Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Keputusan yang gegabah


__ADS_3

"Kenapa aku bodoh sekali, aku menyia-nyiakan orang yang ku cintai menjadi milik orang lain. Aku tidak akan membiarkan nya Tiara, lihat saja aku akan kembali mengambil yang seharusnya menjadi milik ku."


Shasa sudah kalang kabut, dia sampai mengusap kasar wajahnya. Menu sarapan saja rasanya tidak bisa masuk ke dalam mulutnya.


Tidak habis pikir rupanya putra Pak Kenan adalah Kenzo lelaki yang begitu dia cintai.


Jika saja waktu dapat di ulang kembali, Shasa tidak akan membiarkan Tiara menggantikan nya dalam perjodohan itu.


"Yah, apa Ayah akan diam saja. Tiara masih belum pulang, dia pasti bersenang-senang di sana."


Shasa kini merajuk pada sang Ayah.


Kenapa Ayahnya membiarkan Tiara menginap di sana. Itu membuatnya makin kesal.


Bagaimana kalau Tiara menjelekkan dirinya pada keluarga mereka, terlebih pada Kenzo yang di suakinya.


"Tenang, Sha. Kita akan menjemputnya nanti malam. Pak Kenan mengundang kita semua ke rumahnya nanti malam untuk membahas pertukaran pertunangan."


Arya menanggapi perkataan Sahsa dengan begitu santai. Dia sudah percaya kalau Pak Kenan pasti akan mempertimbangkan keinginannya.


Dan kemungkinan besar Shasa yang akan bertunangan dengan lelaki yang di sukai nya.


"Iya. Tapi tetap saja, aku tidak terima jika Tiara terus di sana, aku tidak mau Tiara terus mendekati Kenzo."


Shasa kembali bicara, dia tidak menyangka Tiara masih saja mengabaikan ancaman nya, bahkan wanita itu berani menginap di sana.


"Ayah sudah membujuk Pak Kenan untuk menukar pertunangan ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


Arya kembali menimpali, dia berusaha membujuk Sahsa agar putrinya tidak perlu khawatir. Ini mungkin hari terakhir Tiara bisa bersenang-senang bersama mereka, karena Kenzo pasti akan lebih memilih putrinya.


"Ayah mu benar, Sha. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang habiskan sarapan mu, kita harus perawatan dulu. Agar malam nanti kau terlihat lebih cantik."


Widia menimpali, dia sudah tersenyum senang membayangkan kalau putrinya lah yang akan menjadi wanita paling berharga karena bisa menjadi bagian dari keluarga Wijaya.


...*...


"Mereka kembali."


Ze langsung menyentuh tangan Kenan.


Memberi tahu sang suami kalau Tiara dan putranya sudah mendekat mau bergabung dengan mereka.


"Urusan nya sudah beres."


Kenan langsung bicara, tersenyum kecil melihat ke arah Kenzo. Rupanya putranya itu bisa dengan mudah membereskan masalah tanpa memakan waktu lama.


"Hemm."


Kenzo hanya menjawab singkat. Langsung menarik kursi menyuruh Tiara duduk dan dia pun lekas duduk di samping Daddy nya.


"Terima kasih."


Tiara sampai menunduk malu, rasanya canggung. Masih tidak menyangka dia bisa ada di antara mereka.


"Sekarang makin perhatian, ya."


Ze bersuara, tersenyum kecil, senang sekali rasanya bisa menggoda putranya.


Tidak mengira putranya bisa secepat itu memperlihatkan perhatian nya.


"Loh, cincin nya sudah di pasang."


Ze terkejut saat melihat jari Tiara. Langsung menatap sang suami seolah memberi tahu kalau putra mereka bukan hanya bicara saja, tapi Kenzo sudah membuktikannya.


"Apa tidak apa-apa aku mengenakan cincin ini?"


Tiara sampai refleks menyembunyikan tangannya. Dia makin malu karena Ze dan Kenan sadar kalau cincin pertunangan itu sudah tersemat di jarinya.


"Duh, putra mommy bergerak cepat ya. Langsung mengikat wanita nya takut di abaikan lagi."


Ze kembali bersuara, lagi-lagi melontarkan kata yang penuh ledekan pada putranya. Wajah Tiara sampai memerah. Rupanya Ze tahu kalau sebelumnya dia telah menghindari putranya.


"Mom."


Kenzo langsung menatap sang Mommy.


Bisa bisanya bicara sesantai itu saat Tiara juga ada di sana. Menatap sang Mommy dengan penuh arti seolah berkata jangan mempercanggung


suasana karena Tiara pasti akan makin tidak nyaman berada di sana.


"Iya, iya. Mommy tidak akan bicara lagi. Cepat habiskan sarapan kalian."


Ze akhirnya mengakhiri candaannya, dia juga tidak ingin Tiara merasa tidak nyaman.


"Ken, setelah sarapan temui Daddy di ruang kerja."


