
Istirahat jam makan siang tiba, semua murid langsung berdatangan memenuhi Mading sekolah, saat hasil ujian mereka sudah terpampang jelas di sana.
...Hasil Kualifikasi...
- Kenzo Julian. 10.0
- Tiara Lestari. 10.0
- Jonathan Prawira. 9.2
- Shasa Wiguna. 9.0
_ .....
_ .....
_ .....
_ .....
"Wah, parah. Soal ujian pada susah semua, itu si Kenzo sama cewek nya dapat nilai sempurna, IQ nya tingkat dewa kali ya." decak kagum salah satu murid.
Semua mendadak menjadi ricuh, hasil kualifikasi jauh dari perkiraan mereka semua, mereka kira Jonathan yang akan lebih baik tapi ternyata si brandal sekolah lah yang mendapat posisi paling tinggi. Kalau dengan nilai seperti ini sudah jelas mereka berempat lah yang akan mengikuti perlombaan. Dan perkiraan mereka benar di samping hasil kualifikasi itu ada pemberitahuan kelompok putra dan putri sekolah Trisakti yang akan mengikuti lomba.
...Murid terpilih mengikuti lomba;...
Pasangan putra dan putri 1. Kenzo Julian dan
Tiara Lestari
Pasangan putra dan putri 2. Jonathan Prawira dan Shasa Wiguna
"Tidak di tentukan oleh sekolah pun kita tahu Tiara dan Kenzo memang pasangan." ucap polos salah satu murid, semua murid sontak langsung tertawa, sekolah mungkin terlalu bodoh jika tidak memasang mereka.
Semua murid tertawa, tapi tidak dengan Shasa, dia berdiri sedikit jauh dari sana, mengepalkan tangan dengan tersenyum miris, bisa-bisanya semua murid itu juga menyukai Tiara, "Tiara lagi, Tiara lagi, apa sih bagusnya wanita itu, Akhhhh, ini menjengkelkan sekali. Aku tidak tahan jika terus seperti ini." gumam nya geram. Benteng pertahanannya mulai roboh, Arya menyuruhnya untuk menjaga sikap, tapi kalau seperti ini bagaimana dia bisa tahan.
Tiara baru sampai di sana, semua murid langsung memberi selamat dan memberi nya semangat, dia sampai malu sendiri rupanya respon murid yang lain sangat baik, dia jadi tidak sabar ingin melihat hasil ujiannya yang di kerjakan oleh Kenzo.
__ADS_1
"Wah, nilainya sampai sempurna!" Tiara sampai mangap tak percaya, sepintar itukah Kenzo? nilainya jadi terbawa sempurna karena lelaki itu yang mengisi nya. Dia lekas kembali mendadak ingin menemui lelaki itu untuk bicara. "Basecamp, di mana pula tempat itu?" gumamnya bingung sambil berjalan cepat. Lelaki itu tapi bilang mau bersembunyi di basecamp untuk menghindari Shasa, dia pun harus bergegas ke sana untuk menemuinya.
Tiara celingukan sana sini, dia tidak akan tahu di mana basecamp itu kalau tidak bertanya pada seseorang, "Hei, apa kau tahu basecamp anak Mabar?" tanya nya langsung pada murid lelaki yang di temui nya di lorong, entah siapa dia yang penting dia harus bertanya.
"Bukannya dia cewek nya si Kenzo?" murid itu sampai kaget, sudah mengira kalau wanita ini pasti akan mencari pacarnya. "Ayo, gue antar!" ucap patuh murid itu, dia memandang Kenzo makanya dia mau membantu Tiara.
Mereka terus berjalan, sampai di sebuah ruangan paling ujung murid itu langsung berhenti dan menunjukkan ruangan yang Tiara cari. "Di dalam! ini basecamp mereka." ucap murid itu memberi tahu. Tidak ingin lama-lama dia pun langsung kembali.
"Hei, terima kasih." Tiara sampai tidak percaya, murid itu benar-benar mengantarkan nya.
Tiara langsung mengetuk pintu, sudah sampai berapa kali tapi masih tidak ada jawaban dari dalam. "Apa aku langsung masuk saja." gumamnya, dia pun langsung membuka pintu itu dan perlahan masuk.
Sementara itu keadaan di dalam, seperti biasa Reno dan Devan bermain game online bersama, sedangkan Kenzo terlihat berbaring di sofa mengistirahatkan tubuhnya, matanya sampai terpejam sempurna.
"Permisi!"
Suara Tiara terdengar begitu jelas, Devan dan Reno sampai terkejut bukan main. "Astaga! Kau!" Devan sampai mangap, kenapa Tiara ada di sana. "Cari si Bos ya?" tanya Reno menimpali, tidak aneh kalau Tiara di sini wanita itu pasti mencari bos nya.
