Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Epic Comeback


__ADS_3

Kenzo sampai menghela nafas, "Bisa tahan rasa lapar mu, setelah pertandingan ini selesai aku akan mengantar mu." jawabnya dengan datar, dia langsung menatap Tiara, memberi isyarat agar fokuslah pada pertandingan karena dia akan tetap di sana.


"Tapi aku mau sekarang, Kak. Ayo!" ajaknya lagi, bahkan tangan Chelsea langsung merangkul tangan Kenzo dan menariknya.


"Chelsea! sudah kubilang nanti. Kalau kau mau ke kantin sekarang pergilah dengan orang lain." tolaknya dengan tegas, Kenzo langsung melepaskan tangan Chelsea dan langsung mengambil ponselnya, ingin menghubungi Reno tapi lelaki itu malah terlihat sedang menghampirinya. "Kebetulan sekali, sini kau!" titahnya sambil menggerakkan tangannya menyuruh lelaki itu mendekat.


"Apa, Bos?" Reno sampai keheranan, bukan karena permintaan Kenzo, melainkan heran melihat wanita cantik yang ada di samping bos nya. "Bos, gak selingkuh kan?" tanyanya dengan polos. Tiara di kemanain, kok tiba-tiba murid baru yang sekelas dengan nya terlihat begitu nempel dengan bos nya.


"Sialan, Lo," Kenzo sampai jengah, bisa-bisanya dia di kira selingkuh, saking kesalnya kakinya langsung bergerak menendang kaki Reno di bawah sana. "Ini sodara gue." ucapnya menjelaskan.


"Oh...." Bukan hanya Reno, Devan dan Jonathan yang terlebih dahulu penasaran langsung menghela nafas lega, mereka begitu kaget saat tiba-tiba ada wanita yang menghampiri sahabatnya itu.


"Antar dia ke kantin!" pinta Kenzo tanpa basa-basi. Dia harus segera membereskan Chelsea karena harus kembali fokus pada sang istri.


"Tidak mau, aku mau sama Kak Kenzo saja." protes Chelsea tidak terima, dia tidak mengenal lelaki yang di panggil Kenzo, dia tidak mau ke kantin bersamanya.


"Terserah, kalau kau lapar pergi dengan Reno, kalau tidak mau, diam dan jangan mengganggu!" seru Kenzo dengan tegas, dia sudah mulai kesal. Jangan terus memaksa karena dia tidak bisa memprioritaskan dirinya.


Chelsea sampai menunduk takut, "Iya, ke kantin nya nanti saja." ucapnya patuh, tetap di sini tidak buruk juga, dia ingin melihat pertandingan yang membuat lelaki itu tidak bisa pergi ke mana-mana.


Di sudut lain, Jessica langsung heboh, "Itu murid baru yang aku ceritakan tadi," berbisik nya pada Shasa dan Alicia, tangan nya sampai menunjuk ke arah wanita yang sedang duduk di samping Kenzo, menunjukkan kalau apa yang dia katakan tidaklah salah, buktinya murid baru yang tadi kembali menghampiri Kenzo bahkan mereka terlihat begitu dekat.


Hampir tidak percaya, Alicia bahkan sampai mangap tak percaya, "Wih, cantik juga ya dia. Benar-benar saingan si Tiara tuh." tuturnya sambil menatap Shasa. Yang awalnya ingin memperkeruh suasana Tiara dia malah kaget karena melihat Shasa yang sedang memijat pelipisnya. "Sha kau kenapa?" tanyanya heran, bahkan raut wajah Shasa kini terlihat semakin pucat.


"Entahlah, mungkin karena kelelahan kepalaku terasa begitu pusing." jawab Shasa masih terus memijat pelipisnya. Dia juga heran kenapa akhir-akhir ini kepalanya sering pusing-pusing.


"Tapi kau masih sanggup untuk bermain kan?" timpal Jessica ikut khawatir, bagaimana kalau malah semakin parah kalau terus di paksakan.


"Iya, tinggal satu babak lagi. Aku bisa menahannya."


