
"Sakit...." Tiara terus merintih, semua yang dia lihat terasa asing, yang dia ingat dia baru merantau ke kota setelah kematian Nenek nya, selebihnya dia tidak mengingat apa-apa dan kenapa dia bisa berbaring di sini, dengan keadaan tubuh yang begitu lemas. "Saya kenapa, Dok?" tanyanya lirih saat sang dokter memberikan dua suntikan di selang infus nya. Dia tidak tahu dia di mana tapi dia tahu kalau orang yang mengenakan pakaian serba putih itu pasti seorang dokter. Terlebih orang itu terus memeriksa keadaan nya.
"Maaf, Nona mengalami kecelakaan, dengan luka parah, jadi nona harus banyak istirahat." jawab Dokter itu berusaha menenangkan, keadaan Tiara yang masih lemah membuat nya harus memberikan obat penenang dan pereda rasa sakit supaya gadis itu bisa lebih banyak istirahat agar tubuhnya bisa lebih fit lagi.
Tiara kembali tertidur, sang Dokter perlahan membuka alat bantu pernapasan karena sekarang keadaan Tiara sudah sedikit membaik, kini dia langsung berjalan ikut duduk di mana Kenzo dan kedua orang tuanya berada, duduk di sebuah sofa di sudut ruangan karena harus membicarakan perihal keadaan Tiara sekarang.
"Biarkan Nona muda istirahat! seharusnya esok pagi keadaannya bisa lebih baik dari sekarang." tutur nya menjelaskan, keadaan Tiara memang memperihatinkan, tapi jika bisa bersabar menerima keadaan Tiara meski tanpa ingatan tentang mereka, keadaan nya akan perlahan membaik, walau akan cukup susah untuk kembali mengembalikan ingatannya.
Kenzo sampai menghela nafas, iya dia tidak akan memaksa Tiara untuk bisa mengingat semuanya, tapi ada yang mengganjal, "Kenapa hanya Pak Arya yang bisa Tiara ingat, Dok?" tanyanya heran, kenapa seolah hanya sebagai saja ingatan Tiara yang hilang.
"Begitulah Amnesia Retrograde, pengidapnya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang terjadi di masa lalu dalam periode tertentu," tuturnya menjelaskan, sekarang ada pertanyaan untuk mereka yang mengganjal di hatinya, "Boleh saya tahu sudah berapa lama Nona mengenal Tuan dan hadir di keluarga Wijaya?" tanyanya penasaran, setelah melihat keadaan Tiara, sepertinya wanita itu tidak bisa mengingat masa-masa saat pertama mengenal suaminya.
"Mungkin sekitar lima bulan yang lalu, Dok." Kenzo menjawab cepat, saat itu Tiara menjadi murid baru di awal semester pertama dan sekarang sudah di penghujung semester awal.
Dokter sesaat terdiam, ini cukup membuatnya heran, tapi ini yang bisa dia tafsirkan, "Sepertinya selama itu terlalu banyak ingatan yang membuat Nona tertekan, otaknya menolak ingatan itu, beban itu membuat saraf otaknya menegang, dan itulah yang membuat Nona kesakitan." tuturnya menjelaskan, dia sendiri sedikit tidak percaya dengan apa yang dia tafsirkan, pasalnya mana mungkin seorang menantu keluarga Wijaya merasakan tekanan hebat saat berada dalam keluarga kaya raya yang bergelimang harta. "Ingatan Nona kembali ke saat masa di mana Nona belum mengenal, Tuan." jelasnya lagi.
"Argh...." Kenzo sampai memijat pelipisnya, tekanan? Tidak heran jika memang itu alasannya.
Pasalnya perjalanan Tiara memang penuh tekanan, dari awal harus menggantikan Shasa untuk bertunangan dengan nya padahal Tiara belum tahu siapa dirinya, setelah bertunangan pun dia sendiri malah memperlakukannya dengan begitu dingin dan kasar. Bukan hanya di situ saja, setelah Shasa mengetahui siapa dirinya, mereka terus mempersulit Tiara dan memperlakukannya dengan begitu kejam. Bahkan saat dia sudah bisa menerima Tiara, keluarga pamannya masih saja terus mempersulit istrinya tanpa henti, dia bisa merasakan betapa besar tekanan yang di terima sang istri. Dan sekarang pun saat keluarga pamannya sudah mulai sadar dengan kesalahan mereka, malah ada Arzan yang ingin mencelakai nya. Jika mengingat itu, dia sendiri bisa merasakan seberapa besar tekanan yang di rasakan Tiara. Wajar saja jika masa-masa itu yang menghilang dari ingatannya, dan malah berdampak buruk jika di paksa untuk kembali mengingatnya.
