
Mobil yang di tumpangi Jonathan membelah jalanan kota menuju sekolah, jika biasanya dia berangkat sekolah di antara sopir kini dia di temani Arzan; Kakak angkat nya. Sosok Kakak yang selalu Ayahnya percaya, padahal dia tidak pernah menyukai lelaki itu, terlebih tidak ada hubungan darah di antara mereka.
"Kau bisa kan menolak permintaan Ayah untuk mengantar ku ke sekolah." cibir Jonathan tidak suka, lelaki itu selalu saja mencari perhatian lebih dari Ayahnya. Terlebih dia baru pulang dari luar kota.
"Hei, bocah. Kau seharusnya lebih sopan, gue Kakak mu." timpal Arzan, mau dulu atau sekarang Jonathan masih terlihat seperti anak kecil di mata nya. Seorang bocah yang tidak akan mungkin bisa menyaingi nya. "Jangan banyak protes, kau hanya perlu belajar lebih keras jika ingin menggeser posisi ku di perusahaan." timpal nya lagi dengan menyeringai, dia tahu Jonathan membencinya karena dia telah mengambil alih posisi yang seharusnya Jonathan kuasai, tapi itu bukan salah dirinya, ini salah keadaan karena Jonathan lebih muda sampai Prawira lebih Percaya padanya.
Jonathan sampai mengepalkan tangannya geram, lelaki yang di sebut sebagai Kakak malah makin terang-terangan meledak dirinya. Ingin melawan tapi dia tidak mempunyai kekuasaan.
"Kau tahu kan perusahaan Wijaya, Pak Kenan pasti sengaja menyembunyikan identitas putranya karena sepertinya putranya itu sama bocah nya seperti mu," ucapnya lagi dengan tersenyum simpul, seolah sedang meledak keduanya.
Dia memang sengaja mengusik perusahaan mereka karena penasaran pada sosok penerus generasi ke tiga keluarga Wijaya. Pak Kenan dulu menyembunyikan identitas nya sebagai pewaris generasi kedua, dan sekarang anaknya pun identitas nya sembunyikan. Sepertinya keluarga Wijaya memang punya hobi menyembunyikan identitas setiap pewaris di tiap generasi nya.
__ADS_1
"Seperti apapun dia, jangan terlalu percaya diri untuk melawan keluarga Wijaya, kalau kau gegabah Ayah yang akan kena masalah." timpal Jonathan geram, dia memang tidak tahu seperti apa pewaris keluarga Wijaya sekarang, tapi dia tidak mau Arzan gegabah dan itu akan merugikan Ayahnya.
"Jangan so menasehati ku jika kau saja tidak bisa berbuat apa-apa." timpal Arzan sama-sama geram. Dia merasa dirinya bisa, dia tidak terima jika Jonathan malah meremehkan nya.
Sementara itu di jalanan yang sama, Kenzo dan Tiara sama-sama akan berangkat sekolah, Kenzo mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal seperti biasa, matanya sesekali memperhatikan Tiara, wanita itu terlihat diam tidak seperti biasanya. "Tidur mu nyenyak?" tanyanya tiba-tiba sambil melirik Tiara, sejak semalam wanita itu terlihat lebih banyak diam. "Hei, aku bertanya kenapa diam saja?" ucapnya lagi karena Tiara seperti tidak mau menjawab pertanyaan nya.
"Tidak nyenyak sama sekali!" jawab Tiara dengan jutek, dia kesal, bisa-bisanya lelaki itu masih bertanya tentang bagaimana tidurnya, padahal lelaki itu sendiri yang mengganggunya sampai dia tidak bisa tidur nyenyak. Bukan hanya tiba-tiba mengatakan hal tentang Shasa yang membuat hatinya gelisah, lelaki itu malah terus diam di kamarnya sambil asyik bermain game online sampai hampir tengah malam. "Aku tidak bisa tidur karena kau mengganggu ku." ucapnya jujur.
"Siapa yang akan menangis, kau terlalu percaya diri, mau kau bersikap seperti apapun pada wanita lain tidak apa-apa, itu hak mu," kilahnya berusaha menutupi perasaannya, dia sampai memalingkan muka ke luar jendela mobil, kepada bisa lelaki itu mengetahui isi hatinya, padahal dia tidak bicara sepatah katapun.
"Dasar bodoh." gumam Kenzo sampai tersenyum simpul, benar kah tidak akan apa-apa dia malah semakin ingin menggoda Tiara, dan mengetes nya. "Kau yakin?" timpal nya bertanya, dia malah semakin tertantang. Dia penasaran akan seperti apa reaksi Tiara, jika dia dekat dengan wanita lain.
__ADS_1
"Coba saja, dan saat itu terjadi aku tidak akan mengizinkan mu untuk menginjakkan kaki di kamar ku lagi." jawab Tiara jutek, bisa-bisanya lelaki itu malah meledeknya, dia sampai kesal dan tidak sadar dengan perkataannya sendiri.
Kenzo sampai terkekeh, ternyata Tiara lebih galak dari dugaannya. Dia malah semakin tertarik untuk menggoda wanita itu, "Tidak apa-apa, jika kau tidak mengizinkan aku masuk kamar mu, aku bisa menarik mu ke kamar ku." ledeknya lagi, dia sampai mengangkat tangannya dan langsung mengacak-acak rambut Tiara, rupanya se-menyenangkan itu menggodanya.
"Kenzo, hentikan!" Tiara sampai meronta, tapi tangan lelaki itu masih menempel di kepalanya. Karena terus bercanda dan memperhatikan Tiara, Kenzo tidak sadar ada mobil di depan nya.
Brrakk...
"Aisst, sial." Tidak bisa menghindar, mobil Kenzo sampai menabrak bagian belakang mobil di depannya.
"Kenzo!" Tiara sampai kaget tidak percaya, karena terus bercanda Kenzo benar-benar mencelakai mobil di depannya.
__ADS_1
"Kita kena masalah, Tiara." ucap Kenzo sambil melepaskan sabuk pengaman nya, dia harus segera keluar untuk memastikan keadaan mobil yang barusan ia tabrak. "Tunggu di sini, dan jangan pernah keluar!" titahnya, cukup dia yang memastikan biar Tiara tetap aman di dalam.