Prittt


Permainan kembali di mulai, Tiara sudah bertekad untuk lebih semangat dan akan lebih baik walau suasana hatinya sedang buruk, suaminya lebih mempedulikan dirinya jadi dia tidak boleh mengecewakan apalagi kalau sampai di ledek wanita manja itu, kalau dia sampai kalah, bukan hanya akan di persulit Shasa, dia pasti akan mendapat hinaan Chelsea.


Settt


Bola melambung tinggi, sesuai apa yang di instruksikan Kenzo, tim Tiara harus kompak, Azzura kini yang bertindak meniru apa yang telah tim Shasa lakukan, wanita itu mendorong pelan tubuh Alicia sampai kini bola bisa di kuasai Priscilla.


"Thank." Priscilla menyeringai senang, baru kali ini teman satu tim nya bisa di andalkan, dia langsung melakukan dribbling dengan lihai menggiring bola ke arah ring Shasa.


"Kau pikir bisa semudah itu," Alicia jengah, menghampiri Priscilla untuk berusaha mengambil bola.


Tiara langsung maju ke dekat ring Shasa memberi isyarat, Priscilla yang melihat itu langsung melakukan Bounce pass dengan baik, "Tangkap, Ra!" setelah memantulkan bola untuk mengecoh Alicia, dia langsung berlari menghampiri Tiara, dia yakin Tiara tidak bisa melakukan shooting dengan sempurna.


Tiara mengambil bola itu, setelah Priscilla sudah mendekat dengan cepat melakukan Chest pass dia arahkan pada Priscilla.


"Thank." Priscilla sampai tersenyum senang, tim nya kali ini bisa di andalkan, bukan hanya Tiara Azzura saja sedang bekerja keras menghalang Shasa dan Jessica untuk merebut bolanya. Tak ingin membuang waktu, dia langsung menggiring bola dan melakukan shooting dengan sempurna.


Pluk, bola masuk dengan sempurna. Tiara dan Azzura sampai bersorak riang. "Priscilla hebat," kedua wanita itu saling berpelukan saking senangnya.

__ADS_1


"Nice guys, ayo kita berkerja keras." Priscilla kembali menguasai bola, melakukan dribbling menuju ring lawan.


Shasa dan kedua kawannya sampai jengah, berusaha keras agar tim Tiara tidak lagi mencetak poin.


"Argh, sial." Alicia sampai mengendus kesal. Priscilla terlalu lincah sampai kembali mencetak poin dengan mudah. "Guys, ayolah. Kita bisa kalah." decak nya pada kedua kawannya.


"Kepala ku makin pusing, Al. Mana bisa gue fokus bermain." kilahnya sambil berusaha bertahan. Shasa langsung melihat durasi, waktu tinggal tujuh menit lagi, kalau tim nya bisa mencegah pergerakan Priscilla, mereka bisa menang. "Defense, saja yang baik. Jangan biarkan mereka kembali mencetak poin, kita masih unggul." titahnya sambil kembali pada posisi nya. Skor masih tiga dua, jangan kembali kebobolan karena mereka pasti memang.


"Oke." Alicia kembali menghampiri Priscilla, wanita itu memang selalu menggila jika mendapat tim yang bisa di ajak kerjasama, "Tidak akan ku biarkan kau kembali mencetak poin, Priscilla Annabell." decak nya sambil menghalangi pergerakan wanita itu.


Priscilla sampai kesusahan untuk bergerak, dia langsung melihat kedua temannya untuk mengumpan bola, "Azzura!" panggilannya memberi kode, dia langsung melempar bola pada wanita itu.


"Oke," Azzura menangkap dengan sigap, melakukan dribbling, saat Jessica mulai menghampiri dia langsung mengoper bola pada Tiara.


Sett, bola melambung, Tiara ingin mengambil bola itu tapi Shasa dengan cepat mengambilnya. "Tidak semudah itu, benalu." ucapnya dengan menyeringai. Dia langsung melakukan dribbling tidak banyak bergerak sengaja untuk mengulur waktu.


Nyutt.... "Argh, kenapa harus di saat seperti ini." Shasa sampai mengumpat dalam hati, kepalanya semakin pusing membuatnya tidak bisa konsentrasi. Bahkan dia sampai tidak sadar kalau bola itu sudah ada di tangan Tiara.


"Thank." Tiara sampai menyeringai, melihat keadaan, ingin mengumpan bola pada Priscilla tapi wanita itu masih jauh di sana terhalang oleh Alicia. "Cill."