__ADS_1
"Tuhan menyayangi mu, agar kau tidak memiliki kenangan yang begitu menyakitkan, Tiara." Kenzo sampai memejamkan mata, dia tidak bisa terus terpuruk, biar dia mengambil hikmah dari semua ini. Tidak perlu melihat ke belakang, dia hanya perlu fokus dengan kesehatan Tiara dan meyakinkan wanita itu kalau dia adalah suaminya. Dia akan memperkenalkan semua hal yang telah di lupakan istrinya.
"Maaf, saya harus permisi, Tuan. Mohon ingat pesan saya, jangan memaksa Nona untuk mengingat semuanya, terlebih jika ingatan itu penuh tekanan itu akan berdampak buruk pada otak, Nona." tutur Dokter itu kembali menasehati, ini demi kesembuhan Tiara, jadi jangan terus memberi tekanan padanya.
"Iya, baik Dok. Terima kasih."
...***...
Waktu sudah pagi, Tiara mulai tersadar, kembali terkejut saat mendapati lelaki yang semalam masih duduk di kursi di samping tempat tidurnya, bahkan telapak tangan sebelah kanan nya terasa begitu hangat, karena lelaki itu menggenggamnya dengan begitu erat. "Dia sampai tertidur di sini." gumamnya heran, dia langsung melihat ke sekeliling, keadaan ini terasa canggung, tapi dia tidak mampu menggerakkan tangannya takut mengganggu tidur lelaki itu, hanya kepalanya yang bergerak mencari keberadaan Arya, tapi setelah di cari-cari pun sosok pamannya tidak ada di sana, hanya ada lelaki dan wanita paruh baya yang mungkin mereka pasangan suami istri karena terlihat sedang tertidur bersama di sofa ruangan itu.
"Mereka siapa sampai terus di sini menemani ku?" gumamnya penuh tanya, kenapa malah mereka, bukan Arya yang menemaninya.
"Kau sudah bangun?" Kenzo langsung mengangkat kepalanya, langsung mengusap wajahnya begitu senang melihat Tiara yang sudah tersadar. "Apa ada yang sakit." tanyanya lagi sambil terus memperhatikan Tiara.
Kenzo malah tersenyum, ekspresi Tiara malah terlihat lucu saat wanita itu begitu gugup melihat dirinya, "Karena kau istriku." ucapnya lirih. Dia tidak akan banyak bicara, agar Tiara bisa perlahan beradaptasi dengan kondisinya sekarang.
"Kau suamiku?" Tiara sampai tertegun, benarkah dia sudah menikah dengan lelaki yang katanya bernama Kenzo itu, "Kau tidak berbohong kan?" tanyanya memastikan. Dia memang tidak mengingat sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya, tapi kenapa tiba-tiba dia sudah menikah padahal dia masih sekolah.
"Kau bisa memastikannya di cincin yang kau pakai, itu cincin pernikahan kita, di cincin itu terukir nama kita dan tanggal pernikahan nya." tutur Kenzo berusaha meyakinkan, padahal Tiara yang tidak hilang ingatan pun tidak pernah tahu itu karena dia tidak pernah memberi tahunya, dan wanita itu sendiri tidak pernah sadar karena tidak pernah sekalipun melepas cincin nya.
__ADS_1
"Cincin?" Tiara sampai refleks melihat cincin yang tersemat di jarinya, bahkan sekilas dia juga melihat cincin yang terpasang di jemari lelaki itu. Karena penasaran dia benar-benar melepas cincin nya untuk memastikannya. "Kenzo, Tiara." bibir itu sampai ikut bersuara tatkala matanya melihat ukiran nama itu. Bahkan melihat jelas tanggal yang terukir kecil di sana.
