
Sebuah motor ninja hitam sudah terparkir di depan villa, Pak Tono dengan sigap langsung memberikan kunci motor itu pada Tuan mudanya. "Aden yakin mau menggunakan motor?" tanyanya ragu sambil berbungkuk menyiapkan dua helm untuk kedua majikannya. Pasalnya sudah lama sekali Tuan mudanya itu tidak pernah menggunakan motor, terlebih mengingat tentang kesehatannya.
"Tidak apa-apa." jawab Kenzo singkat, dia langsung mengenakan helm itu dan bergegas membantu Tiara untuk menggunakan helm nya. "Berkat perhatian Nona Wijaya sepertinya keadaan ku lebih baik, Pak." timpal nya lagi dengan tersenyum kecil menatap Tiara, bicara pada sopir pribadinya tapi matanya terus menatap sang istri.
"Syukurlah, Den." Pak Tono sampai tersenyum senang, dia sudah lama mengabdi pada keluarga Wijaya terutama melayani Tuan mudanya ini, baru kali ini dia melihat guratan kebahagiaan dari raut wajah Tuan mudanya. Wajah yang biasanya terlihat datar, sikap yang selalu cuek dan dingin bahkan tertutup dari orang-orang, kini terlihat lebih hangat, mudah tersenyum bahkan terlihat begitu penyayang.
"Terima kasih Non, telah menjaga Tuan muda kami." lirihnya sambil menatap Tiara, setelah kehadiran nona mudanya di kediaman keluarga Wijaya Tuan mudanya itu menunjukkan banyak perubahan, banyak jasa yang telah wanita itu berikan untuk Tuan nya, dia langsung membungkukkan kepala di ikuti para pelayan lain yang ada di belakangnya.
"Tidak perlu sampai seperti itu Pak," Tiara sampai kaget, tidak perlu berlebihan seperti itu, bukan dia yang menjaga Tuan muda mereka, justru malah sebaliknya. "Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan muda kalian sehat dengan sendirinya." gumamnya dengan tersenyum malu. Dia langsung meraih tangan Kenzo memberi isyarat agar memerintah mereka untuk tidak berlebihan pada nya.
"Tidak apa-apa, kau memang pantas di perlakuan seperti itu." timpal Kenzo dengan tersenyum tipis, dia langsung menaiki motor itu dan langsung mengulurkan tangan untuk membantu Tiara naik. "Ayo!"ajaknya sampai kini wanita itu sudah duduk di belakangnya.
"Kalian ikuti saja di belakang, mungkin ada barang yang harus kalian bawa nanti." titah Kenzo pada para pelayan yang sudah bersiap di depan.
"Baik, Tuan." jawab serempak para pelayan dan langsung bergegas pada posisinya masing-masing.
...***...
Kegiatan camping sekolah sudah selesai, Shasa terlihat di jemput oleh Arzan karena Arya sedang sibuk dengan pekerjaannya, alih-alih di antarkan ke rumahnya, Shasa malah di bawa ke sebuah apartemen di mana Arzan tinggal.
Tit....
Suara pintu apartemen terkunci, dengan cepat Arzan menyimpan semua barang-barang Shasa dan menarik wanita itu ke dekapan nya. "Aku sangat merindukanmu." bisik nya dan langsung mencium bibir Shasa dengan penuh kebuasan, mendorong tubuh wanita itu sampai terhimpit bersandar di dinding.
"Ah... Arzan, stop!" tolak Shasa saat tautan bibir itu terlepas, dia langsung mendorong tubuh Arzan yang menatapnya dengan penuh gairah. "Aku sangat lelah." timpal nya dengan memalingkan muka, dia sudah bisa menebak apa yang ingin lelaki itu lakukan.
"Ayolah, apa kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, aku sudah bekerja cukup keras minggu-minggu ini, jadi kau harus menghibur ku, sayang." pintanya sambil kembali menarik Shasa, merangkul pinggang wanita itu dan memeluknya dengan erat, "Aku punya kabar baik untuk mu." lirihnya sambil menundukkan kepala mengecup leher jenjang wanita itu, dan terus mencumbu nya walau wanita itu terus menolak.