"Shooting, Tiara!" titah Priscilla dengan tegas, durasi semakin tipis, tidak ada waktu jika dia harus menghindari Alicia untuk lay-up maju ke depan sana.


Tiara sampai menarik nafas, ayo dia pasti bisa, satu hentakan setelah mengambil ancang-ancang, kakinya di tekuk dan langsung loncat dengan sempurna, sampai kini bola itu masuk ke dalam ring tim Shasa. Hingga membuat poin bertambah untuk tim nya menjadi tiga sama.


"Waaa. Aku bisa." Tiara sampai kegirangan. Yang dia lihat sekarang bukan Azzura atau pun Priscilla, melainkan sang suami yang sedang tersenyum kecil melihat perjuangan dirinya. "Terima kasih, Ken." ucapnya sambil melambaikan tangan.


Kenzo pun sampai ikut melambaikan tangan membalasnya. "Kerja bagus." ucapnya lirih, satu langkah lagi, buktikan kalau dia lah yang akan jadi pemenangnya.


"Is the real Epic Comeback, Bos." sahut Reno tidak kalah kagum. Di menit-menit terakhir tim Tiara langsung bangkit dari kekalahan dan terus mencetak poin. "Go...go... Satu poin lagi." sorak nya memberi semangat.


Waktu tinggal dua menit lagi, suasan semakin sengit, waktu yang tipis ini harus di manfaatkan oleh kedua tim. Alicia dan Priscilla yang terlihat menggila, dua orang dengan kemampuan sepadan itu sedang mengusahakan kemenangan.


Bola mulai melambung, pertahanan yang harus kuat, Alicia dan Priscilla bersiap mengambil bola, sedangkan dua teman dari keduanya sedang bersiap-siap menjaga di sisi kiri kanan nya.


Settt, bola mulai turun ke bawah, Jessica dan Shasa bergerak cepat, menghadang Tiara dan Azzura membuat bola itu bisa di kuasai Alicia karena wanita itu terlebih dulu menyenggol tubuh Priscilla.


"Haha. Bersiaplah bertekuk lutut di hadapan ku, Priscilla." ancam nya dengan menyeringai, Alicia langsung menggiring bola menghampiri ring Tiara, bergerak lihai tidak membiarkan Priscilla menguasai bola.


"Tidak akan pernah ku biarkan." decak Priscilla geram, dia langsung bergerak cepat menghadang Alicia berusaha mengambil bola.


"Coba saja!" Alicia kembali menyeringai, langsung melempar bola itu ia berikan pada Shasa. "Shooting, Sha!" serunya karena wanita itu sudah berdiri tegak di bawah ring Tiara.


"Oke." Shasa menyeringai, mengambil bola itu dengan sigap, tanpa basa-basi langsung mengambil posisi untuk lay-up mengungguli poin nya.


Sttt, Shasa meloncat, tangannya sudah mau memasukkan bola ke dalam ring, tapi meleset karena Tiara dengan cepat menghadangnya, membuat bola itu langsung jatuh ke bawah.


"Ayo, Tiara." Azzura dan Priscilla sampai kutar ketir, mereka tidak bisa bergerak karena Alicia dan Jessica terus menghalangi tubuh mereka. Bahkan Shasa, dan kedua kawannya langsung mendekat untuk mengambil bola itu.


"Aku ambil." Tiara langsung bergerak cepat, melakukan dribbling menggiring bola menuju ring Shasa. Sesekali menoleh melihat keadaan. "Ayo, Tiara. Tidak ada waktu kalau mengoper pada, Priscilla. Kau pasti bisa." Dia sampai menyemangati dirinya sendiri. Alicia bahkan sudah berlari menghampirinya.

__ADS_1


Semua orang yang menonton sampai ikut tegang, bisakah Tiara mencetak poin, atau permainan akan berakhir dengan poin seri. Dan otomatis babak harus bertambah lagi.


"Tidak akan ku biarkan kau menang, Tiara." Alicia langsung mendekat, tangannya langsung bergerak mendorong tubuh Tiara yang sedang loncat mau memasukkan bola.


