Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Jangan galak-galak.


__ADS_3

"Hahaha."


Suara tawa terdengar begitu jelas di sebuah ruangan, tempat di mana Shasa dan kedua kawannya berkumpul bersama. Tiga wanita itu sedang tertawa puas dengan hal yang sedang di bicarakan nya.


"Bukankah sudah ku bilang kalau dia akan masuk perangkap kita." tutur Alicia menyeringai, sebenarnya menantang Tiara bermain basket bukanlah poin utama untuk mengetahui siapa yang pecundang di antara mereka, itu hanya sebuah alasan untuk membuka pintu agar mereka bisa memancing Tiara masuk dalam jebakan mereka.


Shasa sampai menyeringai, ini hanya awal permainan nya, karena sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan wanita itu mengancam posisi Trisakti nya di sekolah, "Tiara-Tiara, sok berani padahal kau lugu sekali, kau bisa menerima tantangan kita, tapi lihatlah nanti akibatnya." imbuhnya dengan ledekan. Tujuan nya sekarang memang bukanlah melukai Tiara, melainkan membuat wanita itu tunduk dalam perintah nya.


"Dia meminta menentukan waktu match-nya kita kabulkan, dan selanjutnya giliran kita yang mengajukan permintaan." tutur Alicia mulai menjelaskan rencananya, dari pihak nya sudah memberi kewenangan bagi Tiara untuk memilih waktu, dan sekarang giliran pihak nya yang meminta kewenangan. "Desak Tiara untuk menentukan waktu nya secepat mungkin, jika Tiara tidak bisa menentukannya di waktu dekat, tetap turuti keinginannya tapi dengan sebuah syarat, kau mengerti kan maksudnya, Sha?" lanjutnya lagi mulai menyarankan ide menarik pada atasannya itu.


"Kapan pun waktu match-nya no problem, aku akan mengikuti kemauannya sampai mereka siap, tapi dengan syarat; jika tim Tiara kalah mau tidak mau mereka harus mengikuti kemauan dan perintah dari kita. Itu kan maksudnya." ucap Shasa melanjutkan ide sang bawahan. Dia tahu Tiara payah dalam hal olahraga, wanita itu pasti tidak bisa menentukan match-nya dalam waktu dekat, dan kelemahannya itulah yang akan dia manfaatkan.


"Nice," Alicia sampai tersenyum senang, langsung mengacungkan tangan beradu tos dengan Shasa. Skillnya yang begitu baik di bidang basket membuatnya percaya diri kalau dia bisa mengalahkan Tiara dengan begitu mudah. Berlatih lah dengan keras, bahkan dengan waktu yang lama, dan pada akhirnya Tiara akan jatuh pada lubang mereka.


"Apa kalian yakin bisa mengalahkan tim Tiara, kita belum tahu wanita itu akan mengajak siapa untuk jadi teman satu tim nya?" Jessica menimpali, dia tahu pasti kemampuan Tiara satu berbanding seratus dengan kemanapun Alicia, kemungkinan tim nya menang lebih besar, tapi tidak menutup kemungkinan kan.


"Terserah dia akan mengajak siapa, yang jelas aku tidak akan membiarkan wanita itu memenangkan pertandingan nanti." jawab Shasa dengan tegas, tidak perlu khawatir, karena dia mempunyai seribu satu cara untuk mengalahkan Tiara. Setelah berakhir plan A ada banyak plan yang sudah dia rancang di kepalanya. "Aku harus membuat Tiara bertekuk lutut dan menuruti semua permintaan ku."


...***...


Di kediaman keluarga Wijaya.


"Aku sudah lama tinggal di sini, tapi baru sadar kalau di belakang rumah ada lapangan basket!" decak kagum Tiara, setelah memberikan buku bacaan tentang teori dalam bermain basket, sang suami langsung mengajaknya ke taman belakang rumah dan ternyata mereka berkahir di sebuah lapangan basket, yang entah sejak kapan lapangan basket itu ada di kediaman keluarga Wijaya. "Jadi kita berlatih di sini?" tanyanya pada sang suami yang sudah siap memegang sebuah bola basket di tangannya.