Tiara langsung mengangguk, sedikit malu juga karena yang dia lihat hanya mereka. "Apa Kenzo ada di sini?" ucapnya langsung bertanya, matanya tidak melihat sosok lelaki itu, yang dia lihat hanya sebuah sofa dengan posisi yang membelakangi nya.
"Tuh!" Kedua laki-laki itu langsung menunjuk sofa yang ada di depan Tiara. "Sepertinya dia kelelahan sampai tertidur." timpal Devan menjelaskan.
"Ada apa?" Suara Kenzo mulai terdengar, matanya masih terpejam, tapi tangannya bergerak cepat meraih tangan Tiara. Suara mereka terdengar jelas, walau matanya terpejam dia bisa tahu kalau Tiara ada di sana.
"Kau terbangun, maaf, sepertinya aku malah mengganggu." ucap Tiara malu, kalau tahu lelaki ini sedang istirahat dia tidak akan menghampirinya.
Kenzo perlahan bangun, langsung mendudukkan badannya dan menyuruh Tiara duduk di sana, "Duduk lah! ada apa?" tanyanya heran. Penasaran kenapa Tiara sampai berani menyusulnya ke sini.
Tiara langsung duduk, mau kembali juga percuma, lelaki itu sudah bangun. "Ken, hasil ujian tadi sudah keluar, kau tahu nilai mu sempurna, bahkan nilai ku juga sama, apa itu tidak curang, bahkan kita jadi pasangan." tutur nya menceritakan, Tiara menceritakan nya sampai menggebu-gebu, bukan karena apa-apa, hanya kaget saja Kenzo bisa sepintar itu dan dia pun jadi terbawa-bawa.
"Hanya itu saja?" timpal Kenzo dengan enteng bahkan bicara nya pun begitu datar,
sudah khawatir takut terjadi apa-apa rupanya Tiara hanya menyampaikan itu saja. "Ku kira ada masalah sampai kau ke sini," timpalnya lagi masih dengan memasang wajah tanpa ekspresi. Berita tentang nilai dan pasangan putra dan putri tidak lah penting, toh memang dia sendiri yang merencanakan semuanya. "Kau sudah mengganggu ku, jadi kau harus meminjam kan bahu mu." serunya dengan tersenyum kecil. Dia langsung mencondongkan badannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Tiara. Salah siapa wanita itu mengganggunya. Tahu wanita itu hanya akan bicara seperti itu saja dia tidak akan bangun dari istirahat nya.
"Hei!" Tiara sampai kaget, orang sedang membicarakan apa dia malah apa, nyaman sekali bersandar di bahunya, ingin menghindar tapi kasihan, masih tidak percaya Kenzo menanggapi nya dengan biasa saja. Padahal dia begitu kaget melihat nilai Kenzo yang sempurna, dengan kepandaian itu bukan mustahil bagi lelaki itu untuk menduduki peringkat ke satu Trisakti sekolah. "Apa selama ini kau memang sengaja mengalah dari Jonathan." ucapnya tiba-tiba, dia berusaha menebak. Dia sudah tahu seperti apa Kenzo, lelaki itu tidak mudah untuk kalah, dengan kepandaian seperti itu dia bisa saja dengan mudah mengalahkan Jonathan, tapi lelaki itu tidak pernah melakukannya.
Kenzo sesaat mendongkangkan kepala menatap Tiara, wanita itu sampai bisa mengetahui itu hanya dengan melihat dari situasi saja. "Kau memang cukup peka." jawabnya mengiyakan tebakan Tiara.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan nya?" tanya Tiara lagi semakin penasaran.
"Kasihan, aku kasihan pada nya." jawab Kenzo mulai bicara, bercerita pada Tiara sepertinya tidak ada salahnya. "Kau tahu kan orang yang tadi, Arzan; dia anak angkat keluarga Prawira, Ayah Nathan lebih mempercayai lelaki itu karena dia lebih tua dari nya. Posisi Nathan yang merupakan pewaris asli akan terancam jika dia tidak membuktikan kemampuannya, dia membutuhkan posisi satu Trisakti untuk membuktikan itu." jelasnya menceritakan. Tidak ada yang tahu tentang ini selain dia dan Jonathan, dan kali ini dia bercerita karena Tiara bisa menebak semuanya.
Tiara hampir tidak percaya, rupanya pertemanan mereka sampai sedekat itu, lalu bagaimana sekarang, hubungan dua lelaki itu menjadi renggang gara-gara masalah kemarin. Dan itu pasti karena dirinya. "Maaf," lirihnya. Kenzo pasti kecewa pada Jonathan karena dirinya.
