Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Khawatir.


__ADS_3

Di jalan menuju sekolah Jonathan menyandarkan punggungnya di kursi mobil penumpang bagian depan, seperti biasa setelah Kakak angkat nya pulang kuliah dari luar negeri dia bagai di jaga ketat oleh lelaki menyebalkan itu, berangkat dan pulang sekolah selalu di antara jemput, dan lebih menyebalkan nya lagi tingkah lelaki itu bukan karena menyayangi nya, melainkan karena mencari perhatian Ayahnya.


"Bisa lebih cepat! Gue sudah kesiangan, Arzan." decak nya kesal. Karena ada sebuah perdebatan kecil di rumahnya, dia sampai berangkat sekolah pukul delapan.


Jonathan yang terlihat kesal membuat Arzan malah tergelak, mengingat kembali perdebatannya tadi di rumah, "Heh bocah, walaupun kau terus merajuk protes pada Ayah, Aku akan tetap di lantik menjadi direktur utama perusahaan, jadi jangan pernah berharap kau bisa menang melawan ku," ucapnya dengan menyeringai. Persyaratan dari Prawira hanya jika dia sudah menemukan pasangannya, maka dia akan mendapatkan jabatan resmi. Dan itu sungguh sangat mudah untuk nya, hanya sekali melangkah saja dia sudah mendapatkan pasangan yang datang dengan senang hati menghampirinya.


"Heh, kau pikir aku tidak tahu sebejat apa dirimu, wanita mana yang mau dengan lelaki Casanova seperti mu," timpal Jonathan kesal, tidak mungkin lelaki bejat yang selalu mendekati wanita hanya untuk memuaskan gairah nya saja benar-benar mempunyai pasangan, dan akan membawa pasangannya ke hadapan Ayahnya.


Arzan kembali tergelak, kini tawa nya benar-benar tidak bisa ia tahan. "Hahaha. Kau lihat saja nanti. Kau akan lebih terkejut jika tahu siapa itu." timpal nya dengan begitu santai, bersiaplah untuk menerima penobatan nya di perusahaan, dan bersiaplah untuk terkejut dengan semua prasangka nya, karena sebejat apapun dia, dia masih bisa menepis hinaan Jonathan, karena di saat itu pula dia akan menunjukkan pasangannya.


Panggilan di ponsel Arzan tiba-tiba terdengar, dia yang sedang tanggung membelokkan mobilnya ke arah sekolah tidak bisa langsung mengangkatnya, sebelum dia bisa menguasai jalanan. Ponsel terus berdering, dengan cepat mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.


"Wah, baru juga aku membicarakannya dia langsung menghubungi ku." gumamnya sambil tersenyum tipis, dia langsung menerima panggilan itu. Dia sampai terkejut, baru mau bicara dia sudah mendengar suara Shasa yang terdengar begitu aneh dari biasanya. "Kau kenapa?"


"Ah... Arzan!" Suara Shasa bahkan terdengar begitu menggoda. "Kau pasti tahu apa penangkal obat perangsang ini kan. Cepat beritahu aku, aku sedang di depan apotek, ini sangat menyiksa, cepat beritahu aku apa obat penangkal nya!" pintanya dengan keras, bicaranya sudah tak kontrol, dia harus menahan keras kesadarannya, menghentikan mobilnya di dapan sebuah apotek berharap Arzan memberi tahu obat penangkal untuk menghilangkan efek obat perangsang ini.


Bukannya menjawab, Arzan malah tersenyum tipis, "Kau di mana sekarang?" ucapnya malah bertanya.


"Sudah Gue bilang, Gue di apotek, apotek dekat sekolah, Arzan."


"Tunggu lah di sana, aku akan memberi tahu mu apa penangkal yang sangat mujarab." timpal nya dengan cengengesan, dia sudah bisa menebak kalau wanita itu sudah tidak sadar sepenuhnya. Kebetulan sekali dia sudah hampir sampai di sekolah Jonathan, dia langsung tancap gas untuk bergegas menurunkan lelaki ini.


"Cepat, Arzan." Teriakkan Shasa bahkan sudah terdengar begitu frustasi. Dengan senang hati, Arzan akan menancap gas dengan kecepatan tinggi.