__ADS_1


"Di lapang sepak bola." jawab Kenzo dengan datar, sudah tahu mereka akan berlatih di sini masih saja bertanya. Bukannya berterima kasih atas apa yang telah di siapkan, wanita itu malah melongok saja.


Iya, karena permintaan Tiara yang tiba-tiba ingin bisa bermain basket dia langsung menghubungi sang Mommy, memintanya menyiapkan lapangan basket di rumah sebelum mereka pulang sekolah. Dan benar saja, saat pulang sekolah lapangan basket itu sudah ada di taman belakang mansion mereka.


"Ayo! Kau sudah memahami teori-teori yang aku berikan kan?" tanyanya sambil menarik Tiara ke tengah lapangan. Wanita itu harus tahu kalau bermain basket tidak semudah menghapal teori yang dia berikan.


"Iya aku sudah memahaminya," jawab Tiara dengan tegas, iya setidaknya dia tahu hal-hal penting dalam permainan basket adalah kemampuan menggiring bola dan memasukkan bola itu ke dalam ring lawan.


Kenzo langsung mengambil aba-aba, dan mulai memainkan bola nya, "Lihat, baru nanti kau praktekkan!" titahnya sambil melakukan gerakan dribbling; menggiring bola dengan memantul-mantulkan bola ke lantai, "Ini hanya dasar, paling tidak kau harus bisa melakukan gerakan dribbling ini." serunya sambil terus memantulkan bola, sesekali dia memutar badannya mempraktekkan gerakan pivot; memutar badan dengan bertumpu pada satu kakinya, terus menggiring bola ke arah ring dan langsung mempraktekkan gerakan lay-up, sampai bola itu masuk ke dalam ring dengan begitu sempurna.


Prok....prok...prok


Tiara langsung bertepuk tangan, bersorak sendiri melihat penampilan suaminya yang begitu amazing. "Apa dia benar-benar suami ku. Dia terlihat tampan sekali saat bermain basket." gumamnya dengan mata melongok, bukannya memperhatikan gerakan Kenzo untuk mempraktekkan nya, dia malah terkesima melihat kegagahan suaminya.


"Aisst." Kenzo sampai mengendus kesal, Tiara sedang apa, kenapa malah melongok seperti itu, "Hei, kau mau latihan atau mau melihat ketampanan ku, hah?" decak nya sambil menghampiri Tiara.


Kenzo sampai gelang kepala, bisakah wanita ini menguasai permainan basket dengan cepat, "Fokus Tiara," serunya dengan tegas, dia sampai menyentil kening Tiara untuk menyadarkan wanita itu. "Lawan mu kapten basket, bodoh. Kalau tidak serius bagaimana kau bisa mengalahkannya." decak nya berusaha menasehati Tiara. Dia harus sedikit lebih keras karena itu juga demi kebaikan nya.


"Iya-iya, aku akan serius. Mana bolanya?"


Kenzo langsung memberikan bola itu, melihat dengan seksama, apa Tiara benar-benar bisa, "Aisst." benar saja, baru juga beberapa kali pantulan, wanita itu sudah menggelindingkan bolanya entah ke mana. "Tiara, ini bola basket, bukan bola mainan anak-anak yang bisa dipantulkan sesukanya." tegur nya sambil menghampiri wanita itu.


"Ini pertama kalinya aku memainkan bola basket, Ken. Jadi wajar kan," timpal Tiara sambil kembali mengambil bola itu. Rupanya menguasai bola basket tidak semudah dugaannya.

__ADS_1


"Gini!" Kenzo langsung berdiri di belakang Tiara, memberi arahan agar postur tubuh wanita itu bergerak dengan semestinya. "Sedikit berbungkuk, Tiara! dan kakinya jangan kaku seperti ini." titahnya lagi, kedua tangannya mengarahkan tubuh Tiara agar berdiri dengan benar, dan satu kakinya menendang kaki wanita itu agar tidak terlalu kaku.


