Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Awal sebuah perubahan.


__ADS_3

Rutinitas pagi hari yang begitu damai terlihat kembali, Kenan sekeluarga kini sedang menghabiskan sarapan mereka dengan penuh kehangatan. Sarapan pagi yang akhir-akhir kemarin terlihat suram kini menghilang, pikiran yang selalu memikul beban dan rasa takut akan ancaman kini kembali tentram.


"Daddy dengar dari sekretaris keluarga kau kemarin menghabiskan banyak uang, Ken?" Kenan tiba-tiba bertanya, pagi ini dia sudah melihat rincian pengeluaran keuangan keluarga yang sekretaris nya berikan, dia sampai terkejut saat melihat nominal yang begitu besar ikuti bertengger di rincian itu dan katanya putranya sendiri yang menggunakan uang nya.


Ze dan Tiara ikut kaget, kedua wanita itu langsung menatap Kenzo dengan penuh tanya, si empunya hanya bisa mengendus kesal menekuk kelapa karena lupa membicarakan hal itu dengan sang Daddy sebelum-nya.


"Sial," Kenzo sampai mengumpati kecerobohan nya, padahal dia sengaja menyembunyikan nya tapi pada akhirnya ulahnya itu malah terbongkar di depan Tiara. "Iya, Dad." hanya bisa menjawab singkat, mengangguk mengiyakan tak mampu banyak bicara, biar nanti setelah sarapan dia akan bicara berdua saja dengan Daddy-nya.


"Uang untuk apa, Ken?" Ze ikut menimpali, dia yang selalu paling kepo jika putranya itu mengeluarkan banyak uang terlebih itu pasti tidak sedikit karena suaminya saja sampai mempertanyakan nya.


Kenzo langsung menatap Daddy dan Mommy nya dengan penuh arti, seolah-olah memohon jangan melanjutkan topik pembicaraan ini, "Akh, sepertinya aku sudah kenyang, Mom." dia sampai menggaruk tengkuknya, ingin mengalihkan topik pembicaraan tapi Daddy-nya malah bicara lagi.


"Katanya uang itu kau gunakan untuk membeli sebuah rumah di perkampungan, Ken." ucap Kenan lagi penuh tanya. Dia yang menimpali pertanyaan istrinya karena dia juga ikut heran dengan pengeluaran itu. Putranya memang sudah terbiasa jika mengeluarkan uang banyak, tapi kali ini cukup mencolok karena uang itu malah digunakan untuk membeli sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian tapi harga yang dia keluarkan cukup fantastis hampir tembus sampai satu Miliar.


"Aisst, Dad." Kenzo sampai menatap sang Daddy dengan begitu kesal, kenapa tidak mengerti dengan kode yang dia berikan, sudah dia isyaratkan kalau dia akan bicara nanti, kenapa malah di bahas di sini saat ada Tiara, hancurlah rencananya untuk memberikan surprise pada istrinya itu.


"Rumah?" Lagi-lagi Tiara dan Ze bertanya bersamaan. Bahkan Tiara terus menatap suaminya itu dengan mimik penasaran.


"Rumah di perkampungan apa, Ken?" tanyanya lagi. Iya, bukan Tiara namanya kalau tidak penuh tanya, sekali ada pembahasan selalu banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban, terlebih itu hal yang di lakukan suaminya.


"Aisst...." Gagal sudah, yang tadinya mau di jadikan kejutan malah harus ketahuan sebelum pemberangkatan ke kampung halaman, "Iya, rumah peninggalan orang tua mu, kamu pernah bilang kan, rumah itu sudah Pak Arya jual, aku sudah kembali membelinya." tutur Kenzo menjelaskan. Iya, mau tidak mau harus di ceritakan dari pada istrinya itu makin penasaran atau bahkan lebih parah bisa jadi salah paham. "Sekarang rumah itu kembali menjadi milik mu." jelasnya menyakinkan.


Mata Tiara sampai berbinar cerah, ini bukan mimpi kan. Satu-satunya barang berharga peninggalan orang tua nya kini bisa kembali. "Sungguh, Ken?" matanya sampai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya, jadi saat kita ke sana nanti, rumah itu bisa kita tinggali." Kenzo sampai ikut tersenyum senang melihat ekspresi Tiara yang kegirangan, tangannya langsung bergerak mengelus kepala sang istri, dia sudah bisa membayangkan betapa berharganya rumah itu untuk Tiara karena pasti banyak kenangan yang tertinggal di sana. "Biarpun tempatnya cukup jauh, untuk ke depannya sesekali kita bisa berkunjung dan menginap di sana."


Hati Tiara sampai terhanyut, kebahagiaan nya tidak bisa Ia utarakan dengan kata-kata. "Terima kasih, Ken." lirihnya sambil menatap lelaki itu dengan penuh bangga, saking senangnya dia sampai memeluk tubuh itu tanpa malu di lihat kedua orang tuanya, dia teramat senang, apa ini awal kebahagiaan nya, semua yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun kini suaminya itu bisa mengabulkan nya dengan mudah, "Terima kasih, sayang. Terima kasih untuk semuanya."


"Iya." Kenzo langsung membalas pelukan itu, mengecup puncak kepala Tiara. Ternyata tidak sia-sia dia membeli rumah itu dengan harga tinggi, karena terbalas dengan kebahagiaan istrinya.


"Akhm, maaf ya. Ada kita di sini, kita jadi di abaikan." Ze tiba-tiba bersuara, bukan karena ingin mengganggu. Hanya saja dia penasaran apa yang sedang kedua anaknya itu bicarakan. Karena putranya itu belum bicara apapun padanya.


"Maaf, Mom." Tiara sampai refleks melepaskan pelukannya, malu sendiri sampai tersenyum kikuk menatap kedua orang tuanya itu.