__ADS_1
"Apa?" Shasa langsung antusias, persetan dengan rasa lelahnya menolak pun lelaki itu begitu penuh gairah sampai dia tidak bisa lepas dari nya. Lelaki itu bahkan sudah melepas kancing baju nya hingga belahan dadanya terekspos sempurna, "Ah, Arzan." Dia sampai men-desah, setelah puas menelusuri lehernya kini bibir lelaki itu bermain dengan lihai pada kedua da-danya. "Di kamar saja, Arzan." pintanya dengan suara berat, bahkan tangannya langsung bergerak meremas rambut lelaki itu saat seluruh tubuhnya sudah meregang tersulut gairah.
Arzan langsung menyeringai senang, kembali mencium bibir Shasa sambilq mengangkat tubuh wanita itu tanpa melepaskan tautan bibirnya, dia langsung menggiringnya ke dalam kamar saat wanita itu mulai merespon ciumannya bahkan langsung melingkarkan tangan di pundaknya. "Walau tidak se-pandai wanita di luar sana, kau sangatlah menggoda, Sha." gumamnya sambil perlahan merebahkan tubuh wanita itu di tempat tidurnya. Rupanya begitu mudah merayu wanita itu untuk memuaskan hasratnya.
"Arzan tunggu!" Shasa langsung mendorong tubuh Arzan yang sudah ada di atasnya, mencegah pergerakan tangan lelaki itu yang hampir membuka setiap helai pakaian nya. "Kabar baik apa?" tanyanya sambil berusaha meronta, bicara dulu, kalau itu benar-benar kabar baik dia akan dengan senang hati melayaninya, tapi percuma kedua tangannya malah terangkat ke atas dan di cekam kuat oleh satu tangan lelaki itu.
"Aku berhasil menarik para investor asing yang sudah bekerjasama dengan perusahaan Wijaya." bisik Arzan dan kembali mengulum bibir yang terus saja protes, dia sudah di buatkan oleh gairah sampai tidak bisa menghentikan kegiatannya. "Itu kan yang kau inginkan." tuturnya dengan menyeringai. Dia langsung melepas semua pakaian wanita itu begitupun dengan pakaiannya.
"Benarkah?" Shasa sampai tersenyum senang, jadi pengorbanannya selama ini tidak sia-sia. Walau terkadang menyebalkan karena harus meladeni lelaki ini di atas ranjang tetapi tubuhnya tidak bisa di bohongi kalau dia juga menikmati setiap sentuhan yang selalu lelaki itu lakukan.
"Iya, aku bisa memastikan kurang dari satu bulan salah satu cabang perusahaan Wijaya akan bangkrut karena tidak mendapatkan suntikan dana dari mereka." jawabnya tanpa memalingkan wajah menatap wajah cantik Shasa, setelah puas bermain di kedua dada wanita itu kini tangannya langsung bergerak turun dan berhenti di area favoritnya. "Akh, aku memang sudah candu dengan tubuh ini." gumamnya sambil perlahan memasukkan milik nya. Walau sering bermain ranjang dengan wanita lain tapi tetap tubuh Shasa yang mempu membuat nya mabuk kepayang karena kenikmatan yang tidak ada duanya.
"Ah... Arzan," Shasa sampai tidak bisa berkata-kata, dia teramat senang mendengar kabar dari Arzan, bukan hanya memuaskan gairahnya, lelaki itu benar-benar bisa di percaya untuk membalaskan dendam nya.
...*...
Mobil yang di kemudian Pak Tono melaju cepat membelah jalanan malam, sang sopir itu mengemudi dengan kecepatan tinggi mengingat keadaan Nona mudanya yang sudah kelelahan setelah perjalanan udara dari Bali. "Apa kita perlu mencari hotel untuk istirahat dulu, Den?" tanyanya sambil sesekali melihat kaca spion depan melihat ke belakang. Keadaan nona muda nya sangat memperhatikan tidak jauh beda seperti saat mereka sampai di Bali waktu itu.
"Tidak mau, langsung pulang saja." jawab Tiara singkat, rasa pusingnya masih bisa ia tahan. Lebih nyaman istirahat di rumah dari pada harus singgah di hotel, terlebih besok pagi mereka harus sekolah.
"Kalau saja kau menuruti perkataan ku kau tidak akan separah ini, Tiara." timpal Kenzo memberi nasehat. Dia terus mengelus kepala sang istri untuk meringankan rasa pusing nya.
"Maaf," ucapnya lirih mengakui kesalahannya. Pasalnya tadi siang Tiara hampir lupa waktu saking asyiknya jalan-jalan bahkan sampai kelelahan karena harus membeli banyak oleh-oleh untuk di bawa pulang.
"Tidurlah! Kau harus mengistirahatkan tubuh mu."