Jonathan hanya bisa mendelik tajam, tanpa di beri tahu pun dia sudah tahu, senyuman itulah yang selalu di perlihatkan Arzan saat menemukan mangsa yang akan menjadi korban kegilaan nya. "Gue sumpahin kecebong nya jadi anak, biar kebejatannya terkuak." gerutunya sambil beranjak turun, di tutupnya pintu mobil itu dengan begitu keras karena teramat kesal pada seorang Arzan.

__ADS_1


...*...


Shasa terkejut saat tubuhnya dihempaskan begitu saja di atas ranjang, "Arzan. Bukannya kau ingin memberi tahu ku obat pangkalnya, mana?" bibir nya protes karena akal sehatnya masih berjalan, tapi tidak dengan tubuhnya, efek obat itu membuat nya mendambakan sebuah sentuhan. Dengan begitu bodohnya dia mengikuti lelaki itu yang berkata akan memberikan obat penangkal nya, tapi pada akhirnya dia terjeramah di atas tempat tidurnya. Dia semakin terkejut lagi saat Arzan menghimpit dan menciumnya bibirnya dengan tidak sabaran.


"Ah...." Shasa mendesah dengan suara tertahan, saat tangan pria itu meraba ke seluruh tubuhnya tanpa menghentikan ciuman panas mereka. Apalagi saat tangan itu bermain menyentuh bagian da-danya dari luar pakaian seragamnya membuat tubuh nya terasa terbakar.


"Arzan...." Shasa memanggil pria itu saat tautan bibir mereka terlepas, menatap pria yang kini berada di atas tubuhnya dengan kilatan mata yang di penuhi oleh gairah.


"Ah... Arzan hentikan!" pekik Shasa saat tangan Arzan membuka kancing seragamnya begitu saja, sampai memperlihatkan tubuh bagian depannya.


"Bukannya kau ingin penangkal yang mujarab." Arzan menyeringai tipis, menyentuh bibir Shasa dengan ibu jarinya, kembali menghimpit Shasa, mencium bibir gadis itu yang entah sejak kapan teras lebih menggoda.


"Ah, Arzan." Shasa mendesah saat kedua tangan Arzan menyentuh dan bermain di dadanya setelah bra yang dikenakannya terlepas entah ke mana. "Arzan!" ditariknya rambut lelaki itu saat bibirnya mengecup dan menggigit lehernya, "Arzan, sakit!" lirihnya saat lelaki itu mengecup dan menggigit di bagian tubuh lainnya.


"Arzan, tunggu!" Shasa menahan dada Arzan saat lelaki itu menghimpit tubuhnya setengah melepas pakaiannya. Ingin bicara tapi Arzan kembali melu-mat bibirnya dengan sangat menuntut.


Arzan sendiri tidak mempedulikan ucapan Shasa, matanya menggelap tertutup gairah ketika melihat kembali tubuh telan-jang Shasa yang teramat menggoda. Kembali memungut bibir Shasa, ciuman itu terus turun ke bawah menyusui lekukan tubuhnya dan baru terhenti di tempat paling sensitif wanita itu.


"Arzan..." Bibir Shasa kembali mengeluarkan desa-han menjambak rambut lelaki yang tengah asyik bermain di bawah sana. "Arzan, ku mohon." Dia merasakan tubuhnya menegang saat lelaki itu menyapukan bibirnya di bawah sana. Memporak-porandakan bagian sensitifnya dengan sangat lihai, hingga membuatnya tidak berdaya. Shasa sampai menggigit bibir bawahnya, saat desakan yang hebat keluar dari dalam tubuhnya hingga membuatnya lemas. Sungguh gila, akal sehatnya ingin berontak tapi tubuhnya sudah terbakar gairah hingga begitu pasar dan menikmati semuanya.


"Kau suka?" Arzan tersenyum tipis, mensejajarkan tubuhnya bersiap untuk membuat Shasa kembali mendesah kan namanya. "Sekarang giliran ku." Dia menatap wajah cantik Shasa yang ada di bawahnya, dan perlahan melakukan apa yang sedari tadi dia tahan.