"Kenapa kau yang minta maaf, ini bukan salah mu, Nathan selalu hidup dalam tekanan dan persaingan, jadi dia mudah di bodohi, aku sudah memaklumi nya, kalau dia sudah sadar dia pasti menghampiri ku lagi." timpal Kenzo kembali menjelaskan. Dia memang kesal pada Jonathan, tapi saat tahu lelaki itu dalam kesulitan dia menjadi kasihan. Nathan pasti sedang terusik karena tingkah Arzan yang berani mengambil kuasa di perusahaan Prawira, bahkan Arzan berani mengajak perang melawan perusahaan Daddy nya. Padahal sebelumnya Prawira sendiri tidak pernah berani menyaingi dan melawan perusahaan sang Daddy.
Tiara sampai kehabisan kata-kata, pantesan saat itu Jonathan bilang kalau Kenzo sebenarnya orang baik, ternyata iya lelaki itu memang baik. Bahkan jauh lebih baik dari dugaannya. Hanya sifatnya saja yang cuek dan dingin, karena memang itulah daya tariknya.
"Sudah kembali ke kelas sana!" titah Kenzo tiba-tiba. Tiara sudah tidak bicara, berarti tidak ada alasan lagi untuk terus di basecamp nya, dia langsung mengangkat kepalanya dari bahu Tiara, menyuruh wanita itu untuk pergi.
"Kau tidak akan masuk kelas?" tanyanya heran, kenapa hanya menyuruh nya, bukannya dia juga harus ke kelas.
"Tidak, aku lebih baik menghindar dari pada tidak di izinkan masuk kamar," timpal Kenzo dengan ledekan. Dia langsung mengeluarkan ponsel menghampiri Devan dan Reno untuk ikut bermain game dengan kedua temannya itu.
"Saat itu kan aku bercanda, dia masih mengingatnya, bahkan dia benar-benar menghindari Shasa." gumam Tiara dengan tawa. Tingkah Kenzo sedikit aneh, tapi dia bisa bernafas lega.
...***...
Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa Tiara keluar kelas sambil menentang tas Kenzo, dari kemarin lelaki itu selalu bolos di jam pelajaran terakhir, tanpa di beri tahu dia sudah hapal harus membawa tas nya dan menunggunya di parkiran.
"Tiara!" Shasa terdengar memanggil, dia langsung berjalan cepat menghampiri Tiara. "Hei, Kenzo ke mana? dari tadi aku tidak melihatnya." tanya nya basa-basi. Dia langsung berjalan beriringan untuk sama-sama turun ke bawah.
"Entah, tadi dia bolos. Dia hanya menyuruh ku menunggu di mobilnya." jawab Tiara dengan sedikit berbohong, kalau dia jujur bisa-bisa Shasa akan menyusulnya.
"Selamat, kata Ayah kalian mau menikah." ucap Shasa dengan senyuman, bahkan dia mengulurkan tangannya. Tiara sampai kaget, apa ini beneran Shasa. Kenapa dia mendadak ramah. "Iya." jawab Tiara sambil menerima uluran tangan Shasa.
"Kau sudah siap untuk lomba nanti, aku tidak mengira kau terpilih, padahal kau hanya murid baru, tapi sudah di percaya sekolah. Rupanya kau pintar." ucap Shasa lagi. Tiara sampai makin khawatir, pasti ada yang di rencanakan Shasa, tapi dia tidak tahu harus bagaimana.
Sementara itu, Jonathan terlihat melakukan panggilan, dia berdiri di lantai bawah sebelum keluar sekolah. "Halo, Ken." ucapnya, rupanya Jonathan sedang menghubungi Kenzo karena ada yang harus di bicarakan. "Ken, sorry. Terserah lo menganggap gue teman kayak apa. Gue hanya khawatir, Arzan nelepon, katanya mau ke sekolah untuk jemput gue, dan dia tiba-tiba dia nanyain wanita yang tadi pagi barang lo, separtainya yang dia maksud Tiara. Sepertinya kau harus berhati-hati!" jelas Jonathan menceritakan. Dia tahu Kenzo pasti masih membencinya, tapi dia harus memberi tahu itu agar Kenzo lebih waspada.
"Iya, terima kasih." jawab Kenzo di sebrang telepon nya.
Jonathan sampai tidak mengira, Kenzo akan mengucapkan kata itu padanya. Dia benar-benar merasa bersalah karena kebodohannya.
"Nathan!" suara seorang murid laki-laki terdengar memanggilnya, saking kerasnya Kenzo di sebrang sana bisa mendengar suara itu "Apa kau lihat Kenzo? Tiara jatuh di tangga lantai bawah, dia jatuh bareng Shasa." ucap murid itu memberi tahu.
__ADS_1
Jonathan dan Kenzo seketika tercengang, "Ken, lo dengar itu kan?" tanya Jonathan memastikan. Kenzo di sebrang sana langsung kalang kabut. Dia benar-benar langsung berlari keluar dari basecamp nya.
"Gue ke sana sekarang." timpal Kenzo dengan nada suara khawatir.