Kenan sudah menyelesaikan sarapannya, langsung beranjak pergi, setelah memberi perintah kepada putranya.


"Iya, Dad."

__ADS_1


Kenzo langsung menjawab.


Permintaan Kenan terdengar begitu dingin, Tiara sampai kaget, apa mungkin Kenzo akan kena marah karena seenaknya memasangkan cincin itu di jari nya, tanpa meminta izin kepada kedua orangtuanya.


"Tidak apa-apa sayang. Mommy malah senang Kenzo sudah menentukan pilihannya."


Ze langsung meraih tangan Tiara. Seperti sudah tahu akan kekhawatiran Tiara. Ze langsung meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.


"Terima kasih, Tan."


Tiara tersenyum, semoga saja perkataan Ze benar. Karena Tiara akan merasa bersalah jika Kenzo malah kena marah.


"Kenapa panggil Tante, panggil mommy dong. Kenzo sudah mengakui mu, kamu juga harus mengakui Tante sebagai orang tua mu."


Ze tersenyum lebar, langsung mengelus kepala Tiara bahwa mereka adalah keluarga.


"Iya, mommy."


Akhirnya terucap juga kata itu dari bibir Tiara. Sebelumnya dia tidak pernah menyangka kalau dia akan mendapatkan kasih sayang dari sosok orang tua.


"Mommy pergi terlebih dulu ya. Habiskan sarapan kalian."


Ze pamit karena sudah menyelesaikan sarapannya, dia pun bergegas pergi dari sana.


"Apa benar tidak apa-apa?"


Ze kembali bertanya pada Kenzo, bagaimana jika tindakan Kenzo ini malah membawa masalah untuk keluarganya.


"Jangan terus bicara dan makan saja."


Kenzo enggan menjawab, apapun yang terjadi toh itu sudah menjadi tanggung jawabnya dan dia siap menanggung resiko nya.


Karena tidak ada respon dari Kenzo


Tiara langsung menyantap sarapan, dia hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja.


"Nanti malam Pak Arya dan keluarganya akan ke sini untuk membahas pertunangan. Jadi kau tidak perlu pulang dan tetaplah di sini."


Kenzo tiba-tiba bersuara. Berusaha memberi tahu Tiara agar gadis itu mempersiapkan dirinya.


"Mereka akan ke sini!"


Tiara terkejut sampai tersedak makanannya.


Baru saja dia merasakan kenyamanan kini dia langsung di landa kegelisahan.


Di tambah sang paman mendukung keras keinginan putrinya.


"Melihat reaksi mu yang begitu kaget, sepertinya kau tahu kan apa yang akan terjadi nanti,"


Kenzo langsung menatap Tiara, dugaannya memang tidak salah, Tiara pasti merasa tertekan karena mereka sampai memasang wajah yang ketakutan seperti itu.


Tiara tidak bisa berkata-kata, dia langsung mengambil air minum dan meneguknya. Dia harus menghilangkan kegelisahan.


"Dengarkan aku. Apapun yang akan terjadi nanti kau tidak perlu takut dan jangan menghindari ku. Aku tahu dari awal kau memang terpaksa menerima perjodohan ini dan aku pun sama, tapi lakukanlah sampai akhir. Aku akan tetap memilih mu, karena sedari awal pun wanita itu adalah kamu."


Kenzo kembali menegaskan. Berusaha mengalihkan gelisah Tiara. Dia tahu hubungan mereka memang di dasari keterpaksaan, tapi berusahalah saling menguntungkan.


Terima lah kalau dia lebih memilih nya, maka dia pun akan berusaha melindunginya.


"I-iya."


Tiara langsung menjawab dengan terbata-bata. Dia tidak tahu pasti seperti apa lelaki yang ada di hadapannya, tapi lelaki itu bisa dengan mudah menebak isi hatinya.


Kenzo memang seorang lelaki yang tidak mudah di tebak apa sebenarnya kemauannya dan apa sebenarnya yang ada di pikirannya.


Itu tidak tergambar jelas dari tingkah dan perkataan nya.


"Aku harus menemui Daddy. Kau temui saja mommy. Mommy sudah mengurus pakaian ganti beserta seragam baru mu."


Ucap Kenzo lagi, dari tadi malam Ze memang sudah menyuruh pelayan nya menyiapkan sagala keperluan Tiara.


Agar gadis itu tidak meminta untuk pulang sampai keluarga Arya datang.


"Maaf aku selalu saja merepotkan!"


"Lebih baik di report kan dari pada terus melihat mu mengenakan switer ku yang malah terlihat seperti badut."


Kenzo bicara dengan begitu datar, lebih baik dia meledeknya dari pada wanita itu terus meminta maaf dengan apa yang dia terima darinya.


"Apa, badut?"


Tiara sampai melebarkan mata,


untung saja lelaki itu masih memiliki sifat yang baik, kalau tidak dia pasti frustasi harus mendengar ledekan nya yang begitu menjengkelkan.