"Astaga," Tiara sampai kaget, mode galak lelaki itu sedang aktif, Kenzo yang selalu menatap nya dengan hangat kini benar-benar menghilang, "Kenzo, sayang. Bisakah lebih lembut sedikit. Aku kan jadi takut." rengek nya dengan tersenyum kikuk berusaha merayu. Jangan galak-galak seperti itu. Ini kan latihan pertamanya, jadi wajar kalau dia salah.


"Percuma tidak mempan." tegur nya dengan datar. Mau di panggil sayang sekalipun dia harus fokus dan tegas untuk mengajari Tiara,


agar wanita itu bisa lebih cepat menguasai permainan basket nya.


Arahan demi arahan terus Kenzo sampaikan dengan tegas, meski banyak sekali umpatan kasar yang keluar dari bibirnya itu bukan rasa benci pada Tiara, dia hanya ingin wanita itu tidak lengah, karena yang akan dia lawan bukanlah tandingannya.


"Passing yang benar, Tiara!" omelnya lagi, hanya di suruh mengoper bola saja, itu bola melayang entah ke mana, "Walau teman satu tim mu sekelas juara dunia pun, permainan kalian akan kacau kalau kau tidak bisa bekerja sama bermain dengan baik." tuturnya memberi nasehat. Setelah mengajari dasar-dasar permainan basket dia mulai mempraktekkannya dengan bermain bersama. Ya, tapi hasilnya belum seberapa, mungkin Tiara membutuhkan waktu beberapa minggu untuk bisa menguasai permainan bola basket.


"Ini kan baru satu kali, Ken. Ayo coba lagi!" pintanya dengan penuh semangat, kembali mengambil bola dan memulainya lagi dari awal. Melakukan dribbling dengan benar dan langsung mengoper bola itu pada Kenzo sesuai dengan arahan yang lelaki itu ajarkan.


Kenzo menerima lemparan bola Tiara, kembali menguasai bola dengan begitu lihai dan langsung melakukan buonce pass; melempar bola pada Tiara dengan cara memantulkan bola itu ke lantai, "Tangkap!" pintanya dengan cepat, dalam permainan basket, ketelitian, kecepatan dan strategi bekerjasama sangatlah penting agar tim mereka bisa menang, jangan sampai membiarkan bola itu di kuasai tim lawan.


Walau gugup, Tiara berusaha mengambil bola itu dengan cepat, namun setelah nya bingung harus bagaimana.


"Aisst, shooting Tiara." Kenzo sampai berdecak kesal, mana yang katanya sudah hapal teori, "Jika bola sudah ada di tangan, kau harus berusaha memasukkan bola ke keranjang lawan!" tuturnya berusaha memberi tahu. Dia langsung menghampiri Tiara sudah bisa menebak kalau wanita itu tidak akan bisa memasukkan bola itu ke dalam ring di depannya.


Tiara sendiri langsung tersenyum kikuk, ring nya kan tinggi, bisakah dia memasukkan bola nya ke sana.


"Kau pintar dalam segala hal, tapi kenapa bisa bodoh dalam bidang olahraga." decak nya sambil mengacak-acak rambut Tiara. Dia jadi khawatirkan, bagaimana jika istrinya itu di persulit oleh tiga wanita itu. Jika melihat kemampuan Tiara sekarang, sangatlah tipis harapan bagi wanita ini untuk bisa menguasai permainan basket dalam waktu singkat.

__ADS_1


Tiara sampai cemberut kesal, "Kau capek mengajari ku?" tanyanya dengan raut wajah yang kusut, kesal sendiri dari tadi dia terus kena umpat dan kemarahan lelaki ini. "Nih!" dia langsung memberikan bola itu agar Kenzo mencontohkan nya bagaimana cara shooting yang benar. Dia akan berusaha lebih baik lagi, jadi jangan marah-marah.


"Bukan capek, sayang. Aku hanya ingin kau bisa menguasai permainan basket ini dengan cepat. Aku khawatir tiga wanita itu malah mempersulit mu."


__ADS_2