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil yang di kemudian Pak Tono sudah sampai di depan rumah kediaman Wijaya. Dia bergegas turun membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya. "Nona nya tidak di bangunkan, Den?"
__ADS_1
"Sttt... Jangan berisik biarkan dia istirahat, aku akan menggendongnya." timpal Kenzo dengan tegas, jangan banyak bicara dan ambilkan saja semua barang-barang istrinya, terlebih satu koper yang isinya oleh-oleh dari Bali itu. Tiara dari tadi terus mewanti-wanti agar jangan dulu ada yang membukanya.
"Baik, Den." jawab Pak Tono sigap. Dia langsung memerintah beberapa pelayan untuk mengambil barang-barang di dalam mobil dan langsung menyuruhnya menyimpannya ke atas. Dia sendiri langsung bergerak mengikuti langkah tuan mudanya memastikan kedua majikannya itu masuk kamar dengan aman.
Kenzo sudah memasuki rumah sambil memboyong Tiara, menggendong sang istri ala bridal style agar tidak membangunkan tidurnya. Baru beberapa langkah masuk ke dalam, apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. Chelsea sudah stand by menunggu kedatangan nya, dan bersiap untuk mengoceh dan itu pasti akan membangunkan istrinya.
"Aisst,"
"Kak Kenzo," Chelsea sampai antusias langsung menghampiri lelaki itu dengan tersenyum lebar, dari kemarin dia sudah menunggu kedatangan nya dan akhirnya sekarang pulang juga. "Aku merindukan, Kakak."
Pak Tono yang kesal, dia tahu Chelsea sudah Tuan mudanya anggap seperti adiknya sendiri, tapi bisakah wanita itu melihat situasi, "Maaf, non Chelsea. Den Kenzo harus segera naik ke atas, tolong jaga sikap dan jangan menghadangnya, apalagi sampai bersuara keras. Non Tiara harus segera istirahat." tegur nya sambil menghalang tubuh Chelsea agar tidak semakin mendekat ke arah kedua majikannya.
"What?" Chelsea sampai geram, beraninya seorang sopir mengaturnya, dia sampai kehilangan momen melihat Kenzo dari dekat karena di hadang sopir itu, bahkan Kenzo pun langsung menaiki anak tangga meninggalkan nya. "Kak Kenzo!" panggilnya lagi dengan berteriak.
Kenzo sampai menghela nafas dan kembali menoleh, terus di biarkan wanita rewel itu pasti tidak akan diam, "Bicaranya besok saja, kita harus istirahat dulu." tuturnya dengan tegas. Dia kembali melangkah, bergegas menuju kamarnya.
"Silahkan, Den!"
Pintu kamar terbuka, untung saja ada salah satu pelayan yang mengikuti Kenzo dari belakang dan dengan cepat membuka pintu kamar nya.
"Sampaikan pada Mommy kita sudah kembali, dan satu lagi, pastikan tidak ada yang mengetuk pintu kamar karena Tiara harus istirahat." titahnya sambil berjalan masuk. Pelayan itu langsung mengangguk mengerti dan kembali menutup pintunya.
Kenzo langsung membaringkan Tiara di tempat tidur, perlahan melepas sepatu wanita itu agar bisa tidur dengan lebih nyaman. "Istirahatlah." gumamnya sambil menyelimuti Tiara, bergerak perlahan agar tidak membangunkan sang istri, tapi pada akhirnya wanita itu malah terbangun juga.
"Ken, apa ini sudah di rumah?" tanyanya dengan suara pelan, matanya menang belum melek sempurna tapi dia sudah bisa mencium aroma kamarnya yang selalu dia rindukan
"Kenapa malah bangun, Istirahatlah. Ini sudah di rumah." seru Kenzo sambil mengelus kepala Tiara, wajah wanita itu terlihat pucat jadi harus banyak istirahat.
__ADS_1
"Sini, aku mau di peluk!" reneknya masih setengah sadar, dia langsung mengulurkan tangannya agar Kenzo mau berbaring di samping nya. Dia harus kembali tidur karena kepalanya masih terasa berat tapi ingin di dalam dekapan suaminya
Kenzo sampai tersenyum kecil, apa mungkin karena sedang sakit, wanita ini dari tadi terus merengek manja dan terus saja menempel memeluk dirinya, "Baiklah, ayo tidur." dengan senang hati, dia langsung berbaring dan memeluk Tiara ke dalam dekapannya, dia sendiri sudah sangat lelah dan membutuhkan kehangatan.