Brugg... "Aww...." Tiara sampai terjatuh, tubuhnya oleng. Beruntung bolanya sudah masuk ke dalam ring sebelum tubuh itu terhempas ke lantai lapangan.


"Tiara!"


Semua orang sampai terkejut, Azzura dan Priscilla langsung mendekat, menghampiri Tiara. Bahkan Kenzo pun langsung berdiri memasuki lapangan.


Prittt


Wasit sudah meniup peluit, waktu habis. Pertandingan basket sudah berakhir. Kemenangan di menangkan oleh tim Tiara dengan poin empat tiga.


Semua langsung bersorak riang, tapi tidak untuk Shasa dan kedua kawannya.


"Arrgh....." Shasa sampai kembali memijat pelipisnya. Kesal karena kalah, sampai rasa pusingnya semakin bertambah, hampir saja dia hilang kesadarannya.


Kenzo, Azzura dan Priscilla. Bukannya ikut bersorak, tiga orang itu terlihat gelisah melihat keadaan Tiara.


"Tiara kau gak apa-apa?" Azzura langsung berjongkok membangunkan Tiara, tapi bukannya kesakitan wanita itu malah tersenyum lebar walau masih terkapar di lantai.


"Kita memang!" ucapnya begitu antusias. Tiara sampai memeluk Azzura dan Priscilla merayakan kemenangannya.


"Bangun dulu!" Priscilla kini ikut membantu, iya mereka menang tapi prioritaskan dulu kesehatan tubuh nya, Tiara terbentur cukup keras, dia yakin tubuh itu pasti kesakitan.


"Aku tidak apa-apa kok." Bibir bisa berbohong, tapi tidak dengan tubuhnya, lututnya saja sampai lemas untuk dia ajak berdiri. "Aww."


"Minggir." suara Kenzo tiba-tiba terdengar, refleks Azzura dan Priscilla langsung melepaskan pegangannya biar Kenzo yang membantu Tiara.


"Ken, kita memang," Tiara begitu bersemangat, teramat senang sampai langsung memeluk Kenzo saat lelaki itu sudah berjongkok di depannya.


"Kau terluka, bodoh." decak nya kesal. Dia langsung membalas pelukan wanita itu, mengelus rambut nya dengan lembut. Bisa-bisanya Tiara masih tersenyum lebar, padahal dia sudah begitu cemas dengan keadaannya. "Ayo, kau harus segera di obati." ajaknya dan perlahan menggendong Tiara.


Priscilla dan Azzura langsung menghela nafas lega, untung ada Kenzo, jadi mereka tidak akan terlalu merasa bersalah kalau Tiara sampai kenapa-kenapa. Lelaki itu sudah memboyong Tiara ke sisi lapangan. Mereka pun langsung mengikutinya.


"Duduk dulu," Kenzo langsung mendudukkan Tiara di kursi pinggir lapangan, mengambil air minum dan dia berikan pada sang istri. "Nih."


"Terima kasih."


"Mana yang sakit?" tanya Kenzo sambil berjongkok di bawah kursi yang di duduki Tiara. Dia langsung menyentuh kedua kaki sang istri memastikan keadaannya. Dia senang tim istrinya memang, tapi kalau sampai melukai istrinya seperti ini bagaimana dia bisa tenang. Momen yang harusnya sama-sama senang kini malah malah menjadi suram.


"Ken?" Tiara sampai kaget, dia tidak apa-apa, jangan berlebihan, malu di lihat orang. Terlebih Devan, Jonathan dan Reno sedang memperhatikan pergerakan lelaki ini. "Bangun!" pintanya merasa tidak nyaman.


"Diam lah!" Bukannya bangun, Kenzo malah memijat kaki Tiara meredakan rasa sakit yang di rasakan istrinya.


Brugg... Suara seseorang terjatuh, semua orang langsung kaget dan menoleh pada sumber suara.


"Shasa?" Tiara sampai kaget, sepupunya itu terjatuh pingsan dan sudah tergelak di di lantai.

__ADS_1


Jessica dan Alicia yang berbeda di samping Shasa tidak kalah kaget. "Ya, ampun, Sah." Jessica langsung berjongkok merangkul tubuh itu. Dari tadi atasan nya itu mengeluh pusing kepala, tidak mengira sampai terjatuh pingsan seperti ini.


__ADS_2