Ze sampai tersenyum kecil melihat ekspresi kedua putranya yang malu-malu mengekspresikan perasaannya di depan mereka, "Maaf, Mommy hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan. Emang kalian mau ke mana?"


"Dad, Mom. Kita berencana akan menghabiskan liburan akhir semester kita di kampung kelahiran Tiara." Kenzo mulai bicara, menceritakan semua rencananya bersama sang istri. Bahkan dia meminta maaf telah menghabiskan banyak uang tanpa meminta izin dulu pada keduanya. Dia juga tidak mengira harganya akan setinggi itu, sepertinya sang pemilik rumah sebelumnya sengaja mematok harga tinggi tahu kalau orang-orang yang dia kirim bagian dari keluarga Wijaya.


Keadaan di sekolah, Shasa terlihat keluar dari perpustakaan sambil membawa beberapa buku di tangannya, semenjak kembali bersekolah dia serasa terkucilkan, menjalani hari-hari di sekolah seorang diri, pagi ini saja dia langsung menghabiskan waktu nya dengan menyibukkan dirinya sebelum masuk kelas dengan buku-buku yang di bacanya.


Bruk...


Karena terus menunduk, tubuhnya menabrak seseorang, buku yang dia bawa sampai berjatuhan berserakan di lantai. "Maaf," lirihnya tak mampu melihat orang yang dia tabrak.


"Aisst, pakai mata dong. Dasar ***-***."


Deg... Hati Shasa bagai tersayat, itulah kata-kata yang selalu ia dengan dari bibir-bibir pedas murid laki-laki di sekolah. "Maaf aku tidak senagaja." ucapnya lagi sambil berjongkok mengambil buku-buku nya. Satu, dua buku mulai terambil, tapi sisanya sudah terpental jauh di tendang murid lelaki itu.

__ADS_1


"Ambil sana!" Murid lelaki yang tidak sendiri itu sampai terbahak, puas sekali mereka bisa mengerjai Shasa, sosok wanita yang dulu penuh kesombongan kini jatuh terpuruk menjadi wanita murahan yang selalu menjadi bahan hinaan. "Kau bisa merangkak, kan!" titahnya lagi sambil mendorong tubuh Shasa saat wanita itu hendak berdiri.


Nyutt.... Sakit, tapi tak berdarah, hatinya bagai tercabik-cabik, tubuhnya terkulai lemas bagai jatuh remuk berkeping-keping. Air matanya sampai tidak bisa ia bendung sampai jatuh menetes mengenai lantai.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan hah?" Suara Tiara terdengar nyaring, dia serasa ikut sakit melihat murid yang lain memperlakukan sepupunya seperti itu, "Menjauh!" sentak nya dengan menatap tajam mereka dan perlahan membantu Shasa berdiri.


Kenzo yang ada ada di belakang Tiara sampai kaget, dia tidak mengira Tiara akan semarah itu pada murid laki-laki itu. Dia tidak bisa ikut campur membela Shasa, tapi dia akan membiarkan Tiara karena itu urusan hubungan sang istri dengan sepupunya. Dia hanya akan menonton apa yang akan Tiara lakukan.


"Heh, mau pergi begitu saja, ambil dulu bukunya!" Titah Tiara masih dengan nada garang.


Langkah murid yang sudah mau pergi sampai kembali terhenti, "Itu bukunya, dia punya tangan untuk mengambil nya." murid itu malah menyeringai masih menatap Shasa dengan penuh kebencian, ingin berlaju pergi tapi langkahnya kembali terhenti karena Tiara dengan cepat melemparkan sebuah buku sampai melayang mendarat persis di pundaknya.


"Kalian pikir bisa pergi begitu saja, ambil!" titahnya lagi masih menyuruh murid itu mengambil buku yang tadi di tendangannya.


"Aisst, heh. Tiara! Kau sampai segitunya membela wanita itu." Murid laki-laki itu sampai kesal, bisa-bisanya Tiara masih membela Shasa, padahal wanita itu yang selalu mempersulit hidupnya. "Seharusnya kau membencinya bukan malah membelanya." decak nya lagi sambil menatap Tiara dengan tajam, tapi detik selanjutnya langsung menunduk takut dengan tatapan mata meredup saat mata Kenzo berbalik menatapnya dengan penuh intimidasi.


Suasana mulai sengit, perdebatan mereka sampai memancing perhatian murid yang lain, bahkan tidak sedikit yang membela murid laki-laki itu dan memandang Tiara dengan penuh tanya. Bukannya menaruh dendam Tiara malah membela Shasa. "Iya, Tiara. Biarkan saja wanita murahan itu. Apa kau tidak ingat betapa kasar dan liciknya Shasa memperlakukan mu, bahkan bukan hanya dirimu saja tapi juga banyak murid yang lain." timpal murid yang lain menimpali.


"Sudah, Ra. Iya aku memang salah." Shasa sampai langsung berlaju pergi, dia teramat malu terlebih malah menyusahkan Tiara karena membela nya.


"Sha!" Tiara sampai sedih melihat punggung Shasa yang pergi dengan sebuah penghinaan, tangannya langsung mengepal geram menatap murid-murid yang ada di sana. Iya, dia tahu, dia ingat seberapa kejamnya Shasa, tapi Shasa sekarang sudah berubah, wanita ini bukanlah Shasa yang dulu, terlebih wanita ini sudah mendapatkan balasan yang setimpal.


"Heh, denger! bisakah kalian hilangkan rasa benci kalian. Kalau kalian memperlakukan Shasa seperti itu kalian sama jahatnya seperti Shasa yang dulu.Tidak perlu bersusah payah untuk balas dendam, cukup memaafkan setiap kesalahan karena itu pembalasan yang terbaik."

__ADS_1


__ADS_2