"Kau percaya sekarang?" tanya Kenzo dengan tersenyum kecil melihat ekspresi Tiara yang keheranan, dia langsung mengambil cincin itu dan kembali menyematkan nya di jari manis Tiara, dengan begitu perlahan, "Tidak apa kau tidak mengingat semaunya, kau hanya perlu tahu kalau aku suamimu, aku begitu menyayangi mu, dan aku begitu mencintaimu, Tiara." lirihnya sambil perlahan berbungkuk mengecup punggung tangan Tiara pesisir di atas cincin yang baru saja ia sematkan di jemari tangan istrinya itu.
Tiara sampai terhenyak, ingatannya benar-benar tidak mengingat sedikitpun tentang Kenzo, tapi hatinya sampai berdesir begitu mendengar dan melihat tingkah lelaki ini, "Ma-maaf." lirihnya dengan kelu, maaf karena dia tidak mengingat tentang nya. "Beri aku waktu untuk menerima kenyataan ini." pintanya lirih sambil kembali menarik tangannya, dia tidak bisa menerima perlakuan lembut lelaki itu yang masih dia anggap seperti orang asing baginya.
"Iya, tidak apa-apa." Kenzo sampai menekuk kepalanya, hanya mencium tangannya saja, Tiara langsung menarik tangannya, lalu bagaimana dia bisa memeluknya, "Perjalanan ku masih jauh." gumamnya sambil berdecak. Dia kembali menatap Tiara untuk meminta sesuatu dari wanita itu. "Tapi jangan pernah meminta untuk melepaskan cincin ini. Dan menyuruh ku untuk menjauhi mu." pintanya dengan tegas. Tidak apa-apa jika Tiara belum bisa menerimanya, karena dia akan berusaha untuk kembali mendapatkan cinta wanita ini.
"Iya." Tiara langsung mengangguk, Kenzo terlihat begitu baik, bagaimana mungkin dia meminta lelaki itu untuk menghindari nya.
"Ken, Tiara sudah sadar?" Ze yang mendengar percakapan mereka langsung terbangun, perlahan membangunkan sang suami untuk melihat keadaan menantu mereka. "Kau sudah bangun, Nak." tanyanya setelah duduk di kursi di sebelah putranya. Dia sampai tersenyum lebar, berusaha membuktikan kalau mereka bukanlah orang asing untuk Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepala, tatapan matanya sampai terlihat kebingungan dengan keadaan sekarang, "Pagi, Om, Tante." ucapnya ragu sambil membalas senyuman wanita paruh baya itu. Mereka terlihat begitu ramah mana mungkin dia mengabaikannya.
Kenan dan Ze sampai saling menatap, ingatan Tiara benar-benar hilang, mereka serasa kembali ke masa lalu saat pertama kali mereka di perkenalkan pada wanita itu, tapi saat seperti ini pun kesopanan wanita itu tetap sama.
Kenzo sendiri sampai menghela nafas, "Ini, Mommy dan itu Daddy." ucapnya dengan tangan bergerak menyentuh lengan sang Mommy dan menunjuk Daddy nya, dia harus memperkenalkan mereka pada Tiara. "Jangan memanggil Om dan Tante. Mereka orang tua ku, dan orang tua mu juga." tuturnya lagi menjelaskan.
Tiara sampai tertegun, "Mo-mommy, Da-daddy?" bibirnya sampai terbata-bata kembali mengucap kata itu, sebenarnya apa yang dia lewatkan sampai tidak mengingat siapa mereka. "Apa benar?" tanyanya meyakinkan sambil menatap pasangan suami istri itu bergantian.
__ADS_1
"Iya, kamu adalah menantu kami, dan kamu juga adalah putri Mommy dan Daddy." jawab Ze sambil mengelus punggung tangan Tiara. Wanita itu benar-benar terlihat kebingungan dengan situasi sekarang. "Tidak apa-apa sayang. Jangan menjadi beban pikiran. Kau hanya perlu tahu kalau kita keluarga."
"Terima kasih. Mommy." Tiara sampai tersenyum lebar. Tidak bisa di pungkiri, walau mereka orang-orang asing tapi dia akui dia begitu nyaman bersama mereka.