa makan malam." gumamnya sambil perlahan mendekati Kenzo. Lelaki itu terlihat begitu fokus menatap layar ponsel dengan sebuah headset di telinganya.
"Ken," panggilnya memastikan, apa lelaki itu akan mendengar nya. Tidak ada jawaban, dia pun semakin mendekat sampai bisa dengan jelas kalau lelaki itu sedang bermain game online "Kenzo!" panggilnya lagi dengan sedikit keras, dia sampai gelang kelapa, rupanya Kenzo yang seperti ini terlihat seperti lelaki normal pada umumnya. Bermain game sampai lupa makan dan lupa waktu.
Kenzo menoleh, yang awalnya rebahan di sofa kini bangkit duduk sambil mengisyaratkan agar Tiara duduk di sana. "Apa?" tanyanya sambil kembali menatap ponselnya.
Tiara sampai menghela nafas, perlahan ikut duduk di sofa, lelaki itu benar-benar fokus pada game nya sampai tidak sadar kalau dia membawa makan malam untuk nya, "Nih, kau belum makan malam, kan?" tutur nya.
"Ken, bukannya ini sudah malam, kenapa lo masih bersama pacar lo itu,"
"Hati-hati bos, anak gadis orang tuh." timpal Reno begitu antusias.
"Diam lah! Fokus saja pada permainan, darah lo sekarat Devan, mundur, anj*ng!" decak Kenzo begitu dingin. Sudah tahu permainan mereka sedang sengit, masih sempat-sempatnya melontarkan candaan.
Devan yang kena marah. Tiara yang kena mental. Dia sampai menelan keras saliva nya, "Apa aku mengganggunya? Aku kan hanya menyuruhnya makan malam, kenapa semarah itu?" umpat nya dalam hati. Sedikit kesal karena mengira dia yang kena marah, bahkan sampai kaget karena sebelumnya tidak pernah mendengar umpatan Kenzo yang sekasar itu. "Maaf, aku simpan makan malam mu di sini." ucapnya dengan begitu ketus, dia langsung menyimpan nampan itu di atas meja di depan sofa dan perlahan berdiri.
"Kemana?" tanyanya singkat, Kenzo heran karena Tiara tiba-tiba pergi, langsung meraih tangan nya agar gadis itu tidak kemana-mana, "Duduklah!"
__ADS_1
"Sepertinya aku mengganggu, lanjutkan saja. Aku mau istirahat, dan jangan lupa makan malam mu." Tiara mendadak kesal, tadi di abaikan, saat mau pergi malah di tarik di suruh duduk. Padahal tadinya dia ingin bertanya sesuatu pada suaminya itu, tapi sekarang sudah tidak mood lagi.
"Aisst, apa wanita sesensitif itu." Kenzo sampai bisa melihat jelas raut kekesalan di wajah istrinya. "Aku marah pada mereka, bukan pada mu. Duduklah!" Dia langsung menghadap Tiara agar gadis itu tidak kemana-mana, bahkan tanpa sadar dari tadi terus mengabaikan permainannya.
"Woi, Kenzo! Lo nyuruh kita fokus bermain, lo sendiri malah AFK, base kita hancur anj*ng."
Devan sampai mengoceh sana-sini, apa lelaki itu beneran Kenzo, masa iya lebih mempedulikan wanita dari pada permainan mereka.
Kenzo langsung melepaskan headset dan menyimpan ponselnya, peserta dengan omelan Devan, permainan tidak kalah penting dari pada kemarahan wanita yang ada di depannya. Dia langsung mengambil piring makan malam nya dan lekas memakan itu. "Aku makan, kau puas!" ucapnya sambil terus menatap Tiara dan mengunyah makanan nya.
Tiara sampai menahan tawa, diakan tidak menyuruh lelaki itu untuk menghentikan permainan nya, dia jadi merasa bersalah, "Mau ku suapi, kau bisa makan sambil bermain," tawarnya dengan tersenyum kecil. Mood nya jadi berubah melihat tingkah suaminya.
"Percuma, permainan nya sudah berakhir." timpal Kenzo dengan datar. Tapi setelah di pikir-pikir, kenapa tidak. Di suapi Tiara sepertinya lebih baik. "Nih!" Kenzo langsung memberikan piring itu pada sang istri.
Kali ini Tiara benar-benar tertawa, mengambil piring itu dan perlahan menyuapi suaminya. "Ken," panggil nya tiba-tiba. Dari tadi dia ingin bertanya, dan sepertinya ini waktu yang tepat.
"Hem."
"Sebenarnya Azzura Fellysa itu siapa? dari data yang kau berikan waktu itu hanya dia yang di tandai lingkungan merah?" tutur Tiara dengan ekspresi penuh tanya. Dari kemarin-kemarin dia penasaran, tapi belum menemukan waktu yang pas untuk bertanya.
Kenzo seketika langsung terbatuk-batuk, refleks mengambil air minum dan meneguknya dengan kasar. "Devan sialan!" umpat nya dalam hati. Dia tidak sempat memeriksa berkas-berkas itu. Tidak tahu kalau ternyata Devan menandai wanita itu. "Berkas-berkas itu dari Devan. Tanyakan saja pada nya." sahut Kenzo dengan datar. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menjelaskan sebenarnya siapa Azzura Fellysa itu.
"Apa ada sesuatu? kenapa dia sampai kaget begitu?" gumam Tiara dalam hati. Wanita itu adalah salah satu murid yang harus dia dekati, tapi sepertinya dari sekian banyak murid yang menjadi korban Shasa, wanita itu yang terlihat berbeda.
__ADS_1