"Arzan!" jerit Shasa. Tangannya mendorong keras dada Arzan, agar lelaki itu menghentikan tindakannya. Namun bukannya berhenti lelaki itu semakin memasuki-nya. Hingga membuatnya kembali menjerit sampai tangannya mencekam keras punggung Arzan.


"Tahan baby, setelah ini kau akan merasakan kenikmatan yang sesungguhnya." ucap Arzan, menatap kedua mata Shasa yang sudah basah dengan air mata. Dia bergerak dengan tempo yang perlahan agar Shasa tidak merasa sakit mengingat ini yang pertama bagi wanita itu. Ada rasa bangga di hatinya, karena di sekian banyak wanita yang pernah menghangatkan ranjang nya hanya Shasa yang masih virgin.

__ADS_1


"Tapi ah..." Shasa kembali mendesah, bergerak gelisah saat lelaki itu menambah tempo kecepatan di bawah sana. Ingin rasanya menghentikan lelaki itu, namun saat ini rasa nikmat yang di berikan Arzan sangatlah menggoda, membuat akal sehatnya menghilang begitu saja berganti dengan suara-suara khas percintaan.


"Arrgh, oh God." Arzan mengerang, tidak bisa berkata-kata, saat merasakan nikmat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat dengan mantan pacarnya sekalipun. "Mulai sekarang kau mainan ku, baby." gumamnya dengan senyuman di bibirnya.


"Arzan, ah...." nafas Shasa naik turun saat pelepasan kedua kalinya ia dapatkan. Namun lelaki di atasnya masih belum berhenti, dan membuatnya semakin tidak berdaya.


"Kau menikmatinya?" Arzan terus melakukan kontak mata saat percintaan mereka, tidak pernah sekalipun matanya menatap ke arah lain.


Shasa hanya menjawab dengan anggukan kepala, tanpa sadar tangannya ikut menekan tubuh Arzan agar bergerak lebih dalam dan tanpa henti. Tentu saja apa yang di lakukan Shasa membuat Arzan tersenyum puas, dia yakin efek obat itu belum sepenuhnya hilang dari tubuh wanita ini. Hingga dia bisa dengan sepuasnya menikmati tubuh wanita ini.


...*...


Sementara itu di dalam kelas, murid murid bergemuruh karena tiga wanita yang tadi terkena amukan Kenzo tidak ada di dalam kelas. Bahkan bukan hanya mereka saja, Tiara sendiri begitu cemas, apa yang akan terjadi pada Shasa dan kedua kawannya itu. Hati Tiara yang terlalu baik, teramat lemah jika mengetahui ada orang yang kesusahan, rasa simpati nya tidak bisa di toleran, hingga membuatnya semakin khawatir.


"Ken!" panggilnya pada sang suami yang sedang asyik bermain games. Sepertinya karena pagi-pagi sudah marah-marah lelaki itu butuh hiburan untuk mengembalikan mood nya. "Kenzo!"


"Apa, sayang." jawabnya keceplosan. Sesaat menoleh dan kembali menundukkan kepalanya. "Apa?" tanyanya lagi karena sepertinya sang istri sampai tertegun saat dia memanggil nya sayang.


"Apa, Shasa tidak akan kenapa-kenapa?" tanyanya dengan ragu. Dan benar saja, lelaki itu langsung menatapnya tajam karena dia berani menyebut nama wanita itu. "Maaf." lirihnya sambil menunduk. Iya, mungkin dia yang terlalu lemah, karena sejahat apapun Shasa, hati kecilnya akan merasa tidak tega kalau wanita itu sampai kenapa-kenapa.


Mendengar suara Tiara yang melemas, Kenzo jadi tidak tega jika tidak menjawabnya, "Wanita itu pasti baik-baik saja," jawab nya dengan begitu datar, inilah resikonya mempunyai seorang istri yang terlalu baik hati, dia harus mengalah menghargai perasaannya. "Ya, setidaknya dia tidak akan mati." lanjutnya lagi dengan tersenyum licik.


"Apa?"


"Wanita itu tidak akan mati, Tiara." jawabnya sambil mencubit pipi sang istri, sepertinya dia memang harus mengajari Tiara untuk sesekali tertawa puas di atas penderita orang.

__ADS_1


__ADS_2