"Iya, setidaknya itu terlihat manis dari pada penampilan mu yang cupu."


Timpal Kenzo lagi, dia masih saja bicara dengan begitu datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Tiara sampai tidak bisa membedakan sebenarnya itu sebuah pujian atau ledekan.


"Kalau mau memuji puji saja, kenapa di akhir dengan ledekan. Dasar switer menyebalkan."


Tiara bergumam. Langsung menghabiskan sarapannya. Tidak habis pikir kenapa sifat lelaki itu jauh dari batasan manusia normal.


"Jangan cemberut mulu, atau aku akan mengubah panggilan mu menjadi badut, itu sepertinya lebih baik."


Kenzo bangkit, dia sudah menghabiskan sarapannya dan harus bergegas menemui sang Daddy.


"Terserah, sesuka mu saja."


Tiara sampai menjawab singkat karena tidak mau berdebat.


"Baiklah cupu, aku pergi."


Kenzo sampai membentuk senyum di bibirnya, kenapa Tiara yang jutek malah terlihat menarik. Tangannya sampai refleks bergerak menyentuh kepala Tiara ingin rasanya dia mengacak-acak rambut Tiara yang sedang cemberut seperti itu.


"Hei, kalau mau pergi ya pergi saja, kenapa seenaknya menyentuh kepala orang."


Tiara sampai sewot, bukan karena apa-apa. Dia hanya kaget karena tangan Kenzo begitu lembut menyentuh kepalanya.


Kenzo pergi, dia sampai tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memancing amarah Tiara.


...*...


"Ada apa, Dad?"


Kenzo sudah ada di ruangan Kenan, langsung bertanya kenapa sang Daddy memanggilnya.


"Daddy tidak menyangka kau akan secepat itu memberikan cincin itu pada Tiara."


Kenan langsung bicara. Iya itulah yang menjadi pertanyaan nya. Dia tahu Kenzo seperti apa, putranya itu bukan seseorang yang selalu bertingkah seenaknya tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi ke depannya apalagi sampai merugikan orang lain.


"Entahlah Dad. Aku tidak tahu seperti apa hubungan dia dengan keluarga Pak Arya, aku hanya berpikir kalau aku harus membantunya."


Kenzo langsung menjawab, seolah memberi tahu sang Daddy kalau Pak Arya tidak sebaik dugaannya.


Dan dia harus membantu Tiara dari tekanan mereka.


"Tapi jika cincin pertunangan itu sudah di pakai Tiara, bukankah itu seolah kita terang terang menolak keras keinginan Pak Arya, Ken. Kau akan terlihat seperti orang jahat yang dengan sengaja mempermalukan putri Pak Arya."


Kenan berusaha memberi nasehat, tindakan Kenzo itu terlalu gegabah,


Bagaimana jika nanti hubungan keluarga mereka malah menjadi retak karena tingkah putranya.


"Justru itu yang aku harapkan, Dad. Aku ingin Shasa membenci ku biar dia mundur sendiri dari pertunangan ini."


Kenzo kembali menjawab, kali ini dia bicara sambil menundukkan kepala. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan nya.


"Jujur, sebenarnya kau tidak membenci Shasa kan?"


Kenan berusaha menebak, ada ekspresi aneh saat putranya membahas Shasa dan itu meyakinkan nya kalau putranya itu menyembunyikan sesuatu dari nya.


"Kenapa Daddy tiba-tiba bertanya seperti itu?"


Kenzo sampai kaget.


"Daddy meminta mu untuk jujur, bukan malah bertanya lagi. Jawab saja."


Kenan sampai meninggikan suaranya. Kalau perkiraan nya benar. Maka hubungan itu akan makin rumit.


"Aku membencinya sebagai lelaki, tapi tidak sebagai teman, Dad."


Akhirnya Kenzo bicara jujur.


Dia, Shasa dan Jonathan menjadi teman sudah cukup lama, banyak hal yang sudah di lalui mereka bersama sama.


Kenzo tidak mungkin semudah itu membenci Shasa hanya karena masalah itu saja.


"Daddy harap kau tidak mengecewakan."


Kenan sampai memijat pelipisnya, mendadak banyak kekhawatiran yang muncul di kepalanya.


Putranya ingin membantu Tiara dengan menjadikan dia sebagai tunangannya, tapi dia juga tidak mampu mengabaikan Shasa, karena Shasa merupakan teman nya.


Bagaimana jika nanti Shasa yang akan merebut hati putranya.


Bukannya membantu Tiara, putranya itu malah menyakiti tunangannya.


"Bukannya Aku sudah bilang Aku tidak akan mengecewakan, Daddy."


Kenzo bicara dengan begitu tegas.


Terkadang dia begitu kesal pada Daddy nya.


Sang Daddy selalu saja memandang dirinya rendah sampai tidak pernah percaya padanya.


"Iya. Daddy harap apa yang Daddy khawatirkan tidak terjadi."

__ADS_1


__ADS_2